(Refleksi Hari Buku Internasional, 23 April
2022)
Madrid, Spanyol (2001), Alexandria, Yunani
(2002), New Delhi, India (2003), Antwerp, Belgia (2004). Montreal, Canada
(2005), Turin, Italia (2006), Bogota, Colombia (2007), Amsterdam, Belanda
(2008), Beirut, Lebanon (2009), Ljubljana, Slovenia (2010), Buenos Aires,
Argentina (2011). Kemudian kota Yerevan, Armenia (2012), Bangkok, Thailand
(2013), Port Harcourt, Nigeria (2014), Incheon, Korea Selatan (2015), Wroclaw,
Polandia (2016), lalu Conakry, Guinea (2017).
Athena, Yunani (2018), Sharjah, India (2019), Kuala Lumpur, Malaysia
(2020), dan Tbilisi, Georgia (2021).
Sesungguhnya nama-nama kota di atas
merupakan paragraf pembuka yang aneh, kecuali jika Anda telah mengetahui,
itulah kota-kota terpilih di seluruh dunia dua dekade silam sebagai World Book
Capital (WBC), yang memiliki misi mengkampanyekan pentingnya buku bagi
kehidupan umat manusia. Kota-kota itu dipilih setelah lolos seleksi pengajuan
oleh UNESCO untuk memperingati Hari Buku Sedunia, yang ditetapkan setiap 23
April.
Bukan kebetulan jika Madrid, Spanyol,
menjadi kota WBC pertama, dikarenakan Miguel de Cervantes berasal dari negeri
Matador, yang meninggal pada 23 April 1616. Penulis sohor novel legendaris Don
Quixote de la Mancha itu juga berbagi tanggal kematian yang sama persis dengan
dua penulis gigantik di sepanjang sejarah kesusastraan Barat:, William
Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega. Jadi klop sudah bagi UNESCO
menyepakati tanggal 23 April sebagai hari Buku Internasional.
Agak menyeramkan jika hari peringatan buku
seantero dunia dikaitkan dengan kematian seseorang, meski mereka adalah penulis
berkaliber dunia. Agak politis barangkali menetapkan itu hanya berdasarkan dua
atau tiga nama manusia Eropa, tanpa menyaksikan kenyataan lain, semisal
kedekatan suatu bangsa dengan tradisi literasi yang lebih tua dari nama-nama
sebelumnya. Atau, menetapkan nama-nama penulis lain non Eropa yang memiliki
sumbangsih tidak kalah besar terkait buku dan kesusastraan.
Tapi memang ketika menilik lebih jauh, di
tanggal 23 itu sebelum ditetapkannya menjadi hari buku sedunia, di Catalunya,
Spanyol, para pedagang buku kerap melakukan festival buku untuk memperingati
seorang santo pelindung kota Catalan. Adalah Santo George dipercaya sebagai
pelindung kota masyarakat setempat merupakan martir bagi kepercayaan Nasrani,
yang dalam mengingatnya sering melakukan saling tukar mawar dan buku.
Beberapa waktu lalu tanpa sengaja saya
menyaksikan sebuah postingan di dinding Facebook bertitel ”Perpustakaan Kuburan”, yang diposting
cerpenis asal Barru, Badaruddin Amir. Dalam esainya itu, perpustakaan bisa sangat
dekat dengan kematian, terkhusus dalam imajinasi dua seniman bernama Michael
Clegg dan Martin Guttman, yang mendirikannya di kompleks pemakamanYahudi Krems,
Austria. Buku-buku dalam perpustakaan terbuka itu disimpan secara artistik
untuk mengenang korban pembantaian Yahudi dilakukan Nazi pada PD II lalu.
Buku selama ini identik sebagai jantung
hidup-mati peradaban, yang tanpa kehadirannya membuat setiap orang akan
kehilangan caranya melihat dunia. Bukan tanpa alasan, atau sekadar pepatah
bahwa buku adalah jendela dunia dengan isyarat terkait sebuah tempat, ruang,
dan bingkai bagi pembaca untuk melihat dunia dari sisinya. Agak ironi
membayangkan apa sesungguhnya impresi jika, semisal, perpustakaan kuburan di
atas menjadi sudut pandang dalam melihat sejarah dan kematian. Buku sebagai
perlambangan kehidupan dan kuburan sebagai batas kematian, nyatanya, memang
memiliki kekuatan dapat mengubah cara masyarakat menengok masa lalu, sama
seperti saat ia menatap masa depannya.
Seandainya narasi masa lalu didirikan tanpa
”jendela” buku-buku, sudah dapat dipastikan sebuah bangsa akan menjadi buta
sejarah dan ”mati” tidak lama kemudian. Ibarat katak dalam tempurung,
masyarakatnya hanya gemar berdengung panjang dan melompat-lompat meski tak
dapat keluar jua dari batok kelapa yang menjadi penjaranya.
2023 nanti jika dinyatakan terpilih, World
Book Capital akan jatuh kepada Jakarta. Anies Baswedan, diambil dari
beritajakarta.id, laman berita resmi Pemprov Jakarta, menyatakan telah
mengajukan kotanya sebagai kandidat kota buku dunia pada 15 April 2021 lalu.
Ada dua alasan dikemukakannya saat itu yaitu geliat literasi yang semakin
meninggi, dan penerbitan buku yang membludak hingga 2020 dengan 19 persen
penerbit di Indonesia berada di Jakarta.
Selain itu, penerbitan di Ibu Kota berhasil
mendaftarkan 14.906 ISBN, dan angka ini dinyatakan cukup signifikan menempatkan
Indonesia sebagai negara paling produktif dalam industri penerbitan di Asia
Tenggara selama 2019. Dalam hajatan perbukuan, Jakarta juga menjadi tempat
sejumlah acara seperti Indonesia International Book Fair (IIBF), Jakarta
International Literary Festival (JILF), dan Jakarta Content Week (Jaktent).
Anies menyatakan, masih di laman yang sama,
untuk mendukung program bertagline ”Everybody’s Reading” itu, di Jakarta telah
banyak disediakan buku di ruang publik demi mendorong setiap orang dapat
membaca buku kapan pun dan di mana saja.
Tapi, uraian singkat ini bukan tentang
Jakarta, melainkan bagaimana buku dapat menjadi kata berparadigma bagi semua
pihak, agar lebih dapat menunjukkan hasrat yang besar terkait pembangunan
sumber daya manusia. Itu artinya buku bukan lagi sekadar benda, tapi menjadi
kebiasaan yang berkorelasi langsung dengan tradisi berpengetahuan masyarakat.
Dengan begitu, kebiasaan membaca tidak akan identik dan hanya ditemukan dalam
ruang akademis semata, melainkan hidup sebagai suasana pikiran dan batin
masyarakat.
Dua hari beruturut-turut kemarin (21 dan 22
April) kita memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi, yang entah dengan suatu
cara saling terkait. Kartini di masa lalu menjadi perempuan yang nyaris hidup
kekal dari belenggu otoritas laki-laki, meski ia dijodohkan jua dengan seorang
Bupati sebagai suaminya. Kartini sampai hari ini menjadi simbol perempuan lokal
untuk melawan segala macam stereotip, subordinasi, dan ketidakadilan yang
dihasilkan dari kebudayaan patriarki. Bukunya yang dikenal dari judulnya Habislah
Gelap Terbitlah Terang, banyak digadang-gadang sebagai argumen penting mengapa
hanya Kartini saja yang dizinkan negara agar ia menjadi monumen peringatan.
Masih banyak perempuan heroik di waktu dan di tempat lain, yang juga
mengorientasikan perjuangannya melawan penjajahan, dan bukan hanya sekadar
kepada tradisi berideologi laki-laki.
Saya barangkali terlambat menyadari mengapa
itu bisa terjadi. Rasa-rasanya di bangsa ini hanya Kartini seorang diri yang
tanggal kelahirannya dijadikan sebagai hari nasional. Terkait ini, saya agak
setuju dengan cuitan-cuitan Saut Situmorang di beranda Facebook, yang
melihatnya melalui sudut pandang pascakolonial. Hari kelahiran Kartini, bisa
diglorifikasi dan dilegitimasi negara menjadi hari nasional dikarenakan
jawasentrisme: untuk ini perlu kita
tahu, dari perspektif kelas Kartini merupakan anak yang lahir dari keluarga
ningrat, feodal, dan Jawa. Tiga hal yang selama ini menjadi sasaran pembebasan
saat Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara republik.
Lalu, apa keterkaitan semua itu dengan Hari
Bumi kemarin? Bagi saya, adalah ideologi patriarki yang menyeruak ke mana-mana
termasuk ke dalam ideologi pembangunan, modernitas, dan bahkan sains. Sekarang
perlu kita sadari kerusakan lingkungan yang dihasilkan melalui
Kapitalisme-Patriarkat, istilah yang diperkenalkan Vandana Shiva, seorang
ekofeminis asal India, telah membawa bumi ke jeram-jeram berbahaya. Krisis
iklim tanpa kita sadari tengah terjadi, yang karena itu membuat kita selama ini lebih suka menggerutu jika bumi tiba-tiba
berubah menjadi tungku pembakaran, dan kita menjadi mayat hidup di dalamnya.
Kita sering mengeluh mengapa dunia ini makin panas, burung-burung menghilang,
dan betapa sulit kita menemukan air bersih, tanpa mengubah sikap kita terhadap
alam dengan menganggapnya seperti seorang perempuan yang dengan enteng ingin
dikuasai, dieksploitasi, dan dikontrol.
Saya sudah lebih dari satu tahun memutuskan
berhenti menggunakan jasa mobil pengangkut sampah. Ia semakin lama makin
seperti anak remaja yang mulai malas menunaikan kewajibannya. Di desa tempat
saya bermukim, pelan-pelan sedang bertransformasi menjadi pemukiman padar
penduduk. Nyaris dengan gampang sawah-sawah akan berubah menjadi kompleks
perumahan. Lapangan yang dulu sekali dua kali menjadi tempat saya bermain voli,
sekarang sudah berdiri rumah mentereng di atasnya. Banjir untuk saat ini masih
menjadi fenomena yang jauh dari kompleks perumahan saya, tapi itu tidak akan
bertahan lama. Lima atau sepuluh tahun lagi tanah telah beralihfungsi sesuai
cara berpikir pengembang perumahan, membuat banjir adalah ancaman yang
sewaktu-waktu dapat terjadi.
Jadi, sekarang bumi tidak seindah masa
lalu. Ia makin hari makin kotor, miskin, dan makin berbahaya. Bagi seorang
ekofeminis, bumi ibarat perempuan yang setiap hari mengalami feminisasi, dan
dalam kenyataan lain, perempuan juga mengalami hal yang sama seperti bumi
melalui naturisasi. Kedua keadaan ini sama-sama berbahaya karena didudukkan
dalam status yang sama: rendah, nomor dua, dan hanya sekadar menjadi objek bagi
laki-laki.
Baiklah, saya sangat percaya buku dapat
mengubah banyak hal, bahkan takdir hidup orang-orang, sama seperti dialami
Carlos Brauer dalam novelet Rumah Kertas karangan Carlos María Domínguez. Tidak
seperti lazimnya banyak orang, Brauer membangun rumahnya bukan dengan bata,
kayu, ataupun semen. Sebagai pecinta buku, kegemarannya atas pagina berjilid
itu dapat ia sulap menjadi rumah buku. Sampai-sampai semakin hari tidak ada
ruang tersisa untuk menyimpan buku, membuatnya mesti tidur di atas
gorong-gorong atap. Carlos Bruer adalah tokoh fiksi, tapi caranya mencintai
buku dapat menjadi kisah nyata apabila, satu orang, dua orang, atau bahkan
ribuan orang mengisi kehidupannya dengan buku-buku. Membuat buku-buku demikian
hidup, bergerak, dan dapat dibaca di mana saja, sama seperti kegemaran
orang-orang yang saya lihat dapat menyulap trotoar jalan raya berbah seperti
masjid; mereka datang bergerombol duduk sambil membaca kitab sucinya,
seolah-olah sedang mempromosikan suatu kesalehan yang ganjil.
Begitulah, belakangan ini muncul inisiatif
gerakan agama puritan, yang sangat ingin mengubah kotanya menjadi lebih
religius. Menyulap kota tempatnya tinggal sebagai medan jihad yang sempit
mereka artikan hanya ke dalam pencitraan simbolik. Tapi, saya lebih suka jika
kita semua berkumpul di alun-alun kota, dan mulai mendorong mengubah setiap
gedung, tempat, dan sarana kota menjadi perpustakaan raksasa, dan dengan bangga
akan menyebutnya sebagai Kota Buku Dunia.