Selasa, 14 Mei 2024

Semangka Palestina Banu

Gambar hijau-merah ini merupakan semangka, corat-coret Banu setelah ia bosan bermain-main. Banu membongkar pouch kosmetik yang selama ini saya gunakan menyimpan beragam alat tulis, kebanyakan berisi spidol yang sering saya bawa di dalam tas. Di dalam kelas, spidol merupakan alat bantu yang membuat apa pun dalam bentuk pikiran dapat dilihat wujudnya. Apakah itu konsep, gambar, atau lebih sering garis-garis yang menghubungkan berbagai istilah-istilah teknis keilmuan.

Semangka merupakan simbol perlawanan Palestina, yang diubah makna semantiknya untuk mengungkapkan bendera negara yang nyaris musnah ini. Saat ini tidak memungkinkan bagi warga di sana untuk menunjukkan benderanya di muka umum. Itu sebabnya, mereka menggunakan semangka sebagai pengganti bendera mereka, yang sangat jarang terlihat berkibar bebas di tanahnya sendiri. Masyarakat digital merupakan masyarakat pelahap simbol-simbol. Dengan kemanusiaan, dan dalam bentuk digital, semangka mengungkapkan nasionalisme Palestina dengan wujud global. Nasionalisme dalam arti universal, yang berarti setiap bentuk kehidupan di atas wilayah mesti dijunjung tinggi. Itu yang membuat semangka Palestina dapat dilihat di berbagai akun banyak orang. Meski sebagian dari kita tidak menunjukkan keterlibatan aktif membela rakyat Palestina, tapi dengan menggunakan “semangka” melalui beragam akun, ikut juga menunjukkan kebersamaan bersama mereka.

 

Semangka Palestina
Semangka Palestina


Karena itu saya kurang sepakat pandangan yang menyatakan perjuangan dalam bentuk apa pun itu tidak usah digembar-gemborkan ditunjukkan kepada banyak orang. Mereka menganggap ini seperti prinsip “jika tangan kanan memberi, maka tangan lainnya tidak usah mengetahuinya”. Seolah-olah kebaikan semacam itu merupakan kejahatan yang perlu disembunyikan dari muka umum. Membela kelompok tertindas bukan kejahatan, dan jika dilakukan secara terbuka akan jauh lebih baik ketimbang kebaikan yang disembunyikan rapat-rapat di bawah permadani—makanya nampak lucu saat Israel makin tidak tahu malu menunjukkan kejahatannya, sementara banyak orang nampak ragu menyatakan dukungannya, terlebih bagi yang terang-terangan mendukung gerakan zionisme.

Saya menganggap untuk masalah seperti Palestina ini setiap orang berkewajiban menunjukkan sekecil apa pun yang telah ia lakukan untuk Palestina. Memang tidak bisa disanggah di dunia maya banyak berisi hal-hal yang bersifat artifisial, dan yang sering kali tampak di dinding media sosial adalah orang-orang yang lebih banyak memiliki teman atau pengikut, atau seseorang yang berkeinginan menjadi influencer dengan akun bercentang biru. Setiap tenggelam di dalamnya, saat itu pula postingan dari mereka inilah yang lebih sering lewat di bawah jari-jemari kita.

Di Facebook, hampir saban hari saya gangguan “sorotan” mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang tidak terhubung langsung dengan pengalaman saya. Media sosial dari hari ke hari makin mengerikan. Sisi gelap ini mampu mengubah ribuan klik menjadi pundi-pundi rupiah bagi satu dua orang yang menyukai banyak kunjungan di dindingnya. Suatu cara yang aneh hanya untuk mengidentifikasi siapa teman atau pengikut kita sebenarnya. Di atas screen gawai semua orang ingin diperhatikan dan menjadi pusat perhatian, suatu gejala bias identitas yang diidap tanpa seseorang menyadarinya.

Tapi, jika Anda seorang yang cukup berpengaruh di media sosial, memiliki ratusan, ribuan, atau jutaan pengikut, apa saja yang Anda lakukan melalui medsos bisa berdampak besar, sekalipun itu merupakan hal-hal random.  Terlebih jika Anda seorang cendikiawan yang mendapatkan popularitas dari kerja-kerja intelektual. Mengapa tidak menggunakan pengaruh semacam itu untuk memberikan dampak politik mengenai masalah-masalah kemanusiaan seperti Palestina. Mengapa seluruh aktivisme dan kerja kreatif yang dilakukan seolah-olah terpisah dari tanggung jawab intelektual seseorang? Pertanyaan sebenarnya, bagaimana jika pengaruh mereka dapat berfungsi lebih banyak untuk hal-hal serius seperti kolonialisme di Palestina. Bagaimana cara agar sebagian besar unggahan bisa diartikan sebagai dukungan moral, bahkan politik terhadap problem kemanusiaan dialami Palestina? Itu sebab setiap masalah okupasi, penghancuran etnis, atau masalah kemanusiaan yang membuat sebuah bangsa menderita kekalahan sepanjang tujuh turunan merupakan masalah berbeda, memiliki konteks berbeda.

Semua orang harus menunjukkan keberpihakannya dan menunjukkan bangsa seperti Israel telah salah memahami dirinya sendiri, apalagi bangsa-bangsa lain. Ini seperti prinsip “tunjukkan kebenaran sehingga kesalahan akan tampak dengan sendirinya”. Di mana-mana setiap kegelapan otomatis sirna jika cahaya sudah menampakkan dirinya. Israel adalah negara yang selama ini menciptakan kegelapan. Beragam sumber daya menciptakan berbagai informasi, yang telah menjadi kepercayaan untuk membuat semua bangsa menerima keberadaan mereka di Palestina.

Ilan Pappe, sejarawan Yahudi, yang keras mengkritik Israel menyebutnya sebagai mitos-mitos tentang Israel dalam bukunya Ten Myths About Israel, sebuah buku yang mengulas kesalahan berpikir yang melatarbelakangi berdirinya Israel, dan dalam rangka memberikan argumen bagi yang bersikap apolitis atas kekejaman Israel. Sepuluh mitos itu berturut-turut menjadi bab dalam bukunya: 1) Palestina sebelumnya adalah tanah kosong; 2) Israel merupakan bangsa tanpa tempat tinggal; 3) Zionis adalah Judaisme; 4) Zionisme bukan Kolonialisme; 5) Orang Palestina sukarela meninggalkan negaranya sejak 1948; 6) Perang Juni 1967 merupakan perang yang tidak bisa dielakkan; 7) Israel merupakan satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah; 8) Mitos Oslo; 9) Mitos Gaza; 10) Solusi dua negara. Pappe menyebut mitos 1 sampai 6 merupakan kesalahan berpikir yang terjadi di masal lalu, 7 sampai 9 kesalahan yang terjadi saat ini, dan mitos ke-10 adalah apa yang diharapkan akan terjadi di masa depan. Terakhir ini merupakan wacana yang akrab terdengar di Indonesia, bahkan menjadi pilihan yang telah diputuskan Indonesia untuk dirundingkan di tingkat global. Solusi dua negara disebut menteri luar negeri Retno L.P Marsudi adalah keharusan, karena berisi pengakuan atas kemerdekaan Palestina. Di samping itu ia menyatakan hal ini perlu dimbil dikarenakan kekejaman Israel telah lama dilakukan sejak 70 tahun lalu.

Terlepas dari upaya aktif pemerintah Indonesia memberikan dukungan kemerdekaan kepada Palestina, logika solusi dua negara tidak masuk akal. Jika logika semacam itu dapat diterima, sudah sejak 1945 saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya memilih hidup berdampingan dengan bangsa penjajah seperti Belanda atau Inggris. Seandainya pemikiran seperti ini dibenarkan, bisa jadi saat ini luas wilayah Indonesia hanya sebesar pulau Jawa menyisakan lainnya dibagi-bagi untuk Belanda, atau untuk Inggris, atau untuk Jepang. Jika demikian lalu apa maksud dari Founding Fathers di masa lalu mengumpulkan raja-raja yang masih bertahan di era Hindia Belanda untuk menyatukan wilayahnya ke dalam teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia? Itu artinya sudah merupakan reaksi alami jika seseorang dirundung kekerasan sejak lama, akan menolak melakukan perlawanan balik. Sudah menjadi pilihan tidak terelakkan bagi Palestina bangkit melawan penindasan Israel.

Perang dalam arti tertentu tidak menarik untuk dilakukan, kecuali yang dilakukan orang Palestina. Tidak ada untungnya perang dilakukan Palestinan kecuali dalam rangka mempertahankan diri akibat supremasi Israel yang mengidap—meminjam Yuval Noah Harari—superstar sejarah.

Baru-baru ini, gejala itu ditunjukkan Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mengatakan semua yang hadir saat itu memalukan. Reaksi ini timbul pasca143 negara menyatakan dukungan kepada Palestina untuk menjadi anggota PBB. Reaksi tak tahu malu itu merupakan cerminan mengenai Israel yang selama ini besar kepala, seolah-olah mampu mengatur segalanya melalui sekutunya Amerika Serikat.

Sikap Israel semacam itu menyerupai pembawaan anak-anak menganggap diri paling benar, perlu dilayani, dan penting untuk dijadikan prioritas. Galibnya anak-anak jika keinginannya tidak terpenuhi akan ngambekan, tantrum, dan playing victim sebagai korban. Dalam kemarahannya, Erdan juga menyatakan majelis itu telah merobek-robek Piagam PBB, padahal Israel lah yang selama ini telah merobek-robek Piagam PBB yang memuat prinsip-prinsip utama hubungan internasional, mulai dari keadilan, perdamaian, kesetaraan kedaulatan negara, hingga larangan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional. Inilah yang disebut gejala superstar sejarah, menganggap menjadi pusat dunia, sebagai tonggak sejarah umat manusia merasa diri paling benar. Sekarang mata dunia pelan-pelan telah terbuka.

Jika selama ini hukum internasional tidak sampai dapat menggerakkan hati nurani banyak orang, maka sekarang kekuatan hati nuranilah yang akan menggerakkan hukum internasional menjatuhkan sanksi seberat-beratnya kepada Israel.