Senin, 28 Februari 2022

Wayang, Toa, dan Benda-Benda di Dunia yang Bisa Membuatmu Kehilangan Iman


TIDAK SEDIKIT yang mengyakini, manusia itu sebenarnya hanya wayang. Ia tidak memiliki keinginan otonom, dan karena itu tidak menerima hukum sebab-akibat seperti yang sudah dibuktikan melalui ilmu alam. Hukum sebab akibat, yang selama ini mengatur setiap peristiwa di alam semesta, dianggap sebagai halusinasi para ilmuwan dan itu hanya ada di dalam kepala mereka sendiri. Kenyataannya, segala sesuatu yang terjadi saat ini sudah merupakan kehendak Tuhan, dan  sebagai sebuah wayang, tidak layak bagi manusia mempertanyakan sesuatu, sehingga karena itu akan dianggap aneh dan Anda akan dinyatakan sebagai pembangkang jika berusaha menggugat apa yang sedang terjadi saat ini. Apabila meneruskan pernyataan ini kepada agama, orang-orang di sekitar Anda tanpa merasa bersalah akan menuduh Anda sebagai orang zindik.

Yuval Noah Harari, dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, menyatakan tantangan sejarah di masa depan akan banyak diselesaikan melalui pertarungan kelompok agamawan dan ilmuwan, yang dinyatakan dengan mengajukan banyak narasi mengenai kekalahan kaum agamawan dan kemenangan para ilmuwan dikarenakan, para ilmuwan, lebih menghendaki adanya perubahan berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan.

Di masa depan, tantangan itu akan terjadi kepada dua lokus sekaligus, yakni kehidupan personal dan kehidupan global, yang keduanya bisa saling merespon dan mempengaruhi satu sama lain. Artinya, jika saja terjadi perang antara dua negara menyangkut kepentingan politik tertentu, misalnya, bisa membuat sekelompok komunitas keagamaan di negara lain ikut marah karena mengartikan itu sebagai perang suci agama sehingga perlu memobilisasi banyak orang demi  menyatakan imannya. Atau sebaliknya, bisa terjadi seperti saat revolusi di Tunisia, yang dipicu setelah Mohamed Bouazizi, seorang pedagang kaki lima yang melakukan aksi bakar diri setelah digusur dan dilecehkan oleh pejabat pemerintah setempat, sehingga kejadian itu menggelindingkan bola salju demonstrasi di Timur Tengah, kelak kemudian dikenal sebagai Kebangkitan Arab (The Arab Spring).

Tapi, tidak perlu menunggu hingga ke masa depan agar ramalan itu bisa dirasakan. Sekarang, media sosial menjadi sebab signifikan, dan membuat semua itu dapat terjadi. Saat ini, sudah cukup banyak orang yang menyeret-nyeret masalah lain menjadi bagian dari masalahnya sendiri, menganggap ia sebagai orang yang paling merasakan kesedihan, kesakitan, dan kekejaman dibandingkan orang lain sehingga membutuhkan seseorang menjadi juru selamatnya.

Masalah-masalah di abad ke-21, menurut Harari akan terbelah menjadi tiga bagian, yang membuka medan cekcok antara kubu ilmuwan dan agamawan, yakni masalah teknis, seperti misal bagaimana cara petani di negeri-negeri gersang mampu mengatasi kekeringan parah yang disebabkan pemanasan global. Kedua, masalah kebijakan yang terkait dengan politik dan kekuasaan tentang bagaimana keputusan pemerintah seperti misal menghadapi masalah kelangkaan minyak di negaranya. Ketiga, masalah identitas, yang dimaksudkan dengan apakah seseorang mesti peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi suatu komunitas, suku, atau bangsa di tempat lain?

Masalah ketiga sudah dikemukakan seperti apa perwujudannya di atas, yakni bagaimana seseorang dapat mengambil tindakan politis secara kolektif karena merasa identitasnya ikut terseret meski masalah sebenarnya tidak ia alami dan tidak terjadi di tempatnya. Sementara, untuk masalah-masalah teknis dan politik, atau masalah-masalah lainnya, kelompok ilmuwan lebih banyak berpeluang memberikan solusi dikarenakan karakteristik sains yang banyak belajar dari kesalahan-kesalahannya, memperbaiki temuan-temuan mutakhirnya melalui revolusi teknologi.

Sementara bagi kelompok agamawan, perubahan akan menjadi sesuatu yang amat menggelisahkan, dan hanya bisa melakukan interpretasi-interpretasi terhadap semua itu melalui cara pandang yang dipertahankan dari masa lalu. Lalu, jika keadaan terpaksa mendesak seseorang melakukan perubahan, kita diimbau hijrah kembali ke era masa silam, tempat di mana mereka katakan era kemajuan, meneladani sisi melik cara hidup generasi terdahulu, yang hidup tanpa pengaruh teknologi dan sains sama sekali.

Bagi kepercayaan ini, perubahan telah berhenti di semenanjung Arabia pada abad ke-7 masehi. Selepas dari zaman itu, dunia tidak bergerak sama sekali, dan malah melangkah mundur menjadi lebih dekaden, dan merupakan tugas suci bagi siapa pun agar menjadi pasukan jihadis mengembalikan sejarah masa kini kembali kepada era emas masa lawas.

Itu sebabnya, kebudayaan merupakan konsep yang riskan untuk dipersandingkan dengan agama, dalam hal kebudayaan membuat seseorang akan memandang kehidupannya sebagai bagian dari proses ia merespon alamnya melalui kemampuan penalarannya. Melalui cara ini manusia banyak menciptakan benda-benda teknis untuk membantu kehidupan praktisnya, dan dari waktu-waktu mulai memahami peralatan-peralatan itu mesti diperbarui karena keadaan setiap saat bagai aliran sungai yang mengalir.

Sementara agama, dengan suatu cara dan motivisasi, diartikan tidak akan bisa dipertemukan dengan suatu model penalaran, apalagi jika nalar yang dimaksud adalah model pemikiran yang lahir di Eropa. Bagi kelompok agamawan, sejak Eropa melewati masa pencerahan, agama hanya menjadi olok-olok karena sudah tidak relevan dengan orientasi kemajuan yang diproklamirkan orang-orang yang banyak melakukan bid’ah. Kepada orang-orang bid’ah inilah, agama harus dipertahankan yang di saat bersamaan membuatnya mesti mengakui perubahan yang digerakkan kekuatan kebudayaan merupakan hal yang sulit dielakkan.

Beberapa waktu lalu, sebagian orang resah imannya dikarenakan  Tuhan dianggap lahir dan besar dari rahim seorang Arab. Seperti juga Anda, Tuhan dianggapkan memiliki riwayat sejarah terkait dengan tanah airnya, yang memberikannya anasir-anasir identitas sosial-kultural melalui sosisalisasi nilai-nilai tertentu dari satu generasi ke generasi lainnya. Karena itu, Tuhan memiliki sifat dan karakteristik yang terikat dari tempatnya ia lahir, tumbuh, dan berkembang, seperti bagaimana kebudayaan suatu masyarakat membentuk identitas kelompok. Jika ia orang Arab, berarti Ia memiliki keperawakan orang Arab yang mengalir dalam darah dan seluruh tubuhnya; tinggi besar, keras kepala, dan sangat intimidatif kepada orang lain dari luar sukunya.

Di agama Nasrani, masalah seperti ini menjadi lebih pelik lagi dikarenakan Tuhan lebih berpihak kepada gender tertentu, sehingga dalam wacana feminis, muncul  kritik mengapa Tuhan selama ini senantiasa di representasikan kedalam narasi maskulinitas: Yesus yang laki-laki, berjenggot, dan ia menjadi anak Tuhan yang dipanggi Bapak (he: dia laki-laki). Lantas, mengapa pula ia digambarkan berkulit putih, berambut pirang, dan menggunakan bahasa kaum tertentu, sehingga hanya lebih mungkin dibayangkan sebagai Tuhannya orang-orang kulit putih, dan tidak sama sekali mewakili harapan, cita-cita, dan tujuan dari bangsa-bangsa berkulit hitam.

(Bandingkan misalnya dengan ulasan Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, yang menunjukkan setiap pemahaman tentang Tuhan tidak sama dengan Tuhan yang sebenarnya, yang karena itu memiliki sejarahnya dalam perkembangan kesadaran umat manusia)

Tapi memang demikianlah, intrepretasi dalam alaf sejarah, terutama bagaimana imajinasi teologis setiap kebudayaan menyangkut Tuhan, akan sangat berbeda-beda, hirarkis, dan bisa mewujud secara intimidatif.

Di suatu masa, dengan gambaran Tuhan seperti ini membuat satu bangsa Barat mendapatkan justifikasi teologis untuk membenarkan praktik-praktik kolonialisme di bangsa-bangsa yang dianggap masih menyembah berhala.

Agama di abad ke-21 tidak dapat membuat bom, menyembuhkan penyakit, dan mampu menciptakan hujan, tapi dari sudut pandang mereka, agama bisa bertindak lebih berbahaya karena melalui interpretasi para pemimpinnya bisa menentukan siapa ”kita” dan siapa ”mereka”, yang patut diledakkan menggunakan rakitan bom periuk. Dengan memanfaatkan media-media informasi, toa misalnya—yang diciptakan dari temuan sains dan teknologi, sesuatu yang mereka tantang mati-matian sekarang ini, membuat agama menjadi jauh lebih berbahaya melebihi rumus kimiawi bom nuklir.

Interaksi manusia dalam komunitasnya tidak akan mungkin bisa dilepaskan dari konteks tempatnya hidup. Ada pandangan, di titik tertentu motivasi, kecenderungan, dan keputusannya lebih mendahului pemikiran dan pengalamannya sendiri karena ia bertindak tidak berdasarkan otonominya. Kekuatan struktur lebih superior dibandingkan dirinya, sehingga ia akan selalu hidup bagai robot yang dikontrol dari jarak jauh.

Erving Goffman, seorang sosiolog, dalam suatu pendekatannya, menyebut suatu konteks kehidupan sosial seperti di atas sebagai dramaturgi, yang membuat setiap orang mesti mempertimbangkan peran apa yang harus ia pilih di dalam panggung depan (front stage) komunitasnya, dan mengantisipasi penampilan di luar perannya saat tidak berada di hadapan penonton (back stage). Dari dua panggung ini, seseorang kata Goffman, akan memilih satu model representasi di antara dua konsep identitas dalam menampilkan dirinya, yakni i (aku) atau me (daku).

I (aku) adalah diri yang spontan, apa adanya, dan lebih jujur disebabkan bersumber dari prinsip pertanyaan siapa aku sebenarnya, yang berinteraksi sebelum simbol, makna, dan perbuatan diartikan berdasarkan kehadiran orang lain. Sementara me (daku) merupakan pilihan untuk mewakilkan diri ke dalam konsensus-konsensus yang telah diorientasikan banyak orang, sehingga seringkali tidak memberikan peluang kepada diri yang sebenarnya tampil di permukaan. Di titik ini, representasi seseorang akan bertindak berdasarkan kemauan orang lain, sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Menariknya bagai permainan wayang kulit, diri aku (i)  dan diri daku (me), bisa bertukar tempat sedemikian rupa di dua panggung penampilan. Dan, penampilan antara kedua panggung tidak selamanya identik dan alamiah, sehingga tidak selamanya Fulan bin Fulan yang nampak baik dan saleh di kehidupan panggungnya, akan sama pula keperawakannya saat sudah berada di belakang panggung. Mungkin saja jauh dari perhatian orang lain, ia lebih jahat dan hina dari seekor jalak. Betul, kata God Bless, hidup adalah panggung sandiwara.

Saat ini, di Indonesia, jika dikait-kaitkan dengan agama, benda-benda apa saja di sekitar Anda bisa menjadi masalah tersendiri bagi sebagian orang. Wayang, pohon natal, celana, terompet, bedug, toa, atau apa saja yang Anda beli sendiri dan kenakan, akan membuat risih sampai-sampai membuat takut komunitas tertentu. Seandainya ketakutan terhadap barang-barang sehari-hari itu diiventarisir dan ditulis, mungkin saja akan muncul banyak buku dengan isi yang sama: ”Benda-Benda di Dunia yang Bisa Membuat Anda Kehilangan Iman.” Lama kelamaan, kepercayaan seperti ini akan mengubah lingkungan Anda menjadi seperti saat setiap keluarga masih hidup di atas gunung-gunung; sendiri, terisolasi, dan takut kepada kehadiran orang lain.

Tapi, membayangkan suatu kehidupan komunitas semacam itu tidak akan mungkin dan sangat tidak relevan untuk masa sekarang. Kenyataannya juga berkata lain. Banyak orang di masa kini lebih menyukai mengoleksi banyak barang-barang, menimbunnya dalam rak-rak etalase berlapis kaca, atau garasi, atau gudang, atau apa saja ruang tempat menyimpannya dalam waktu yang lama agar setiap waktu bisa dipamerkan sebagai kekayaan. Kepada model kehidupan ini, semua orang akan bersepakat apa pun kepercayaan atau agamanya, akan berusaha mencapainya, menjadi kapitalis-kapitalis berbusana syar’i, dan melabeli apa pun yang tidak atau belum sesuai dengan kepentingannya sebagai tidak syar’i.

Kehidupan di level ini dengan sendirinya, akan nampak saleh karena ditunjang dengan perlengkapan panggung yang lengkap; busana, tata rias, uang, koneksi, alat komunikasi, dan modal yang besar membuat mereka mudah mengakses dan menggunakan simbol-simbol dan tempat-tempat yang disucikan agamanya, menjalani perannya seolah-olah itulah kehidupan religius yang paling benar, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai sosok panutan, mengikutinya, dan menjadikannya sebagai teladan. Menjadi bayangan. Menjadi wayang.