Selasa, 22 Maret 2022

Si Raja Minyak yang Sebenarnya

Dalam serial sinetron Gerhana (1999), kita mengenal sosok Poltak (Ruhut Sitompul), si Raja Minyak dari Medan. Ia milyarder dengan rambut dikuncir yang kerap mengukur dirinya dengan kekayaan minyaknya, sehingga mampu melakukan apa saja termasuk menganggap bisa meluluhkan hati Bulan (Dina Lorenza), yang merupakan kekasih Gerhana (Pierre Rolland), seorang pemuda tampan yang dilahirkan saat terjadinya gerhana bulan. Karena bertepatan lahir saat gerhana bulan, Nana begitu panggilan kesayangan Gerhana—oleh Peggy (Peggy Melati Sukma), perempuan lain yang menyukai Gerhana, mendapatkan kekuatan mistis gabungan antara ilmu langit dan bumi. Gerhana memiliki kemampuan mengelola kekuatan alam melalui isi pikirannya—atau mungkin jiwanya. Ia mampu mengontrol tubuh orang dengan melemparnya hanya melalui pikirannya belaka. Ilmu alam Gerhana yang lain, juga mampu membaca beberapa peristiwa yang bisa saja akan terjadi di masa depan. Dalam Islam, kekuatan mistis seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang diberikan ilmu laduni—suatu model ilmu yang dalam epistemologi sains Islam masuk dalam kategori ilmu hudhuri (ilmu kehadiran/knowledge by presence).

Kembali ke sosok Poltak, si Raja Minyak dari Medan, meski senang mengumbar dirinya sebagai orang kaya, tapi dalam cerita, kekayaannya tidak berguna sama sekali, terutama untuk membuat Bulan terkesan lalu jatuh cinta kepadanya. Meskipun Poltak banyak minyak, yang tidak diketahui perusahaan apa yang ia gunakan untuk mengelolanya, Bulan lebih simpatik kepada Gerhana, teman mahasiswanya yang sering membantunya saat menghadapi masalah. 

Satu-satunya orang yang kepincut dengan harta Poltak adalah ibu dari Bulan, yaitu Saidah, saat itu diperankan Dharty Manullang, yang suka menjodoh-jodohkan anaknya untuk dekat kepada Poltak, sesuatu yang tidak dinginkan Bulan sebenarnya.

Sinetron ini lumayan sukses diputar sejak pertama kali tayang pada awal tahun 1999, dengan penonton setia yang ingin melihat aksi-aksi Gerhana menumpas musuh-musuhnya—setelah Gerhana muncul sinetron bertema superhero dengan sosok rupawan yaitu Panji Manusia Milenium dan Saras 008, yang menyajikan logika film yang sama. Efek sinetron Gerhana juga memberikan dampak kepada kepopuleran istilah pergaulan seperti kata ”pusiing” yang menjadi istilah khas Peggy jika sedang menghadapi masalah, atau “”capek deeh” yang dipakai oleh Mpok Atiek (Mpok Atiek), pembantu rumah tangga di keluarga Gerhana kalau mengeluh tentang sesuatu. Dan, yang tidak asing kemudian adalah logat Batak Poltak, apalagi jika ia memperkenalkan dirinya sebagai raja minyak. 

Di luar konteks sinetron ini, Indonesia saat itu belum jauh dari zona krisis keuangan, suatu masa ketika ekonomi kawasan kolaps  dan menimpa beberapa negara Asia Tenggara saat itu. Indonesia juga sedang mengalami masa reformasi, ditandai sebelumnya dari keguncangan politik ekonomi yang membuat kehidupan masyarakat jadi tidak menentu. Krisis ekonomi dan krisis legitimasi politik saat itu berimbas terjadinya inflasi membuat harga barang-barang—termasuk minyak goreng— melambung tinggi, dan nilai rupiah turun drastis hanya mencapai dua ribuan per dolarnya. 

Jadi, di saat barang-barang langka dan mahal, selain BBM juga termasuk minyak goreng saat itu, yang membuat kehidupan ekonomi masyarakat nyungsep, sementara si Poltak berkoar-koar sebagai Raja Minyak dari Medan, seolah ia tidak terpengaruh dengan kehidupan ril masyarakat, sudah tentu adalah satire yang pas saat itu—meski hanya lewat sinetron. 

Artinya, bagaimana bisa di sekeliling seorang raja minyak, justru kehidupan orang-orangnya mengalami kesusahan minyak. Bagaimana mungkin seorang penguasa minyak yang memiliki kekuasaan besar atas itu tidak bisa menyelesaikan krisis minyak di sekitarnya. Ironik, memang. 

Tapi, ironi paling nyata saya kira adalah, ya negeri ini. Negeri ini sebenarnya, adalah raja minyak goreng, tapi ada penguasa yang menguasai lahan sawit dari Sumatera sampai Kalimantan, dari Sulawesi sampai Papua, dengan beribu-ribu hektare luasnya, tapi produksi minyak tidak dialamatkan untuk kepentingan dalam negeri, dikarenakan lebih banyak dijual ke pasar internasional dengan harga yang sedang tinggi. Di sisi lain kemunculan tengkulak-tengkulak di lapisan grass root, membuat panik pasar karena distribusi yang macet, membuat psikologi masyarakat tidak terkontrol untuk membeli minyak lebih dari cukup. 

Akhirnya, minyak goreng menjadi langka, cepat habis hilang di pasaran, dan seorang ibu mantan presiden terdorong ikut angkat bicara, yang dikira akan berempati menyaksikan masalah ini.

Melalui suatu potongan video, Megawati nampak nyinyir dengan kelakuan ibu-ibu, yang disebutnya tidak memiliki inisiatif mengolah makanan karena hanya mengandalkan menggoreng saja. Padahal masih banyak cara memasak sajian makanan dengan merebusnya, mengukusnya, atau membakarnya. Tidak semua jenis sajian makanan harus digoreng, dan karena itu ibu-ibu tidak perlu repot mengular dalam antrian panjang di toko-toko. Begitu, maksud penguasa partai kerbau hitam yang nampak heroik itu. 

Perkataan Megawati ada benarnya, karena tradisi kuliner di Nusantara banyak memberikan alternatif olahan makanan yang selamanya bukan dengan cara digoreng. Banyak makanan yang masih bisa diolah dengan bahan dasar air untuk direbus atau dikukus, atau sekadar dibakar saja. Jika ingin keluar dari kebiasaan makan makanan yang digoreng atau ditumis, dalam tinjauan kesehatan dan jangka panjang akan mengurangi risiko seseorang terserang kolesterol, penyakit jantung, atau obesitas, meski kenyataan ini tidak mudah. Selama ini masyarakat lebih suka dengan makanan digoreng, selain karena sifatnya praktis dan mudah disajikan, tradisi ini telah mendarah daging sejak masa lalu karena didukung dengan konteks negeri yang memiliki bahan baku minyak melimpah.

Tapi, aksi angkat bicara Ibu Megawati kontraproduktif jika didudukkan dalam konteks politik yang harus memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat. Ia melalui pernyataannya hanya memukul akibat dari kebijakan pemerintah, bukan mengarahkan kata-katanya kepada sumber masalahnya. Di sanalah hilirnya, keputusan-keputusan pemerintah yang menyebabkan berbagai masalah lahir, seolah-olah karena itu seperti tidak sedang mengambil kebijakan.

Itu artinya kelangkaan minyak hanyalah buah dari mekanisme pasar yang fluktuatif sampai tidak terkontrol, pengawasan pemerintah yang lemah, dan aturan yang tidak bekerja untuk mengantisipasi kehadiran para spekulan. Dengan kata lain, perilaku ekonomi masyarakat yang belakangan berubah merupakan rangkaian paling akhir dari suatu mekanisme proses ekonomi yang di dalamnya peran pemerintah tidak kalah signifikannya.