Sabtu, 22 Juni 2024

30 Hari Mencari Cerita

 

2 Januari—SAYA menantang diri sendiri. Bercerita selama 30 hari kedepan yang menjadi fitur IG jika ingin memiliki akun yang “hidup”. Fitur ini sepertinya ingin membuat semua orang yang melakukannya dapat menjadi penulis. Setidaknya selama 30 hari lamanya. Kemarin istri saya sudah memulainya. Mungkin karena fitur ini ia melakukannya. Saya baru ngeh. Sekarang saya memulainya dan berpikir ini merupakan hal yang menyenangkan. Beberapa tahun lalu saya pernah melakukannya. Setiap malam dituntut dapat menghasilkan satu esai per hari yang kemudian saya simpan di blog pribadi. Saat itu cukup menyiksa karena harus berjibaku dengan kegiatan lain. Tapi ternyata saya dapat melakukannya juga. Satu pencapaian yang membuat saya banyak belajar tentang cara menulis. Setidaknya saya tahu bagaimana cara menghasilkan tulisan yang buruk. Sekarang dengan tantangan yang nyaris sama saya melakukannya kembali. Menulis langsung dari gawai dengan sekali jalan.  Menulis sambil mengedit, dua pekerjaan yang sebenarnya terlarang dilakukan bagi penulis medioker seperti saya. Tapi, ini peluang bagi saya agar memiliki ruang dengan menulis apa saja setiap hari. Tanpa aturan, tanpa tuntutan kecuali setiap hari harus bercerita di catatan ini sampai space ini habis. Mungkin besok saya akan bercerita tentang buku, Banu dan Syanum anak saya, atau hal-hal segala rupa yang bagus untuk saya tulis. Mungkin juga dari sini lahir ide-ide yang tidak sempat saya tulis melalui kebiasan selama ini. Oh iya, hari ini saya dari kantor kependudukan untuk mengurus KTP perpindahan. Sepulang dari situ di atas jok motor terselip kartu nama seorang caleg yang tidak saya tahu siapa dia. Saya pikir ini satu modus berkampanye yang tidak berbeda dengan jasa penyedot wc saat ia menyelipkan selebaran di pagar-pagar perumahan.

 

3 Januari

 

4 Januari—KATANYA anak-anak kita bukanlah anak kita. Itu ucapan Jalaluddin Rumi, penyair sekaligus mistikus terkenal yang tidak akan lagi lahir di masa depan. Setiap anak lahir dengan cerita berbeda. Dengan nasib berbeda. Di zaman berbeda. Karena itu setiap zaman memiliki anak-anaknya sendiri. Para ahli membagi generasi setidaknya menjadi lima kategori: generasi baby boomers, generasi X, Y, generasi zoomer, dan Alpha. Setiap generasi ini memiliki perbedaan fundamental dari sisi bagaimana mengatasi kehidupan berdasarkan teknologi. Di masa sekarang setiap anak yang lahir sudah akan pasti menjadi generasi digital native. Menjadi anak-anak yang berpikir dengan logika algoritma dunia digital. Berperilaku meniru dari apa yang mereka tonton. Dari dunia mini layar gawai. Mereka berbicara merepitisi bahasa tontonan dan sampai akan menjadi seperti figur yang mereka lihat. Anak-anak tanpa sadar sedang dididik oleh tontonan. Tapi, bukan dididik yang lebih tepatnya adalah didikte. Sampai di sini belum ada cerita tentang Banu dan Syanum seperti yang akan saya lakukan karena yang Anda baca sebelumnya nyaris akan menjadi esai jika tidak saya hentikan di kalimat ini. Tahun ini Banu akan memulai bersekolah. Di tingkatan taman anak-anak, lebih tepatnya. Usianya tahun ini akan masuk 6. Usia kritis karena akan memasuki banyak pengalaman baru, teman-teman baru. Banu akan belajar bersosialisasi dengan lebih banyak orang, berinteraksi sehari-hari dengan anak-anak seusianya yang lahir dari keluarga lain, yang tentu akan mengasilkan pola-pola pendidikan usia dini yang berbeda. Di situlah dia belajar karakter anak seusianya yang telah dididik di rumah-rumah yang berbeda. Membandingkan, melihat, memperkirakan dan memutuskan bagaimana caranya ia akan berinteraksi dan berinisiatif dengan teman-teman barunya. Tapi, dunia anak adalah permainan. Itu satu-satunya yang akan menyatukan anak-anak lain dapat berkumpul, berlari, bermain pasir satu sama lain.  Banu menyukai tipe permainan outdor yang memukingkan ia untuk berlari apalagi mengulik tanah atau pasir bebatuan. Mungkin karena selama ini telah bosan bermain di dalam rumah. Banu jika di TK nanti bermainlah sepuasnya, sebisa-bisanya.

 

5-6 Januari—YANG mana lebih mengasyikkan buku atau film? Mungkin dua-duanya. Tapi, yang mana paling efisien dari sisi penyampaian pesan? Mungkin itulah film, yang menggabungkan semua genre seni pertunjukkan, audio maupun visual. Tapi, buku lebih imajinatif, masih memberikan kesempatan kepada pembaca untuk membayangkan sendiri bagaimana reka adegan suatu cerita. Di film Anda tidak bisa melakukan itu. Sementara bacaan dalam buku membuat realitas tertunda kata-kata demi kata. Anda baru bisa membayangkan suatu peristiwa lengkap setelah suatu kalimat habis dibaca. Di atas dua buku yang baru saja saya beli setelah sore yang hujan di toko buku berlogo mirip ular meliuk, ditemani istri dan kedua anak saya. Tapi, tidak begitu kejadiannya. Sayalah yang menemani istri dan Banu dan Syanum untuk berbelanja kebutuhan makanan Syanum. Setelah cukup dengan kebutuhan Syanum saya ajaklah Lola naik ke lantai tiga, tempat toko buku itu berada untuk cuci-cuci mata. Iseng-iseng saja. Tepat di depan pintu masuk saya temukan buku Marquez ini, diterjemahkan Eka Kurniawan dari versi Inggrisnya. Menurut saya pengalaman membaca yang asyik jika karya novelis diterjemahkan juga oleh penulis novel. Satu hal yang saya alami saat membaca Cannery Row-nya John Steinbeck, penulis yang cocok dengan kecenderungan saya mengenai kelompok-kelompok pinggiran. Steinbeck sampai sekarang masih menjadi penulis novel yang saya sukai. Bagaimana dengan Gabriel Garcia Marquez? Jika dilihat dari Seratus Tahun Kesunyian-nya, Marquez akan seperti filsuf yang menyamar sebagai pencerita ulung. Tapi, Marquez akan selalu memberikan efek subtil jika membaca karya-karyanya. Bagaimana buku tentang film ditulis Seno Gumira Ajidarma di atas? Tentu sama antusiasnya saat saya menonton film-film. Lewat Djam Malam adalah film yang dipakai sebagai gambar cover buku ini. Film tentang mantan gerilyawan revolusi yang hilang orientasi hidupnya setelah Indonesia merdeka dan berubah. Mereka hanya tahu berperang tidak yang lain. Saat saya menontonnya harus terbiasa dengan layar hitam putih tidak seperti film-film modern sekarang ini.

 

6 Januari—SAYA khawatir tidak dapat menulis cerita ini. Semalam saya harus melawan kantuk untuk bercerita, meski telah pukul 12 malam. Kali ini tentang Banu, baru saja menyelesaikan kegiatan naik tingkat sabuk taekwondo. Sudah tiga bulan Banu diikutkan di kelas, dan masih seperti di hari pertama, ia bagai anak-anak yang kesulitan bergerak tangkas. Kuda-kudanya tidak kuat. Tendangannya belum lentur. Dan ia masih sering kehilangan fokus. Saya duga ini dampak dari perkembangan Banu saat ia terlambat merangkak dan mampu berdiri kali pertama dengan kedua kakinya. Motorik kasarnya berkembang tidak sebaik motorik halusnya. Mewarnai dan menggambar akan lebih mudah ia lakukan jika harus tangkas dan lentur saat berlatih gerakan taekwondo. Tapi, saya tidak akan membandingkannya dengan teman Banu yang lain. Lebih dari itu Banu dapat belajar fokus, berkomunikasi, dan menyatakan perasaannya tanpa ragu ketika berhadapan dengan temannya. Saya kira itu juga yang dipahami shabum Banu dengan memberlakukan muridnya berdasarkan kemampuan masing-masing. Foto di atas adalah kakak seperguruan Banu. Selama saya perhatikan merekalah kelak yang akan jadi jago-jago tanding. Sparing satu lawan satu. Beberapa minggu lalu mereka juga ikut ujian naik tingkat dari kuning menuju kuning strep hijau. Banu dipisahkan bersama anak-anak sabuk putih untuk diujiankan gibon satu, pola gerakan paling dasar di taekwondo. Saat itu merupakan ujian naik tingkatan akbar. Banyak perguruan taekwondo dari cabang-cabang yang tersebar di kabupaten tempat kami tinggal. Ramai sekali. Dari sabuk putih sampai merah. Dengan tingkatan gerakan masing-masing. Padepokan itu mengisyaratkan untuk saat ini penting memiliki skil bela diri. Tapi, bukan untuk kelahi. Melainkan menajamkan kepekaan, kedisiplinan, sportifitas, dan yang paling penting semangat persaudaraan sesama manusia. Saya kira semua seni bela diri menyatakan hal yang sama, dan itu terlihat dari balik warna sabuknya. Banu masih bersabuk putih, yang menandai kemurnian, rasa ingin tahu, dan bersih siap diisi oleh nilai setingkat setelahnya kuning: kejujuran dan kebenaran, hijau: pertumbuhan, biru: kedalaman mental, merah: kecerahan mental, hitam; komitmen.

 

7 Januari—DI RUMAH Tv telah menjadi kotak mati. Tak berfungsi seperti di tempat lain. Padahal bagi sebagian orang Tv adalah jendela dunia, yang mirip buku dapat menyampaikan apa saja. Tapi, sebagian yang lain telah lama meninggalkannya, dan menggantinya dengan youtube, netflix, atau medsos. Pasca siaran nasional menggunakan Tv digital sejak saat itu rumah kami lebih sepi dari sebelumnya, yang saat tertentu hanya menyala jika saya misalnya ingin menonton siaran bola liga lokal. Atau Banu yang ingin memutar rekaman video yang sudah disimpan di dalam hardisk khusus untuknya. Dulu, untuk membuatnya tidak tergoda gawai, kami bersepakat menggunakan Tv sebagai penggantinya dengan menyuguhkan rekaman film yang telah saya download untuknya. Sekarang masa itu telah lewat dan butuh strategi khusus agar Banu tidak banyak menghabiskan waktu bermain handphone. Belakangan ini kami ingin kembali membeli Tv agar tidak ketinggalan berita. Meski setiap saat internet lebih cepat menyuguhkan informasi, tapi tetap saja, setidaknya bagi saya yang besar dengan suara Tv, masih merindukan suasana ketika berita-berita dibacakan newsanchor dari atas mejanya. Format lama seperti ini cocok bagi saya yang tumbuh di era 90-an. Sampai saat ini tak sekalipun saya menyaksikan debat capres. Menonton siaran ulangnya saja enggan. Tapi, lain ceritanya kalau saya melihatnya melalui Tv. Kesan umumnya tercapai, persis bagaimana dulu Tv pertama muncul: satu kotak dikerubungi banyak orang, dan dari situ suasananya lebih guyub. Sementara jika lewat online, Anda sudah tahu jawabannya. Setiap orang asyik dengan tontonannya sendiri. Menurut saya debat-debat capres seperti ini lebih terasa suasananya jika disaksikan bersama-sama seperti nonton tanding bola. Di situ ada keseruan, timpal menimpali protes tapi tidak saling pukul. Tapi, saya bingung sendiri mengapa masih enggan menonton debat-debat capres. Saya malas mendengarkan uraian panjang lebar paslon tapi tidak bermutu. Lebih baik menyaksikan acara podcast yang membuat suasana riang, tidak mikir, dan mengalir. Tapi, memiliki Tv rasanya masih relevan saat ini apalagi disambungkan dengan jaringan digital. Pasti kegiatan menonton film saya makin total.

 

8 Januari—12 BUKU Seri Mengenal Emosi. Itu paket buku anak-anak yang menyelamatkan saya malam ini. Saya dan Lola tertawa bersama. Apa lagi yang harus diceritakan malam ini. Dan, buku itu terhampar. Tergeletak. Lalu saya melihatnya. Mengapa tidak memulai kalimat dengan buku ini. Menceritakan sedikit isinya, dan mari lihat hasilnya. Apakah setelah itu kalimat-kalimat tertentu dapat saya tulis! Buku ini bertema “bosan”, dengan judul “Bermain Apa Lagi?” Bercerita tentang seorang anak yang tidak kerasan bermain. Pertama-tama puzzle, lalu boneka, kemudian masak-masakan. Seperti sebelumnya ia bosan. Ia ingin seseorang menemaninya bermain. Diajaklah ibunya ikut serta. Tapi, ia bosan lagi. Akhirnya datanglah teman-temannya mengajak bermain di luar. Bosan adalah hal biasa yang terjadi karena mengerjakan sesuatu berulang-ulang. Begitu pesan buku ini. Makanya perlu inovasi. Satu hal yang baru. Saya kira hal ini juga berlaku untuk yang lain. Kita bakal bosan jika melalui hari-hari ini tanpa perubahan. Sistem masih sama. Kebijakan juga sama. Apalagi pemimpin juga masih akan sama. Di kancah teori sosial kebosanan bisa mendorong perubahan sampai ke tingkat radikal. Apalagi kalau itu dirangsang melalui perangkat paradigma dan pemikiran. Pasti perubahan itu datang. Tapi yang jadi soal dari manakah perubahan itu datang? Siapa yang bakal melakukannya! Seperti buku ini, sebelum berubah kita orang dewasa juga harus pandai mengenal emosi sendiri. Mengetahui perasaan sendiri. Salah mengidentifikasinya akan gagal mengontrol sikap apa yang pantas. Belakangan ini banyak hal yang membuat emosi naik turun. Pemilu membuatnya seperti rolercoaster. Masih seperti lalu, momen politik macam ini bakal membuka kedok perasaan orang-orang. Apalagi yang suka memendam perasaan! Karena itu cerdaslah menilai emosi sendiri, apalagi membaca isi hati orang lain. Itu!

 

9 Januari—SAYA ingin segera menulis ini, lalu menyudahinya dengan membaca beberapa buku baru yang telah saya list. Tapi, itu akan sulit saya lakukan. Saya perlu bersiasat untuk itu. Lalu inilah cerita yang akan saya tulis—seperti yang terlihat dari foto ini: seorang pengendara motor dengan modifikasi kulit AC Milan. Saya selalu melakukannya. Memfoto logo klub sepakbola asal kota mode Itali ini jika bertemu di mana saja. Dari jersey, batik, stiker, topi, dan kali ini sebuah motor trail. Semua itu saya ambil gambarnya, kemudian sering saya lepas lewat status whatsapp. Menjadi tifossi Milan dimulai saat SD, saat memiliki jersey bernama Bierhoff. Nomor 20. Angka angker yang dipakai penyerang jerman ini. Bagi kiper liga seri A saat itu, kepala Bierhoff lebih sulit ditaklukkan daripada kakinya. Ia selalu menang duel udara. Kaki-kakinya mantap, dan bidikannya jarang tidak berbuah gol. Tapi, Zvonimir Bobanlah yang membuat saya benar-benar menyukai AC Milan, playmaker asal Kroasia ini memiliki kemampuan menyerang dan bertahan yang sama baiknya. Ia agresif dan sering konfrontatif jika sudah dekat dengan kotak pinalti. Bersama Albertini lini tengah Milan sulit ditembus kala era 90-an. Boban adalah simbol kebebasan Kroasia, dan menjadikan sepakbola sebagai alat untuk mengekspresikannya. Di Piala Dunia 98 ia menjadi jenderal lapangan tengah Kroasia dan bersama Jarni dan Davor Suker membawa Kroasia meraih posisi ketiga setelah mengalahkan Jerman di perempatan final. Di aras permainan anak-anak, Boban akhirnya menjadi nama pergaulan, dari lapangan sampai sekolah, di lingkungan rumah dan teman-teman masa awal SMP. Ini adalah masa-masa sebagian anak era 90-an merasa perlu mencari nama samaran, dan menggunakannya untuk ajang ekspresi diri. Akan tampak keren jika nama-nama itu makin Eropa, makin asing. Lalu kami akan menulisnya besar-besar di tembok rumah tetangga. Mengotori meja di sekolah dengan menggunakan pulpen Pilot. Atau menandai dengannya di ujung baju sekolah. Lalu kerusuhan Timor Timur terjadi sampai di kota Kupang membuat sekolah-sekolah berhenti. Itulah saat-saat terakhir saya menginjakkan kaki di kota karang tapi pantai-pantainya yang indah itu.

 

10 Januari—INI kisah orang pinggiran. Yang hidup bersisian langsung dengan sungai Jenebberang. Persis di bawah tanggul yang merupakan area berbahaya karena itu terlarang. Mereka hidup berkelompok membuat rumah semi permanen dari kayu bekas pakai, seng, atau bambu. Membuka warung-warung kecil untuk memutar uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang tidak diterakan di BPS: Pappalimbang. Kelompok lelaki dari subuh hingga malam berkali-kali menggerakkan perahu rakitan pulang pergi menyeberangkan ratusan orang: pegawai, anak sekolah, tukang sayur, mahasiswa, dan tukang ojol.  Sementara para perempuan tinggal di rumah, memasak, dan merawat anak-anak yang masih kecil. 3 tahun lalu, ketika musim penghujan di titik puncak, semua yang mereka miliki diseret air bah. Sungai meluap membuat sisinya makin lapang. Sebagian rumah selamat, dan dengan itulah mereka mulai dari nol. Memperbaiki tiang pancang, menambal perahu, dan mendirikan ulang rumah yang diseret banjir. Di Jakarta kisah seperti ini diceritakan dengan sangat bagus oleh Roanne Van Voorst, antropolog kota melalui hasil risetnya diterbitkan Marjin Kiri: Tempat Terbaik di Dunia, yang merupakan kawasan kumuh di ibu kota. Di situ dia menemukan cara orang pinggiran bersiasat dalam merespons banjir. Bisa dikatakan dari risetnya, orang miskin merupakan penduduk kreatif, terutama bagaimana mereka mengkreasikan cara hidup meski lunta sekaligus melahirkan strategi survival karena langganan banjir. Di sepanjang sungai ini pula banyak penambang pasir. Penyelammnya berkulit legam menarik ember tembaga sampai ke dasar sungai lalu naik dengan seember penuh pasir. Mereka sepertinya punya paru-paru kuda. Naik turun sedalam hampir 10 meter. Jika perahu pengangkut telah penuh mereka pulalah yang menyekop naik ke truk-truk. Kadang mereka melalukan itu di siang terik membuat kulit mereka seperti diolesi minyak zaitun. Tapi, mereka semua jangan dianggap remeh. Pappalimbang memiliki peran mengurangi kemacetan terutama jalur poros Makassar-Gowa. Di jam sibuk peran mereka lebih signifikan. Penambang pasir tradisional juga penting, tanpa mereka pembangunan tidak akan berjalan lancar. Sedimentasi sungai juga dapat dikurangi. Itu.

 

11 Januari—INI satu dari sekian banyak gambar Banu. Telah banyak kertas ia habiskan, disobek, dan diganti baru jika salah menarik garis, atau tidak sreg dengan warna yang ia inginkan. Adakalanya kertas-kertas itu menumpuk seperti skripsi yang ditinggal pasca ujian. Apabila sudah jadi akan ia tempel di dinding, jika tidak akan ia simpan belaka bak pekerjaan seorang arsiparis. Tapi memang asal kertas Banu adalah draf skiripsi mahasiswa, yang tidak lagi terpakai. Daripada tersisa begitu, lebih baik saya gunakan untuk keperluan Banu. Gambar di atas ia sebut hiu. Nampak aneh memang, tapi begitulah anak-anak. Seringkali keanehan anak-anak memberikan kesegaran dalam mempersepsi sesuatu. Pernah ia mengatakan sedang menggambar beruang, tapi yang saya lihat seperti lingkaran-lingkaran yang meleleh. Menggambar buaya tapi seperti cecak yang berkeriput. Menggambar bunga, tapi yang ini agak sedikit lebih baik. Jika bosan, ia akan menggunakan youtube kids untuk belajar menggambar. Ya, ia benar-benar tahu apa yang sedang dilakukan. Banu akan mengikuti bagaimana sebuah gambar sapi, misalnya, dibikin dari pola-pola sederhana. Gari-garis demi garis. Ia akan menunda jalannya video jika menemukan kesulitan yang hanya dia sendiri yang tahu. Kemudian melanjutkan kembali mengikuti langkah demi langkah cara menggambar yang ia lihat. Apakah dengan cara yang sama akan menghasilkan gambar persis? Tentu saja tidak. Tapi, dari cara seperti ini Banu belajar berproses. Meski meniru adalah gerbang pertamanya. Kita orang dewasa juga pandai meniru-niru. Bahkan ada bangsa peniru di samping bangsa penghasil kebudayaan, dan penghancur kebudayaan. Menurut ahli, bangsa berkulit hitam di benua hitam adalah bangsa penghancur kebudayaan. Saya tidak sepakat. Saat ini mudah saja menunjuk bangsa penghancur kebudayaan sebenarnya. Bahkan di masa lalu nabi-nabinya mereka bunuh demi entah apa. Begitu.

 

12 Januari—SEMALAM saya baru saja menyelesaikan novel ciamik karangan Gabriel Garcia Marquez: Of Love and Others Demons. Halaman terakhir cerita ini saya pungkasi melalui rasa kantuk yang tidak bisa diobati kecuali dengan tidur. Tapi, tanggung, tersisa dua tiga halaman. Besok saya sudah harus membuka halaman baru, buku baru, bacaan baru. Dan, saya tidak ingat persis seperti apa kalimat terakhir novel ini, tapi saya berhasil menyelesaikannya. Itu dia, kemewahan yang tidak semua orang dapat merasakannya. Menyelesaikan suatu pengembaraan imajinasi halaman demi halaman, dan menemukan keasyikan di dalamnya. Kenikmatan bagi setiap orang yang behasil sampai di akhir cerita, halaman terakhir. Tentu saja saya mengenal Marquez dari cerita yang membuatnya seterkenal itu—bagian penting dari generasi Boom Amerika latin—Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude)! Buku ini membingungkan tapi akan terhapus dengan kepiawaian Marquez bercerita. Banyak metafor, saling tindih fakta dan fiksi, mitos, legenda, dan yang membekas adalah kisah keluarga Buendia selama tujuh generasi. Banyak pembaca Marquez mengatakan novel ini sedang bercerita tentang sejarah Kolombia atau Amerika Latin secara umum. Saya cukup terhibur dari cara Marquez menulis kalimat-kalimatnya, juga di buku Of Love and Others Demons. Cara ia menempatkan metafor, menggunakan transisi cerita di dalam cerita, dan meyakinkan pembaca bahwa yang ia tulis seolah-olah benar terjadi. Keahlian yang sulit ditiru. Di lain waktu saya mungkin akan bercerita lebih jauh kisah dari Sierva Maria de Todos los Angeles, putri seorang bangsawan, yang digigit anjing rabies tapi kebal sampai dikira merupakan perempuan suci. Gadis suci berambut panjang 22 meter yang menjadi legenda di sepanjang pesisir Karibia.

 

13 Januari—SAMPAI di kalimat ini saya belum memiliki rencana akan menulis apa. Kemarin saya telah menulis sedikit hal tentang novel Gabriel Garcia Marquez, tentang Of Love and Other Demons, dan pasca itu mencari-cari Seratus Tahun Kesunyian-nya untuk saya baca kembali. Tapi, tumpukan buku-buku merintangi. Saya tidak menemukannya sampai malam ini. Akhirnya saya memilih menonton film. Random saja, atau melanjutkan film yang semalam telah saya pilih dengan kemalasan ala seorang remaja. Padahal di dua malam sebelumnya, saya lebih dahulu menonton Rurouni Kenshin versi animenya. Di Netflix kualitas gambarnya jauh lebih baik dibandingkan di tempat lain yang masih seperti versi era 90-annya. Tapi, saya tidak melanjutkan episode demi episodenya. Mood saya berubah. Sekarang ketimbang dipusingkan mengenai apa yang menarik minat saya untuk ditulis, saya menggunakan waktu tersisa malam ini untuk menonton film belaka. Entah kapan saya memulai minat menonton film dalam praktiknya sebagai studi kritis. Satu hal yang saya ketahui adalah menonton film tidak saja dapat memberikan hiburan semata, melainkan juga memberikan suatu wacana tertentu berkaitan dengan suatu konteks masalah tertentu. Ini tentu jika Anda banyak mengetahui berbagai konsep kajian studi budaya. Atau dapat menemukan relasi adegan demi adegan melalui ilmu semiotika dan semacamnya. Tapi, jika hanya untuk menikmati, film tidak perlu dipermasalahkan jauh-jauh. Cukup dinikmati saja. Malam ini saya akan melanjutkan tontonan saya kemarin: The I-Land. Sekelompok orang yang tiba-tiba terbangun di pulau asing tanpa mengenal satu sama lain. Mereka tidak memiliki apa-apa. Ingatan mereka hilang. Bahkan nama sendiri tidak mereka ketahui. Coba bayangkan jika Anda mengalami hal serupa? Saya duga ini film tentang dinamika kelompok, identitas diri, interaksi sosial, dan psikologi. Jika betul, lumayan untuk waktu malam ini.

 

14 Januari—JIKA bukan pasir, maka air. Itulah dua hal yang disukai anak-anak. Musim hujan seperti sekarang membuat air melimpah dapat menggoda anak-anak untuk bermain di dalamnya. Jika terdapat genangan itu lebih mengasyikkan. Bagi orang dewasa, hujan tidak selamanya menyisakan genangan tapi juga kenangan. Maka, saya mengenang masa kecil dulu. Bersama teman-teman yang cerdas sekali bermain hujan. Bahkan sangat pandai menyembunyikan rasa puas pasca kencing di celana. Siapa yang bakal tahu, di saat bermandi hujan, bukan saja air mata, air seni dapat juga disamarkan di kedua belah paha. Badan telah basah. Hujan akan bilas jua. Lamat-lamat kenangan itu saya saksikan melalui anak saya, Banu. Sekali tempo ia senang sekali bermain hujan, meski hanya di depan rumah, dan tidak seperti kami di masa lalu yang bisa sampai keliling kampung. Saya masih ingat kali pertama Banu bermain hujan dan mendapatkan izin untuk melakukannya. Senyumannya rekah sangat. Tubuhnya melompat sampai lupa menanggalkan pakaian. Ia berlari dan langsung menyambut hujan seolah baru pertama kali melihatnya. Petir dan guntur tak ia hiraukan. Kesenangannya mengalahkan ketakutannya, sampai-sampai jika di kamar mandi sering menggunakan plastik berlubang untuk menciptakan hujan buatan. Apa boleh buat, tidak ada shower di rumah kami. Sekarang Banu sedang di puncak fase emas, yakni masa akhir pertumbuhan 5 tahun. Sesekali ia tidak menghiraukan apa yang dinyatakan kepadanya, sesekali menurut jika ia mengetahui akan diberi imbalan di balik tindakannya, dan sesekali yang lain ia akan menjadi anak yang memiliki stok energi tidak terbatas. Berlari, meloncat, apa pun yang menarik minatnya akan ia lakukan. Kadang saya khawatir jangan-jangan Banu tergolong anak hiperaktif! Nah, kalau ini jepretan setelah saya mencarinya ke mana-mana. Tidak di kamar, di ruang tamu, di depan rumah, apalagi ruang tengah. Tiba-tiba rumah terkesan sepi. Ternyata ia sedang bermain air di belakang dengan alasan sedang mencuci tangan. Tapi, seperti yang Anda lihat, bahkan wajahnya juga ia cuci bak sepiring kotor. Tentu dengan sabun pencuci piring!

 

15 Januari—BEBERAPA hari lalu, dunia satwa dikagetkan kematian Rahman, gajah uzur berusia 45 tahun di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Ketika ditemukan pawangnya, ia lemas tapi kemudian tidak selamat selang beberapa lama. Rahman diracun. Di dalam perutnya ditemukan sisa pepaya, lalu serbuk hitam. Gadingnya dipatahkan dengan, mungkin, gergaji mesin. Di IG saya melihatnya terbaring dengan bekas lumpur mengering. Matanya sayup tapi sudah tidak menyala.  Beberapa hari lalu, sebelum tidur Banu saya ajak cerita, tentang gajah. Apakah ia tahu gading gajah atau tidak? Yang ia tahu hanya belalainya belaka.  Selama ini gajah yang sering ia lihat gajah tak bergading. Gajah yang masih kecil. Kemudian saya ceritakan Rahman, gajah Asia yang dibunuh pemalak, lalu apa itu gading, “gigi” panjang yang menyerupai drakula. Banu belum paham, lalu bertanya untuk apa gajah memiliki itu? Dari masa lalu, melalui majalah Bobo, saya mengetahui banyak kegunaan belalai gajah dari Bona, gajah berkulit merah muda itu. Tapi, saya tidak tahu apa kegunaan gading gajah. Sampai kemudian saya nyatakan kepada Banu: “Gading gajah dipakai kalau sesamanya saling kelahi”. Asal saja. Seingat saya itu yang saya saksikan melalui saluran National Geographic. Kalau begitu berarti gading diambil manusia untuk dipakai berkelahi? Tidak jawab saya. Itu untuk dijual. Harganya tinggi. Tapi, saya hentikan di sini. Banu belum memahami bagaimana sebagian manusia memiliki selera aneh untuk mengoleksi benda-benda seperti gading, kulit macan, tanduk rusa, dan sejenisnya, dengan harga mahal. Itulah selera antroposen. Manusia menjadi puncak mata rantai dari segi logika, etika, dan estetika. Karena itu alam jadi korban. Demi kebututuhan, juga kepuasan, juga keindahan, untuk nafsu tak terbatas. Kemudian keseimbangan alam rusak. Rahman mati sehingga tidak ada mitigasi pengendali gajah liar. Kuda-kuda, burung, ikan-ikan, dan pohon-pohon, dibalak. Ekosistem manusia kemudian terancam. Iklim berubah. Kekeringan. Panas. Dingin. Hujan berkepanjangan. Banjir di mana-mana. Longsor. Air bah. Namun sekarang tidak ada bahtera Nuh, yang menyiapkan kapal jika umat manusia diancam ulahnya sendiri.

 

16 Januari—MESKIPUN hanya sepotong roti, melibatkan banyak orang untuk diputuskan apakah diisi selai atau cokelat, maka itu telah menjadi urusan politik. Jika hanya mau memilih kopi atau teh yang disesap di pagi hari, tapi tidak ada urusan dengan banyak orang, itu bukan bagian dari keputusan politik. Politik disebut politik karena menyeret banyak pihak, tentang hajat banyak orang. Agar kehidupan publik berlangsung sebagaimana mestinya, meski saat ini wilayah domestik dan publik agak sukar dibedakan. Kopi yang saya minum belakangan menjadi urusan politik, sabun, shampo, pasta gigi, bahkan minyak goreng di tangan Lola, istri saya, menjadi pilihan-pilihan politik. Ditengarai kesadarannya, dan mungkin keprihatinannya atas penderitaan penduduk Palestina, nyaris semua yang terkait urusan domestik menjadi urusan politik. Apalagi pembersih toilet, juga bagian dari keprihatinannya. Berganti sikap, berganti merk. Sebagian orang menganggap remeh boikot, tapi efeknya cukup signifikan. Dapat mengubah cash flow kapital. Perisahan Starbucks, misalnya, akhir tahun 2023 mengalami penurunan nilai pasar hampir US$ 12 miliar (setara Rp. 186 triliun) selama sebulan terakhir. Coba dibayangkan jika perusahan global macam kasus Starbucks terjadi. Bisa pailit. Importir pendanaan berhenti. Bisnis senjata bisa koit.  Boikot mungkin bukan solusi langsung, tapi ia bagai kerikil di dalam sepatu. Kecil tapi mengganggu. Persis tindakan negara adidaya menyukai mengganggu negara kecil. Mereka tidak menyerang langsung tapi hanya mempengaruhi satu sisi, tapi karena berlangsung lama akhirnya lumayan menyusahkan. Sampai di sini saya ingin bercerita tentang Lola. Ia tanpa putus memasang reels IG tentang Palestina karena menganggap hal seperti ini tidak boleh berhenti. Ia bagai burung bul-bul dalam kisah api Ibrahim, kurang berefek mematikan nyala api tapi telah menunjukkan niat dan sikapnya. Menurut saya ini patut dicontoh, lebih riskan jika masalah kemanusiaan tidak dipikirkan dan menjadi perhatian. Akibatnya hilang dalam pembicaraan hilang pula dalam benak. Saya sendiri tidak habis pikir, mengapa agresi atas bangsa-bangsa masih terjadi. Apa motifnya. Demi apa? Itulah buruknya, keras kepala.

 

17-18 Januari—BUKU. Itu kata favorit saya, mungkin untuk selamanya, meski kesadaran itu datang terlambat dari masyarakat yang belum melihat buku sebagai “benda ajaib.” Saya perlu berterima kasih kepada orang-orang yang mengajarkan saya untuk mencintai buku, bahkan dalam keadaan kepepet. Teman kuliah, kakak senior, guru-guru, dan terutama satu dua orang, atau mungkin tiga, tapi juga bisa empat, lalu orang kelima yang khusus yang di masa lalu menjadi motivator yang lebih menyerupai provokator dan juga mampu menggerakkan hati saya agar rakus jika itu terkait koleksi buku. Karena itu sewaktu tahun pertama menjadi mahasiswa, saya terpaksa menggunakan lemari pakaian orang lain untuk menyimpan buku-buku saya. Saat itu saya seperti seekor tupai, pindah dari satu kos ke kos teman lainnya hidup bebas ala mahasiswa, sementara buku-buku saya bawa pergi ke lemari persembunyian yang jauh dari semua itu. Itulah lemari pakaian itu, di sebuah rumah, menjadi rak buku pertama saya, di bagian bawah memanfaatkan satu kompartemen agar tidak diisi pakaian dalam dan sebagainya. Lalu buku-buku itu makin banyak. Penuh sesak membuat lemari pakaian itu gagal fungsi. Apakah lemari pakaian atau buku. Saya ungsikan sebelum pemilik lemari merasa risih apalagi jengkel. Kemudian saya berbagi kamar dengan adik saya, dan ia rela menampung buku-buku saat itu yang jumlahnya tidak banyak, tapi cukup memakan tempat. Sampai di sini saya merasa buku merupakan cara alam, atau Tuhan, bahkan, untuk mengubah hidup seseorang. “Os livros mudam o destino das pessoas”, buku mengubah takdir hidup orang-orang, kata Carlos Maria Dominguez, dalam Rumah Kertas. Saya termasuk orang itu. Dan banyak lainnya, yang karena buku membelokkan masa depannya menjadi lebih baik. Saya tidak akan seperti sekarang ini jika satu titik di masa lalu, tidak bersentuhan dengan buku-buku, membacanya, mendiskusikannya, menyimpannya, dan saat ini akan saya teruskan untuk generasi mendatang. Tentu itu adalah kedua buah hati saya, Banu dan Syanum. Memang benar buku adalah jendela dunia. Dari situ imajinasi bisa membuana kemana-mana, tanpa kaki, tapi membuat kedua tangan kita dapat menggenggam sesuatu. Ide, gagasan, harapan.

 

18 Januari—SETIAP orang memiliki monster dalam dirinya. Persis seperti itu jika Anda tidak dapat mengontrol diri, berlagak berlebihan, sulit diatur, dan menyusahkan orang lain. Tapi, itu satu pengandaian. Pengandaian yang lain dapat disimak dari film seperti saya sertakan dalam gambar. Judulnya Monster (2023) film drama Jepang disutradai Hirokazu Kore-eda. Settingan film ini adalah kisah seorang ibu beranak satu yang menemukan perubahan sikap Minato, anaknya, seketika tanpa ia ketahui sebabnya. Minato memotong rambutnya, sepatunya hilang, dan pada suatu malam tidak pulang ke rumah lalu di temukan di gorong-gorong seperti berbicara dengan seseorang. Cukup sampai di sini saja saya bercerita. Kelak jika seseorang menontonnya lebih baik tanpa spoiller terlebih dahulu. Saya mengambil bahan tentang film ini karena tidak ada lagi pilihan lain untuk menuliskan sesuatu. 30 hari bercerita dan sekarang tepat hari ke-16. Kemarin saya telah menulis tentang buku, tema yang ditentukan oleh komunitas IG, yang sebelumnya tidak saya ketahui bahwa program bercerita selama sebulan ini diinisiasi olehnya. Saya memulainya juga meski dengan informasi yang berbeda. Dari awal saya telah menantang diri sendiri. Selama 30 hari akan terus menulis tanpa putus. Di hari kedua saya gagal. Tapi, itu menjadi yang terakhir. Dan sampailah di seri kali ini. Konon manusia makhluk berkisah. Hidupnya semuanya dibentuk oleh kisah. Melalui puisi, legenda, mitos, sains, bahkan agama, memuat kisah tertentu untuk memberi kepercayaan manusia agar memiliki sesuatu untuk dapat menjadi keyakinan. Terlepas benar atau salah, kisah menjadi imajinasi penting manusia sehingga hidupnya berbeda dari makhluk lainnya. Era sekarang banyak terdengar kisah-kisah canggih: petualangan antariksa, mesin waktu, kehidupan abadi, artifisial intelligence, dan kehidupan pasca kematian, membuat manusia makin termotivasi untuk menggapai semua itu. Tapi, jika semua itu belum tercapai, setidaknya manusia sudah menemukannya dalam imajinasi, tatanan serba mungkin, cair, dan mudah berganti. Menurut saya itulah satu-satunya faktor paling substansial yang menjadi ciri khas manusia. Kita suka berkhayal lalu membuat cerita atas itu.

 

19 Januari—SAYA tidak memiliki rencana apa-apa ketika mengambil gambar ini. Ide tentang foto seperti ini sudah lama saya pikirkan, tapi hasil diinginkan tidak persis juga seperti yang dilihat. Meski begitu saya melakukannya juga. Sepulang dari memberikan kelas menulis, saya kemudian melewati tempat ini. Berbelok arah dan menepikan motor untuk mengabadikannya. Dua kali saya bidikan, kemudian tersimpan dua gambar yang sepersekian detik berbeda. Dari foto seperti ini saya ingin bercerita tentang kota, kepadatan penduduk, jalan raya, masyarakat pekerja, dan segala hal yang terkait dengan urbanisasi, tapi apa daya saya tidak memiliki keahlian berbicara tentang itu. Yang saya tahu dari gambar seperti ini, dari hari ke hari makin banyak orang-orang di sekitar kita. Di lingkungan rumah, sekolah, rumah sakit, area perkantoran, dan apalagi ruang publik berorientasi hiburan makin sesak, padat, dan anonim. Tanpa disadari semakin banyak orang tidak dikenal di sekeling kita. Kian hari masyarakat makin imparsial dan impersonal. Kepadatan tidak membuat satu sama lain saling dekat. Ruang hidup makin crowded. Pengalaman satu sama lain makin atomistik. Lama-lama hidup seperti ini menjadi bom atom yang siap meledak karena tekanan dan gesekan yang tidak terelakkan. Orang kota sangat mencintai kecepatan. Efisiensi. Efektifiti. Pengalaman atas waktu seperti ini ditemukan di jalan raya, saat bekerja, beribadah, dan yang paling mudah adalah cara kita mengelola informasi. Di jalan raya, kecepatan merupakan kunci untuk menemukan space yang lebih panjang untuk memacu kendaraan. Saat bekerja kecepatan mencapai target adalah indikasi dari pekerja berprestasi. Dalam agama, makin cepat menyelesaikan peribadatan akan mudah menarik simpati jemaah, dan informasi yang cepat dikelola akan membuat kepercayaan makin relevan. Duh, ini bukan cerita. Semakin ke sini agaknya menjadi lebih serius. Padahal saya ingin bercerita tentang Banu, yang Jumat hari ini telah berani berangkat jumatan tanpa kehadiran saya. Ia pergi menggunakan baju ala masyarakat Timur Tengah plus songkok berbentuk bola dibelah dua berwarna putih. Lola mengantarnya sampai pintu pagar dan menunggunya pulang.

 

21 Januari—TIBA-TIBA saya terbangun. Di tengah malam, dan mulai menyadari bahwa Syanum sedang menangis. Tangisannya pola yang biasa. Kadang ia bangun tengah malam, kehausan, dan mulai menyusu tepat dari sebelahnya: ibunya. Tapi, kali ini ia mesti menunda apa yang seharusnya ia lakukan. Lola, ibunya, sedang dalam perjalanan ulang alik dari Jakarta. Sehari sebelumnya, saat subuh akan jelang ia sudah di bandara mengejar penerbangannya. Profesinya sebagai seorang psikolog membuatnya berkewajiban menghadiri kegiatan munas di Ibu Kota. Ia kebetulan ketua wilayah asosiasi psikolog pendidikan Sulawesi Selatan. Malamnya, sebelum pukul 10 ia sudah di bandara kembali perjalanan pulang ke Makassar. Hanya setengah hari ia di sana. Artinya, saat Syanum terbangun di tengah malam, saat itu juga ibunya sedang dalam penerbangangan. Masih menyeberang, dan sesuai informasi, pukul dua malam baru akan landing. Lalu kemudian saya menyadari, saya belum menulis apa-apa untuk tantangan 30 hari bercerita. Malam telah berganti menjadi lebih muda: 00.15. Sekira itu saya terbangun oleh tangisan Syanum. Satu jam lebih awal Banu lebih dulu terlelap setelah beberapa kali menanyakan kepastian kapan ibunya sampai di rumah. Saya menidurkannya. Menepuk-nepuknya lalu saya jatuh tertidur pula. Beberapa saat sebelumnya, ia menunjukkan rasa tidak sabar melalui sejumlah pertanyaan. Apa lacur ia bakal menagih janji ibunya setelah tiba untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, tentu itu adalah mainan. Jauh hari sebelum keberangkatan ibunya kami bertiga terlibat negoisasi alot. Banu menawarkan proposalnya. Ia menginginkan oleh-oleh jika ibunya telah sampai. Saya tidak perlu lagi menjelaskan oleh-oleh apa yang ia inginkan. Namun, bagaimana ibunya memiliki waktu jika agendanya bukan untuk jalan-jalan dan berbelanja. Maka, tawaran diberikan untuk Banu. Ia akan diberikan oleh-oleh nanti setelah Lola sampai di rumah. Yang dimaksud oleh-oleh akhirnya adalah mainan yang akan dibelikan jika kami punya kesempatan berbelanja kebutuhan harian di swalayan terdekat. Itulah sebabnya, sejak siang Banu selalu menunggu kedatangan ibunya. Memastikan melalui video call, kemudian menyatakan sekali lagi keinginannya.

 

21 Januari—THERE is no friend as loyal as a book. Begitu perkataan Ernest Hemingway, pengarang berasal Amerika Serikat. Buku—untuk kesekian kalinya saya tulis, adalah sahabat paling dekat tapi juga berpengaruh. Jika seseorang sering dikecewakan janji-janji, atau pernah dikhianati komitmen, bukulah kawan yang Anda harus cari. Ia tidak akan berkomentar lebih banyak dari Anda karena tugasnya hanya agar seseorang mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dalam dirinya. Suatu waktu, saya kira semua orang mengalaminya pula, pernah dikecewakan janji muluk oleh seorang kawan. Komitmen sudah kita toreh. Tugas telah kita bagi. Tapi, karena iming-iming uang ia mendahulukan kepentingan sesaat daripada cita-cita yang ingin diperjuangkan. Ya, ini cerita menyerupai “kisah-kisah perjuangan” seperti dalam film-film, tapi konteksnya adalah kehidupan mahasiswa seperti di masa lalu. Tidak heroik amat kejadian sebenarnya, namun jika kesetiaan seekor sapi dikendalikan melalui talinya, maka yang dipegang dari manusia adalah kata-katanya. Begitulah, kecewa rasanya jika perkataan hanya menjadi angin lalu. Tapi, ada buku. Makhluk diciptakan tanpa bibir meski kata-katanya lebih bersuara dari sekadar wujudnya. Ia diam tapi berisi hal ikhwal yang bernas, gemilang, dan tak berbilang. Seseorang jika sudah bersahabat dengannya akan menemukan kawan paling sejati. Buku benda paling penurut. Bisa diajak kemana pun Anda inginkan. Ia nampak malu-malu jika dibiarkan, kecuali seseorang mengajaknya “berbicara”, akan banyak hal-hal baru ia sampaikan. Saya kira perkataan Hemingway di atas akan terus menjadi petuah jika seseorang membutuhkannya. Buku bukan saja teman paling setia, karena menurut saya, ia juga emas, hanya saja bukan logam yang berkilauan. Buku jika dimiliki dengan sepenuh hati tidak akan membuat dunia ini kesepian. Setiap orang akan memiliki kekayaannya sendiri-sendiri. Mungkin agak sedikit gila jika menganggap buku adalah aset kekayaan, tapi saya sudah menganggapnya demikian. Tidak ada salahnya. Dan, apakah ada kekayaan paling baik selain seorang sahabat setia (philos, philon).

 

22 Januari—DI ATAS langit masih ada langit, yang di atasnya juga masih ada langit. Begitu seterusnya. Tak terbatas. Seandainya manusia tahu ini, tidak akan ada gimmick, yang memposisikan dirinya dikedudukan paling puncak. Di IG saya menemukan cuplikan wawancara Gita Wirjawan bersama Rocky Gerung, antara seorang pengusaha dan ahli filsafat. Pertemuan yang dalam sejarah agak sulit didamaikan, bahkan dikecam melalui cerita sekelompok sophis, kaum filsuf tapi berfilsafat dengan gaya seorang kapitalistik. Tapi, saluran Gita Wirjawan salah satu channel yang berisi diskusi bernas. Sekali tempo saya pernah menghabiskan seluruh pembicaraannya dengan seorang ahli spiritual bernama Sadh Guru di suatu tempat yang asri sekali. Tentang hidup, diri, dan apa yang harus dilakukan mengingat kita adalah manusia. Dalam sekali. Semuanya daging. Nah, dengan Rocky Gerung, Gita Wirjawan bertanya. Siapa filsuf diidolakan oleh akademisi yang mempopulerkan sindiran dungu ini? Nietzsche, ucap Gerung, setelah menjelaskan alasan mengapa ia memilih filsuf yang berpenyakitan itu. Tebakan saya benar, mungkin karena saya juga cukup kepincut dengan pemikiran-pemikiran filsuf pencetus eksistensialisme ini. Saya menganggap diri saya introvert, dan menemukan keberanian melalui pemikiran yang dicetuskan Nietzsche ini. Menurut saya setiap orang memiliki jiwa pemberontakan, dan saluran paling bermoral untuk merealisasikannya adalah melalui filsafat. Saya sepakat dengan Rocky Gerung, filsafat merupakan ilmu yang dapat mempersiapkan perangkat batin untuk menghadapi kompleksitas dunia. Di luar sana banyak berdiri tembok-tembok kokoh, keyakinan-keyakinan yang sudah lama dipancang kuat-kuat. Dan langit-langit yang serba curam. Tanpa, setidaknya filsafat, seseorang tidak akan mampu menghadapi semua itu. Tapi ingin saya katakan filsafat bukan segalanya, sama dengan uang bukan semuanya. Meski demikian, setidaknya dengan mempelajari kebijaksanaan pemikiran, membuat diri kita menjadi sadar diri. Hari ini saya lebih cepat menulis catatan ini karena khawatir tidak dapat melakukannya di waktu malam hari. Kemarin saya keteteran. Saya bukan penulis yang serta merta dapat melakukannya seenteng menghirup udara.

 

23 Januari—Seandainya di dunia ini ada lorong waktu, mungkin saja semua orang akan berusia muda. Tapi, itu tidak terjadi. Nyatanya setiap hari kita melihat inci demi inci berubah dari tubuh kita: rambut memutih, gigi berlubang, kulit keriput, apalagi yang namanya usia, makin hari makin berbilang. 17, 20, 23, 30, 31, 32, sererusnya dan seterusnya sampai kemudian tiba setengah abad, jika memang umur sampai, atau tidak sama sekali. Berhenti tidak jauh dari 40. Saya memiliki pemikiran ada perbedaan antara usia dan umur. Saya kira usia akan genap juga, tapi umur selamanya. Sering kita mendengar seseorang berumur panjang meski sudah tutup usia. Seseorang itu sudah lama di peristirahatan terakhir, dan setiap orang selalu mengenang kebaikannya. Ia selalu hidup dalam ingatan orang, tingkah polahnya dibicarakan, bahkan satu dua perkataannya ikut diamalkan orang-orang yang menyukainya. Itulah umur yang panjang. Kebaikannya masih terus mengalir sampai ke liang abadinya. Anda jika seorang jutawan dirikanlah sekolah-sekolah. Umur Anda pasti makin panjang. Jika diri Anda seorang insinyur rancanglah bangunan megah, tapi kalau hanya seorang tukang bangunan, tuluslah bekerja. Apabila menjadi seorang guru didiklah anak-anakmu menjadi jauh lebih besar dari Anda. Tapi jika Anda bukan siapa-siapa, tidak ada di dunia ini yang bukan siapa-siapa. Setiap orang adalah sesuatu, yang berharga, berdaging dan bersidik jari.  Karena itu ia pasti untuk satu hal dan lain hal, bernilai. Waktu adalah kuncinya. Anda hanya tinggal mencari siapa diri Anda di antara setiap pergeseran jarum jam. Entah di pergeseran keberapa, Anda akan menyadari bahwa yang di depan cermin ini adalah pribadi yang hebat. Tapi, jika kesulitan mengenal siapa diri Anda sebenarnya, tanyailah orang-orang sekitar. Itu cara sederhana dari ilmu psikologi. Aku yang sebenarnya dapat diidentifikasi melalui persepsi orang lain atas Anda. Dalam demokrasi prinsip ini juga berlaku. Baik tidak baiknya seseorang akan dinilai oleh publik. Bahkan, umur kekuasaan bakal panjang hanya jika suatu kebijakan berdampak kebaikan. Itulah mabrur, kebaikan yang melahirkan kebaikan lagi.

 

24 Januari—OEBA. Tidak akan saya lupakan nama ini. Di masa lalu bagi cerita kecil saya di NTT, Kupang, Oeba adalah tempat permandian yang menggembirakan. Mengasyikan tentu, tapi rasa was-was bakal menyergap setelah pulang dari tempat itu. Seringkali sepulang sekolah tempat ini menjadi destinasi menggoda bagi anak seusia saya saat itu, yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Meski sering berkeliaran babi-babi mencari makan, tempat yang tepat di jalan masuk pasar ini tidak kalah menarik dengan stadion bola, tempat kami sering berlarian melihat-lihat kios jajanan di selasarnya. Jika bukan ke rumah Ketut, anak seorang Hindu, yang di rumahnya memiliki komputer dan di sana pula saya pertama kali melihat sepatu roda, saya bersama Amir, Randi, Imran, atau Ridwan, bakal pergi mandi-mandi di tempat pencucian umum ini. Ya, di Oeba, permandian itu terbagi dua petak kolam besar, yang satu sering dipakai mama-mama mencuci baju. Kami menggunakan petak yang terhubung langsung dengan mata air sebagai tempat berenang. Sampai lupa waktu. Sampai sore, dan karena itu rasa-rasanya saya tidak ingin pulang. Takut. Pasalnya rumah saya cukup jauh dari tempat ini. Setiap hari ke sekolah saya mesti naik bemo, kendaraan umum khas kota Kupang. Bemo di Kupang selalu dihias nama-nama seperti Tiga Putra, Valentine, atau nama-nama unik di bodynya. Di dalamnya berisi speaker raksasa tepat di bawah bangku. Ibu-ibu sangat benci bemo macam begini lantaran sering memutar musik keras-keras. Kami anak ingusan sering tidak dianggap bemo begini, yang lebih menyukai mengangkut murid SMA atau anak SMP yang sedang ingin menjadi gadis. Maklum setiap konjak-pembantu supir yang bergelantungan di mulut pintu, juga seorang anak muda. Nyong-nyong muda sudah pasti menyukai gadis-gadis muda. Lalu kami sering menaiki bemo reyot, yang kalah saing dengan bemo-bemo keren macam Valentine atau Tiga Putra itu. Karena Banu saya teringat kembali tempat ini. Di Oebalah, atau di sungai di Air Nona, suatu tempat bersisian laut, yang mengajari saya cara berenang. Syarif teman saya yang anak sungai itu yang kali pertama mengajari saya berenang. Dari dialah saya pertama kali mendengar kata kukis, yang ternyata berarti kue.

 

25 Januari—BANU tidak ingin bersekolah. Ia bosan. Tidak ingin belajar berhitung, dan menganggap sekolah hanya diperlukan bagi orang-orang dewasa. Anak kecil macam dirinya lebih pantas menghabiskan waktu dengan apa yang menjadi keinginannya seumur hidup: bermain. Lalu, saya mengajukan pertanyaan: Bagaimana Banu tahu jika sekolah itu membosankan? Bukankah Banu sampai sekarang belum pernah bersekolah? Ia sumringah, dan kedua bola matanya memandang langit-langit, tanda yang sering ia perlihatkan jika kehabisan jawaban. Banu sudah waktunya bersekolah, tapi saya katakan bukan untuk belajar berhitung. Berhitung hanya dilakukan jika Banu sudah menjadi murid SD. Apa itu murid? Ia menceletuk. Murid itu siswa. Apa itu siswa? Ia memelintir tali-tali bantal. Ya, kami berdua sedang berada di atas dipan seolah-olah itu adalah padang rumput hijau sehingga tidak ada salahnya terbaring sambil memandang angkasa luas di atasnya. Anda tahu seperti apa adegan ini! Nampaknya saya hanya mengulang-ulang permasalahan. Itu kegagalan fatal. Menjawab istilah dengan istilah. Murid dan siswa dua kosakata yang sama saja artinya, dan seperti banyak di antaranya, Banu belum mengetahui banyak istilah-istilah yang diciptakan orang dewasa. Disebut apakah anak-anak pendidikan usia dini? Menurut saya, siswa atau murid kategori yang tidak presisi menerangkan anak di bawah 7 tahun yang belum sepenuhnya mampu mengerahkan akal budinya untuk berpikir analitis dan sistematis. Bagi seluruh anak di dunia, yang seusia Banu, membutuhkan inisiatif kreatif dari lingkungannya, jika pertama-tama ingin memasuki sekolah yang lebih dewasa. Banu akan banyak menggambar, bernyanyi, dan berlarian. Banu tahu perosotan? Di tempat Banu kelak bermain, juga ada seluncurannya. Serius? Ia bergeming. Percakapan kami masih berlanjut. Banu belakangan ini sering memastikan setiap pernyataan yang ia dengar dari saya atau Lola, atau tantenya, dengan todongan kata “serius”. Seakan itu suatu tanda bahwa ia mulai memahami setiap pengalamannya dengan lebih intens. Tapi, saya masih khawatir. Apakah betul sekolah itu membosankan? Banu, andaikan sekolah itu membosankan, betapa tersiksanya yang namanya murid-murid itu.

 

26-27 Januari—INI cerita ke-24 dari 30 hari bercerita, dan karena itu saya ingin bercerita tentang saya saja. Saya lahir pada hari Selasa, tanggal 24, 36 tahun silam, di bulan Maret, bulan pertama menurut kalender Romawi sebelum Julius Cesar menambahkan dua bulan lagi di depannya. Usia bagi saya adalah ironi. Sejak berusia 24, saya berhenti memperhatikan umur, dan menganggap usia saya tidak akan bertambah lagi dari angka itu. Saya ingin semua inti kehidupan saya dialami di usia 24, dan setiap pengalaman yang bakal saya rasakan di masa depan mesti dapat saya bayangkan dari usia ini pula. Lalu, saya lupa waktu. Perubahan rasanya cepat berputar, dan saya menemukan diri saya masih seperti di usia 24. Saya terjebak di keabadian dan menganggap setiap orang juga mengalami hal yang sama dengan yang saya inginkan. Tetap, tidak berubah. Itulah sebabnya saya sering salah mengira bahwa hari ini masih hari yang sama ketika saya terakhir kali menyadari tidak penting itu yang namanya usia. Setiap bertemu orang-orang saya kesulitan memahami apa yang sedang terjadi, apa yang mereka bicarakan, kemudian apa yang diinginkan dari mereka sebenarnya. Ini bukan dunia saya. Mereka terlalu tua untuk saya. Saya adalah anak yang belum lama meninggalkan dua dekade putaran kalender. Tapi, naif. Tidak ada yang abadi selain keinginan setiap orang bisa memilih di usia berapa mereka berhenti tumbuh. Itulah trans-age. Tua tidak cocok untuk saya, dan bukan pilihan yang dapat membuat orang bahagia. Saya kira itulah lorong waktu, yang disebut pilihan. Jiwa dan tubuh menurut saya tidak terikat hukum yang sama. Ada orang berfisik kuat, tapi jiwanya lemah. Ia tumbuh semakin besar tapi jiwanya memilih berhenti berkembang karena suatu hal. Sebaliknya, ada jiwa seorang tua yang hidup di dalam tubuh seorang anak-anak. Tapi, saya ingin baik secara kejiwaan dan tubuh saya tidak melesat bagai peluru. Saya ingin memilih, dan sudah saya lakukan sejak saya berusia 24. Konon Maret diambil dari kata berarti mars dari bahasa latin, diyakini merupakan dewa perang. Banyak orang bertanya apa rahasia awet muda? Mungkin takut renta, tapi saya katakan pilihlah usia muda Anda, dan lihatlah dunia dari itu.

 

27 Januari—SETIAP laki-laki dewasa di akhir pekan tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka bangun lebih cepat. Mencuci muka dan mulai mencari pekerjaan yang tidak bisa dilakukan di hari-hari biasa: mengecek genteng bocor, memperbaiki ledeng, atau memeriksa partisi kendaraan yang rusak. Itu narasi yang sudah sering kita dengarkan sehari-hari. Seakan-akan pekerjaan semacam itu cermin maskulinitas seorang laki-laki. Saya kira kopi adalah bagian penting dari sisi maskulinitas laki-laki, dan demikianlah setiap harinya, setiap pria membutuhkan ini untuk menjadi azimatnya. Tanpa kopi di pagi hari membuat putaran jam tidak akan genap 12. Akan selalu ada yang kurang. Setiap akhir pekan, Banu perlu mengikuti kelas taekwondo, dan itu sebenarnya bukan latihan yang pas untuknya. Tapi, banyak manfaat bagi dirinya mengikuti latihan ini, meski bukan demi sebuah turnamen. Anda tahu, kegiatan akhir pekan ini juga berdampak bagi saya. Setidaknya sebagai seorang ayah yang berkewajiban memastikan anaknya dapat dengan selamat sampai di titik tujuan. Seperti biasa pertemuan ini juga melibatkan orangtua lainnya, kami saling bertegur sapa, bersosialisasi ala kadarnya untuk menunjukkan etika orang timur. Tapi, setelah itu masing-masing kembali kepada dirinya sendiri, mencari tempat berkumpul lalu memulai percakapan yang mereka inginkan. Bagi orang introvert seperti saya, kondisi ini membuat tidak nyaman. Alangkah baiknya setiap orang kembali masuk di guanya masing-masing, sibuk dengan pekerjaan sendiri-sendiri tanpa harus saling memperdulikan satu sama lain. Agak sedikit antisosial memang, dan seperti itulah sebaiknya dilakukan. Alkisah pernah ada menara Babel, didirikan untuk naik menunjukkan sampai ke langit berapa seseorang bertemu Tuhan. Kemudian Tuhan marah. Babel simbol keangkuhan manusia menginginkan setiap manusia berbahasa yang sama, cara yang sama. Menurut saya di setiap tempat memiliki Babelnya masing-masing, bahkan hampir di semua jiwa orang-orang. Kadang dari itu membuat setiap orang merasa tinggi dibandingkan yang lain. Seringkali anak-anak menjadi menara Babel para orangtua. Mengangkatnya dan menempatkannya tinggi-tinggi sebagai sebuah kebesaran.

 

28 Januari—ORANG dewasa terkadang sok tahu. Anak-anak menurut saya tidak perlu diajarkan cara merekabersosialisasi. Memilih teman, apalagi kawan bermain bagi anak-anak tidak membutuhkan alasan seperti orang dewasa melakukannya. Mereka mempunyai 1001 cara untuk itu, dan 1001 cara lain agar mendapatkan teman lebih banyak lagi. Minggu ini Banu resmi bersabuk kuning. Dikenakan langsung Saboeumnya. Ini bukan prestasi, meski kenaikan sabuk Banu disambut riang teman-temannya. Di hadapan Saboeum, saya katakan kepada Banu, bersabuk kuning berarti mesti lebih serius dan disiplin. Jika terlambat masuk Banu harus siap menerima sanksi. Saya katakan itu agar Saboeum tidak segan menegur Banu. Jika perlu keras saya tidak masalah. Banu perlu diberikan latihan-latihan semacam itu. Seandainya bisa memilih, saya menginginkan Banu tetap bersabuk putih, sampai ia sendiri menyadari perlu bagi dirinya agar lebih fokus dan serius. Masih butuh waktu bagi Banu untuk mengerti di luar kepala teknik gibon satu yang memuat 20 gerakan. Banu seorang kidal sehingga ia memiliki cara tersendiri dalam menentukan arah, berputar, dan memulai mengangkat kaki-kakinya. Saya terkadang bingung, mengapa anak-anak perlu belajar sesuatu dari apa yang tidak diketahui orangtuanya. Tidak sedikit orangtua menginginkan anaknya pandai berbahasa asing dengan harap mereka akan dapat berpergian jauh dari kampung halaman. Mempelajari piano, atau mendalami ilmu memasak, sementara semua itu tidak dipahami selain guru les yang mereka bayar setiap bulan. Banu mempelajari taekwondo sementara tidak banyak saya ketahui mengenai taekwondo selain dari figur Tekken bernama Hwoarang di konsol playstation. Tapi, begitulah cara masyarakat memperkenalkan norma-normanya, bahkan lewat taekwondo sekalipun. Ya, manusia tidak bisa belajar langsung dari alam atau masyarakat sehingga butuh perwakilan. Coba bayangkan memahami bagaimana rupa bumi sebenarnya anak-anak perlu melihat globe dulu. Kita bahkan butuh peta untuk tahu garis khatulistiwa yang bersifat maya itu. Banu akhirnya perlu belajar banyak hal tentang banyak hal juga dari taekwondo. Setidanya cara melatih pikiran dan tubuhnya, ungkap Khang Shin Cul, legenda taekwondo dunia.

 

29 Januari—DUA anak ini menyelamatkan saya malam ini, tentu dari kebingungan dan agar saya dapat terus menulis sesuatu tentang mereka berdua. Seperti keluar dari lubang jarum saja rasanya. Tapi, saya kira anak-anak adalah sumber inspirasi. Bahkan energi bagi orang dewasa. Banu dan Djaviq sudah saling berteman sebelum mereka lahir. Bahkan jauh hari sebelum mereka mendekam 9 bulan di masing-masing perut ibunya. Yang saya bicarakan di sini adalah teman saya, ayah Djaviq, dan juga ibunya, sahabat Lola, istri saya. Keduanya sudah lama “baku bawa”. Sejak mahasiswa mereka banyak mengoleksi foto berlima yang menandai kebersamaan sehidup selamanya. Begitu juga ayah Djaviq, yang pernah sepiring berdua, bahkan banyak menghabiskan malam bersama-sama. Di masa lalu kami hidup menggelandang, aktif berorganisasi, dan saling tahu cerita asmara masing-masing. Kemudian kami berpisah, tapi tidak cukup lama. Sekarang setelah semuanya telah berkeluarga, kami masih tetap seperti dulu, padahal usia tidak bisa menipu. Kami sudah memiliki anak, tapi sudah tidak menggelandang apalagi bertubuh ceking. Bahkan kami memiliki buah hati sepasang jumlahnya. Dan, itulah Djaviq dan Banu, anak pertama kami, yang selisih satu dua bulan, di pagi ini datang mengunjungi calon tempat mereka akan “sekolah”. Ya, mereka berdua akan seperti anak-anak lain. Masuk ke dalam sistem belajar taman kanak-kanak. Entah Djaviq, tapi Banu menyatakan ia suka dengan tempat ini, pasca melihat suasana kelas. Setelah saya perlihatkan wahana bermainnya ia tegaskan kembali malam ini: “luas tempat bermainnya,” ungkapnya. Persis. Itulah yang saya inginkan, agar mereka berdua dapat lebih leluasa bereksplorasi, dengan pohon, tanah, bunga-bunga, lalu ada kupu-kupu. Ada seluncuran, jika bosan mereka lalu bermain panjat memanjat, lalu kelereng, bola, atau mainan apapun selama diizinkan.  Kita orang dewasa selalu bertindak melalui pengetahuan dan kekhawatiran, tapi anak-anak adalah imajinasi dan kebebasan. Benar-salah adalah momok orang dewasa. Bagi anak-anak imajinasi membuat dunianya serba mungkin, bisa atau tidak. Bukan benar atau salah. Itulah dunia permainan menurut saya. Dunia tanpa batas, tanpa rasa bersalah.

 

30 Januari—TIDAK sedikit orang-orang sering berbicara sesuatu yang tidak mereka ketahui. Saya satu di antaranya. Mungkin juga Anda, teman Anda, atau lebih banyak lagi, yang makin parah jika memiliki kekuasaan. Lucunya, jika Anda sering menciptakan cerita untuk membuat diri seseorang merasa senang, orang lain pun melakukan hal yang sama untuk Anda. Lalu, entah bagaimana caranya cerita-cerita itu saling terhubung satu sama lain, diceritakan setiap orang di sekitar Anda kemudian membentuk satu narasi yang makin dipercaya banyak orang. Tentu diri Anda juga mempercayainya. Beberapa sainstis menyebut cerita itu adalah agama, karena berisi hal-hal yang tidak pernah terjadi di muka bumi ini. Kisah Nabi Sulaiman misalnya, yang dijerumuskan saudaranya ke liang sumur, tidak pernah terjadi. Tidak ada sumur ditemukan seperti diceritakan dalam kisah selama ini. Atau bukti arkeologis yang menunjuk di mana ia pernah mendirikan kerajaan yang serba gigantik itu. Atau mungkinkah seorang manusia dapat berbicara dengan angin, atau seekor kijang, jika ia berada di hutan? Semua itu hanya cerita fiksi yang ada di alam bahasa, bukan bukti seperti yang dihasilkan dari kerja ilmu pengetahuan. Tapi, di kehidupan nyata cerita lebih fungsional dibandingkan ilmu pengetahuan, yang hanya bercokol di tempat-tempat seperti sekolah, rumah sakit, atau perguruan tinggi. Di luar dari itu, setiap telinga lebih mudah menangkap cerita dibandingkan otaknya yang lebih memilih diam. Makin aneh dan tidak masuk akal cerita itu makin disukai. Apalagi sekarang, di musim politik, banyak orang suka menciptakan cerita: menghilangkan kemiskinan, keadilan ekologis, hilirisasi industri, Indonesia cerdas, dan bumi datar. Yang terakhir ini cerita dari masa lalu yang diam-diam masih diyakini sebagian orang. Sementara yang lainnya belum kita lihat di kenyataan sekarang. Meski begitu itulah yang membuat politik menggelitik disebabkan kesenangan orang atas sesuatu yang belum, apalagi tidak terjadi sama sekali. Ada istilah “surga telinga” yang membuat kita senang kepada suatu kejadian hanya karena mendengar kabarnya saja. Atau “cuci mata” yang sudah bahagia meski baru melihatnya saja. Itulah politik saat ini.

 

31 Januari—BELAKANGAN otot jari-jari saya sering bergerak sendiri, atau berdenyut yang membuatnya bagai ekor cecak yang terputus dari tubuhnya. Mungkin itu tremor, tapi saya tidak ingin berpikir bahwa itu adalah parkinson. Penyakit yang pernah diderita Hitler selama perang dunia ke-2. Kata Alodokter itu faktor kelelahan, karena sering menulis, mengetik, atau menggunakan gawai berlebihan. Saya kira penyakit para penulis adalah sakit punggung, mata, atau sakit kepala. Tapi, saya bukan penulis sesungguhnya sehingga untuk saat ini hanya sering mengalami pegal di belakang leher. Rasanya seperti ada jin menduduki kepala saya. Saya pernah membaca artikel yang menyatakan kesadaran tidak pernah berada di kepala, tapi seluruh tubuh manusia.  Bahkan yang memiliki kesadaran adalah sel, dengan bukti saat masih berbentuk sperma ia sudah bisa bergerak sendiri berlomba-lomba menuju ovarium. Cukup masuk akal. Itu mungkin sebab, kadang tubuh dan pikiran sering tidak sejalan. Kemauan kita kerap tidak sepadan dengan apa yang diinginkan tubuh, sampai-sampai muncul istilah khilaf atau semacamnya. Dengan dalih itu orang ingin berkelit dari kesalahan. Persis seperti ekor cecak tadi itu yang menyelamatkan diri untuk meninggalkan potongan tubuhnya dimangsa. Bagi masyarakat, kesalahan yang tidak diinginkan sering dinisbahkan kepada oknum, sistem, atau orang lain. Selama memiliki ekor cecak kesalahan bukan milik saya. Itu hasil perilaku orang lain. Seterusnya dan seterusnya sampai diri kita lolos dari hukum. Ahli ilmu sosial menyebut masa sekarang era masyarakan risiko. Yang kita makan berisiko menjadi penyakit, yang kita kendarai berisiko merusak lingkungan, sampai nanti yang kita lakukan di dalam hidup ini berdampak buruk kepada generasi setelah ini. Bahkan sekarang, risiko-risiko itu sudah dialami langsung: tubuh berlemak, berumur pendek, dan demokrasi. Jangan Anda mengira demokrasi tidak berisiko. Apalagi jika demokrasi itu dijalankan di antara warga negara yang belum cerdas, apalagi kritis. Bisa-bisa pilih pemimpin jatuh kepada pilihan yang salah. Saya menyukai kopi apalagi jika racikan sendiri, dan saya tahu risiko mengkonsumsinya. Setidaknya, pikiran saya bisa berjalan sendiri

 

1 Februari—TULISAN yang baik dimulai dengan kalimat pembuka yang ciamik. Para penulis tahu ini, dan mengerahkan hampir seluruh gagasannya untuk melakukannya. Bahkan ada yang membawanya sampai tidur lalu di pagi hari terbangun dengan mimpi-mimpi kalimat pertamanya. “Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburannya setelah dua puluh satu tahun kematian…” Ini kalimat pertama dari Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan. Beberapa tahun lalu, melalui kalimat itulah saya mengerti penting bagi seseorang yang ingin menjadi penulis menyiapkan satu kalimat pertaruhan agar ia berhasil menggiring pembacanya. Sampai di kalimat terakhir, tentu saja. Pembuka kalimat di atas adalah tanda tanya. Mengapa di bulan Maret, Dewi Ayu hidup dari kuburnya? Apa motivasinya? Dan mengapa ia mati lalu membutuhkan 21 tahun lamanya untuk bangkit? Apa alasan semua ini? Itulah tekniknya, yang menantang rasa ingin tahu pembaca. Cerdas sangat. Selama 30 hari ini saya mengerahkan kemampuan yang saya punya untuk berlatih menulis, meski singkat tapi dilakukan rutin. Dan, inilah hari terakhir dari sesi latihan itu, kemudian saya merasakan saya membutuhkan banyak alat baru, teknik, dan pendekatan lain agar bisa lebih berkembang. IG bukan platform yang nyaman bagi penulis apalagi orang seperti saya. Spacenya terbatas sehingga perlu mementingkan kalimat apa yang paling pas digunakan, apa kata yang tidak panjang tapi efektif, dan bagaimana membuatnya menjadi seperti selongsong peluru. Singkatnya Anda perlu memperhatikan baik-baik 300 kata yang akan digunakan. Tapi, menyenangkan melakukan tantangan ini, latihan ini, sampai saya berpikir bagaimana jika dilanjutkan sampai 40 hari, 50, sampai 100 hari? Duh, menggoda tapi saya khawatir tidak akan sanggup melakukannya. Konon manusia bisa hidup tanpa uang, dan bakal mati detik kemudian jika tanpa makna. Karena itu mereka ciptakan banyak hal untuk membuktikan banyak hal, termasuk agar dapat terus bermakna. Yang saya lakukan ini demikian bermakna bahkan untuk kehidupan saya, walaupun tidak begitu bagi orang lain. Saya merasa hati ini menjadi lebih bahagia meski hanya dilakukan dengan cara menulis sesuatu. Begitu.

 

Selasa, 14 Mei 2024

Semangka Palestina Banu

Gambar hijau-merah ini merupakan semangka, corat-coret Banu setelah ia bosan bermain-main. Banu membongkar pouch kosmetik yang selama ini saya gunakan menyimpan beragam alat tulis, kebanyakan berisi spidol yang sering saya bawa di dalam tas. Di dalam kelas, spidol merupakan alat bantu yang membuat apa pun dalam bentuk pikiran dapat dilihat wujudnya. Apakah itu konsep, gambar, atau lebih sering garis-garis yang menghubungkan berbagai istilah-istilah teknis keilmuan.

Semangka merupakan simbol perlawanan Palestina, yang diubah makna semantiknya untuk mengungkapkan bendera negara yang nyaris musnah ini. Saat ini tidak memungkinkan bagi warga di sana untuk menunjukkan benderanya di muka umum. Itu sebabnya, mereka menggunakan semangka sebagai pengganti bendera mereka, yang sangat jarang terlihat berkibar bebas di tanahnya sendiri. Masyarakat digital merupakan masyarakat pelahap simbol-simbol. Dengan kemanusiaan, dan dalam bentuk digital, semangka mengungkapkan nasionalisme Palestina dengan wujud global. Nasionalisme dalam arti universal, yang berarti setiap bentuk kehidupan di atas wilayah mesti dijunjung tinggi. Itu yang membuat semangka Palestina dapat dilihat di berbagai akun banyak orang. Meski sebagian dari kita tidak menunjukkan keterlibatan aktif membela rakyat Palestina, tapi dengan menggunakan “semangka” melalui beragam akun, ikut juga menunjukkan kebersamaan bersama mereka.

 

Semangka Palestina
Semangka Palestina


Karena itu saya kurang sepakat pandangan yang menyatakan perjuangan dalam bentuk apa pun itu tidak usah digembar-gemborkan ditunjukkan kepada banyak orang. Mereka menganggap ini seperti prinsip “jika tangan kanan memberi, maka tangan lainnya tidak usah mengetahuinya”. Seolah-olah kebaikan semacam itu merupakan kejahatan yang perlu disembunyikan dari muka umum. Membela kelompok tertindas bukan kejahatan, dan jika dilakukan secara terbuka akan jauh lebih baik ketimbang kebaikan yang disembunyikan rapat-rapat di bawah permadani—makanya nampak lucu saat Israel makin tidak tahu malu menunjukkan kejahatannya, sementara banyak orang nampak ragu menyatakan dukungannya, terlebih bagi yang terang-terangan mendukung gerakan zionisme.

Saya menganggap untuk masalah seperti Palestina ini setiap orang berkewajiban menunjukkan sekecil apa pun yang telah ia lakukan untuk Palestina. Memang tidak bisa disanggah di dunia maya banyak berisi hal-hal yang bersifat artifisial, dan yang sering kali tampak di dinding media sosial adalah orang-orang yang lebih banyak memiliki teman atau pengikut, atau seseorang yang berkeinginan menjadi influencer dengan akun bercentang biru. Setiap tenggelam di dalamnya, saat itu pula postingan dari mereka inilah yang lebih sering lewat di bawah jari-jemari kita.

Di Facebook, hampir saban hari saya gangguan “sorotan” mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang tidak terhubung langsung dengan pengalaman saya. Media sosial dari hari ke hari makin mengerikan. Sisi gelap ini mampu mengubah ribuan klik menjadi pundi-pundi rupiah bagi satu dua orang yang menyukai banyak kunjungan di dindingnya. Suatu cara yang aneh hanya untuk mengidentifikasi siapa teman atau pengikut kita sebenarnya. Di atas screen gawai semua orang ingin diperhatikan dan menjadi pusat perhatian, suatu gejala bias identitas yang diidap tanpa seseorang menyadarinya.

Tapi, jika Anda seorang yang cukup berpengaruh di media sosial, memiliki ratusan, ribuan, atau jutaan pengikut, apa saja yang Anda lakukan melalui medsos bisa berdampak besar, sekalipun itu merupakan hal-hal random.  Terlebih jika Anda seorang cendikiawan yang mendapatkan popularitas dari kerja-kerja intelektual. Mengapa tidak menggunakan pengaruh semacam itu untuk memberikan dampak politik mengenai masalah-masalah kemanusiaan seperti Palestina. Mengapa seluruh aktivisme dan kerja kreatif yang dilakukan seolah-olah terpisah dari tanggung jawab intelektual seseorang? Pertanyaan sebenarnya, bagaimana jika pengaruh mereka dapat berfungsi lebih banyak untuk hal-hal serius seperti kolonialisme di Palestina. Bagaimana cara agar sebagian besar unggahan bisa diartikan sebagai dukungan moral, bahkan politik terhadap problem kemanusiaan dialami Palestina? Itu sebab setiap masalah okupasi, penghancuran etnis, atau masalah kemanusiaan yang membuat sebuah bangsa menderita kekalahan sepanjang tujuh turunan merupakan masalah berbeda, memiliki konteks berbeda.

Semua orang harus menunjukkan keberpihakannya dan menunjukkan bangsa seperti Israel telah salah memahami dirinya sendiri, apalagi bangsa-bangsa lain. Ini seperti prinsip “tunjukkan kebenaran sehingga kesalahan akan tampak dengan sendirinya”. Di mana-mana setiap kegelapan otomatis sirna jika cahaya sudah menampakkan dirinya. Israel adalah negara yang selama ini menciptakan kegelapan. Beragam sumber daya menciptakan berbagai informasi, yang telah menjadi kepercayaan untuk membuat semua bangsa menerima keberadaan mereka di Palestina.

Ilan Pappe, sejarawan Yahudi, yang keras mengkritik Israel menyebutnya sebagai mitos-mitos tentang Israel dalam bukunya Ten Myths About Israel, sebuah buku yang mengulas kesalahan berpikir yang melatarbelakangi berdirinya Israel, dan dalam rangka memberikan argumen bagi yang bersikap apolitis atas kekejaman Israel. Sepuluh mitos itu berturut-turut menjadi bab dalam bukunya: 1) Palestina sebelumnya adalah tanah kosong; 2) Israel merupakan bangsa tanpa tempat tinggal; 3) Zionis adalah Judaisme; 4) Zionisme bukan Kolonialisme; 5) Orang Palestina sukarela meninggalkan negaranya sejak 1948; 6) Perang Juni 1967 merupakan perang yang tidak bisa dielakkan; 7) Israel merupakan satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah; 8) Mitos Oslo; 9) Mitos Gaza; 10) Solusi dua negara. Pappe menyebut mitos 1 sampai 6 merupakan kesalahan berpikir yang terjadi di masal lalu, 7 sampai 9 kesalahan yang terjadi saat ini, dan mitos ke-10 adalah apa yang diharapkan akan terjadi di masa depan. Terakhir ini merupakan wacana yang akrab terdengar di Indonesia, bahkan menjadi pilihan yang telah diputuskan Indonesia untuk dirundingkan di tingkat global. Solusi dua negara disebut menteri luar negeri Retno L.P Marsudi adalah keharusan, karena berisi pengakuan atas kemerdekaan Palestina. Di samping itu ia menyatakan hal ini perlu dimbil dikarenakan kekejaman Israel telah lama dilakukan sejak 70 tahun lalu.

Terlepas dari upaya aktif pemerintah Indonesia memberikan dukungan kemerdekaan kepada Palestina, logika solusi dua negara tidak masuk akal. Jika logika semacam itu dapat diterima, sudah sejak 1945 saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya memilih hidup berdampingan dengan bangsa penjajah seperti Belanda atau Inggris. Seandainya pemikiran seperti ini dibenarkan, bisa jadi saat ini luas wilayah Indonesia hanya sebesar pulau Jawa menyisakan lainnya dibagi-bagi untuk Belanda, atau untuk Inggris, atau untuk Jepang. Jika demikian lalu apa maksud dari Founding Fathers di masa lalu mengumpulkan raja-raja yang masih bertahan di era Hindia Belanda untuk menyatukan wilayahnya ke dalam teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia? Itu artinya sudah merupakan reaksi alami jika seseorang dirundung kekerasan sejak lama, akan menolak melakukan perlawanan balik. Sudah menjadi pilihan tidak terelakkan bagi Palestina bangkit melawan penindasan Israel.

Perang dalam arti tertentu tidak menarik untuk dilakukan, kecuali yang dilakukan orang Palestina. Tidak ada untungnya perang dilakukan Palestinan kecuali dalam rangka mempertahankan diri akibat supremasi Israel yang mengidap—meminjam Yuval Noah Harari—superstar sejarah.

Baru-baru ini, gejala itu ditunjukkan Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mengatakan semua yang hadir saat itu memalukan. Reaksi ini timbul pasca143 negara menyatakan dukungan kepada Palestina untuk menjadi anggota PBB. Reaksi tak tahu malu itu merupakan cerminan mengenai Israel yang selama ini besar kepala, seolah-olah mampu mengatur segalanya melalui sekutunya Amerika Serikat.

Sikap Israel semacam itu menyerupai pembawaan anak-anak menganggap diri paling benar, perlu dilayani, dan penting untuk dijadikan prioritas. Galibnya anak-anak jika keinginannya tidak terpenuhi akan ngambekan, tantrum, dan playing victim sebagai korban. Dalam kemarahannya, Erdan juga menyatakan majelis itu telah merobek-robek Piagam PBB, padahal Israel lah yang selama ini telah merobek-robek Piagam PBB yang memuat prinsip-prinsip utama hubungan internasional, mulai dari keadilan, perdamaian, kesetaraan kedaulatan negara, hingga larangan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional. Inilah yang disebut gejala superstar sejarah, menganggap menjadi pusat dunia, sebagai tonggak sejarah umat manusia merasa diri paling benar. Sekarang mata dunia pelan-pelan telah terbuka.

Jika selama ini hukum internasional tidak sampai dapat menggerakkan hati nurani banyak orang, maka sekarang kekuatan hati nuranilah yang akan menggerakkan hukum internasional menjatuhkan sanksi seberat-beratnya kepada Israel.

Minggu, 12 Maret 2023

Merebut Ruang Publik

Dalam kancah kekinian, ruang publik merupakan arena kontestasi beragam pihak. Para scholar ilmu sosial menyebutnya menjadi ring tanding kelompok religius, pengusaha, elite politik, dan kelompok intelektual berdasarkan kapital, habitus, dan ranahnya masing-masing. Singkatnya, diibaratkan arena tarung, di ruang publik semua pihak memiliki kesempatan merepresentasikan eksistensinya berdasarkan kepentingan kelas sosialnya. Ditambah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ruang publik tersedot juga sampai ke ruang maya. Sama halnya ruang publik real, ruang publik maya jauh lebih ingar bingar dikarenakan sifatnya yang cair, fleksibel, dan cepat.

Ke depan, ruang publik sebagai ruang sosial akan diramaikan dengan berbagai representasi kehadiran. Lantaran telah masuk tahun politik, potongan tayangan, foto, flyer, atau bahkan cuplikan para elite politik akan makin marak berkelindan dengan sejumlah informasi sehari-hari. Nuansa politik makin ke sini makin terasa. Baik ruang publik real maupun maya, diisi dengan beragam informasi grafis, simbolik, ataupun statistik memanfaatkan bahasa dan tanda dalam rangka merebut simpati publik. Perkawinan antara demokrasi digital, pasar, dan politik semakin intens dan eksesif.  Pertautan ketiganya tidak main-main, sampai membuat batas-batas kebenaran dan keontentikan di ranah publik, tempat semua partisipan berkecimpung, kian kabur.

Rasionalitas publik terancam

Di mana-mana setiap kontestasi politik ditandai dengan kemunculan social group. Demi mencapai tujuannya, yakni meraih simpati dan jaringan suara, kelompok-kelompok sosial dibentuk berdasarkan beragam variabel. Tiba-tiba di tempat-tempat umum terjadi pertemuan-pertemuan khusus. Di warung kopi, sekretariat, atau alun-alun kota, bermunculan kelompok kepentingan. Semuanya tumpah ruah mengkonsolidasikan diri demi mengusung kemenangan politik.

Sementara di aras maya, Anda tanpa diduga-duga sudah terjaring masuk di grup rumpun keluarga, ikatan alumni, kelompok profesi, atau bahkan tim pemenangan. Tanpa disepakati seseorang telah mengikutkan Anda ke dalam beragam arena perkumpulan. Dengan keadaan semacam ini, sebagai seorang individu, mau tidak mau membuat diri kita tidak bisa lepas dari unsur-unsur ruang publik semacam itu.

Tapi, keberadaan kelompok sosial tidak menjamin akan membuat ruang publik menjadi ideal. Dalam hal ini, ruang publik sebagai wahana pertukaran informasi, keterlibatan warga, dan ruang demokratis, akan terancam apabila kegiatan yang berbau politik masih mengedepankan semangat kesukuan, kepentingan sempit sektoral, dan politik hitam. Tiga hal ini telah lama menjadi lumrah dikarenakan rasionalitas yang menjadi elemen penting dalam komunikasi politik tidak dikedepankan. Ditambah hoaks masih menjadi momok sehari-hari yang bercampur dalam kegiatan komunikasi warga.

Perlu diingat, kegiatan politik sebenarnya dilakukan untuk menjunjung kebaikan bersama, yakni menciptakan tatanan masyarakat demokratis, sejahtera, dan adil. Para ilmuwan politik dalam hal ini memberikan prasyarat agar politik dapat berjalan dengan baik, yaitu kehadiran nalar publik. Nalar publik, singkatnya merupakan kemampuan bergagasan yang mengedepankan konsensus publik berdasarkan asas inklusifitas, demokratis, dan adil. Dalam hal ini rasionalitas publik akan terancam jika dalam memanfaatkan ruang publik pihak yang terlibat di dalamnya lebih mengedepankan ego pribadi, kelompok, atau kelas sosialnya. Dengan kata lain, jika keadaan ini terjadi maka tidak lama lagi ruang publik akan mengalami privatisasi, komersialisasi, dan depolitisasi.

Melemahnya warga negara

Kekuatan ruang publik ada pada keterlibatan warga dalam menentukan opini publik, yang kemudian akan melahirkan aksi kolektif. Dalam rangka ini, warga menjadi penilik yang cermat memanfaatkan ruang publik sebagai ruang antara. Sebagai ruang antara, ruang publik mesti menjadi sarana pertemuan antara kepentingan warga dengan kebijakan pemerintah. Apabila partisipasi warga dalam ruang publik melemah, maka akan menjerumuskan kehidupan masyarakat kepada titik parstipatif sebagai konsumen belaka. Warga akan dikangkangi kepentingan komersial pasar, dibenturkan kepentingan elite pejabat, atau akan mudah digiring kepada kebenaran-kebenaran semu.

Dari kacamata yang lebih kritis, dalam ekosistem seperti itu, hanya ada dua pihak yang lebih dominan mendapatkan perhatian, yaitu kelompok pemodal, dan elite politik. Hanya aspirasi kedua pihak ini sajalah, bahkan ruang publik diberadakan. Sementara kelompok sosial yang lemah secara ekonomi dan politik, tidak akan mendapatkan tempat dalam arus wacana, pengambilan,  dan penentuan kebijakan publik.

Berkebalikan dengan keadaan di atas, partisipasi publik akan mendorong terciptanya kontrol sosial dan kritik sosial. Terlebih jika itu diisi oleh kelompok masyarakat yang mewakili lapisan akar rumput. Dengan kemunculan kelompok penyeimbang seperti ini akan membuat ruang publik lebih steril dibandingkan jika wacana dominan lebih ditentukan oleh dua pihak sebelumnya.

Selama ini, baik real atau maya, ruang publik lebih banyak diisi oleh riuh rendah komiditi pasar dan suara tinggi semboyan politik tanpa kehadiran suara kritis warga. Akibat melemahnya suara kritis warga, ruang publik seperti selama ini terjadi akan mengalami pembajakan alih-alih menjadi arena edukasi masyarakat. Oleh karena itu, akan sangat penting jika ruang publik disadari oleh kelompok-kelompok akar rumput untuk menjadikannya sebagai arena kepentingan warga publik.

Suara kolektif

Telah dinyatakan sebelumnya, ruang publik adalah ruang antara, yaitu medium tengah yang mempertemukan beragam pihak dengan pemerintah. Karena sifatnya yang demikian, sebenarnya ruang publik merupakan ruang negosiasi untuk meredam komodifikasi dan depolitisasi yang membuat pihak-pihak di dalamnya mengalami kekalahan oleh kelompok pemodal dan elite politik. Selama ini kenyataannya ruang publik kita tumbuh dan berkembang tanpa berpihak kepada kepentingan publik yang asalnya dari suara kolektif masyarakat. Salah satu sebab yang membuat itu terjadi karena tidak ada wacana bersama yang ditopang intelektual, tokoh, dan organisasi masyarakat yang betul-betul mewakili keresahan dan harapan publik. Karena kekosongan inilah,  selama ini ruang publik kita lebih mengarah kepada kepentingan ekonomi pasar dan elite kekuasaan.

Telah terbit di Tribun Timur, 18 Januari 2023


Jumat, 10 Februari 2023

Mahasiswa, Literasi, Riset

Saya kira tidak ada masalah jika saya menuliskan beberapa hal di bawah ini, tentang pengalaman saat bersentuhan dengan beberapa mahasiswa tingkat akhir di kampus tempat saya mengajar sekarang. Galibnya, sebelum menyandang gelar alumni, mahasiswa akhir wajib melahirkan satu karya tulis yang dihasilkan dari suatu studi mendalam, yang memerlukan penelitian untuk membuatnya. Suatu aktifitas menulis yang dilakukan dengan serius dan didasarkan kepada metode ilmiah, yang kelak akan mereka pertanggungjawabkan  di hadapan sidang akademik berisi intelektual berkaliber. Di sidang itu, yang notabene merupakan pertemuan ilmiah, sudah pasti akan berlangsung debat panjang melibatkan konsep, teori, sampai metode penelitian, yang menjadi tulang punggung karya tulis mereka, yang sekaligus akan menjadi ajang tanding perspektif antara peniliti dan penguji.

Tapi, gambaran itu tidak benar-benar terjadi. Jarang, dan bahkan seringkali berubah menjadi forum khotbah untuk si terdakwa mahasiswa.

Itu satu masalah yang saya tahu, yang biasanya dihadapi para penguji, tapi akan terus terjadi berulang-ulang setiap tahun.

Belakangan ini, untuk tidak mengatakan cemas, saya terkesima lantaran keberadaan seorang mahasiswa yang  menghadapi masalah yang saya katakan di atas. Ia mahasiswa terancam drop out, yang kerap saya temukan melongos di antara jejeran buku-buku perpustakaan prodi. Setiap datang ia membawa masalah berupa ide-ide penelitian yang masih bersemayam di benaknya. Di waktu lain saya pernah menemukannya duduk terpekur di bawah sudut almari dengan gawai yang terhubung di konektor listrik,  yang saya ketahui saat itu ia tengah mengikuti kuliah online.

Setiap ia datang, masalahnya seperti tidak pernah beranjak dari pembicaraan terakhir kami. Sampai sekarang, belum ada selembar pun draft atau naskah usulan penelitian yang ia siapkan. Ia seolah-olah telah kehilangan kemampuan menulis dari kedua tanggannya, dan sepertinya telah menyerah hanya untuk menghasilkan kalimat-kalimat akademik dari cetusan-cetusan pikirannya.

Saya kira itu masalah pertama yang mesti dipecahkan sebelum ia menghadapi masalah kedua, yaitu menyusun naskah tugas akhir, yang sampai sekarang belum sekalipun ia tunjukkan ke dosen pembimbingnya.

Sekali tempo, seorang kolega pengajar mengeluhkan buruknya cara mahasiswa menulis tugas akhir. Ia kerap kelimpungan dengan cara mahasiswa menyusun gagasannya—jika memang ada. Setiap ia membaca satu kalimat setiap  itu juga ia merasa tidak mengerti apa-apa. Di rapat itu, ia perlu mempertanyakan kemampuan berbahasa mahasiswa yang sepertinya tidak banyak mengalami perubahan meski telah mengambil mata kuliah bahasa Indonesia.

Kemampuan berbahasa berkorelasi dengan kemampuan berpikir seseorang, meski kemampuan berpikir yang baik tidak selamanya akan membuat seseorang mahir berkomunikasi. Untuk yang terakhir ini seseorang mesti mempelajarinya melalui ilmu komunikasi atau retorika, sama seperti yang pernah dilakukan para filosof di masa lalu. Di masa lalu, para filosof tidak saja memiliki kemampuan berpikir kritis, tapi juga ahli dalam menyampaikan gagasan-gagasannya dengan elegan. Para filosof dalam hal ini sangat memperhatikan cara mereka menuturkan gagasannya agar tidak membuat pendengarnya gagal paham dari apa yang sedang ia pikirkan.

Tapi, bagi mahasiswa tidak terlalu membutuhkan kemampuan retorika jika ia tidak berminat untuk menjadi seorang politikus di masa depan kelak, melainkan hanya perlu menyisihkan banyak waktunya untuk memperbaiki cara ia mengorganisir gagasan. Bagi seorang mahasiswa ilmu sosial ia perlu mempelajari cara berpikir analitis dan kritis agar dapat mengungkap makna di balik fakta-fakta yang muncul dipermukaan. Ia juga perlu berpikir secara historis untuk menangkap relasi kausal dari berbagai peristiwa dalam alur sejarah manusia.

Lebih dari itu, seorang mahasiswa perlu banyak melahap buku-buku, jurnal, dan apa pun sehingga membuat dirinya dapat memiliki kekayaan kosakata pengetahuan.

Sekarang ini tidak sedikit mahasiswa mengalami ketidaksanggupan menyampaikan isi pikirannya, di samping telah lama kehilangan kepercayaan diri saat ingin menyampaikan sesuatu. Saya berhipotesis penyebab utama dari fenomena ini karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki habit yang baik; mereka malas membaca buku, jarang bertukar pikiran, dan enggan terlibat di dalam forum-forum ilmiah. Berkaitan dengan dunia digital, interaksi tanpa batas mahasiswa dengan media dan game daring, melenyapkan kesanggupan berpikir mendalam terutama berkaitan dengan pikiran-pikiran bernas.

Singkat kata, cuplikan aktivisme sebagian mahasiswa di masa kini, jika tidak disedot ke dalam praktik politik praktis, kapasitas intelektual mereka kehilangan kegairahan lantaran diisap citra visual dunia daring.

Sabtu, 23 April 2022

Perpustakaan Raksasa dan Takdir Kota Dunia

(Refleksi Hari Buku Internasional, 23 April 2022)

Madrid, Spanyol (2001), Alexandria, Yunani (2002), New Delhi, India (2003), Antwerp, Belgia (2004). Montreal, Canada (2005), Turin, Italia (2006), Bogota, Colombia (2007), Amsterdam, Belanda (2008), Beirut, Lebanon (2009), Ljubljana, Slovenia (2010), Buenos Aires, Argentina (2011). Kemudian kota Yerevan, Armenia (2012), Bangkok, Thailand (2013), Port Harcourt, Nigeria (2014), Incheon, Korea Selatan (2015), Wroclaw, Polandia (2016), lalu Conakry, Guinea (2017).  Athena, Yunani (2018), Sharjah, India (2019), Kuala Lumpur, Malaysia (2020), dan Tbilisi, Georgia (2021).

Sesungguhnya nama-nama kota di atas merupakan paragraf pembuka yang aneh, kecuali jika Anda telah mengetahui, itulah kota-kota terpilih di seluruh dunia dua dekade silam sebagai World Book Capital (WBC), yang memiliki misi mengkampanyekan pentingnya buku bagi kehidupan umat manusia. Kota-kota itu dipilih setelah lolos seleksi pengajuan oleh UNESCO untuk memperingati Hari Buku Sedunia, yang ditetapkan setiap 23 April.

Bukan kebetulan jika Madrid, Spanyol, menjadi kota WBC pertama, dikarenakan Miguel de Cervantes berasal dari negeri Matador, yang meninggal pada 23 April 1616. Penulis sohor novel legendaris Don Quixote de la Mancha itu juga berbagi tanggal kematian yang sama persis dengan dua penulis gigantik di sepanjang sejarah kesusastraan Barat:, William Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega. Jadi klop sudah bagi UNESCO menyepakati tanggal 23 April sebagai hari Buku Internasional.

Agak menyeramkan jika hari peringatan buku seantero dunia dikaitkan dengan kematian seseorang, meski mereka adalah penulis berkaliber dunia. Agak politis barangkali menetapkan itu hanya berdasarkan dua atau tiga nama manusia Eropa, tanpa menyaksikan kenyataan lain, semisal kedekatan suatu bangsa dengan tradisi literasi yang lebih tua dari nama-nama sebelumnya. Atau, menetapkan nama-nama penulis lain non Eropa yang memiliki sumbangsih tidak kalah besar terkait buku dan kesusastraan.

Tapi memang ketika menilik lebih jauh, di tanggal 23 itu sebelum ditetapkannya menjadi hari buku sedunia, di Catalunya, Spanyol, para pedagang buku kerap melakukan festival buku untuk memperingati seorang santo pelindung kota Catalan. Adalah Santo George dipercaya sebagai pelindung kota masyarakat setempat merupakan martir bagi kepercayaan Nasrani, yang dalam mengingatnya sering melakukan saling tukar mawar dan buku.

Beberapa waktu lalu tanpa sengaja saya menyaksikan sebuah postingan di dinding Facebook bertitel  ”Perpustakaan Kuburan”, yang diposting cerpenis asal Barru, Badaruddin Amir. Dalam esainya itu, perpustakaan bisa sangat dekat dengan kematian, terkhusus dalam imajinasi dua seniman bernama Michael Clegg dan Martin Guttman, yang mendirikannya di kompleks pemakamanYahudi Krems, Austria. Buku-buku dalam perpustakaan terbuka itu disimpan secara artistik untuk mengenang korban pembantaian Yahudi dilakukan Nazi pada PD II lalu.

Buku selama ini identik sebagai jantung hidup-mati peradaban, yang tanpa kehadirannya membuat setiap orang akan kehilangan caranya melihat dunia. Bukan tanpa alasan, atau sekadar pepatah bahwa buku adalah jendela dunia dengan isyarat terkait sebuah tempat, ruang, dan bingkai bagi pembaca untuk melihat dunia dari sisinya. Agak ironi membayangkan apa sesungguhnya impresi jika, semisal, perpustakaan kuburan di atas menjadi sudut pandang dalam melihat sejarah dan kematian. Buku sebagai perlambangan kehidupan dan kuburan sebagai batas kematian, nyatanya, memang memiliki kekuatan dapat mengubah cara masyarakat menengok masa lalu, sama seperti saat ia menatap masa depannya.

Seandainya narasi masa lalu didirikan tanpa ”jendela” buku-buku, sudah dapat dipastikan sebuah bangsa akan menjadi buta sejarah dan ”mati” tidak lama kemudian. Ibarat katak dalam tempurung, masyarakatnya hanya gemar berdengung panjang dan melompat-lompat meski tak dapat keluar jua dari batok kelapa yang menjadi penjaranya.

2023 nanti jika dinyatakan terpilih, World Book Capital akan jatuh kepada Jakarta. Anies Baswedan, diambil dari beritajakarta.id, laman berita resmi Pemprov Jakarta, menyatakan telah mengajukan kotanya sebagai kandidat kota buku dunia pada 15 April 2021 lalu. Ada dua alasan dikemukakannya saat itu yaitu geliat literasi yang semakin meninggi, dan penerbitan buku yang membludak hingga 2020 dengan 19 persen penerbit di Indonesia berada di Jakarta.

Selain itu, penerbitan di Ibu Kota berhasil mendaftarkan 14.906 ISBN, dan angka ini dinyatakan cukup signifikan menempatkan Indonesia sebagai negara paling produktif dalam industri penerbitan di Asia Tenggara selama 2019. Dalam hajatan perbukuan, Jakarta juga menjadi tempat sejumlah acara seperti Indonesia International Book Fair (IIBF), Jakarta International Literary Festival (JILF), dan Jakarta Content Week (Jaktent).

Anies menyatakan, masih di laman yang sama, untuk mendukung program bertagline ”Everybody’s Reading” itu, di Jakarta telah banyak disediakan buku di ruang publik demi mendorong setiap orang dapat membaca buku kapan pun dan di mana saja.

Tapi, uraian singkat ini bukan tentang Jakarta, melainkan bagaimana buku dapat menjadi kata berparadigma bagi semua pihak, agar lebih dapat menunjukkan hasrat yang besar terkait pembangunan sumber daya manusia. Itu artinya buku bukan lagi sekadar benda, tapi menjadi kebiasaan yang berkorelasi langsung dengan tradisi berpengetahuan masyarakat. Dengan begitu, kebiasaan membaca tidak akan identik dan hanya ditemukan dalam ruang akademis semata, melainkan hidup sebagai suasana pikiran dan batin masyarakat.

Dua hari beruturut-turut kemarin (21 dan 22 April) kita memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi, yang entah dengan suatu cara saling terkait. Kartini di masa lalu menjadi perempuan yang nyaris hidup kekal dari belenggu otoritas laki-laki, meski ia dijodohkan jua dengan seorang Bupati sebagai suaminya. Kartini sampai hari ini menjadi simbol perempuan lokal untuk melawan segala macam stereotip, subordinasi, dan ketidakadilan yang dihasilkan dari kebudayaan patriarki. Bukunya yang dikenal dari judulnya Habislah Gelap Terbitlah Terang, banyak digadang-gadang sebagai argumen penting mengapa hanya Kartini saja yang dizinkan negara agar ia menjadi monumen peringatan. Masih banyak perempuan heroik di waktu dan di tempat lain, yang juga mengorientasikan perjuangannya melawan penjajahan, dan bukan hanya sekadar kepada tradisi berideologi laki-laki.

Saya barangkali terlambat menyadari mengapa itu bisa terjadi. Rasa-rasanya di bangsa ini hanya Kartini seorang diri yang tanggal kelahirannya dijadikan sebagai hari nasional. Terkait ini, saya agak setuju dengan cuitan-cuitan Saut Situmorang di beranda Facebook, yang melihatnya melalui sudut pandang pascakolonial. Hari kelahiran Kartini, bisa diglorifikasi dan dilegitimasi negara menjadi hari nasional dikarenakan jawasentrisme:  untuk ini perlu kita tahu, dari perspektif kelas Kartini merupakan anak yang lahir dari keluarga ningrat, feodal, dan Jawa. Tiga hal yang selama ini menjadi sasaran pembebasan saat Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara republik.

Lalu, apa keterkaitan semua itu dengan Hari Bumi kemarin? Bagi saya, adalah ideologi patriarki yang menyeruak ke mana-mana termasuk ke dalam ideologi pembangunan, modernitas, dan bahkan sains. Sekarang perlu kita sadari kerusakan lingkungan yang dihasilkan melalui Kapitalisme-Patriarkat, istilah yang diperkenalkan Vandana Shiva, seorang ekofeminis asal India, telah membawa bumi ke jeram-jeram berbahaya. Krisis iklim tanpa kita sadari tengah terjadi, yang karena itu membuat kita selama ini  lebih suka menggerutu jika bumi tiba-tiba berubah menjadi tungku pembakaran, dan kita menjadi mayat hidup di dalamnya. Kita sering mengeluh mengapa dunia ini makin panas, burung-burung menghilang, dan betapa sulit kita menemukan air bersih, tanpa mengubah sikap kita terhadap alam dengan menganggapnya seperti seorang perempuan yang dengan enteng ingin dikuasai, dieksploitasi, dan dikontrol.

Saya sudah lebih dari satu tahun memutuskan berhenti menggunakan jasa mobil pengangkut sampah. Ia semakin lama makin seperti anak remaja yang mulai malas menunaikan kewajibannya. Di desa tempat saya bermukim, pelan-pelan sedang bertransformasi menjadi pemukiman padar penduduk. Nyaris dengan gampang sawah-sawah akan berubah menjadi kompleks perumahan. Lapangan yang dulu sekali dua kali menjadi tempat saya bermain voli, sekarang sudah berdiri rumah mentereng di atasnya. Banjir untuk saat ini masih menjadi fenomena yang jauh dari kompleks perumahan saya, tapi itu tidak akan bertahan lama. Lima atau sepuluh tahun lagi tanah telah beralihfungsi sesuai cara berpikir pengembang perumahan, membuat banjir adalah ancaman yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Jadi, sekarang bumi tidak seindah masa lalu. Ia makin hari makin kotor, miskin, dan makin berbahaya. Bagi seorang ekofeminis, bumi ibarat perempuan yang setiap hari mengalami feminisasi, dan dalam kenyataan lain, perempuan juga mengalami hal yang sama seperti bumi melalui naturisasi. Kedua keadaan ini sama-sama berbahaya karena didudukkan dalam status yang sama: rendah, nomor dua, dan hanya sekadar menjadi objek bagi laki-laki.

Baiklah, saya sangat percaya buku dapat mengubah banyak hal, bahkan takdir hidup orang-orang, sama seperti dialami Carlos Brauer dalam novelet Rumah Kertas karangan Carlos María Domínguez. Tidak seperti lazimnya banyak orang, Brauer membangun rumahnya bukan dengan bata, kayu, ataupun semen. Sebagai pecinta buku, kegemarannya atas pagina berjilid itu dapat ia sulap menjadi rumah buku. Sampai-sampai semakin hari tidak ada ruang tersisa untuk menyimpan buku, membuatnya mesti tidur di atas gorong-gorong atap. Carlos Bruer adalah tokoh fiksi, tapi caranya mencintai buku dapat menjadi kisah nyata apabila, satu orang, dua orang, atau bahkan ribuan orang mengisi kehidupannya dengan buku-buku. Membuat buku-buku demikian hidup, bergerak, dan dapat dibaca di mana saja, sama seperti kegemaran orang-orang yang saya lihat dapat menyulap trotoar jalan raya berbah seperti masjid; mereka datang bergerombol duduk sambil membaca kitab sucinya, seolah-olah sedang mempromosikan suatu kesalehan yang ganjil.

Begitulah, belakangan ini muncul inisiatif gerakan agama puritan, yang sangat ingin mengubah kotanya menjadi lebih religius. Menyulap kota tempatnya tinggal sebagai medan jihad yang sempit mereka artikan hanya ke dalam pencitraan simbolik. Tapi, saya lebih suka jika kita semua berkumpul di alun-alun kota, dan mulai mendorong mengubah setiap gedung, tempat, dan sarana kota menjadi perpustakaan raksasa, dan dengan bangga akan menyebutnya sebagai Kota Buku Dunia.