2 Januari—SAYA menantang diri sendiri.
Bercerita selama 30 hari kedepan yang menjadi fitur IG jika ingin memiliki akun
yang “hidup”. Fitur ini sepertinya ingin membuat semua orang yang melakukannya
dapat menjadi penulis. Setidaknya selama 30 hari lamanya. Kemarin istri saya
sudah memulainya. Mungkin karena fitur ini ia melakukannya. Saya baru ngeh.
Sekarang saya memulainya dan berpikir ini merupakan hal yang menyenangkan.
Beberapa tahun lalu saya pernah melakukannya. Setiap malam dituntut dapat
menghasilkan satu esai per hari yang kemudian saya simpan di blog pribadi. Saat
itu cukup menyiksa karena harus berjibaku dengan kegiatan lain. Tapi ternyata
saya dapat melakukannya juga. Satu pencapaian yang membuat saya banyak belajar
tentang cara menulis. Setidaknya saya tahu bagaimana cara menghasilkan tulisan
yang buruk. Sekarang dengan tantangan yang nyaris sama saya melakukannya
kembali. Menulis langsung dari gawai dengan sekali jalan. Menulis sambil mengedit, dua pekerjaan yang
sebenarnya terlarang dilakukan bagi penulis medioker seperti saya. Tapi, ini
peluang bagi saya agar memiliki ruang dengan menulis apa saja setiap hari.
Tanpa aturan, tanpa tuntutan kecuali setiap hari harus bercerita di catatan ini
sampai space ini habis. Mungkin besok saya akan bercerita tentang buku, Banu
dan Syanum anak saya, atau hal-hal segala rupa yang bagus untuk saya tulis.
Mungkin juga dari sini lahir ide-ide yang tidak sempat saya tulis melalui
kebiasan selama ini. Oh iya, hari ini saya dari kantor kependudukan untuk
mengurus KTP perpindahan. Sepulang dari situ di atas jok motor terselip kartu
nama seorang caleg yang tidak saya tahu siapa dia. Saya pikir ini satu modus
berkampanye yang tidak berbeda dengan jasa penyedot wc saat ia menyelipkan
selebaran di pagar-pagar perumahan.
3 Januari—
4 Januari—KATANYA anak-anak kita bukanlah
anak kita. Itu ucapan Jalaluddin Rumi, penyair sekaligus mistikus terkenal yang
tidak akan lagi lahir di masa depan. Setiap anak lahir dengan cerita berbeda.
Dengan nasib berbeda. Di zaman berbeda. Karena itu setiap zaman memiliki
anak-anaknya sendiri. Para ahli membagi generasi setidaknya menjadi lima
kategori: generasi baby boomers, generasi X, Y, generasi zoomer, dan Alpha.
Setiap generasi ini memiliki perbedaan fundamental dari sisi bagaimana
mengatasi kehidupan berdasarkan teknologi. Di masa sekarang setiap anak yang
lahir sudah akan pasti menjadi generasi digital native. Menjadi anak-anak yang
berpikir dengan logika algoritma dunia digital. Berperilaku meniru dari apa
yang mereka tonton. Dari dunia mini layar gawai. Mereka berbicara merepitisi
bahasa tontonan dan sampai akan menjadi seperti figur yang mereka lihat.
Anak-anak tanpa sadar sedang dididik oleh tontonan. Tapi, bukan dididik yang
lebih tepatnya adalah didikte. Sampai di sini belum ada cerita tentang Banu dan
Syanum seperti yang akan saya lakukan karena yang Anda baca sebelumnya nyaris
akan menjadi esai jika tidak saya hentikan di kalimat ini. Tahun ini Banu akan
memulai bersekolah. Di tingkatan taman anak-anak, lebih tepatnya. Usianya tahun
ini akan masuk 6. Usia kritis karena akan memasuki banyak pengalaman baru,
teman-teman baru. Banu akan belajar bersosialisasi dengan lebih banyak orang,
berinteraksi sehari-hari dengan anak-anak seusianya yang lahir dari keluarga
lain, yang tentu akan mengasilkan pola-pola pendidikan usia dini yang berbeda.
Di situlah dia belajar karakter anak seusianya yang telah dididik di
rumah-rumah yang berbeda. Membandingkan, melihat, memperkirakan dan memutuskan
bagaimana caranya ia akan berinteraksi dan berinisiatif dengan teman-teman
barunya. Tapi, dunia anak adalah permainan. Itu satu-satunya yang akan
menyatukan anak-anak lain dapat berkumpul, berlari, bermain pasir satu sama
lain. Banu menyukai tipe permainan
outdor yang memukingkan ia untuk berlari apalagi mengulik tanah atau pasir
bebatuan. Mungkin karena selama ini telah bosan bermain di dalam rumah. Banu
jika di TK nanti bermainlah sepuasnya, sebisa-bisanya.
5-6 Januari—YANG mana lebih mengasyikkan
buku atau film? Mungkin dua-duanya. Tapi, yang mana paling efisien dari sisi
penyampaian pesan? Mungkin itulah film, yang menggabungkan semua genre seni
pertunjukkan, audio maupun visual. Tapi, buku lebih imajinatif, masih memberikan
kesempatan kepada pembaca untuk membayangkan sendiri bagaimana reka adegan
suatu cerita. Di film Anda tidak bisa melakukan itu. Sementara bacaan dalam
buku membuat realitas tertunda kata-kata demi kata. Anda baru bisa membayangkan
suatu peristiwa lengkap setelah suatu kalimat habis dibaca. Di atas dua buku
yang baru saja saya beli setelah sore yang hujan di toko buku berlogo mirip
ular meliuk, ditemani istri dan kedua anak saya. Tapi, tidak begitu
kejadiannya. Sayalah yang menemani istri dan Banu dan Syanum untuk berbelanja
kebutuhan makanan Syanum. Setelah cukup dengan kebutuhan Syanum saya ajaklah
Lola naik ke lantai tiga, tempat toko buku itu berada untuk cuci-cuci mata.
Iseng-iseng saja. Tepat di depan pintu masuk saya temukan buku Marquez ini,
diterjemahkan Eka Kurniawan dari versi Inggrisnya. Menurut saya pengalaman
membaca yang asyik jika karya novelis diterjemahkan juga oleh penulis novel.
Satu hal yang saya alami saat membaca Cannery Row-nya John Steinbeck, penulis
yang cocok dengan kecenderungan saya mengenai kelompok-kelompok pinggiran.
Steinbeck sampai sekarang masih menjadi penulis novel yang saya sukai.
Bagaimana dengan Gabriel Garcia Marquez? Jika dilihat dari Seratus Tahun
Kesunyian-nya, Marquez akan seperti filsuf yang menyamar sebagai pencerita
ulung. Tapi, Marquez akan selalu memberikan efek subtil jika membaca
karya-karyanya. Bagaimana buku tentang film ditulis Seno Gumira Ajidarma di
atas? Tentu sama antusiasnya saat saya menonton film-film. Lewat Djam Malam
adalah film yang dipakai sebagai gambar cover buku ini. Film tentang mantan
gerilyawan revolusi yang hilang orientasi hidupnya setelah Indonesia merdeka
dan berubah. Mereka hanya tahu berperang tidak yang lain. Saat saya menontonnya
harus terbiasa dengan layar hitam putih tidak seperti film-film modern sekarang
ini.
6 Januari—SAYA khawatir tidak dapat menulis
cerita ini. Semalam saya harus melawan kantuk untuk bercerita, meski telah
pukul 12 malam. Kali ini tentang Banu, baru saja menyelesaikan kegiatan naik
tingkat sabuk taekwondo. Sudah tiga bulan Banu diikutkan di kelas, dan masih
seperti di hari pertama, ia bagai anak-anak yang kesulitan bergerak tangkas.
Kuda-kudanya tidak kuat. Tendangannya belum lentur. Dan ia masih sering
kehilangan fokus. Saya duga ini dampak dari perkembangan Banu saat ia terlambat
merangkak dan mampu berdiri kali pertama dengan kedua kakinya. Motorik kasarnya
berkembang tidak sebaik motorik halusnya. Mewarnai dan menggambar akan lebih
mudah ia lakukan jika harus tangkas dan lentur saat berlatih gerakan taekwondo.
Tapi, saya tidak akan membandingkannya dengan teman Banu yang lain. Lebih dari
itu Banu dapat belajar fokus, berkomunikasi, dan menyatakan perasaannya tanpa
ragu ketika berhadapan dengan temannya. Saya kira itu juga yang dipahami shabum
Banu dengan memberlakukan muridnya berdasarkan kemampuan masing-masing. Foto di
atas adalah kakak seperguruan Banu. Selama saya perhatikan merekalah kelak yang
akan jadi jago-jago tanding. Sparing satu lawan satu. Beberapa minggu lalu
mereka juga ikut ujian naik tingkat dari kuning menuju kuning strep hijau. Banu
dipisahkan bersama anak-anak sabuk putih untuk diujiankan gibon satu, pola
gerakan paling dasar di taekwondo. Saat itu merupakan ujian naik tingkatan
akbar. Banyak perguruan taekwondo dari cabang-cabang yang tersebar di kabupaten
tempat kami tinggal. Ramai sekali. Dari sabuk putih sampai merah. Dengan
tingkatan gerakan masing-masing. Padepokan itu mengisyaratkan untuk saat ini
penting memiliki skil bela diri. Tapi, bukan untuk kelahi. Melainkan menajamkan
kepekaan, kedisiplinan, sportifitas, dan yang paling penting semangat
persaudaraan sesama manusia. Saya kira semua seni bela diri menyatakan hal yang
sama, dan itu terlihat dari balik warna sabuknya. Banu masih bersabuk putih,
yang menandai kemurnian, rasa ingin tahu, dan bersih siap diisi oleh nilai
setingkat setelahnya kuning: kejujuran dan kebenaran, hijau: pertumbuhan, biru:
kedalaman mental, merah: kecerahan mental, hitam; komitmen.
7 Januari—DI RUMAH Tv telah menjadi kotak
mati. Tak berfungsi seperti di tempat lain. Padahal bagi sebagian orang Tv
adalah jendela dunia, yang mirip buku dapat menyampaikan apa saja. Tapi,
sebagian yang lain telah lama meninggalkannya, dan menggantinya dengan youtube,
netflix, atau medsos. Pasca siaran nasional menggunakan Tv digital sejak saat
itu rumah kami lebih sepi dari sebelumnya, yang saat tertentu hanya menyala
jika saya misalnya ingin menonton siaran bola liga lokal. Atau Banu yang ingin
memutar rekaman video yang sudah disimpan di dalam hardisk khusus untuknya.
Dulu, untuk membuatnya tidak tergoda gawai, kami bersepakat menggunakan Tv
sebagai penggantinya dengan menyuguhkan rekaman film yang telah saya download
untuknya. Sekarang masa itu telah lewat dan butuh strategi khusus agar Banu
tidak banyak menghabiskan waktu bermain handphone. Belakangan ini kami ingin
kembali membeli Tv agar tidak ketinggalan berita. Meski setiap saat internet
lebih cepat menyuguhkan informasi, tapi tetap saja, setidaknya bagi saya yang
besar dengan suara Tv, masih merindukan suasana ketika berita-berita dibacakan
newsanchor dari atas mejanya. Format lama seperti ini cocok bagi saya yang
tumbuh di era 90-an. Sampai saat ini tak sekalipun saya menyaksikan debat
capres. Menonton siaran ulangnya saja enggan. Tapi, lain ceritanya kalau saya
melihatnya melalui Tv. Kesan umumnya tercapai, persis bagaimana dulu Tv pertama
muncul: satu kotak dikerubungi banyak orang, dan dari situ suasananya lebih
guyub. Sementara jika lewat online, Anda sudah tahu jawabannya. Setiap orang
asyik dengan tontonannya sendiri. Menurut saya debat-debat capres seperti ini
lebih terasa suasananya jika disaksikan bersama-sama seperti nonton tanding
bola. Di situ ada keseruan, timpal menimpali protes tapi tidak saling pukul.
Tapi, saya bingung sendiri mengapa masih enggan menonton debat-debat capres.
Saya malas mendengarkan uraian panjang lebar paslon tapi tidak bermutu. Lebih
baik menyaksikan acara podcast yang membuat suasana riang, tidak mikir, dan mengalir.
Tapi, memiliki Tv rasanya masih relevan saat ini apalagi disambungkan dengan
jaringan digital. Pasti kegiatan menonton film saya makin total.
8 Januari—12 BUKU Seri Mengenal Emosi. Itu
paket buku anak-anak yang menyelamatkan saya malam ini. Saya dan Lola tertawa
bersama. Apa lagi yang harus diceritakan malam ini. Dan, buku itu terhampar.
Tergeletak. Lalu saya melihatnya. Mengapa tidak memulai kalimat dengan buku
ini. Menceritakan sedikit isinya, dan mari lihat hasilnya. Apakah setelah itu
kalimat-kalimat tertentu dapat saya tulis! Buku ini bertema “bosan”, dengan
judul “Bermain Apa Lagi?” Bercerita tentang seorang anak yang tidak kerasan
bermain. Pertama-tama puzzle, lalu boneka, kemudian masak-masakan. Seperti
sebelumnya ia bosan. Ia ingin seseorang menemaninya bermain. Diajaklah ibunya
ikut serta. Tapi, ia bosan lagi. Akhirnya datanglah teman-temannya mengajak
bermain di luar. Bosan adalah hal biasa yang terjadi karena mengerjakan sesuatu
berulang-ulang. Begitu pesan buku ini. Makanya perlu inovasi. Satu hal yang
baru. Saya kira hal ini juga berlaku untuk yang lain. Kita bakal bosan jika
melalui hari-hari ini tanpa perubahan. Sistem masih sama. Kebijakan juga sama.
Apalagi pemimpin juga masih akan sama. Di kancah teori sosial kebosanan bisa
mendorong perubahan sampai ke tingkat radikal. Apalagi kalau itu dirangsang
melalui perangkat paradigma dan pemikiran. Pasti perubahan itu datang. Tapi
yang jadi soal dari manakah perubahan itu datang? Siapa yang bakal
melakukannya! Seperti buku ini, sebelum berubah kita orang dewasa juga harus
pandai mengenal emosi sendiri. Mengetahui perasaan sendiri. Salah
mengidentifikasinya akan gagal mengontrol sikap apa yang pantas. Belakangan ini
banyak hal yang membuat emosi naik turun. Pemilu membuatnya seperti
rolercoaster. Masih seperti lalu, momen politik macam ini bakal membuka kedok
perasaan orang-orang. Apalagi yang suka memendam perasaan! Karena itu cerdaslah
menilai emosi sendiri, apalagi membaca isi hati orang lain. Itu!
9 Januari—SAYA ingin segera menulis ini,
lalu menyudahinya dengan membaca beberapa buku baru yang telah saya list. Tapi,
itu akan sulit saya lakukan. Saya perlu bersiasat untuk itu. Lalu inilah cerita
yang akan saya tulis—seperti yang terlihat dari foto ini: seorang pengendara
motor dengan modifikasi kulit AC Milan. Saya selalu melakukannya. Memfoto logo
klub sepakbola asal kota mode Itali ini jika bertemu di mana saja. Dari jersey,
batik, stiker, topi, dan kali ini sebuah motor trail. Semua itu saya ambil gambarnya,
kemudian sering saya lepas lewat status whatsapp. Menjadi tifossi Milan dimulai
saat SD, saat memiliki jersey bernama Bierhoff. Nomor 20. Angka angker yang
dipakai penyerang jerman ini. Bagi kiper liga seri A saat itu, kepala Bierhoff
lebih sulit ditaklukkan daripada kakinya. Ia selalu menang duel udara.
Kaki-kakinya mantap, dan bidikannya jarang tidak berbuah gol. Tapi, Zvonimir
Bobanlah yang membuat saya benar-benar menyukai AC Milan, playmaker asal
Kroasia ini memiliki kemampuan menyerang dan bertahan yang sama baiknya. Ia
agresif dan sering konfrontatif jika sudah dekat dengan kotak pinalti. Bersama
Albertini lini tengah Milan sulit ditembus kala era 90-an. Boban adalah simbol
kebebasan Kroasia, dan menjadikan sepakbola sebagai alat untuk mengekspresikannya.
Di Piala Dunia 98 ia menjadi jenderal lapangan tengah Kroasia dan bersama Jarni
dan Davor Suker membawa Kroasia meraih posisi ketiga setelah mengalahkan Jerman
di perempatan final. Di aras permainan anak-anak, Boban akhirnya menjadi nama
pergaulan, dari lapangan sampai sekolah, di lingkungan rumah dan teman-teman
masa awal SMP. Ini adalah masa-masa sebagian anak era 90-an merasa perlu
mencari nama samaran, dan menggunakannya untuk ajang ekspresi diri. Akan tampak
keren jika nama-nama itu makin Eropa, makin asing. Lalu kami akan menulisnya
besar-besar di tembok rumah tetangga. Mengotori meja di sekolah dengan
menggunakan pulpen Pilot. Atau menandai dengannya di ujung baju sekolah. Lalu
kerusuhan Timor Timur terjadi sampai di kota Kupang membuat sekolah-sekolah
berhenti. Itulah saat-saat terakhir saya menginjakkan kaki di kota karang tapi
pantai-pantainya yang indah itu.
10 Januari—INI kisah orang pinggiran. Yang
hidup bersisian langsung dengan sungai Jenebberang. Persis di bawah tanggul
yang merupakan area berbahaya karena itu terlarang. Mereka hidup berkelompok
membuat rumah semi permanen dari kayu bekas pakai, seng, atau bambu. Membuka
warung-warung kecil untuk memutar uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang
tidak diterakan di BPS: Pappalimbang. Kelompok lelaki dari subuh hingga malam
berkali-kali menggerakkan perahu rakitan pulang pergi menyeberangkan ratusan
orang: pegawai, anak sekolah, tukang sayur, mahasiswa, dan tukang ojol. Sementara para perempuan tinggal di rumah,
memasak, dan merawat anak-anak yang masih kecil. 3 tahun lalu, ketika musim
penghujan di titik puncak, semua yang mereka miliki diseret air bah. Sungai
meluap membuat sisinya makin lapang. Sebagian rumah selamat, dan dengan itulah
mereka mulai dari nol. Memperbaiki tiang pancang, menambal perahu, dan
mendirikan ulang rumah yang diseret banjir. Di Jakarta kisah seperti ini
diceritakan dengan sangat bagus oleh Roanne Van Voorst, antropolog kota melalui
hasil risetnya diterbitkan Marjin Kiri: Tempat Terbaik di Dunia, yang merupakan
kawasan kumuh di ibu kota. Di situ dia menemukan cara orang pinggiran bersiasat
dalam merespons banjir. Bisa dikatakan dari risetnya, orang miskin merupakan
penduduk kreatif, terutama bagaimana mereka mengkreasikan cara hidup meski
lunta sekaligus melahirkan strategi survival karena langganan banjir. Di
sepanjang sungai ini pula banyak penambang pasir. Penyelammnya berkulit legam
menarik ember tembaga sampai ke dasar sungai lalu naik dengan seember penuh
pasir. Mereka sepertinya punya paru-paru kuda. Naik turun sedalam hampir 10
meter. Jika perahu pengangkut telah penuh mereka pulalah yang menyekop naik ke
truk-truk. Kadang mereka melalukan itu di siang terik membuat kulit mereka
seperti diolesi minyak zaitun. Tapi, mereka semua jangan dianggap remeh.
Pappalimbang memiliki peran mengurangi kemacetan terutama jalur poros
Makassar-Gowa. Di jam sibuk peran mereka lebih signifikan. Penambang pasir
tradisional juga penting, tanpa mereka pembangunan tidak akan berjalan lancar.
Sedimentasi sungai juga dapat dikurangi. Itu.
11 Januari—INI satu dari sekian banyak
gambar Banu. Telah banyak kertas ia habiskan, disobek, dan diganti baru jika
salah menarik garis, atau tidak sreg dengan warna yang ia inginkan. Adakalanya
kertas-kertas itu menumpuk seperti skripsi yang ditinggal pasca ujian. Apabila
sudah jadi akan ia tempel di dinding, jika tidak akan ia simpan belaka bak
pekerjaan seorang arsiparis. Tapi memang asal kertas Banu adalah draf skiripsi
mahasiswa, yang tidak lagi terpakai. Daripada tersisa begitu, lebih baik saya
gunakan untuk keperluan Banu. Gambar di atas ia sebut hiu. Nampak aneh memang,
tapi begitulah anak-anak. Seringkali keanehan anak-anak memberikan kesegaran
dalam mempersepsi sesuatu. Pernah ia mengatakan sedang menggambar beruang, tapi
yang saya lihat seperti lingkaran-lingkaran yang meleleh. Menggambar buaya tapi
seperti cecak yang berkeriput. Menggambar bunga, tapi yang ini agak sedikit
lebih baik. Jika bosan, ia akan menggunakan youtube kids untuk belajar
menggambar. Ya, ia benar-benar tahu apa yang sedang dilakukan. Banu akan
mengikuti bagaimana sebuah gambar sapi, misalnya, dibikin dari pola-pola
sederhana. Gari-garis demi garis. Ia akan menunda jalannya video jika menemukan
kesulitan yang hanya dia sendiri yang tahu. Kemudian melanjutkan kembali
mengikuti langkah demi langkah cara menggambar yang ia lihat. Apakah dengan
cara yang sama akan menghasilkan gambar persis? Tentu saja tidak. Tapi, dari
cara seperti ini Banu belajar berproses. Meski meniru adalah gerbang
pertamanya. Kita orang dewasa juga pandai meniru-niru. Bahkan ada bangsa peniru
di samping bangsa penghasil kebudayaan, dan penghancur kebudayaan. Menurut
ahli, bangsa berkulit hitam di benua hitam adalah bangsa penghancur kebudayaan.
Saya tidak sepakat. Saat ini mudah saja menunjuk bangsa penghancur kebudayaan
sebenarnya. Bahkan di masa lalu nabi-nabinya mereka bunuh demi entah apa.
Begitu.
12 Januari—SEMALAM saya baru saja
menyelesaikan novel ciamik karangan Gabriel Garcia Marquez: Of Love and Others
Demons. Halaman terakhir cerita ini saya pungkasi melalui rasa kantuk yang
tidak bisa diobati kecuali dengan tidur. Tapi, tanggung, tersisa dua tiga
halaman. Besok saya sudah harus membuka halaman baru, buku baru, bacaan baru.
Dan, saya tidak ingat persis seperti apa kalimat terakhir novel ini, tapi saya
berhasil menyelesaikannya. Itu dia, kemewahan yang tidak semua orang dapat
merasakannya. Menyelesaikan suatu pengembaraan imajinasi halaman demi halaman,
dan menemukan keasyikan di dalamnya. Kenikmatan bagi setiap orang yang behasil
sampai di akhir cerita, halaman terakhir. Tentu saja saya mengenal Marquez dari
cerita yang membuatnya seterkenal itu—bagian penting dari generasi Boom Amerika
latin—Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude)! Buku ini
membingungkan tapi akan terhapus dengan kepiawaian Marquez bercerita. Banyak
metafor, saling tindih fakta dan fiksi, mitos, legenda, dan yang membekas
adalah kisah keluarga Buendia selama tujuh generasi. Banyak pembaca Marquez
mengatakan novel ini sedang bercerita tentang sejarah Kolombia atau Amerika
Latin secara umum. Saya cukup terhibur dari cara Marquez menulis
kalimat-kalimatnya, juga di buku Of Love and Others Demons. Cara ia menempatkan
metafor, menggunakan transisi cerita di dalam cerita, dan meyakinkan pembaca
bahwa yang ia tulis seolah-olah benar terjadi. Keahlian yang sulit ditiru. Di
lain waktu saya mungkin akan bercerita lebih jauh kisah dari Sierva Maria de
Todos los Angeles, putri seorang bangsawan, yang digigit anjing rabies tapi
kebal sampai dikira merupakan perempuan suci. Gadis suci berambut panjang 22 meter
yang menjadi legenda di sepanjang pesisir Karibia.
13 Januari—SAMPAI di kalimat ini saya belum
memiliki rencana akan menulis apa. Kemarin saya telah menulis sedikit hal
tentang novel Gabriel Garcia Marquez, tentang Of Love and Other Demons, dan
pasca itu mencari-cari Seratus Tahun Kesunyian-nya untuk saya baca kembali. Tapi,
tumpukan buku-buku merintangi. Saya tidak menemukannya sampai malam ini.
Akhirnya saya memilih menonton film. Random saja, atau melanjutkan film yang
semalam telah saya pilih dengan kemalasan ala seorang remaja. Padahal di dua
malam sebelumnya, saya lebih dahulu menonton Rurouni Kenshin versi animenya. Di
Netflix kualitas gambarnya jauh lebih baik dibandingkan di tempat lain yang
masih seperti versi era 90-annya. Tapi, saya tidak melanjutkan episode demi
episodenya. Mood saya berubah. Sekarang ketimbang dipusingkan mengenai apa yang
menarik minat saya untuk ditulis, saya menggunakan waktu tersisa malam ini
untuk menonton film belaka. Entah kapan saya memulai minat menonton film dalam
praktiknya sebagai studi kritis. Satu hal yang saya ketahui adalah menonton
film tidak saja dapat memberikan hiburan semata, melainkan juga memberikan
suatu wacana tertentu berkaitan dengan suatu konteks masalah tertentu. Ini
tentu jika Anda banyak mengetahui berbagai konsep kajian studi budaya. Atau
dapat menemukan relasi adegan demi adegan melalui ilmu semiotika dan
semacamnya. Tapi, jika hanya untuk menikmati, film tidak perlu dipermasalahkan
jauh-jauh. Cukup dinikmati saja. Malam ini saya akan melanjutkan tontonan saya
kemarin: The I-Land. Sekelompok orang yang tiba-tiba terbangun di pulau asing
tanpa mengenal satu sama lain. Mereka tidak memiliki apa-apa. Ingatan mereka
hilang. Bahkan nama sendiri tidak mereka ketahui. Coba bayangkan jika Anda
mengalami hal serupa? Saya duga ini film tentang dinamika kelompok, identitas
diri, interaksi sosial, dan psikologi. Jika betul, lumayan untuk waktu malam
ini.
14 Januari—JIKA bukan pasir, maka air.
Itulah dua hal yang disukai anak-anak. Musim hujan seperti sekarang membuat air
melimpah dapat menggoda anak-anak untuk bermain di dalamnya. Jika terdapat
genangan itu lebih mengasyikkan. Bagi orang dewasa, hujan tidak selamanya menyisakan
genangan tapi juga kenangan. Maka, saya mengenang masa kecil dulu. Bersama
teman-teman yang cerdas sekali bermain hujan. Bahkan sangat pandai
menyembunyikan rasa puas pasca kencing di celana. Siapa yang bakal tahu, di
saat bermandi hujan, bukan saja air mata, air seni dapat juga disamarkan di
kedua belah paha. Badan telah basah. Hujan akan bilas jua. Lamat-lamat kenangan
itu saya saksikan melalui anak saya, Banu. Sekali tempo ia senang sekali
bermain hujan, meski hanya di depan rumah, dan tidak seperti kami di masa lalu
yang bisa sampai keliling kampung. Saya masih ingat kali pertama Banu bermain
hujan dan mendapatkan izin untuk melakukannya. Senyumannya rekah sangat.
Tubuhnya melompat sampai lupa menanggalkan pakaian. Ia berlari dan langsung
menyambut hujan seolah baru pertama kali melihatnya. Petir dan guntur tak ia
hiraukan. Kesenangannya mengalahkan ketakutannya, sampai-sampai jika di kamar
mandi sering menggunakan plastik berlubang untuk menciptakan hujan buatan. Apa
boleh buat, tidak ada shower di rumah kami. Sekarang Banu sedang di puncak fase
emas, yakni masa akhir pertumbuhan 5 tahun. Sesekali ia tidak menghiraukan apa
yang dinyatakan kepadanya, sesekali menurut jika ia mengetahui akan diberi
imbalan di balik tindakannya, dan sesekali yang lain ia akan menjadi anak yang
memiliki stok energi tidak terbatas. Berlari, meloncat, apa pun yang menarik
minatnya akan ia lakukan. Kadang saya khawatir jangan-jangan Banu tergolong
anak hiperaktif! Nah, kalau ini jepretan setelah saya mencarinya ke mana-mana.
Tidak di kamar, di ruang tamu, di depan rumah, apalagi ruang tengah. Tiba-tiba
rumah terkesan sepi. Ternyata ia sedang bermain air di belakang dengan alasan
sedang mencuci tangan. Tapi, seperti yang Anda lihat, bahkan wajahnya juga ia
cuci bak sepiring kotor. Tentu dengan sabun pencuci piring!
15 Januari—BEBERAPA hari lalu, dunia satwa
dikagetkan kematian Rahman, gajah uzur berusia 45 tahun di Taman Nasional Tesso
Nilo, Riau. Ketika ditemukan pawangnya, ia lemas tapi kemudian tidak selamat
selang beberapa lama. Rahman diracun. Di dalam perutnya ditemukan sisa pepaya,
lalu serbuk hitam. Gadingnya dipatahkan dengan, mungkin, gergaji mesin. Di IG
saya melihatnya terbaring dengan bekas lumpur mengering. Matanya sayup tapi
sudah tidak menyala. Beberapa hari lalu,
sebelum tidur Banu saya ajak cerita, tentang gajah. Apakah ia tahu gading gajah
atau tidak? Yang ia tahu hanya belalainya belaka. Selama ini gajah yang sering ia lihat gajah
tak bergading. Gajah yang masih kecil. Kemudian saya ceritakan Rahman, gajah Asia
yang dibunuh pemalak, lalu apa itu gading, “gigi” panjang yang menyerupai
drakula. Banu belum paham, lalu bertanya untuk apa gajah memiliki itu? Dari
masa lalu, melalui majalah Bobo, saya mengetahui banyak kegunaan belalai gajah
dari Bona, gajah berkulit merah muda itu. Tapi, saya tidak tahu apa kegunaan
gading gajah. Sampai kemudian saya nyatakan kepada Banu: “Gading gajah dipakai
kalau sesamanya saling kelahi”. Asal saja. Seingat saya itu yang saya saksikan
melalui saluran National Geographic. Kalau begitu berarti gading diambil
manusia untuk dipakai berkelahi? Tidak jawab saya. Itu untuk dijual. Harganya
tinggi. Tapi, saya hentikan di sini. Banu belum memahami bagaimana sebagian
manusia memiliki selera aneh untuk mengoleksi benda-benda seperti gading, kulit
macan, tanduk rusa, dan sejenisnya, dengan harga mahal. Itulah selera
antroposen. Manusia menjadi puncak mata rantai dari segi logika, etika, dan
estetika. Karena itu alam jadi korban. Demi kebututuhan, juga kepuasan, juga
keindahan, untuk nafsu tak terbatas. Kemudian keseimbangan alam rusak. Rahman
mati sehingga tidak ada mitigasi pengendali gajah liar. Kuda-kuda, burung,
ikan-ikan, dan pohon-pohon, dibalak. Ekosistem manusia kemudian terancam. Iklim
berubah. Kekeringan. Panas. Dingin. Hujan berkepanjangan. Banjir di mana-mana.
Longsor. Air bah. Namun sekarang tidak ada bahtera Nuh, yang menyiapkan kapal
jika umat manusia diancam ulahnya sendiri.
16 Januari—MESKIPUN hanya sepotong roti,
melibatkan banyak orang untuk diputuskan apakah diisi selai atau cokelat, maka
itu telah menjadi urusan politik. Jika hanya mau memilih kopi atau teh yang
disesap di pagi hari, tapi tidak ada urusan dengan banyak orang, itu bukan bagian
dari keputusan politik. Politik disebut politik karena menyeret banyak pihak,
tentang hajat banyak orang. Agar kehidupan publik berlangsung sebagaimana
mestinya, meski saat ini wilayah domestik dan publik agak sukar dibedakan. Kopi
yang saya minum belakangan menjadi urusan politik, sabun, shampo, pasta gigi,
bahkan minyak goreng di tangan Lola, istri saya, menjadi pilihan-pilihan
politik. Ditengarai kesadarannya, dan mungkin keprihatinannya atas penderitaan
penduduk Palestina, nyaris semua yang terkait urusan domestik menjadi urusan
politik. Apalagi pembersih toilet, juga bagian dari keprihatinannya. Berganti
sikap, berganti merk. Sebagian orang menganggap remeh boikot, tapi efeknya
cukup signifikan. Dapat mengubah cash flow kapital. Perisahan Starbucks,
misalnya, akhir tahun 2023 mengalami penurunan nilai pasar hampir US$ 12 miliar
(setara Rp. 186 triliun) selama sebulan terakhir. Coba dibayangkan jika
perusahan global macam kasus Starbucks terjadi. Bisa pailit. Importir pendanaan
berhenti. Bisnis senjata bisa koit.
Boikot mungkin bukan solusi langsung, tapi ia bagai kerikil di dalam
sepatu. Kecil tapi mengganggu. Persis tindakan negara adidaya menyukai
mengganggu negara kecil. Mereka tidak menyerang langsung tapi hanya
mempengaruhi satu sisi, tapi karena berlangsung lama akhirnya lumayan
menyusahkan. Sampai di sini saya ingin bercerita tentang Lola. Ia tanpa putus
memasang reels IG tentang Palestina karena menganggap hal seperti ini tidak
boleh berhenti. Ia bagai burung bul-bul dalam kisah api Ibrahim, kurang berefek
mematikan nyala api tapi telah menunjukkan niat dan sikapnya. Menurut saya ini
patut dicontoh, lebih riskan jika masalah kemanusiaan tidak dipikirkan dan
menjadi perhatian. Akibatnya hilang dalam pembicaraan hilang pula dalam benak.
Saya sendiri tidak habis pikir, mengapa agresi atas bangsa-bangsa masih
terjadi. Apa motifnya. Demi apa? Itulah buruknya, keras kepala.
17-18 Januari—BUKU. Itu kata favorit saya,
mungkin untuk selamanya, meski kesadaran itu datang terlambat dari masyarakat
yang belum melihat buku sebagai “benda ajaib.” Saya perlu berterima kasih
kepada orang-orang yang mengajarkan saya untuk mencintai buku, bahkan dalam
keadaan kepepet. Teman kuliah, kakak senior, guru-guru, dan terutama satu dua
orang, atau mungkin tiga, tapi juga bisa empat, lalu orang kelima yang khusus
yang di masa lalu menjadi motivator yang lebih menyerupai provokator dan juga
mampu menggerakkan hati saya agar rakus jika itu terkait koleksi buku. Karena
itu sewaktu tahun pertama menjadi mahasiswa, saya terpaksa menggunakan lemari
pakaian orang lain untuk menyimpan buku-buku saya. Saat itu saya seperti seekor
tupai, pindah dari satu kos ke kos teman lainnya hidup bebas ala mahasiswa,
sementara buku-buku saya bawa pergi ke lemari persembunyian yang jauh dari
semua itu. Itulah lemari pakaian itu, di sebuah rumah, menjadi rak buku pertama
saya, di bagian bawah memanfaatkan satu kompartemen agar tidak diisi pakaian
dalam dan sebagainya. Lalu buku-buku itu makin banyak. Penuh sesak membuat
lemari pakaian itu gagal fungsi. Apakah lemari pakaian atau buku. Saya ungsikan
sebelum pemilik lemari merasa risih apalagi jengkel. Kemudian saya berbagi
kamar dengan adik saya, dan ia rela menampung buku-buku saat itu yang jumlahnya
tidak banyak, tapi cukup memakan tempat. Sampai di sini saya merasa buku
merupakan cara alam, atau Tuhan, bahkan, untuk mengubah hidup seseorang. “Os
livros mudam o destino das pessoas”, buku mengubah takdir hidup orang-orang,
kata Carlos Maria Dominguez, dalam Rumah Kertas. Saya termasuk orang itu. Dan
banyak lainnya, yang karena buku membelokkan masa depannya menjadi lebih baik.
Saya tidak akan seperti sekarang ini jika satu titik di masa lalu, tidak
bersentuhan dengan buku-buku, membacanya, mendiskusikannya, menyimpannya, dan
saat ini akan saya teruskan untuk generasi mendatang. Tentu itu adalah kedua
buah hati saya, Banu dan Syanum. Memang benar buku adalah jendela dunia. Dari
situ imajinasi bisa membuana kemana-mana, tanpa kaki, tapi membuat kedua tangan
kita dapat menggenggam sesuatu. Ide, gagasan, harapan.
18 Januari—SETIAP orang memiliki monster
dalam dirinya. Persis seperti itu jika Anda tidak dapat mengontrol diri,
berlagak berlebihan, sulit diatur, dan menyusahkan orang lain. Tapi, itu satu
pengandaian. Pengandaian yang lain dapat disimak dari film seperti saya sertakan
dalam gambar. Judulnya Monster (2023) film drama Jepang disutradai Hirokazu
Kore-eda. Settingan film ini adalah kisah seorang ibu beranak satu yang
menemukan perubahan sikap Minato, anaknya, seketika tanpa ia ketahui sebabnya.
Minato memotong rambutnya, sepatunya hilang, dan pada suatu malam tidak pulang
ke rumah lalu di temukan di gorong-gorong seperti berbicara dengan seseorang.
Cukup sampai di sini saja saya bercerita. Kelak jika seseorang menontonnya
lebih baik tanpa spoiller terlebih dahulu. Saya mengambil bahan tentang film
ini karena tidak ada lagi pilihan lain untuk menuliskan sesuatu. 30 hari
bercerita dan sekarang tepat hari ke-16. Kemarin saya telah menulis tentang
buku, tema yang ditentukan oleh komunitas IG, yang sebelumnya tidak saya
ketahui bahwa program bercerita selama sebulan ini diinisiasi olehnya. Saya
memulainya juga meski dengan informasi yang berbeda. Dari awal saya telah
menantang diri sendiri. Selama 30 hari akan terus menulis tanpa putus. Di hari
kedua saya gagal. Tapi, itu menjadi yang terakhir. Dan sampailah di seri kali
ini. Konon manusia makhluk berkisah. Hidupnya semuanya dibentuk oleh kisah.
Melalui puisi, legenda, mitos, sains, bahkan agama, memuat kisah tertentu untuk
memberi kepercayaan manusia agar memiliki sesuatu untuk dapat menjadi
keyakinan. Terlepas benar atau salah, kisah menjadi imajinasi penting manusia
sehingga hidupnya berbeda dari makhluk lainnya. Era sekarang banyak terdengar
kisah-kisah canggih: petualangan antariksa, mesin waktu, kehidupan abadi,
artifisial intelligence, dan kehidupan pasca kematian, membuat manusia makin
termotivasi untuk menggapai semua itu. Tapi, jika semua itu belum tercapai,
setidaknya manusia sudah menemukannya dalam imajinasi, tatanan serba mungkin,
cair, dan mudah berganti. Menurut saya itulah satu-satunya faktor paling
substansial yang menjadi ciri khas manusia. Kita suka berkhayal lalu membuat
cerita atas itu.
19 Januari—SAYA tidak memiliki rencana
apa-apa ketika mengambil gambar ini. Ide tentang foto seperti ini sudah lama
saya pikirkan, tapi hasil diinginkan tidak persis juga seperti yang dilihat.
Meski begitu saya melakukannya juga. Sepulang dari memberikan kelas menulis,
saya kemudian melewati tempat ini. Berbelok arah dan menepikan motor untuk
mengabadikannya. Dua kali saya bidikan, kemudian tersimpan dua gambar yang
sepersekian detik berbeda. Dari foto seperti ini saya ingin bercerita tentang
kota, kepadatan penduduk, jalan raya, masyarakat pekerja, dan segala hal yang
terkait dengan urbanisasi, tapi apa daya saya tidak memiliki keahlian berbicara
tentang itu. Yang saya tahu dari gambar seperti ini, dari hari ke hari makin
banyak orang-orang di sekitar kita. Di lingkungan rumah, sekolah, rumah sakit,
area perkantoran, dan apalagi ruang publik berorientasi hiburan makin sesak,
padat, dan anonim. Tanpa disadari semakin banyak orang tidak dikenal di
sekeling kita. Kian hari masyarakat makin imparsial dan impersonal. Kepadatan
tidak membuat satu sama lain saling dekat. Ruang hidup makin crowded.
Pengalaman satu sama lain makin atomistik. Lama-lama hidup seperti ini menjadi
bom atom yang siap meledak karena tekanan dan gesekan yang tidak terelakkan.
Orang kota sangat mencintai kecepatan. Efisiensi. Efektifiti. Pengalaman atas
waktu seperti ini ditemukan di jalan raya, saat bekerja, beribadah, dan yang
paling mudah adalah cara kita mengelola informasi. Di jalan raya, kecepatan
merupakan kunci untuk menemukan space yang lebih panjang untuk memacu
kendaraan. Saat bekerja kecepatan mencapai target adalah indikasi dari pekerja
berprestasi. Dalam agama, makin cepat menyelesaikan peribadatan akan mudah
menarik simpati jemaah, dan informasi yang cepat dikelola akan membuat
kepercayaan makin relevan. Duh, ini bukan cerita. Semakin ke sini agaknya
menjadi lebih serius. Padahal saya ingin bercerita tentang Banu, yang Jumat
hari ini telah berani berangkat jumatan tanpa kehadiran saya. Ia pergi
menggunakan baju ala masyarakat Timur Tengah plus songkok berbentuk bola
dibelah dua berwarna putih. Lola mengantarnya sampai pintu pagar dan
menunggunya pulang.
21 Januari—TIBA-TIBA saya terbangun. Di
tengah malam, dan mulai menyadari bahwa Syanum sedang menangis. Tangisannya
pola yang biasa. Kadang ia bangun tengah malam, kehausan, dan mulai menyusu
tepat dari sebelahnya: ibunya. Tapi, kali ini ia mesti menunda apa yang
seharusnya ia lakukan. Lola, ibunya, sedang dalam perjalanan ulang alik dari
Jakarta. Sehari sebelumnya, saat subuh akan jelang ia sudah di bandara mengejar
penerbangannya. Profesinya sebagai seorang psikolog membuatnya berkewajiban
menghadiri kegiatan munas di Ibu Kota. Ia kebetulan ketua wilayah asosiasi
psikolog pendidikan Sulawesi Selatan. Malamnya, sebelum pukul 10 ia sudah di
bandara kembali perjalanan pulang ke Makassar. Hanya setengah hari ia di sana.
Artinya, saat Syanum terbangun di tengah malam, saat itu juga ibunya sedang
dalam penerbangangan. Masih menyeberang, dan sesuai informasi, pukul dua malam
baru akan landing. Lalu kemudian saya menyadari, saya belum menulis apa-apa
untuk tantangan 30 hari bercerita. Malam telah berganti menjadi lebih muda:
00.15. Sekira itu saya terbangun oleh tangisan Syanum. Satu jam lebih awal Banu
lebih dulu terlelap setelah beberapa kali menanyakan kepastian kapan ibunya
sampai di rumah. Saya menidurkannya. Menepuk-nepuknya lalu saya jatuh tertidur
pula. Beberapa saat sebelumnya, ia menunjukkan rasa tidak sabar melalui
sejumlah pertanyaan. Apa lacur ia bakal menagih janji ibunya setelah tiba untuk
mendapatkan apa yang ia inginkan, tentu itu adalah mainan. Jauh hari sebelum
keberangkatan ibunya kami bertiga terlibat negoisasi alot. Banu menawarkan
proposalnya. Ia menginginkan oleh-oleh jika ibunya telah sampai. Saya tidak
perlu lagi menjelaskan oleh-oleh apa yang ia inginkan. Namun, bagaimana ibunya
memiliki waktu jika agendanya bukan untuk jalan-jalan dan berbelanja. Maka,
tawaran diberikan untuk Banu. Ia akan diberikan oleh-oleh nanti setelah Lola
sampai di rumah. Yang dimaksud oleh-oleh akhirnya adalah mainan yang akan
dibelikan jika kami punya kesempatan berbelanja kebutuhan harian di swalayan
terdekat. Itulah sebabnya, sejak siang Banu selalu menunggu kedatangan ibunya.
Memastikan melalui video call, kemudian menyatakan sekali lagi keinginannya.
21 Januari—THERE is no friend as loyal as a
book. Begitu perkataan Ernest Hemingway, pengarang berasal Amerika Serikat.
Buku—untuk kesekian kalinya saya tulis, adalah sahabat paling dekat tapi juga
berpengaruh. Jika seseorang sering dikecewakan janji-janji, atau pernah dikhianati
komitmen, bukulah kawan yang Anda harus cari. Ia tidak akan berkomentar lebih
banyak dari Anda karena tugasnya hanya agar seseorang mendapatkan kembali
sesuatu yang hilang dalam dirinya. Suatu waktu, saya kira semua orang mengalaminya
pula, pernah dikecewakan janji muluk oleh seorang kawan. Komitmen sudah kita
toreh. Tugas telah kita bagi. Tapi, karena iming-iming uang ia mendahulukan
kepentingan sesaat daripada cita-cita yang ingin diperjuangkan. Ya, ini cerita
menyerupai “kisah-kisah perjuangan” seperti dalam film-film, tapi konteksnya
adalah kehidupan mahasiswa seperti di masa lalu. Tidak heroik amat kejadian
sebenarnya, namun jika kesetiaan seekor sapi dikendalikan melalui talinya, maka
yang dipegang dari manusia adalah kata-katanya. Begitulah, kecewa rasanya jika
perkataan hanya menjadi angin lalu. Tapi, ada buku. Makhluk diciptakan tanpa
bibir meski kata-katanya lebih bersuara dari sekadar wujudnya. Ia diam tapi
berisi hal ikhwal yang bernas, gemilang, dan tak berbilang. Seseorang jika
sudah bersahabat dengannya akan menemukan kawan paling sejati. Buku benda
paling penurut. Bisa diajak kemana pun Anda inginkan. Ia nampak malu-malu jika
dibiarkan, kecuali seseorang mengajaknya “berbicara”, akan banyak hal-hal baru
ia sampaikan. Saya kira perkataan Hemingway di atas akan terus menjadi petuah
jika seseorang membutuhkannya. Buku bukan saja teman paling setia, karena
menurut saya, ia juga emas, hanya saja bukan logam yang berkilauan. Buku jika
dimiliki dengan sepenuh hati tidak akan membuat dunia ini kesepian. Setiap
orang akan memiliki kekayaannya sendiri-sendiri. Mungkin agak sedikit gila jika
menganggap buku adalah aset kekayaan, tapi saya sudah menganggapnya demikian.
Tidak ada salahnya. Dan, apakah ada kekayaan paling baik selain seorang sahabat
setia (philos, philon).
22 Januari—DI ATAS langit masih ada langit,
yang di atasnya juga masih ada langit. Begitu seterusnya. Tak terbatas.
Seandainya manusia tahu ini, tidak akan ada gimmick, yang memposisikan dirinya
dikedudukan paling puncak. Di IG saya menemukan cuplikan wawancara Gita Wirjawan
bersama Rocky Gerung, antara seorang pengusaha dan ahli filsafat. Pertemuan
yang dalam sejarah agak sulit didamaikan, bahkan dikecam melalui cerita
sekelompok sophis, kaum filsuf tapi berfilsafat dengan gaya seorang
kapitalistik. Tapi, saluran Gita Wirjawan salah satu channel yang berisi
diskusi bernas. Sekali tempo saya pernah menghabiskan seluruh pembicaraannya
dengan seorang ahli spiritual bernama Sadh Guru di suatu tempat yang asri
sekali. Tentang hidup, diri, dan apa yang harus dilakukan mengingat kita adalah
manusia. Dalam sekali. Semuanya daging. Nah, dengan Rocky Gerung, Gita Wirjawan
bertanya. Siapa filsuf diidolakan oleh akademisi yang mempopulerkan sindiran
dungu ini? Nietzsche, ucap Gerung, setelah menjelaskan alasan mengapa ia
memilih filsuf yang berpenyakitan itu. Tebakan saya benar, mungkin karena saya
juga cukup kepincut dengan pemikiran-pemikiran filsuf pencetus eksistensialisme
ini. Saya menganggap diri saya introvert, dan menemukan keberanian melalui
pemikiran yang dicetuskan Nietzsche ini. Menurut saya setiap orang memiliki
jiwa pemberontakan, dan saluran paling bermoral untuk merealisasikannya adalah
melalui filsafat. Saya sepakat dengan Rocky Gerung, filsafat merupakan ilmu
yang dapat mempersiapkan perangkat batin untuk menghadapi kompleksitas dunia.
Di luar sana banyak berdiri tembok-tembok kokoh, keyakinan-keyakinan yang sudah
lama dipancang kuat-kuat. Dan langit-langit yang serba curam. Tanpa, setidaknya
filsafat, seseorang tidak akan mampu menghadapi semua itu. Tapi ingin saya
katakan filsafat bukan segalanya, sama dengan uang bukan semuanya. Meski
demikian, setidaknya dengan mempelajari kebijaksanaan pemikiran, membuat diri
kita menjadi sadar diri. Hari ini saya lebih cepat menulis catatan ini karena
khawatir tidak dapat melakukannya di waktu malam hari. Kemarin saya keteteran.
Saya bukan penulis yang serta merta dapat melakukannya seenteng menghirup
udara.
23 Januari—Seandainya di dunia ini ada
lorong waktu, mungkin saja semua orang akan berusia muda. Tapi, itu tidak
terjadi. Nyatanya setiap hari kita melihat inci demi inci berubah dari tubuh
kita: rambut memutih, gigi berlubang, kulit keriput, apalagi yang namanya usia,
makin hari makin berbilang. 17, 20, 23, 30, 31, 32, sererusnya dan seterusnya
sampai kemudian tiba setengah abad, jika memang umur sampai, atau tidak sama
sekali. Berhenti tidak jauh dari 40. Saya memiliki pemikiran ada perbedaan
antara usia dan umur. Saya kira usia akan genap juga, tapi umur selamanya.
Sering kita mendengar seseorang berumur panjang meski sudah tutup usia.
Seseorang itu sudah lama di peristirahatan terakhir, dan setiap orang selalu
mengenang kebaikannya. Ia selalu hidup dalam ingatan orang, tingkah polahnya
dibicarakan, bahkan satu dua perkataannya ikut diamalkan orang-orang yang
menyukainya. Itulah umur yang panjang. Kebaikannya masih terus mengalir sampai
ke liang abadinya. Anda jika seorang jutawan dirikanlah sekolah-sekolah. Umur
Anda pasti makin panjang. Jika diri Anda seorang insinyur rancanglah bangunan
megah, tapi kalau hanya seorang tukang bangunan, tuluslah bekerja. Apabila
menjadi seorang guru didiklah anak-anakmu menjadi jauh lebih besar dari Anda.
Tapi jika Anda bukan siapa-siapa, tidak ada di dunia ini yang bukan
siapa-siapa. Setiap orang adalah sesuatu, yang berharga, berdaging dan bersidik
jari. Karena itu ia pasti untuk satu hal
dan lain hal, bernilai. Waktu adalah kuncinya. Anda hanya tinggal mencari siapa
diri Anda di antara setiap pergeseran jarum jam. Entah di pergeseran keberapa,
Anda akan menyadari bahwa yang di depan cermin ini adalah pribadi yang hebat.
Tapi, jika kesulitan mengenal siapa diri Anda sebenarnya, tanyailah orang-orang
sekitar. Itu cara sederhana dari ilmu psikologi. Aku yang sebenarnya dapat
diidentifikasi melalui persepsi orang lain atas Anda. Dalam demokrasi prinsip
ini juga berlaku. Baik tidak baiknya seseorang akan dinilai oleh publik.
Bahkan, umur kekuasaan bakal panjang hanya jika suatu kebijakan berdampak
kebaikan. Itulah mabrur, kebaikan yang melahirkan kebaikan lagi.
24 Januari—OEBA. Tidak akan saya lupakan
nama ini. Di masa lalu bagi cerita kecil saya di NTT, Kupang, Oeba adalah
tempat permandian yang menggembirakan. Mengasyikan tentu, tapi rasa was-was
bakal menyergap setelah pulang dari tempat itu. Seringkali sepulang sekolah tempat
ini menjadi destinasi menggoda bagi anak seusia saya saat itu, yang masih duduk
di bangku kelas 5 SD. Meski sering berkeliaran babi-babi mencari makan, tempat
yang tepat di jalan masuk pasar ini tidak kalah menarik dengan stadion bola, tempat
kami sering berlarian melihat-lihat kios jajanan di selasarnya. Jika bukan ke
rumah Ketut, anak seorang Hindu, yang di rumahnya memiliki komputer dan di sana
pula saya pertama kali melihat sepatu roda, saya bersama Amir, Randi, Imran,
atau Ridwan, bakal pergi mandi-mandi di tempat pencucian umum ini. Ya, di Oeba,
permandian itu terbagi dua petak kolam besar, yang satu sering dipakai
mama-mama mencuci baju. Kami menggunakan petak yang terhubung langsung dengan
mata air sebagai tempat berenang. Sampai lupa waktu. Sampai sore, dan karena
itu rasa-rasanya saya tidak ingin pulang. Takut. Pasalnya rumah saya cukup jauh
dari tempat ini. Setiap hari ke sekolah saya mesti naik bemo, kendaraan umum
khas kota Kupang. Bemo di Kupang selalu dihias nama-nama seperti Tiga Putra,
Valentine, atau nama-nama unik di bodynya. Di dalamnya berisi speaker raksasa
tepat di bawah bangku. Ibu-ibu sangat benci bemo macam begini lantaran sering
memutar musik keras-keras. Kami anak ingusan sering tidak dianggap bemo begini,
yang lebih menyukai mengangkut murid SMA atau anak SMP yang sedang ingin
menjadi gadis. Maklum setiap konjak-pembantu supir yang bergelantungan di mulut
pintu, juga seorang anak muda. Nyong-nyong muda sudah pasti menyukai
gadis-gadis muda. Lalu kami sering menaiki bemo reyot, yang kalah saing dengan
bemo-bemo keren macam Valentine atau Tiga Putra itu. Karena Banu saya teringat
kembali tempat ini. Di Oebalah, atau di sungai di Air Nona, suatu tempat
bersisian laut, yang mengajari saya cara berenang. Syarif teman saya yang anak
sungai itu yang kali pertama mengajari saya berenang. Dari dialah saya pertama
kali mendengar kata kukis, yang ternyata berarti kue.
25 Januari—BANU tidak ingin bersekolah. Ia
bosan. Tidak ingin belajar berhitung, dan menganggap sekolah hanya diperlukan
bagi orang-orang dewasa. Anak kecil macam dirinya lebih pantas menghabiskan
waktu dengan apa yang menjadi keinginannya seumur hidup: bermain. Lalu, saya
mengajukan pertanyaan: Bagaimana Banu tahu jika sekolah itu membosankan?
Bukankah Banu sampai sekarang belum pernah bersekolah? Ia sumringah, dan kedua
bola matanya memandang langit-langit, tanda yang sering ia perlihatkan jika
kehabisan jawaban. Banu sudah waktunya bersekolah, tapi saya katakan bukan
untuk belajar berhitung. Berhitung hanya dilakukan jika Banu sudah menjadi
murid SD. Apa itu murid? Ia menceletuk. Murid itu siswa. Apa itu siswa? Ia
memelintir tali-tali bantal. Ya, kami berdua sedang berada di atas dipan
seolah-olah itu adalah padang rumput hijau sehingga tidak ada salahnya
terbaring sambil memandang angkasa luas di atasnya. Anda tahu seperti apa
adegan ini! Nampaknya saya hanya mengulang-ulang permasalahan. Itu kegagalan fatal.
Menjawab istilah dengan istilah. Murid dan siswa dua kosakata yang sama saja
artinya, dan seperti banyak di antaranya, Banu belum mengetahui banyak
istilah-istilah yang diciptakan orang dewasa. Disebut apakah anak-anak
pendidikan usia dini? Menurut saya, siswa atau murid kategori yang tidak
presisi menerangkan anak di bawah 7 tahun yang belum sepenuhnya mampu
mengerahkan akal budinya untuk berpikir analitis dan sistematis. Bagi seluruh
anak di dunia, yang seusia Banu, membutuhkan inisiatif kreatif dari
lingkungannya, jika pertama-tama ingin memasuki sekolah yang lebih dewasa. Banu
akan banyak menggambar, bernyanyi, dan berlarian. Banu tahu perosotan? Di
tempat Banu kelak bermain, juga ada seluncurannya. Serius? Ia bergeming.
Percakapan kami masih berlanjut. Banu belakangan ini sering memastikan setiap
pernyataan yang ia dengar dari saya atau Lola, atau tantenya, dengan todongan
kata “serius”. Seakan itu suatu tanda bahwa ia mulai memahami setiap
pengalamannya dengan lebih intens. Tapi, saya masih khawatir. Apakah betul
sekolah itu membosankan? Banu, andaikan sekolah itu membosankan, betapa
tersiksanya yang namanya murid-murid itu.
26-27 Januari—INI cerita ke-24 dari 30 hari
bercerita, dan karena itu saya ingin bercerita tentang saya saja. Saya lahir
pada hari Selasa, tanggal 24, 36 tahun silam, di bulan Maret, bulan pertama
menurut kalender Romawi sebelum Julius Cesar menambahkan dua bulan lagi di
depannya. Usia bagi saya adalah ironi. Sejak berusia 24, saya berhenti
memperhatikan umur, dan menganggap usia saya tidak akan bertambah lagi dari
angka itu. Saya ingin semua inti kehidupan saya dialami di usia 24, dan setiap
pengalaman yang bakal saya rasakan di masa depan mesti dapat saya bayangkan
dari usia ini pula. Lalu, saya lupa waktu. Perubahan rasanya cepat berputar,
dan saya menemukan diri saya masih seperti di usia 24. Saya terjebak di
keabadian dan menganggap setiap orang juga mengalami hal yang sama dengan yang
saya inginkan. Tetap, tidak berubah. Itulah sebabnya saya sering salah mengira
bahwa hari ini masih hari yang sama ketika saya terakhir kali menyadari tidak
penting itu yang namanya usia. Setiap bertemu orang-orang saya kesulitan
memahami apa yang sedang terjadi, apa yang mereka bicarakan, kemudian apa yang
diinginkan dari mereka sebenarnya. Ini bukan dunia saya. Mereka terlalu tua
untuk saya. Saya adalah anak yang belum lama meninggalkan dua dekade putaran
kalender. Tapi, naif. Tidak ada yang abadi selain keinginan setiap orang bisa
memilih di usia berapa mereka berhenti tumbuh. Itulah trans-age. Tua tidak
cocok untuk saya, dan bukan pilihan yang dapat membuat orang bahagia. Saya kira
itulah lorong waktu, yang disebut pilihan. Jiwa dan tubuh menurut saya tidak
terikat hukum yang sama. Ada orang berfisik kuat, tapi jiwanya lemah. Ia tumbuh
semakin besar tapi jiwanya memilih berhenti berkembang karena suatu hal.
Sebaliknya, ada jiwa seorang tua yang hidup di dalam tubuh seorang anak-anak.
Tapi, saya ingin baik secara kejiwaan dan tubuh saya tidak melesat bagai
peluru. Saya ingin memilih, dan sudah saya lakukan sejak saya berusia 24. Konon
Maret diambil dari kata berarti mars dari bahasa latin, diyakini merupakan dewa
perang. Banyak orang bertanya apa rahasia awet muda? Mungkin takut renta, tapi
saya katakan pilihlah usia muda Anda, dan lihatlah dunia dari itu.
27 Januari—SETIAP laki-laki dewasa di akhir
pekan tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka bangun lebih cepat. Mencuci
muka dan mulai mencari pekerjaan yang tidak bisa dilakukan di hari-hari biasa:
mengecek genteng bocor, memperbaiki ledeng, atau memeriksa partisi kendaraan
yang rusak. Itu narasi yang sudah sering kita dengarkan sehari-hari.
Seakan-akan pekerjaan semacam itu cermin maskulinitas seorang laki-laki. Saya
kira kopi adalah bagian penting dari sisi maskulinitas laki-laki, dan
demikianlah setiap harinya, setiap pria membutuhkan ini untuk menjadi
azimatnya. Tanpa kopi di pagi hari membuat putaran jam tidak akan genap 12.
Akan selalu ada yang kurang. Setiap akhir pekan, Banu perlu mengikuti kelas
taekwondo, dan itu sebenarnya bukan latihan yang pas untuknya. Tapi, banyak
manfaat bagi dirinya mengikuti latihan ini, meski bukan demi sebuah turnamen.
Anda tahu, kegiatan akhir pekan ini juga berdampak bagi saya. Setidaknya
sebagai seorang ayah yang berkewajiban memastikan anaknya dapat dengan selamat
sampai di titik tujuan. Seperti biasa pertemuan ini juga melibatkan orangtua
lainnya, kami saling bertegur sapa, bersosialisasi ala kadarnya untuk
menunjukkan etika orang timur. Tapi, setelah itu masing-masing kembali kepada
dirinya sendiri, mencari tempat berkumpul lalu memulai percakapan yang mereka
inginkan. Bagi orang introvert seperti saya, kondisi ini membuat tidak nyaman.
Alangkah baiknya setiap orang kembali masuk di guanya masing-masing, sibuk
dengan pekerjaan sendiri-sendiri tanpa harus saling memperdulikan satu sama
lain. Agak sedikit antisosial memang, dan seperti itulah sebaiknya dilakukan.
Alkisah pernah ada menara Babel, didirikan untuk naik menunjukkan sampai ke
langit berapa seseorang bertemu Tuhan. Kemudian Tuhan marah. Babel simbol
keangkuhan manusia menginginkan setiap manusia berbahasa yang sama, cara yang
sama. Menurut saya di setiap tempat memiliki Babelnya masing-masing, bahkan
hampir di semua jiwa orang-orang. Kadang dari itu membuat setiap orang merasa
tinggi dibandingkan yang lain. Seringkali anak-anak menjadi menara Babel para
orangtua. Mengangkatnya dan menempatkannya tinggi-tinggi sebagai sebuah
kebesaran.
28 Januari—ORANG dewasa terkadang sok tahu.
Anak-anak menurut saya tidak perlu diajarkan cara merekabersosialisasi. Memilih
teman, apalagi kawan bermain bagi anak-anak tidak membutuhkan alasan seperti
orang dewasa melakukannya. Mereka mempunyai 1001 cara untuk itu, dan 1001 cara
lain agar mendapatkan teman lebih banyak lagi. Minggu ini Banu resmi bersabuk
kuning. Dikenakan langsung Saboeumnya. Ini bukan prestasi, meski kenaikan sabuk
Banu disambut riang teman-temannya. Di hadapan Saboeum, saya katakan kepada
Banu, bersabuk kuning berarti mesti lebih serius dan disiplin. Jika terlambat
masuk Banu harus siap menerima sanksi. Saya katakan itu agar Saboeum tidak
segan menegur Banu. Jika perlu keras saya tidak masalah. Banu perlu diberikan
latihan-latihan semacam itu. Seandainya bisa memilih, saya menginginkan Banu
tetap bersabuk putih, sampai ia sendiri menyadari perlu bagi dirinya agar lebih
fokus dan serius. Masih butuh waktu bagi Banu untuk mengerti di luar kepala
teknik gibon satu yang memuat 20 gerakan. Banu seorang kidal sehingga ia
memiliki cara tersendiri dalam menentukan arah, berputar, dan memulai
mengangkat kaki-kakinya. Saya terkadang bingung, mengapa anak-anak perlu
belajar sesuatu dari apa yang tidak diketahui orangtuanya. Tidak sedikit
orangtua menginginkan anaknya pandai berbahasa asing dengan harap mereka akan
dapat berpergian jauh dari kampung halaman. Mempelajari piano, atau mendalami
ilmu memasak, sementara semua itu tidak dipahami selain guru les yang mereka
bayar setiap bulan. Banu mempelajari taekwondo sementara tidak banyak saya
ketahui mengenai taekwondo selain dari figur Tekken bernama Hwoarang di konsol
playstation. Tapi, begitulah cara masyarakat memperkenalkan norma-normanya,
bahkan lewat taekwondo sekalipun. Ya, manusia tidak bisa belajar langsung dari
alam atau masyarakat sehingga butuh perwakilan. Coba bayangkan memahami
bagaimana rupa bumi sebenarnya anak-anak perlu melihat globe dulu. Kita bahkan
butuh peta untuk tahu garis khatulistiwa yang bersifat maya itu. Banu akhirnya
perlu belajar banyak hal tentang banyak hal juga dari taekwondo. Setidanya cara
melatih pikiran dan tubuhnya, ungkap Khang Shin Cul, legenda taekwondo dunia.
29 Januari—DUA anak ini menyelamatkan saya
malam ini, tentu dari kebingungan dan agar saya dapat terus menulis sesuatu
tentang mereka berdua. Seperti keluar dari lubang jarum saja rasanya. Tapi,
saya kira anak-anak adalah sumber inspirasi. Bahkan energi bagi orang dewasa.
Banu dan Djaviq sudah saling berteman sebelum mereka lahir. Bahkan jauh hari
sebelum mereka mendekam 9 bulan di masing-masing perut ibunya. Yang saya
bicarakan di sini adalah teman saya, ayah Djaviq, dan juga ibunya, sahabat
Lola, istri saya. Keduanya sudah lama “baku bawa”. Sejak mahasiswa mereka
banyak mengoleksi foto berlima yang menandai kebersamaan sehidup selamanya.
Begitu juga ayah Djaviq, yang pernah sepiring berdua, bahkan banyak
menghabiskan malam bersama-sama. Di masa lalu kami hidup menggelandang, aktif
berorganisasi, dan saling tahu cerita asmara masing-masing. Kemudian kami
berpisah, tapi tidak cukup lama. Sekarang setelah semuanya telah berkeluarga,
kami masih tetap seperti dulu, padahal usia tidak bisa menipu. Kami sudah memiliki
anak, tapi sudah tidak menggelandang apalagi bertubuh ceking. Bahkan kami
memiliki buah hati sepasang jumlahnya. Dan, itulah Djaviq dan Banu, anak
pertama kami, yang selisih satu dua bulan, di pagi ini datang mengunjungi calon
tempat mereka akan “sekolah”. Ya, mereka berdua akan seperti anak-anak lain.
Masuk ke dalam sistem belajar taman kanak-kanak. Entah Djaviq, tapi Banu
menyatakan ia suka dengan tempat ini, pasca melihat suasana kelas. Setelah saya
perlihatkan wahana bermainnya ia tegaskan kembali malam ini: “luas tempat
bermainnya,” ungkapnya. Persis. Itulah yang saya inginkan, agar mereka berdua
dapat lebih leluasa bereksplorasi, dengan pohon, tanah, bunga-bunga, lalu ada
kupu-kupu. Ada seluncuran, jika bosan mereka lalu bermain panjat memanjat, lalu
kelereng, bola, atau mainan apapun selama diizinkan. Kita orang dewasa selalu bertindak melalui
pengetahuan dan kekhawatiran, tapi anak-anak adalah imajinasi dan kebebasan.
Benar-salah adalah momok orang dewasa. Bagi anak-anak imajinasi membuat dunianya
serba mungkin, bisa atau tidak. Bukan benar atau salah. Itulah dunia permainan
menurut saya. Dunia tanpa batas, tanpa rasa bersalah.
30 Januari—TIDAK sedikit orang-orang sering
berbicara sesuatu yang tidak mereka ketahui. Saya satu di antaranya. Mungkin
juga Anda, teman Anda, atau lebih banyak lagi, yang makin parah jika memiliki
kekuasaan. Lucunya, jika Anda sering menciptakan cerita untuk membuat diri
seseorang merasa senang, orang lain pun melakukan hal yang sama untuk Anda.
Lalu, entah bagaimana caranya cerita-cerita itu saling terhubung satu sama
lain, diceritakan setiap orang di sekitar Anda kemudian membentuk satu narasi
yang makin dipercaya banyak orang. Tentu diri Anda juga mempercayainya.
Beberapa sainstis menyebut cerita itu adalah agama, karena berisi hal-hal yang
tidak pernah terjadi di muka bumi ini. Kisah Nabi Sulaiman misalnya, yang
dijerumuskan saudaranya ke liang sumur, tidak pernah terjadi. Tidak ada sumur
ditemukan seperti diceritakan dalam kisah selama ini. Atau bukti arkeologis
yang menunjuk di mana ia pernah mendirikan kerajaan yang serba gigantik itu.
Atau mungkinkah seorang manusia dapat berbicara dengan angin, atau seekor kijang,
jika ia berada di hutan? Semua itu hanya cerita fiksi yang ada di alam bahasa,
bukan bukti seperti yang dihasilkan dari kerja ilmu pengetahuan. Tapi, di
kehidupan nyata cerita lebih fungsional dibandingkan ilmu pengetahuan, yang
hanya bercokol di tempat-tempat seperti sekolah, rumah sakit, atau perguruan
tinggi. Di luar dari itu, setiap telinga lebih mudah menangkap cerita
dibandingkan otaknya yang lebih memilih diam. Makin aneh dan tidak masuk akal
cerita itu makin disukai. Apalagi sekarang, di musim politik, banyak orang suka
menciptakan cerita: menghilangkan kemiskinan, keadilan ekologis, hilirisasi
industri, Indonesia cerdas, dan bumi datar. Yang terakhir ini cerita dari masa
lalu yang diam-diam masih diyakini sebagian orang. Sementara yang lainnya belum
kita lihat di kenyataan sekarang. Meski begitu itulah yang membuat politik
menggelitik disebabkan kesenangan orang atas sesuatu yang belum, apalagi tidak
terjadi sama sekali. Ada istilah “surga telinga” yang membuat kita senang
kepada suatu kejadian hanya karena mendengar kabarnya saja. Atau “cuci mata”
yang sudah bahagia meski baru melihatnya saja. Itulah politik saat ini.
31 Januari—BELAKANGAN otot jari-jari saya
sering bergerak sendiri, atau berdenyut yang membuatnya bagai ekor cecak yang
terputus dari tubuhnya. Mungkin itu tremor, tapi saya tidak ingin berpikir
bahwa itu adalah parkinson. Penyakit yang pernah diderita Hitler selama perang
dunia ke-2. Kata Alodokter itu faktor kelelahan, karena sering menulis,
mengetik, atau menggunakan gawai berlebihan. Saya kira penyakit para penulis
adalah sakit punggung, mata, atau sakit kepala. Tapi, saya bukan penulis
sesungguhnya sehingga untuk saat ini hanya sering mengalami pegal di belakang
leher. Rasanya seperti ada jin menduduki kepala saya. Saya pernah membaca
artikel yang menyatakan kesadaran tidak pernah berada di kepala, tapi seluruh
tubuh manusia. Bahkan yang memiliki
kesadaran adalah sel, dengan bukti saat masih berbentuk sperma ia sudah bisa
bergerak sendiri berlomba-lomba menuju ovarium. Cukup masuk akal. Itu mungkin
sebab, kadang tubuh dan pikiran sering tidak sejalan. Kemauan kita kerap tidak
sepadan dengan apa yang diinginkan tubuh, sampai-sampai muncul istilah khilaf
atau semacamnya. Dengan dalih itu orang ingin berkelit dari kesalahan. Persis
seperti ekor cecak tadi itu yang menyelamatkan diri untuk meninggalkan potongan
tubuhnya dimangsa. Bagi masyarakat, kesalahan yang tidak diinginkan sering
dinisbahkan kepada oknum, sistem, atau orang lain. Selama memiliki ekor cecak
kesalahan bukan milik saya. Itu hasil perilaku orang lain. Seterusnya dan
seterusnya sampai diri kita lolos dari hukum. Ahli ilmu sosial menyebut masa
sekarang era masyarakan risiko. Yang kita makan berisiko menjadi penyakit, yang
kita kendarai berisiko merusak lingkungan, sampai nanti yang kita lakukan di
dalam hidup ini berdampak buruk kepada generasi setelah ini. Bahkan sekarang,
risiko-risiko itu sudah dialami langsung: tubuh berlemak, berumur pendek, dan
demokrasi. Jangan Anda mengira demokrasi tidak berisiko. Apalagi jika demokrasi
itu dijalankan di antara warga negara yang belum cerdas, apalagi kritis.
Bisa-bisa pilih pemimpin jatuh kepada pilihan yang salah. Saya menyukai kopi
apalagi jika racikan sendiri, dan saya tahu risiko mengkonsumsinya. Setidaknya,
pikiran saya bisa berjalan sendiri
1 Februari—TULISAN yang baik dimulai dengan
kalimat pembuka yang ciamik. Para penulis tahu ini, dan mengerahkan hampir
seluruh gagasannya untuk melakukannya. Bahkan ada yang membawanya sampai tidur
lalu di pagi hari terbangun dengan mimpi-mimpi kalimat pertamanya. “Sore hari
di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburannya setelah dua puluh
satu tahun kematian…” Ini kalimat pertama dari Cantik Itu Luka-nya Eka
Kurniawan. Beberapa tahun lalu, melalui kalimat itulah saya mengerti penting
bagi seseorang yang ingin menjadi penulis menyiapkan satu kalimat pertaruhan
agar ia berhasil menggiring pembacanya. Sampai di kalimat terakhir, tentu saja.
Pembuka kalimat di atas adalah tanda tanya. Mengapa di bulan Maret, Dewi Ayu
hidup dari kuburnya? Apa motivasinya? Dan mengapa ia mati lalu membutuhkan 21
tahun lamanya untuk bangkit? Apa alasan semua ini? Itulah tekniknya, yang
menantang rasa ingin tahu pembaca. Cerdas sangat. Selama 30 hari ini saya
mengerahkan kemampuan yang saya punya untuk berlatih menulis, meski singkat
tapi dilakukan rutin. Dan, inilah hari terakhir dari sesi latihan itu, kemudian
saya merasakan saya membutuhkan banyak alat baru, teknik, dan pendekatan lain
agar bisa lebih berkembang. IG bukan platform yang nyaman bagi penulis apalagi
orang seperti saya. Spacenya terbatas sehingga perlu mementingkan kalimat apa
yang paling pas digunakan, apa kata yang tidak panjang tapi efektif, dan
bagaimana membuatnya menjadi seperti selongsong peluru. Singkatnya Anda perlu
memperhatikan baik-baik 300 kata yang akan digunakan. Tapi, menyenangkan
melakukan tantangan ini, latihan ini, sampai saya berpikir bagaimana jika
dilanjutkan sampai 40 hari, 50, sampai 100 hari? Duh, menggoda tapi saya
khawatir tidak akan sanggup melakukannya. Konon manusia bisa hidup tanpa uang,
dan bakal mati detik kemudian jika tanpa makna. Karena itu mereka ciptakan
banyak hal untuk membuktikan banyak hal, termasuk agar dapat terus bermakna.
Yang saya lakukan ini demikian bermakna bahkan untuk kehidupan saya, walaupun
tidak begitu bagi orang lain. Saya merasa hati ini menjadi lebih bahagia meski
hanya dilakukan dengan cara menulis sesuatu. Begitu.
.png)