Kembali ke sosok Poltak, si Raja Minyak dari Medan, meski senang mengumbar dirinya sebagai orang kaya, tapi dalam cerita, kekayaannya tidak berguna sama sekali, terutama untuk membuat Bulan terkesan lalu jatuh cinta kepadanya. Meskipun Poltak banyak minyak, yang tidak diketahui perusahaan apa yang ia gunakan untuk mengelolanya, Bulan lebih simpatik kepada Gerhana, teman mahasiswanya yang sering membantunya saat menghadapi masalah.
Satu-satunya
orang yang kepincut dengan harta Poltak adalah ibu dari Bulan, yaitu Saidah, saat
itu diperankan Dharty Manullang, yang suka menjodoh-jodohkan anaknya untuk
dekat kepada Poltak, sesuatu yang tidak dinginkan Bulan sebenarnya.
Sinetron
ini lumayan sukses diputar sejak pertama kali tayang pada awal tahun 1999,
dengan penonton setia yang ingin melihat aksi-aksi Gerhana menumpas musuh-musuhnya—setelah
Gerhana muncul sinetron bertema superhero dengan sosok rupawan yaitu Panji
Manusia Milenium dan Saras 008, yang menyajikan logika film yang sama. Efek
sinetron Gerhana juga memberikan dampak kepada kepopuleran istilah pergaulan
seperti kata ”pusiing” yang menjadi istilah khas Peggy jika sedang menghadapi
masalah, atau “”capek deeh” yang dipakai oleh Mpok Atiek (Mpok Atiek), pembantu
rumah tangga di keluarga Gerhana kalau mengeluh tentang sesuatu. Dan, yang
tidak asing kemudian adalah logat Batak Poltak, apalagi jika ia memperkenalkan
dirinya sebagai raja minyak.
Di luar
konteks sinetron ini, Indonesia saat itu belum jauh dari zona krisis keuangan,
suatu masa ketika ekonomi kawasan kolaps dan menimpa beberapa negara Asia Tenggara saat
itu. Indonesia juga sedang mengalami masa reformasi, ditandai sebelumnya dari
keguncangan politik ekonomi yang membuat kehidupan masyarakat jadi tidak
menentu. Krisis ekonomi dan krisis legitimasi politik saat itu berimbas
terjadinya inflasi membuat harga barang-barang—termasuk minyak goreng—
melambung tinggi, dan nilai rupiah turun drastis hanya mencapai dua ribuan per
dolarnya.
Jadi, di
saat barang-barang langka dan mahal, selain BBM juga termasuk minyak goreng
saat itu, yang membuat kehidupan ekonomi masyarakat nyungsep, sementara
si Poltak berkoar-koar sebagai Raja Minyak dari Medan, seolah ia tidak
terpengaruh dengan kehidupan ril masyarakat, sudah tentu adalah satire yang pas
saat itu—meski hanya lewat sinetron.
Artinya,
bagaimana bisa di sekeliling seorang raja minyak, justru kehidupan
orang-orangnya mengalami kesusahan minyak. Bagaimana mungkin seorang penguasa
minyak yang memiliki kekuasaan besar atas itu tidak bisa menyelesaikan krisis
minyak di sekitarnya. Ironik, memang.
Tapi,
ironi paling nyata saya kira adalah, ya negeri ini. Negeri ini sebenarnya, adalah
raja minyak goreng, tapi ada penguasa yang menguasai lahan sawit dari Sumatera sampai
Kalimantan, dari Sulawesi sampai Papua, dengan beribu-ribu hektare luasnya,
tapi produksi minyak tidak dialamatkan untuk kepentingan dalam negeri,
dikarenakan lebih banyak dijual ke pasar internasional dengan harga yang sedang
tinggi. Di sisi lain kemunculan tengkulak-tengkulak di lapisan grass root,
membuat panik pasar karena distribusi yang macet, membuat psikologi masyarakat
tidak terkontrol untuk membeli minyak lebih dari cukup.
Akhirnya,
minyak goreng menjadi langka, cepat habis hilang di pasaran, dan seorang ibu
mantan presiden terdorong ikut angkat bicara, yang dikira akan berempati
menyaksikan masalah ini.
Melalui
suatu potongan video, Megawati nampak nyinyir dengan kelakuan ibu-ibu, yang
disebutnya tidak memiliki inisiatif mengolah makanan karena hanya mengandalkan menggoreng
saja. Padahal masih banyak cara memasak sajian makanan dengan merebusnya,
mengukusnya, atau membakarnya. Tidak semua jenis sajian makanan harus digoreng,
dan karena itu ibu-ibu tidak perlu repot mengular dalam antrian panjang di
toko-toko. Begitu, maksud penguasa partai kerbau hitam yang nampak heroik
itu.
Perkataan Megawati
ada benarnya, karena tradisi kuliner di Nusantara banyak memberikan alternatif
olahan makanan yang selamanya bukan dengan cara digoreng. Banyak makanan yang masih
bisa diolah dengan bahan dasar air untuk direbus atau dikukus, atau sekadar
dibakar saja. Jika ingin keluar dari kebiasaan makan makanan yang digoreng atau
ditumis, dalam tinjauan kesehatan dan jangka panjang akan mengurangi risiko
seseorang terserang kolesterol, penyakit jantung, atau obesitas, meski kenyataan
ini tidak mudah. Selama ini masyarakat lebih suka dengan makanan digoreng, selain
karena sifatnya praktis dan mudah disajikan, tradisi ini telah mendarah daging
sejak masa lalu karena didukung dengan konteks negeri yang memiliki bahan baku
minyak melimpah.
Tapi, aksi
angkat bicara Ibu Megawati kontraproduktif jika didudukkan dalam konteks politik
yang harus memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat. Ia melalui pernyataannya
hanya memukul akibat dari kebijakan pemerintah, bukan mengarahkan kata-katanya
kepada sumber masalahnya. Di sanalah hilirnya, keputusan-keputusan pemerintah
yang menyebabkan berbagai masalah lahir, seolah-olah karena itu seperti tidak
sedang mengambil kebijakan.
Itu artinya kelangkaan minyak hanyalah buah dari mekanisme pasar yang fluktuatif sampai tidak terkontrol, pengawasan pemerintah yang lemah, dan aturan yang tidak bekerja untuk mengantisipasi kehadiran para spekulan. Dengan kata lain, perilaku ekonomi masyarakat yang belakangan berubah merupakan rangkaian paling akhir dari suatu mekanisme proses ekonomi yang di dalamnya peran pemerintah tidak kalah signifikannya.