Jumat, 10 Februari 2023

Mahasiswa, Literasi, Riset

Saya kira tidak ada masalah jika saya menuliskan beberapa hal di bawah ini, tentang pengalaman saat bersentuhan dengan beberapa mahasiswa tingkat akhir di kampus tempat saya mengajar sekarang. Galibnya, sebelum menyandang gelar alumni, mahasiswa akhir wajib melahirkan satu karya tulis yang dihasilkan dari suatu studi mendalam, yang memerlukan penelitian untuk membuatnya. Suatu aktifitas menulis yang dilakukan dengan serius dan didasarkan kepada metode ilmiah, yang kelak akan mereka pertanggungjawabkan  di hadapan sidang akademik berisi intelektual berkaliber. Di sidang itu, yang notabene merupakan pertemuan ilmiah, sudah pasti akan berlangsung debat panjang melibatkan konsep, teori, sampai metode penelitian, yang menjadi tulang punggung karya tulis mereka, yang sekaligus akan menjadi ajang tanding perspektif antara peniliti dan penguji.

Tapi, gambaran itu tidak benar-benar terjadi. Jarang, dan bahkan seringkali berubah menjadi forum khotbah untuk si terdakwa mahasiswa.

Itu satu masalah yang saya tahu, yang biasanya dihadapi para penguji, tapi akan terus terjadi berulang-ulang setiap tahun.

Belakangan ini, untuk tidak mengatakan cemas, saya terkesima lantaran keberadaan seorang mahasiswa yang  menghadapi masalah yang saya katakan di atas. Ia mahasiswa terancam drop out, yang kerap saya temukan melongos di antara jejeran buku-buku perpustakaan prodi. Setiap datang ia membawa masalah berupa ide-ide penelitian yang masih bersemayam di benaknya. Di waktu lain saya pernah menemukannya duduk terpekur di bawah sudut almari dengan gawai yang terhubung di konektor listrik,  yang saya ketahui saat itu ia tengah mengikuti kuliah online.

Setiap ia datang, masalahnya seperti tidak pernah beranjak dari pembicaraan terakhir kami. Sampai sekarang, belum ada selembar pun draft atau naskah usulan penelitian yang ia siapkan. Ia seolah-olah telah kehilangan kemampuan menulis dari kedua tanggannya, dan sepertinya telah menyerah hanya untuk menghasilkan kalimat-kalimat akademik dari cetusan-cetusan pikirannya.

Saya kira itu masalah pertama yang mesti dipecahkan sebelum ia menghadapi masalah kedua, yaitu menyusun naskah tugas akhir, yang sampai sekarang belum sekalipun ia tunjukkan ke dosen pembimbingnya.

Sekali tempo, seorang kolega pengajar mengeluhkan buruknya cara mahasiswa menulis tugas akhir. Ia kerap kelimpungan dengan cara mahasiswa menyusun gagasannya—jika memang ada. Setiap ia membaca satu kalimat setiap  itu juga ia merasa tidak mengerti apa-apa. Di rapat itu, ia perlu mempertanyakan kemampuan berbahasa mahasiswa yang sepertinya tidak banyak mengalami perubahan meski telah mengambil mata kuliah bahasa Indonesia.

Kemampuan berbahasa berkorelasi dengan kemampuan berpikir seseorang, meski kemampuan berpikir yang baik tidak selamanya akan membuat seseorang mahir berkomunikasi. Untuk yang terakhir ini seseorang mesti mempelajarinya melalui ilmu komunikasi atau retorika, sama seperti yang pernah dilakukan para filosof di masa lalu. Di masa lalu, para filosof tidak saja memiliki kemampuan berpikir kritis, tapi juga ahli dalam menyampaikan gagasan-gagasannya dengan elegan. Para filosof dalam hal ini sangat memperhatikan cara mereka menuturkan gagasannya agar tidak membuat pendengarnya gagal paham dari apa yang sedang ia pikirkan.

Tapi, bagi mahasiswa tidak terlalu membutuhkan kemampuan retorika jika ia tidak berminat untuk menjadi seorang politikus di masa depan kelak, melainkan hanya perlu menyisihkan banyak waktunya untuk memperbaiki cara ia mengorganisir gagasan. Bagi seorang mahasiswa ilmu sosial ia perlu mempelajari cara berpikir analitis dan kritis agar dapat mengungkap makna di balik fakta-fakta yang muncul dipermukaan. Ia juga perlu berpikir secara historis untuk menangkap relasi kausal dari berbagai peristiwa dalam alur sejarah manusia.

Lebih dari itu, seorang mahasiswa perlu banyak melahap buku-buku, jurnal, dan apa pun sehingga membuat dirinya dapat memiliki kekayaan kosakata pengetahuan.

Sekarang ini tidak sedikit mahasiswa mengalami ketidaksanggupan menyampaikan isi pikirannya, di samping telah lama kehilangan kepercayaan diri saat ingin menyampaikan sesuatu. Saya berhipotesis penyebab utama dari fenomena ini karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki habit yang baik; mereka malas membaca buku, jarang bertukar pikiran, dan enggan terlibat di dalam forum-forum ilmiah. Berkaitan dengan dunia digital, interaksi tanpa batas mahasiswa dengan media dan game daring, melenyapkan kesanggupan berpikir mendalam terutama berkaitan dengan pikiran-pikiran bernas.

Singkat kata, cuplikan aktivisme sebagian mahasiswa di masa kini, jika tidak disedot ke dalam praktik politik praktis, kapasitas intelektual mereka kehilangan kegairahan lantaran diisap citra visual dunia daring.