Gambar hijau-merah ini merupakan semangka, corat-coret Banu setelah ia bosan bermain-main. Banu membongkar pouch kosmetik yang selama ini saya gunakan menyimpan beragam alat tulis, kebanyakan berisi spidol yang sering saya bawa di dalam tas. Di dalam kelas, spidol merupakan alat bantu yang membuat apa pun dalam bentuk pikiran dapat dilihat wujudnya. Apakah itu konsep, gambar, atau lebih sering garis-garis yang menghubungkan berbagai istilah-istilah teknis keilmuan.
Semangka merupakan simbol perlawanan
Palestina, yang diubah makna semantiknya untuk mengungkapkan bendera negara
yang nyaris musnah ini. Saat ini tidak memungkinkan bagi warga di sana untuk
menunjukkan benderanya di muka umum. Itu sebabnya, mereka menggunakan semangka
sebagai pengganti bendera mereka, yang sangat jarang terlihat berkibar bebas di
tanahnya sendiri. Masyarakat digital merupakan masyarakat pelahap
simbol-simbol. Dengan kemanusiaan, dan dalam bentuk digital, semangka
mengungkapkan nasionalisme Palestina dengan wujud global. Nasionalisme dalam
arti universal, yang berarti setiap bentuk kehidupan di atas wilayah mesti
dijunjung tinggi. Itu yang membuat semangka Palestina dapat dilihat di berbagai
akun banyak orang. Meski sebagian dari kita tidak menunjukkan keterlibatan
aktif membela rakyat Palestina, tapi dengan menggunakan “semangka” melalui
beragam akun, ikut juga menunjukkan kebersamaan bersama mereka.
Karena itu saya kurang sepakat pandangan
yang menyatakan perjuangan dalam bentuk apa pun itu tidak usah
digembar-gemborkan ditunjukkan kepada banyak orang. Mereka menganggap ini
seperti prinsip “jika tangan kanan memberi, maka tangan lainnya tidak usah mengetahuinya”.
Seolah-olah kebaikan semacam itu merupakan kejahatan yang perlu disembunyikan
dari muka umum. Membela kelompok tertindas bukan kejahatan, dan jika dilakukan
secara terbuka akan jauh lebih baik ketimbang kebaikan yang disembunyikan
rapat-rapat di bawah permadani—makanya nampak lucu saat Israel makin tidak tahu
malu menunjukkan kejahatannya, sementara banyak orang nampak ragu menyatakan
dukungannya, terlebih bagi yang terang-terangan mendukung gerakan zionisme.
Saya menganggap untuk masalah seperti
Palestina ini setiap orang berkewajiban menunjukkan sekecil apa pun yang telah
ia lakukan untuk Palestina. Memang tidak bisa disanggah di dunia maya banyak
berisi hal-hal yang bersifat artifisial, dan yang sering kali tampak di dinding
media sosial adalah orang-orang yang lebih banyak memiliki teman atau pengikut,
atau seseorang yang berkeinginan menjadi influencer dengan akun bercentang
biru. Setiap tenggelam di dalamnya, saat itu pula postingan dari mereka inilah yang
lebih sering lewat di bawah jari-jemari kita.
Di Facebook, hampir saban hari saya
gangguan “sorotan” mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang tidak terhubung
langsung dengan pengalaman saya. Media sosial dari hari ke hari makin
mengerikan. Sisi gelap ini mampu mengubah ribuan klik menjadi pundi-pundi
rupiah bagi satu dua orang yang menyukai banyak kunjungan di dindingnya. Suatu
cara yang aneh hanya untuk mengidentifikasi siapa teman atau pengikut kita
sebenarnya. Di atas screen gawai semua orang ingin diperhatikan dan menjadi
pusat perhatian, suatu gejala bias identitas yang diidap tanpa seseorang
menyadarinya.
Tapi, jika Anda seorang yang cukup
berpengaruh di media sosial, memiliki ratusan, ribuan, atau jutaan pengikut,
apa saja yang Anda lakukan melalui medsos bisa berdampak besar, sekalipun itu
merupakan hal-hal random. Terlebih jika
Anda seorang cendikiawan yang mendapatkan popularitas dari kerja-kerja
intelektual. Mengapa tidak menggunakan pengaruh semacam itu untuk memberikan
dampak politik mengenai masalah-masalah kemanusiaan seperti Palestina. Mengapa
seluruh aktivisme dan kerja kreatif yang dilakukan seolah-olah terpisah dari
tanggung jawab intelektual seseorang? Pertanyaan sebenarnya, bagaimana jika
pengaruh mereka dapat berfungsi lebih banyak untuk hal-hal serius seperti
kolonialisme di Palestina. Bagaimana cara agar sebagian besar unggahan bisa
diartikan sebagai dukungan moral, bahkan politik terhadap problem kemanusiaan
dialami Palestina? Itu sebab setiap masalah okupasi, penghancuran etnis, atau
masalah kemanusiaan yang membuat sebuah bangsa menderita kekalahan sepanjang
tujuh turunan merupakan masalah berbeda, memiliki konteks berbeda.
Semua orang harus menunjukkan
keberpihakannya dan menunjukkan bangsa seperti Israel telah salah memahami
dirinya sendiri, apalagi bangsa-bangsa lain. Ini seperti prinsip “tunjukkan
kebenaran sehingga kesalahan akan tampak dengan sendirinya”. Di mana-mana
setiap kegelapan otomatis sirna jika cahaya sudah menampakkan dirinya. Israel
adalah negara yang selama ini menciptakan kegelapan. Beragam sumber daya
menciptakan berbagai informasi, yang telah menjadi kepercayaan untuk membuat
semua bangsa menerima keberadaan mereka di Palestina.
Ilan Pappe, sejarawan Yahudi, yang keras
mengkritik Israel menyebutnya sebagai mitos-mitos tentang Israel dalam bukunya Ten
Myths About Israel, sebuah buku yang mengulas kesalahan berpikir yang
melatarbelakangi berdirinya Israel, dan dalam rangka memberikan argumen bagi
yang bersikap apolitis atas kekejaman Israel. Sepuluh mitos itu berturut-turut
menjadi bab dalam bukunya: 1) Palestina sebelumnya adalah tanah kosong; 2)
Israel merupakan bangsa tanpa tempat tinggal; 3) Zionis adalah Judaisme; 4)
Zionisme bukan Kolonialisme; 5) Orang Palestina sukarela meninggalkan negaranya
sejak 1948; 6) Perang Juni 1967 merupakan perang yang tidak bisa dielakkan; 7)
Israel merupakan satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah; 8) Mitos Oslo;
9) Mitos Gaza; 10) Solusi dua negara. Pappe menyebut mitos 1 sampai 6 merupakan
kesalahan berpikir yang terjadi di masal lalu, 7 sampai 9 kesalahan yang
terjadi saat ini, dan mitos ke-10 adalah apa yang diharapkan akan terjadi di
masa depan. Terakhir ini merupakan wacana yang akrab terdengar di Indonesia,
bahkan menjadi pilihan yang telah diputuskan Indonesia untuk dirundingkan di
tingkat global. Solusi dua negara disebut menteri luar negeri Retno L.P Marsudi
adalah keharusan, karena berisi pengakuan atas kemerdekaan Palestina. Di
samping itu ia menyatakan hal ini perlu dimbil dikarenakan kekejaman Israel
telah lama dilakukan sejak 70 tahun lalu.
Terlepas dari upaya aktif pemerintah
Indonesia memberikan dukungan kemerdekaan kepada Palestina, logika solusi dua
negara tidak masuk akal. Jika logika semacam itu dapat diterima, sudah sejak
1945 saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya memilih hidup berdampingan dengan
bangsa penjajah seperti Belanda atau Inggris. Seandainya pemikiran seperti ini
dibenarkan, bisa jadi saat ini luas wilayah Indonesia hanya sebesar pulau Jawa
menyisakan lainnya dibagi-bagi untuk Belanda, atau untuk Inggris, atau untuk Jepang.
Jika demikian lalu apa maksud dari Founding Fathers di masa lalu mengumpulkan
raja-raja yang masih bertahan di era Hindia Belanda untuk menyatukan wilayahnya
ke dalam teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia? Itu artinya sudah
merupakan reaksi alami jika seseorang dirundung kekerasan sejak lama, akan
menolak melakukan perlawanan balik. Sudah menjadi pilihan tidak terelakkan bagi
Palestina bangkit melawan penindasan Israel.
Perang dalam arti tertentu tidak menarik
untuk dilakukan, kecuali yang dilakukan orang Palestina. Tidak ada untungnya
perang dilakukan Palestinan kecuali dalam rangka mempertahankan diri akibat
supremasi Israel yang mengidap—meminjam Yuval Noah Harari—superstar sejarah.
Baru-baru ini, gejala itu ditunjukkan Duta
Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan dalam Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mengatakan semua yang hadir saat itu memalukan.
Reaksi ini timbul pasca143 negara menyatakan dukungan kepada Palestina untuk
menjadi anggota PBB. Reaksi tak tahu malu itu merupakan cerminan mengenai
Israel yang selama ini besar kepala, seolah-olah mampu mengatur segalanya
melalui sekutunya Amerika Serikat.
Sikap Israel semacam itu menyerupai
pembawaan anak-anak menganggap diri paling benar, perlu dilayani, dan penting
untuk dijadikan prioritas. Galibnya anak-anak jika keinginannya tidak terpenuhi
akan ngambekan, tantrum, dan playing victim sebagai korban. Dalam kemarahannya,
Erdan juga menyatakan majelis itu telah merobek-robek Piagam PBB, padahal
Israel lah yang selama ini telah merobek-robek Piagam PBB yang memuat
prinsip-prinsip utama hubungan internasional, mulai dari keadilan, perdamaian,
kesetaraan kedaulatan negara, hingga larangan penggunaan kekerasan dalam
hubungan internasional. Inilah yang disebut gejala superstar sejarah,
menganggap menjadi pusat dunia, sebagai tonggak sejarah umat manusia merasa
diri paling benar. Sekarang mata dunia pelan-pelan telah terbuka.
Jika selama ini hukum internasional tidak sampai dapat menggerakkan hati nurani banyak orang, maka sekarang kekuatan hati nuranilah yang akan menggerakkan hukum internasional menjatuhkan sanksi seberat-beratnya kepada Israel.
.png)