Yuval Noah Harari, dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, menyatakan tantangan sejarah di masa depan akan banyak diselesaikan melalui pertarungan kelompok agamawan dan ilmuwan, yang dinyatakan dengan mengajukan banyak narasi mengenai kekalahan kaum agamawan dan kemenangan para ilmuwan dikarenakan, para ilmuwan, lebih menghendaki adanya perubahan berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan.
Di masa
depan, tantangan itu akan terjadi kepada dua lokus sekaligus, yakni kehidupan
personal dan kehidupan global, yang keduanya bisa saling merespon dan
mempengaruhi satu sama lain. Artinya, jika saja terjadi perang antara dua
negara menyangkut kepentingan politik tertentu, misalnya, bisa membuat sekelompok
komunitas keagamaan di negara lain ikut marah karena mengartikan itu sebagai
perang suci agama sehingga perlu memobilisasi banyak orang demi menyatakan imannya. Atau sebaliknya, bisa
terjadi seperti saat revolusi di Tunisia, yang dipicu setelah Mohamed Bouazizi,
seorang pedagang kaki lima yang melakukan aksi bakar diri setelah digusur dan
dilecehkan oleh pejabat pemerintah setempat, sehingga kejadian itu
menggelindingkan bola salju demonstrasi di Timur Tengah, kelak kemudian dikenal
sebagai Kebangkitan Arab (The Arab Spring).
Tapi,
tidak perlu menunggu hingga ke masa depan agar ramalan itu bisa dirasakan.
Sekarang, media sosial menjadi sebab signifikan, dan membuat semua itu dapat
terjadi. Saat ini, sudah cukup banyak orang yang menyeret-nyeret masalah lain
menjadi bagian dari masalahnya sendiri, menganggap ia sebagai orang yang paling
merasakan kesedihan, kesakitan, dan kekejaman dibandingkan orang lain sehingga
membutuhkan seseorang menjadi juru selamatnya.
Masalah-masalah
di abad ke-21, menurut Harari akan terbelah menjadi tiga bagian, yang membuka
medan cekcok antara kubu ilmuwan dan agamawan, yakni masalah teknis, seperti
misal bagaimana cara petani di negeri-negeri gersang mampu mengatasi kekeringan
parah yang disebabkan pemanasan global. Kedua, masalah kebijakan yang terkait
dengan politik dan kekuasaan tentang bagaimana keputusan pemerintah seperti
misal menghadapi masalah kelangkaan minyak di negaranya. Ketiga, masalah
identitas, yang dimaksudkan dengan apakah seseorang mesti peduli dengan
masalah-masalah yang dihadapi suatu komunitas, suku, atau bangsa di tempat
lain?
Masalah
ketiga sudah dikemukakan seperti apa perwujudannya di atas, yakni bagaimana
seseorang dapat mengambil tindakan politis secara kolektif karena merasa
identitasnya ikut terseret meski masalah sebenarnya tidak ia alami dan tidak
terjadi di tempatnya. Sementara, untuk masalah-masalah teknis dan politik, atau
masalah-masalah lainnya, kelompok ilmuwan lebih banyak berpeluang memberikan
solusi dikarenakan karakteristik sains yang banyak belajar dari
kesalahan-kesalahannya, memperbaiki temuan-temuan mutakhirnya melalui revolusi
teknologi.
Sementara
bagi kelompok agamawan, perubahan akan menjadi sesuatu yang amat
menggelisahkan, dan hanya bisa melakukan interpretasi-interpretasi terhadap
semua itu melalui cara pandang yang dipertahankan dari masa lalu. Lalu, jika
keadaan terpaksa mendesak seseorang melakukan perubahan, kita diimbau hijrah
kembali ke era masa silam, tempat di mana mereka katakan era kemajuan,
meneladani sisi melik cara hidup generasi terdahulu, yang hidup tanpa pengaruh
teknologi dan sains sama sekali.
Bagi
kepercayaan ini, perubahan telah berhenti di semenanjung Arabia pada abad ke-7
masehi. Selepas dari zaman itu, dunia tidak bergerak sama sekali, dan malah
melangkah mundur menjadi lebih dekaden, dan merupakan tugas suci bagi siapa pun
agar menjadi pasukan jihadis mengembalikan sejarah masa kini kembali kepada era
emas masa lawas.
Itu
sebabnya, kebudayaan merupakan konsep yang riskan untuk dipersandingkan dengan
agama, dalam hal kebudayaan membuat seseorang akan memandang kehidupannya
sebagai bagian dari proses ia merespon alamnya melalui kemampuan penalarannya.
Melalui cara ini manusia banyak menciptakan benda-benda teknis untuk membantu
kehidupan praktisnya, dan dari waktu-waktu mulai memahami peralatan-peralatan
itu mesti diperbarui karena keadaan setiap saat bagai aliran sungai yang
mengalir.
Sementara
agama, dengan suatu cara dan motivisasi, diartikan tidak akan bisa dipertemukan
dengan suatu model penalaran, apalagi jika nalar yang dimaksud adalah model
pemikiran yang lahir di Eropa. Bagi kelompok agamawan, sejak Eropa melewati
masa pencerahan, agama hanya menjadi olok-olok karena sudah tidak relevan
dengan orientasi kemajuan yang diproklamirkan orang-orang yang banyak melakukan
bid’ah. Kepada orang-orang bid’ah inilah, agama harus dipertahankan yang di
saat bersamaan membuatnya mesti mengakui perubahan yang digerakkan kekuatan
kebudayaan merupakan hal yang sulit dielakkan.
Beberapa
waktu lalu, sebagian orang resah imannya dikarenakan Tuhan dianggap lahir dan besar dari rahim
seorang Arab. Seperti juga Anda, Tuhan dianggapkan memiliki riwayat sejarah
terkait dengan tanah airnya, yang memberikannya anasir-anasir identitas
sosial-kultural melalui sosisalisasi nilai-nilai tertentu dari satu generasi ke
generasi lainnya. Karena itu, Tuhan memiliki sifat dan karakteristik yang
terikat dari tempatnya ia lahir, tumbuh, dan berkembang, seperti bagaimana
kebudayaan suatu masyarakat membentuk identitas kelompok. Jika ia orang Arab,
berarti Ia memiliki keperawakan orang Arab yang mengalir dalam darah dan
seluruh tubuhnya; tinggi besar, keras kepala, dan sangat intimidatif kepada
orang lain dari luar sukunya.
Di agama
Nasrani, masalah seperti ini menjadi lebih pelik lagi dikarenakan Tuhan lebih
berpihak kepada gender tertentu, sehingga dalam wacana feminis, muncul kritik mengapa Tuhan selama ini senantiasa di
representasikan kedalam narasi maskulinitas: Yesus yang laki-laki, berjenggot,
dan ia menjadi anak Tuhan yang dipanggi Bapak (he: dia laki-laki). Lantas,
mengapa pula ia digambarkan berkulit putih, berambut pirang, dan menggunakan
bahasa kaum tertentu, sehingga hanya lebih mungkin dibayangkan sebagai Tuhannya
orang-orang kulit putih, dan tidak sama sekali mewakili harapan, cita-cita, dan
tujuan dari bangsa-bangsa berkulit hitam.
(Bandingkan misalnya dengan ulasan Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, yang menunjukkan setiap pemahaman tentang Tuhan tidak sama dengan Tuhan yang sebenarnya, yang karena itu memiliki sejarahnya dalam perkembangan kesadaran umat manusia)
Tapi memang
demikianlah, intrepretasi dalam alaf sejarah, terutama bagaimana imajinasi
teologis setiap kebudayaan menyangkut Tuhan, akan sangat berbeda-beda,
hirarkis, dan bisa mewujud secara intimidatif.
Di suatu
masa, dengan gambaran Tuhan seperti ini membuat satu bangsa Barat mendapatkan
justifikasi teologis untuk membenarkan praktik-praktik kolonialisme di
bangsa-bangsa yang dianggap masih menyembah berhala.
Agama di
abad ke-21 tidak dapat membuat bom, menyembuhkan penyakit, dan mampu
menciptakan hujan, tapi dari sudut pandang mereka, agama bisa bertindak lebih
berbahaya karena melalui interpretasi para pemimpinnya bisa menentukan siapa
”kita” dan siapa ”mereka”, yang patut diledakkan menggunakan rakitan bom
periuk. Dengan memanfaatkan media-media informasi, toa misalnya—yang diciptakan
dari temuan sains dan teknologi, sesuatu yang mereka tantang mati-matian
sekarang ini, membuat agama menjadi jauh lebih berbahaya melebihi rumus kimiawi
bom nuklir.
Interaksi
manusia dalam komunitasnya tidak akan mungkin bisa dilepaskan dari konteks
tempatnya hidup. Ada pandangan, di titik tertentu motivasi, kecenderungan, dan
keputusannya lebih mendahului pemikiran dan pengalamannya sendiri karena ia
bertindak tidak berdasarkan otonominya. Kekuatan struktur lebih superior
dibandingkan dirinya, sehingga ia akan selalu hidup bagai robot yang dikontrol
dari jarak jauh.
Erving
Goffman, seorang sosiolog, dalam suatu pendekatannya, menyebut suatu konteks
kehidupan sosial seperti di atas sebagai dramaturgi, yang membuat setiap orang
mesti mempertimbangkan peran apa yang harus ia pilih di dalam panggung depan
(front stage) komunitasnya, dan mengantisipasi penampilan di luar perannya saat
tidak berada di hadapan penonton (back stage). Dari dua panggung ini, seseorang
kata Goffman, akan memilih satu model representasi di antara dua konsep
identitas dalam menampilkan dirinya, yakni i (aku) atau me (daku).
I (aku)
adalah diri yang spontan, apa adanya, dan lebih jujur disebabkan bersumber dari
prinsip pertanyaan siapa aku sebenarnya, yang berinteraksi sebelum simbol,
makna, dan perbuatan diartikan berdasarkan kehadiran orang lain. Sementara me
(daku) merupakan pilihan untuk mewakilkan diri ke dalam konsensus-konsensus
yang telah diorientasikan banyak orang, sehingga seringkali tidak memberikan
peluang kepada diri yang sebenarnya tampil di permukaan. Di titik ini,
representasi seseorang akan bertindak berdasarkan kemauan orang lain, sesuai
dengan apa yang mereka harapkan.
Menariknya
bagai permainan wayang kulit, diri aku (i)
dan diri daku (me), bisa bertukar tempat sedemikian rupa di dua panggung
penampilan. Dan, penampilan antara kedua panggung tidak selamanya identik dan
alamiah, sehingga tidak selamanya Fulan bin Fulan yang nampak baik dan saleh di
kehidupan panggungnya, akan sama pula keperawakannya saat sudah berada di
belakang panggung. Mungkin saja jauh dari perhatian orang lain, ia lebih jahat
dan hina dari seekor jalak. Betul, kata God Bless, hidup adalah panggung
sandiwara.
Saat ini,
di Indonesia, jika dikait-kaitkan dengan agama, benda-benda apa saja di sekitar
Anda bisa menjadi masalah tersendiri bagi sebagian orang. Wayang, pohon natal,
celana, terompet, bedug, toa, atau apa saja yang Anda beli sendiri dan kenakan,
akan membuat risih sampai-sampai membuat takut komunitas tertentu. Seandainya
ketakutan terhadap barang-barang sehari-hari itu diiventarisir dan ditulis,
mungkin saja akan muncul banyak buku dengan isi yang sama: ”Benda-Benda di
Dunia yang Bisa Membuat Anda Kehilangan Iman.” Lama kelamaan, kepercayaan
seperti ini akan mengubah lingkungan Anda menjadi seperti saat setiap keluarga
masih hidup di atas gunung-gunung; sendiri, terisolasi, dan takut kepada
kehadiran orang lain.
Tapi,
membayangkan suatu kehidupan komunitas semacam itu tidak akan mungkin dan
sangat tidak relevan untuk masa sekarang. Kenyataannya juga berkata lain.
Banyak orang di masa kini lebih menyukai mengoleksi banyak barang-barang,
menimbunnya dalam rak-rak etalase berlapis kaca, atau garasi, atau gudang, atau
apa saja ruang tempat menyimpannya dalam waktu yang lama agar setiap waktu bisa
dipamerkan sebagai kekayaan. Kepada model kehidupan ini, semua orang akan
bersepakat apa pun kepercayaan atau agamanya, akan berusaha mencapainya,
menjadi kapitalis-kapitalis berbusana syar’i, dan melabeli apa pun yang tidak
atau belum sesuai dengan kepentingannya sebagai tidak syar’i.
Kehidupan di level ini dengan sendirinya, akan nampak saleh karena ditunjang dengan perlengkapan panggung yang lengkap; busana, tata rias, uang, koneksi, alat komunikasi, dan modal yang besar membuat mereka mudah mengakses dan menggunakan simbol-simbol dan tempat-tempat yang disucikan agamanya, menjalani perannya seolah-olah itulah kehidupan religius yang paling benar, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai sosok panutan, mengikutinya, dan menjadikannya sebagai teladan. Menjadi bayangan. Menjadi wayang.