SAYA DIDUDUKKAN di atas dipan, yang
sebelumnya telah dihamparkan sajadah di atasnya.
Seperti petapa melakukan meditasi, saya duduk bersila di situ. Itu hari
kali pertama saya akan pergi belajar mengaji, yang berarti saat itu pakaian
lengkap telah saya kenakan layaknya kegembiraan seorang anak menyambut tahun
pertamanya ke sekolah: berkopiah, menggunakan baju koko putih, dan bercelana panjang hijau. Lantas tidak lama berselang saya dibaca-bacai, setelah
sebelumnya beberapa benda diletakkan di bawah sajadah, persis di bawah pantat.
Jika ingatan saya tidak meleset, disimpan juga sebatang jarum atau peniti di
bawahnya. Waktu Ashar segera datang, tapi kegiatan itu dilakukan dengan hikmat,
tanpa banyak suara, dan orang yang membacakan doa-doa khusus ketika itu tiada
lain adalah bapak saya sendiri. Segelas air putih kemudian diminumkan kepada
saya. Lalu, berangkatlah si anak kecil ini belajar mengaji berjalan kaki
sepanjang 1-2 km, melewati perkampungan berpenduduk nasrani, menuju satu surau
masjid bernama Nurul Iman.
Itu pengalaman hidup yang tidak akan hilang
dalam ingatan saya, tapi tidak ada hubungan antara nama masjid Nurul Iman,
tempat saya belajar mengaji, dengan iman yang mendorong orangtua saya melakukan
kegiatan di atas, kecuali agar saya diberikan kebaikan dan kemudahan ketika
menjalani proses belajar mengaji sebagai ”santri”.
Sekarang, banyak orang menganggap tindakan
semacam itu tidak relevan dengan zaman saat ini, ditandai dari masyarakat yang
semakin rasional, birokratis, dan ilmiah. Dalam kacamata positivistik,
peristiwa di atas akan dicap takhayul, meski tidak ada kemenyan, minyak, bunga
kembang rupa, atau seekor ayam kampung hitam, yang menambah kesan mistik, untuk
tidak menyebutnya seram.
Itu artinya, tidak ada narasi yang dapat
menjelaskan hubungan antara kegiatan klenik seperti itu dengan kemampuan
kognitif seseorang. Kecerdasan adalah peristiwa kimiawi dalam otak yang
melibatkan banyak syaraf di dalamnya kemudian membentuk gudang informasi berupa
data-data, dan bukannya karena pengaruh hal mistik, sehingga karena itu setiap
orang cerdas akan dianggap sebagai anak yang semasa kecilnya paling banyak
diberikan doa-doa. Semakin cerdas seseorang berarti semakin banyak jampi-jampi
dalam otaknya.
Lebih ekstrim dari itu, terutama melalui
pandangan dunia materialisme, dunia ini tidak dapat dinyatakan sebagai bagian
dari suatu realitas metafisis, yang secara hirarkis mengaturnya melalui
hukum-hukum akal budi. Tidak ada
korelasi ontologis antara dunia metafisis dengan peristiwa ril sehari-hari.
Tidak ada pengaruh langsung antara keduanya selain setiap yang terjadi di alam
pengalaman merupakan usaha manusia sendiri, yang bukan karena intervensi
kehendak ”dunia atas”.
Itu narasi yang selama ini berkembang dalam
masyarakat global, yang karena kemajuan sains dan teknologi, telah banyak
melewati fase perkembangan peradaban. Berabad-abad lamanya keyakinan yang
diliputi irasionalitas, dogmatis, dan mistis, ditinggalkan dengan hanya
menyisakan olok-olok jika ada yang masih berpikir melalui cara itu.
Keyakinan yang hampir sama juga ditemukan
dari orang-orang yang melihat itu sebagai bid’ah dan menyesatkan, yang
beralasan tidak pernah ditemukan dalam kehidupan generasi terdahulu saat mereka
menyebut dirinya sebagai muslim. Kegiatan itu akan disebut juga kurafat yang
karena itu akan sia-sia dilakukan. Tidak ada dasar historisnya apalagi
mencarinya melalui dalil-dalil, sehingga sesuatu yang tidak tercatat dalam
himpunan teks hukum, tidak patut dilakukan apalagi terdorong membuatnya menjadi
tradisi.
Belum lama ini muncul pro kontra terkait
penyelenggaran MotoGP di Lombok, terutama di sirkuit Mandalika, yang banyak
menghabiskan anggaran tapi lumayan disambut baik oleh warga Indonesia. Selama
pagelaran, muncul sosok perempuan pawang hujan bak seorang avatar, yang nampak
berusaha mengendalikan air hujan agar segera menjauh dari lokasi balapan.
Karena caranya yang disorot banyak kamera, dan menjadi viral, si pawang hujan
menjadi terkenal menyerupai para pebalab MotoGP sendiri. Ia dibicarakan tidak
lama setelah melakukan ritual dengan cara mengacung-acungkan tangan ke udara
melalui mantra yang hanya ia sendiri yang tahu.
Banyak orang angkat bicara dengan nada negatif bahwa itu tidak masuk
akal terlebih dilakukan di tengah penyelenggaran balapan motor yang hampir
sepenuhnya dilakukan menggunakan teknologi canggih berbasis sains. Kejadian ini
membuat malu Indonesia sebagai penyelenggara. Kok bisa, di saat dunia sedang
mengarahkan perhatiannya kepada metaverse, masih ada kebiasaan klenik yang
dilakukan dan disebut sebagai bagian dari kearifan lokal.
Bagi Anda yang terlanjur mengenyam
pendidikan positivistik ala Barat, atau yang menganggap ini bagian dari
perilaku kesyirikan, akan terlihat lucu, meski di lain waktu Anda juga sering
melihat bagaimana seorang pawang singa, atau buaya, dapat mengendalikan kedua
binatang buas tersebut. Di setiap sirkus, seorang pawang akan diapresiasi
sebagai pekerja profesional karena memiliki pengetahuan dan pendekatan untuk menjinakkan hewan-hewan yang
bertabiat liar dan membahayakan. Di kebun binatang, kita akan bergembira
bagaimana bisa seekor gajah, misalnya, dapat duduk seperti dilakukan oleh anak
monyet kecuali itu telah dilatih oleh pawangnya.
Tapi, Anda akan dikatakan klenik dan
dituduh mistis hanya karena Anda dapat menguasai ilmu hujan kurang lebih
seperti yang menjadi mukjizat Nabi Sulaiman as. saat mengendalikan angin.
Jangankan angin, Nabi Sulaiman as. bahkan memiliki kemampuan dapat berbicara
dengan binatang karena ia mengerti bahasa binatang, dan dapat berkawan dengan
para jin karena mengerti pula bahasa jin.
Saya tidak ingin mengatakan para pawang
binatang menguasai ilmu seperti yang dimiliki Nabi Sulaiman as. karena nampak
bisa akrab bermain-main dengan seekor harimau atau macan, seolah-olah pawang
itulah yang melahirkan mereka. Tapi, melalui narasi kebudayaan, manusia dan
alam merupakan entitas yang berkorelasi dan dapat saling memahami jika manusia
memperbaiki cara ia melihat dan memberlakukan alam.
Manusia memiliki kemampuan epistemologi
untuk mengerti hakikat dirinya dan alam sekitarnya, dengan syarat ia dapat
menguasi metode dan alat pengetahuannya. Artinya jangankan dapat mengendalikan
hakikat seekor binatang buas, dengan kemampuan epistemologi yang dimaksudkan,
manusia dapat mengetahui dan mengalami sendiri hakikat alam semesta. Bukan saja
hujan yang dapat ia kontrol, melainkan benda-benda lain yang ingin Anda
kendalikan.
Selama ini, kita telah terbiasa hidup
melalui banyak medium saat menghendaki sesuatu. Ketika Anda menginginkan sebuah
mobil, Anda tidak dapat langsung memilikinya tanpa membelinya dari sebuah
showroom. Anda membutuhkan uang untuk itu, karena itulah mediumnya. Anda akan
dituduh merampok jika memiliki mobil tanpa membayarnya. Sama halnya Anda tidak
akan mendapatkan kekasih yang Anda inginkan jika Anda tidak menyatakan perasaan
Anda kepada dirinya. Mungkin Anda akan ditolak, tapi bagaimana bisa itu terjadi
jika sebelumnya niat Anda tidak diungkapkan melalui kata-kata. Dalam hal ini,
banyak orang kalah dari orang lain, karena ia tidak menyatakan cintanya melalui
sebuah surat, pesan, atau tindakan, yang semua itu adalah medium agar Anda
dapat diketahui sedang menyukai seseorang.
Selama ini sains adalah medium untuk
memahami berbagai macam gejala fenomena. Para Ilmuwan menggunakan metode riset
untuk menggali hipotesis yang mereka ajukan sebelum melakukan berbagai uji coba
dalam eksperimen. Jika mereka gagal menemukan jawaban, mereka akan memperbarui
metodenya. Gagal lagi, metode yang dipakai sebelumnya akan kembali
disempurnakan, seterusnya, seterusnya, dan seterusnya lagi, sampai mereka
menemukan suatu cara paling sedikit mengandung bias kesalahan untuk merumuskan
suatu temuan. Melalui berbagai macam
eksperimen, maka sains memiliki waktu yang panjang terkait dalam hal mencari
kepastian. Bahkan akan lebih lama lagi karena untuk diakui sebagai kebenaran,
temuan mereka akan diuji melalui komunitas ilmiah, yang juga telah mempersiapkan
temuan-temuan lain yang bisa saja membantah temuan ilmuwan sebelumnya.
Salah satu gejala yang paling banyak
menarik minat para ilmuwan adalah fenomena-fenomena alam, seperti misal
meneliti pergerakan benda-benda langit, mencari tahu usia matahari, pergantian
musim, kekeringan, banjir, dan juga adalah hujan, yang merupakan bagian dari
disiplin ilmu metereologi dan geofisika. Melalui ilmu ini manusia akhirnya
banyak tahu tentang hujan; kapan ia datang, bagamaimana ia bisa terjadi, angin
apa yang menyertainya, berapa lama ia akan berhenti, dan akan kemana jika ia
bergerak bersama awan di atasnya. Bahkan, dengan kemajuan teknologi penggaraman
yang didukung sains di belakangnya, jangankan dihentikan, sekarang hujan pun
bisa diciptakan.
Dengan kapasitas seperti itu, para ilmuwan
yang bekerja di bawah payung ilmu metereologi dan geofisika adalah para
pengendali angin, cuaca, iklim, dan hujan. Mereka memiliki teknik khusus yang
disebut metode ilmiah. Mereka menggunakan sains untuk memahami, dan bahkan
dapat menciptakan semua itu. Ilmu mereka dapat lebih praktis selama diciptakan
teknologi mutakhir demi mengefisienkan kerja manusia. Mereka dengan kata lain
adalah pawang hujan dalam arti modern, kurang lebih sama seperti para Shaman di
suku-suku Indian, yang memiliki pengetahuan rahasia tentang alam dan
komposisinya.
Sampai di sini, Anda tidak perlu lagi
meragukan dasar pertanggungjawaban ilmiah terkait ilmu pawang hujan, seperti
yang terjadi di Sirkuit Mandalika. Sama seperti sains, yang menjadi dasar
keilmuan pawang hujan di mana pun, hanya merupakan satu metodelogi dalam rangka
memahami dan mengendalikan objek-objek di luar dari dirinya. Itu pada dasarnya
hanya satu gaya bahasa, dari sekian banyak jenis-jenis keilmuan yang selama ini
ada meski tidak semua orang tahu dan mempelajarinya.
Itu artinya, setiap jenis pengetahuan tidak
lahir tanpa suatu setting pandangan kosmologi yang mengorientasikan kedudukan
manusia di alam semesta. Di kebanyakan masyarakat adat, manusia memiliki
kedudukan yang sederajat dengan alam semesta sehingga tidak ada hirarki
kekuasaan yang berlaku di antaranya. Berbeda dengan masyarakat modern, yang
menempatkan alam di bawah objek kekuasaan manusia yang bersifat antroposen,
sehingga secara moral manusialah yang paling sering dipertimbangkan ketika
terkait dengan keputusan-keputusan penting.
Dalam epistemologi sains Islam, di luar
ilmu-ilmu rasional dan empiris, masih ada satu kategori yang disebut ilmu
huduri (knowledge by presence), yang memahami objek-objek ilmu tidak lagi
melalui medium konsep, esensi, citra, atau pengalaman belajar, tapi melalui
wujud langsung ilmu itu sendiri, yang hadir (present) dalam diri sang ilmuwan.
Selama ini ilmu rasional dan empiris menggunakan akal budi (rasio) ketika
memproses suatu informasi melalui konsep atau esensi ilmu pengetahuan
(representation). Tapi, tidak dalam ilmu kehadiran, karena informasi itu
sendiri datang ke dalam jiwa (intuisi) sang ilmuwan berupa hakikat wujud
pengetahuan yang sebenarnya tanpa perantara kata, konsep, bahasa, dan bahkan
pengalaman.
Sifatnya yang demikian, maka jenis ilmu ini
memiliki metodelogi khusus untuk mengalaminya, sehingga dalam dunia keilmuan
Islam, orang-orang yang telah sampai di tingkat ini bukan jenis ilmuwan biasa.
Pengetahuan dan diri mereka tidak lagi dipisahkan oleh konsep, ide, atau
gagasan lagi, melainkan telah identik sedemikian rupa sehingga sulit dipisahkan
siapa subjek dan objek ilmu yang sesungguhnya.
Tapi, jika lebih dahulu seseorang hanya
mengakui falsafah ilmu seperti yang menjadi ideologi ilmuwan Barat pada
umumnya, maka jenis ilmu di atas sulit diterima karena mengandung bau klenik,
dan mistis. Barangkali, akan jauh lebih sulit lagi untuk dimengerti bagi
sebagian besar ilmuwan yang selama ini memberlakukan sains persis seperti
ideologi sehingga terjadi mistifikasi sains. Mistifikasi sains dalam hal ini
bukan berarti mengubah orientasi keilmuan sains ke arah studi disiplin
metafisika, tetapi lebih kepada perlakuan seseorang yang mengagung-agungkan
sains sebagai satu-satunya metode pencarian pengetahuan, sampai-sampai ia
disucikan dan dikeramatkan sama seperti para pelaku klenik mengkeramatkan keris
ampuhnya.
Tapi begitulah, di beberapa kelompok
ilmuwan sains telah sepenuhnya menjadi pendekatan ilmu yang bersifat ideologis,
yang pandangannya dapat disaksikan melalui olok-olok, cemoohan, dan bully
kepada praktik keilmuan yang berbeda dari dirinya. Sains sama halnya juga telah
seperti agama, yang malangnya menjadi agama yang terbilang konservatif menolak
keanekaan pendekataan dalam berhubungan dengan Tuhannya. Bahkan ia agama tanpa
kedisiplinan ritual ibadah sehingga kehilangan bimbingan moral. Sains yang tanpa
moral akan gampang melecehkan bentuk-bentuk pengetahuan yang banyak tersimpan
di pelosok masyarakat lokal, dengan jenis ilmuwan yang tidak sama seperti
ditemukan di lingkungan akademik seperti sering Anda saksikan.