Saya kira tidak ada masalah jika saya menuliskan beberapa hal di bawah ini, tentang pengalaman saat bersentuhan dengan beberapa mahasiswa tingkat akhir di kampus tempat saya mengajar sekarang. Galibnya, sebelum menyandang gelar alumni, mahasiswa akhir wajib melahirkan satu karya tulis yang dihasilkan dari suatu studi mendalam, yang memerlukan penelitian untuk membuatnya. Suatu aktifitas menulis yang dilakukan dengan serius dan didasarkan kepada metode ilmiah, yang kelak akan mereka pertanggungjawabkan di hadapan sidang akademik berisi intelektual berkaliber. Di sidang itu, yang notabene merupakan pertemuan ilmiah, sudah pasti akan berlangsung debat panjang melibatkan konsep, teori, sampai metode penelitian, yang menjadi tulang punggung karya tulis mereka, yang sekaligus akan menjadi ajang tanding perspektif antara peniliti dan penguji.
Tapi, gambaran itu tidak benar-benar terjadi. Jarang, dan
bahkan seringkali berubah menjadi forum khotbah untuk si terdakwa mahasiswa.
Itu satu masalah yang saya tahu, yang biasanya dihadapi para
penguji, tapi akan terus terjadi berulang-ulang setiap tahun.
Belakangan ini, untuk tidak mengatakan cemas, saya terkesima
lantaran keberadaan seorang mahasiswa yang
menghadapi masalah yang saya katakan di atas. Ia mahasiswa terancam drop
out, yang kerap saya temukan melongos di antara jejeran buku-buku perpustakaan
prodi. Setiap datang ia membawa masalah berupa ide-ide penelitian yang masih
bersemayam di benaknya. Di waktu lain saya pernah menemukannya duduk terpekur
di bawah sudut almari dengan gawai yang terhubung di konektor listrik, yang saya ketahui saat itu ia tengah
mengikuti kuliah online.
Setiap ia datang, masalahnya seperti tidak pernah beranjak
dari pembicaraan terakhir kami. Sampai sekarang, belum ada selembar pun draft
atau naskah usulan penelitian yang ia siapkan. Ia seolah-olah telah kehilangan
kemampuan menulis dari kedua tanggannya, dan sepertinya telah menyerah hanya
untuk menghasilkan kalimat-kalimat akademik dari cetusan-cetusan pikirannya.
Saya kira itu masalah pertama yang mesti dipecahkan sebelum
ia menghadapi masalah kedua, yaitu menyusun naskah tugas akhir, yang sampai
sekarang belum sekalipun ia tunjukkan ke dosen pembimbingnya.
Sekali tempo, seorang kolega pengajar mengeluhkan buruknya
cara mahasiswa menulis tugas akhir. Ia kerap kelimpungan dengan cara mahasiswa
menyusun gagasannya—jika memang ada. Setiap ia membaca satu kalimat setiap itu juga ia merasa tidak mengerti apa-apa. Di
rapat itu, ia perlu mempertanyakan kemampuan berbahasa mahasiswa yang
sepertinya tidak banyak mengalami perubahan meski telah mengambil mata kuliah
bahasa Indonesia.
Kemampuan berbahasa berkorelasi dengan kemampuan berpikir
seseorang, meski kemampuan berpikir yang baik tidak selamanya akan membuat
seseorang mahir berkomunikasi. Untuk yang terakhir ini seseorang mesti
mempelajarinya melalui ilmu komunikasi atau retorika, sama seperti yang pernah
dilakukan para filosof di masa lalu. Di masa lalu, para filosof tidak saja
memiliki kemampuan berpikir kritis, tapi juga ahli dalam menyampaikan
gagasan-gagasannya dengan elegan. Para filosof dalam hal ini sangat
memperhatikan cara mereka menuturkan gagasannya agar tidak membuat pendengarnya
gagal paham dari apa yang sedang ia pikirkan.
Tapi, bagi mahasiswa tidak terlalu membutuhkan kemampuan
retorika jika ia tidak berminat untuk menjadi seorang politikus di masa depan
kelak, melainkan hanya perlu menyisihkan banyak waktunya untuk memperbaiki cara
ia mengorganisir gagasan. Bagi seorang mahasiswa ilmu sosial ia perlu
mempelajari cara berpikir analitis dan kritis agar dapat mengungkap makna di
balik fakta-fakta yang muncul dipermukaan. Ia juga perlu berpikir secara
historis untuk menangkap relasi kausal dari berbagai peristiwa dalam alur
sejarah manusia.
Lebih dari itu, seorang mahasiswa perlu banyak melahap
buku-buku, jurnal, dan apa pun sehingga membuat dirinya dapat memiliki kekayaan
kosakata pengetahuan.
Sekarang ini tidak sedikit mahasiswa mengalami
ketidaksanggupan menyampaikan isi pikirannya, di samping telah lama kehilangan
kepercayaan diri saat ingin menyampaikan sesuatu. Saya berhipotesis penyebab
utama dari fenomena ini karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki habit yang
baik; mereka malas membaca buku, jarang bertukar pikiran, dan enggan terlibat
di dalam forum-forum ilmiah. Berkaitan dengan dunia digital, interaksi tanpa
batas mahasiswa dengan media dan game daring, melenyapkan kesanggupan berpikir
mendalam terutama berkaitan dengan pikiran-pikiran bernas.
Singkat kata, cuplikan aktivisme sebagian mahasiswa di masa
kini, jika tidak disedot ke dalam praktik politik praktis, kapasitas
intelektual mereka kehilangan kegairahan lantaran diisap citra visual dunia
daring.