Jumat, 25 Maret 2022

Pawang Hujan, Sains, dan Mistifikasi Sains

 

SAYA DIDUDUKKAN di atas dipan, yang sebelumnya telah dihamparkan sajadah di atasnya. Seperti  petapa melakukan meditasi, saya duduk bersila di situ. Itu hari kali pertama saya akan pergi belajar mengaji, yang berarti saat itu pakaian lengkap telah saya kenakan layaknya kegembiraan seorang anak menyambut tahun pertamanya ke sekolah: berkopiah, menggunakan baju koko putih, dan bercelana panjang hijau. Lantas tidak lama berselang saya dibaca-bacai, setelah sebelumnya beberapa benda diletakkan di bawah sajadah, persis di bawah pantat. Jika ingatan saya tidak meleset, disimpan juga sebatang jarum atau peniti di bawahnya. Waktu Ashar segera datang, tapi kegiatan itu dilakukan dengan hikmat, tanpa banyak suara, dan orang yang membacakan doa-doa khusus ketika itu tiada lain adalah bapak saya sendiri. Segelas air putih kemudian diminumkan kepada saya. Lalu, berangkatlah si anak kecil ini belajar mengaji berjalan kaki sepanjang 1-2 km, melewati perkampungan berpenduduk nasrani, menuju satu surau masjid bernama Nurul Iman.

Itu pengalaman hidup yang tidak akan hilang dalam ingatan saya, tapi tidak ada hubungan antara nama masjid Nurul Iman, tempat saya belajar mengaji, dengan iman yang mendorong orangtua saya melakukan kegiatan di atas, kecuali agar saya diberikan kebaikan dan kemudahan ketika menjalani proses belajar mengaji sebagai ”santri”.

Sekarang, banyak orang menganggap tindakan semacam itu tidak relevan dengan zaman saat ini, ditandai dari masyarakat yang semakin rasional, birokratis, dan ilmiah. Dalam kacamata positivistik, peristiwa di atas akan dicap takhayul, meski tidak ada kemenyan, minyak, bunga kembang rupa, atau seekor ayam kampung hitam, yang menambah kesan mistik, untuk tidak menyebutnya seram.

Itu artinya, tidak ada narasi yang dapat menjelaskan hubungan antara kegiatan klenik seperti itu dengan kemampuan kognitif seseorang. Kecerdasan adalah peristiwa kimiawi dalam otak yang melibatkan banyak syaraf di dalamnya kemudian membentuk gudang informasi berupa data-data, dan bukannya karena pengaruh hal mistik, sehingga karena itu setiap orang cerdas akan dianggap sebagai anak yang semasa kecilnya paling banyak diberikan doa-doa. Semakin cerdas seseorang berarti semakin banyak jampi-jampi dalam otaknya.

Lebih ekstrim dari itu, terutama melalui pandangan dunia materialisme, dunia ini tidak dapat dinyatakan sebagai bagian dari suatu realitas metafisis, yang secara hirarkis mengaturnya melalui hukum-hukum akal budi.  Tidak ada korelasi ontologis antara dunia metafisis dengan peristiwa ril sehari-hari. Tidak ada pengaruh langsung antara keduanya selain setiap yang terjadi di alam pengalaman merupakan usaha manusia sendiri, yang bukan karena intervensi kehendak ”dunia atas”.

Itu narasi yang selama ini berkembang dalam masyarakat global, yang karena kemajuan sains dan teknologi, telah banyak melewati fase perkembangan peradaban. Berabad-abad lamanya keyakinan yang diliputi irasionalitas, dogmatis, dan mistis, ditinggalkan dengan hanya menyisakan olok-olok jika ada yang masih berpikir melalui cara itu.

Keyakinan yang hampir sama juga ditemukan dari orang-orang yang melihat itu sebagai bid’ah dan menyesatkan, yang beralasan tidak pernah ditemukan dalam kehidupan generasi terdahulu saat mereka menyebut dirinya sebagai muslim. Kegiatan itu akan disebut juga kurafat yang karena itu akan sia-sia dilakukan. Tidak ada dasar historisnya apalagi mencarinya melalui dalil-dalil, sehingga sesuatu yang tidak tercatat dalam himpunan teks hukum, tidak patut dilakukan apalagi terdorong membuatnya menjadi tradisi.

Belum lama ini muncul pro kontra terkait penyelenggaran MotoGP di Lombok, terutama di sirkuit Mandalika, yang banyak menghabiskan anggaran tapi lumayan disambut baik oleh warga Indonesia. Selama pagelaran, muncul sosok perempuan pawang hujan bak seorang avatar, yang nampak berusaha mengendalikan air hujan agar segera menjauh dari lokasi balapan. Karena caranya yang disorot banyak kamera, dan menjadi viral, si pawang hujan menjadi terkenal menyerupai para pebalab MotoGP sendiri. Ia dibicarakan tidak lama setelah melakukan ritual dengan cara mengacung-acungkan tangan ke udara melalui mantra yang hanya ia sendiri yang tahu.  Banyak orang angkat bicara dengan nada negatif bahwa itu tidak masuk akal terlebih dilakukan di tengah penyelenggaran balapan motor yang hampir sepenuhnya dilakukan menggunakan teknologi canggih berbasis sains. Kejadian ini membuat malu Indonesia sebagai penyelenggara. Kok bisa, di saat dunia sedang mengarahkan perhatiannya kepada metaverse, masih ada kebiasaan klenik yang dilakukan dan disebut sebagai bagian dari kearifan lokal.

Bagi Anda yang terlanjur mengenyam pendidikan positivistik ala Barat, atau yang menganggap ini bagian dari perilaku kesyirikan, akan terlihat lucu, meski di lain waktu Anda juga sering melihat bagaimana seorang pawang singa, atau buaya, dapat mengendalikan kedua binatang buas tersebut. Di setiap sirkus, seorang pawang akan diapresiasi sebagai pekerja profesional karena memiliki pengetahuan dan  pendekatan untuk menjinakkan hewan-hewan yang bertabiat liar dan membahayakan. Di kebun binatang, kita akan bergembira bagaimana bisa seekor gajah, misalnya, dapat duduk seperti dilakukan oleh anak monyet kecuali itu telah dilatih oleh pawangnya.

Tapi, Anda akan dikatakan klenik dan dituduh mistis hanya karena Anda dapat menguasai ilmu hujan kurang lebih seperti yang menjadi mukjizat Nabi Sulaiman as. saat mengendalikan angin. Jangankan angin, Nabi Sulaiman as. bahkan memiliki kemampuan dapat berbicara dengan binatang karena ia mengerti bahasa binatang, dan dapat berkawan dengan para jin karena mengerti pula bahasa jin.

Saya tidak ingin mengatakan para pawang binatang menguasai ilmu seperti yang dimiliki Nabi Sulaiman as. karena nampak bisa akrab bermain-main dengan seekor harimau atau macan, seolah-olah pawang itulah yang melahirkan mereka. Tapi, melalui narasi kebudayaan, manusia dan alam merupakan entitas yang berkorelasi dan dapat saling memahami jika manusia memperbaiki cara ia melihat dan memberlakukan alam.

Manusia memiliki kemampuan epistemologi untuk mengerti hakikat dirinya dan alam sekitarnya, dengan syarat ia dapat menguasi metode dan alat pengetahuannya. Artinya jangankan dapat mengendalikan hakikat seekor binatang buas, dengan kemampuan epistemologi yang dimaksudkan, manusia dapat mengetahui dan mengalami sendiri hakikat alam semesta. Bukan saja hujan yang dapat ia kontrol, melainkan benda-benda lain yang ingin Anda kendalikan.

Selama ini, kita telah terbiasa hidup melalui banyak medium saat menghendaki sesuatu. Ketika Anda menginginkan sebuah mobil, Anda tidak dapat langsung memilikinya tanpa membelinya dari sebuah showroom. Anda membutuhkan uang untuk itu, karena itulah mediumnya. Anda akan dituduh merampok jika memiliki mobil tanpa membayarnya. Sama halnya Anda tidak akan mendapatkan kekasih yang Anda inginkan jika Anda tidak menyatakan perasaan Anda kepada dirinya. Mungkin Anda akan ditolak, tapi bagaimana bisa itu terjadi jika sebelumnya niat Anda tidak diungkapkan melalui kata-kata. Dalam hal ini, banyak orang kalah dari orang lain, karena ia tidak menyatakan cintanya melalui sebuah surat, pesan, atau tindakan, yang semua itu adalah medium agar Anda dapat diketahui sedang menyukai seseorang.

Selama ini sains adalah medium untuk memahami berbagai macam gejala fenomena. Para Ilmuwan menggunakan metode riset untuk menggali hipotesis yang mereka ajukan sebelum melakukan berbagai uji coba dalam eksperimen. Jika mereka gagal menemukan jawaban, mereka akan memperbarui metodenya. Gagal lagi, metode yang dipakai sebelumnya akan kembali disempurnakan, seterusnya, seterusnya, dan seterusnya lagi, sampai mereka menemukan suatu cara paling sedikit mengandung bias kesalahan untuk merumuskan suatu temuan.  Melalui berbagai macam eksperimen, maka sains memiliki waktu yang panjang terkait dalam hal mencari kepastian. Bahkan akan lebih lama lagi karena untuk diakui sebagai kebenaran, temuan mereka akan diuji melalui komunitas ilmiah, yang juga telah mempersiapkan temuan-temuan lain yang bisa saja membantah temuan ilmuwan sebelumnya.

Salah satu gejala yang paling banyak menarik minat para ilmuwan adalah fenomena-fenomena alam, seperti misal meneliti pergerakan benda-benda langit, mencari tahu usia matahari, pergantian musim, kekeringan, banjir, dan juga adalah hujan, yang merupakan bagian dari disiplin ilmu metereologi dan geofisika. Melalui ilmu ini manusia akhirnya banyak tahu tentang hujan; kapan ia datang, bagamaimana ia bisa terjadi, angin apa yang menyertainya, berapa lama ia akan berhenti, dan akan kemana jika ia bergerak bersama awan di atasnya. Bahkan, dengan kemajuan teknologi penggaraman yang didukung sains di belakangnya, jangankan dihentikan, sekarang hujan pun bisa diciptakan.

Dengan kapasitas seperti itu, para ilmuwan yang bekerja di bawah payung ilmu metereologi dan geofisika adalah para pengendali angin, cuaca, iklim, dan hujan. Mereka memiliki teknik khusus yang disebut metode ilmiah. Mereka menggunakan sains untuk memahami, dan bahkan dapat menciptakan semua itu. Ilmu mereka dapat lebih praktis selama diciptakan teknologi mutakhir demi mengefisienkan kerja manusia. Mereka dengan kata lain adalah pawang hujan dalam arti modern, kurang lebih sama seperti para Shaman di suku-suku Indian, yang memiliki pengetahuan rahasia tentang alam dan komposisinya.

Sampai di sini, Anda tidak perlu lagi meragukan dasar pertanggungjawaban ilmiah terkait ilmu pawang hujan, seperti yang terjadi di Sirkuit Mandalika. Sama seperti sains, yang menjadi dasar keilmuan pawang hujan di mana pun, hanya merupakan satu metodelogi dalam rangka memahami dan mengendalikan objek-objek di luar dari dirinya. Itu pada dasarnya hanya satu gaya bahasa, dari sekian banyak jenis-jenis keilmuan yang selama ini ada meski tidak semua orang tahu dan mempelajarinya.

Itu artinya, setiap jenis pengetahuan tidak lahir tanpa suatu setting pandangan kosmologi yang mengorientasikan kedudukan manusia di alam semesta. Di kebanyakan masyarakat adat, manusia memiliki kedudukan yang sederajat dengan alam semesta sehingga tidak ada hirarki kekuasaan yang berlaku di antaranya. Berbeda dengan masyarakat modern, yang menempatkan alam di bawah objek kekuasaan manusia yang bersifat antroposen, sehingga secara moral manusialah yang paling sering dipertimbangkan ketika terkait dengan keputusan-keputusan penting.

Dalam epistemologi sains Islam, di luar ilmu-ilmu rasional dan empiris, masih ada satu kategori yang disebut ilmu huduri (knowledge by presence), yang memahami objek-objek ilmu tidak lagi melalui medium konsep, esensi, citra, atau pengalaman belajar, tapi melalui wujud langsung ilmu itu sendiri, yang hadir (present) dalam diri sang ilmuwan. Selama ini ilmu rasional dan empiris menggunakan akal budi (rasio) ketika memproses suatu informasi melalui konsep atau esensi ilmu pengetahuan (representation). Tapi, tidak dalam ilmu kehadiran, karena informasi itu sendiri datang ke dalam jiwa (intuisi) sang ilmuwan berupa hakikat wujud pengetahuan yang sebenarnya tanpa perantara kata, konsep, bahasa, dan bahkan pengalaman.

Sifatnya yang demikian, maka jenis ilmu ini memiliki metodelogi khusus untuk mengalaminya, sehingga dalam dunia keilmuan Islam, orang-orang yang telah sampai di tingkat ini bukan jenis ilmuwan biasa. Pengetahuan dan diri mereka tidak lagi dipisahkan oleh konsep, ide, atau gagasan lagi, melainkan telah identik sedemikian rupa sehingga sulit dipisahkan siapa subjek dan objek ilmu yang sesungguhnya.

Tapi, jika lebih dahulu seseorang hanya mengakui falsafah ilmu seperti yang menjadi ideologi ilmuwan Barat pada umumnya, maka jenis ilmu di atas sulit diterima karena mengandung bau klenik, dan mistis. Barangkali, akan jauh lebih sulit lagi untuk dimengerti bagi sebagian besar ilmuwan yang selama ini memberlakukan sains persis seperti ideologi sehingga terjadi mistifikasi sains. Mistifikasi sains dalam hal ini bukan berarti mengubah orientasi keilmuan sains ke arah studi disiplin metafisika, tetapi lebih kepada perlakuan seseorang yang mengagung-agungkan sains sebagai satu-satunya metode pencarian pengetahuan, sampai-sampai ia disucikan dan dikeramatkan sama seperti para pelaku klenik mengkeramatkan keris ampuhnya.

Tapi begitulah, di beberapa kelompok ilmuwan sains telah sepenuhnya menjadi pendekatan ilmu yang bersifat ideologis, yang pandangannya dapat disaksikan melalui olok-olok, cemoohan, dan bully kepada praktik keilmuan yang berbeda dari dirinya. Sains sama halnya juga telah seperti agama, yang malangnya menjadi agama yang terbilang konservatif menolak keanekaan pendekataan dalam berhubungan dengan Tuhannya. Bahkan ia agama tanpa kedisiplinan ritual ibadah sehingga kehilangan bimbingan moral. Sains yang tanpa moral akan gampang melecehkan bentuk-bentuk pengetahuan yang banyak tersimpan di pelosok masyarakat lokal, dengan jenis ilmuwan yang tidak sama seperti ditemukan di lingkungan akademik seperti sering Anda saksikan.