Selasa, 03 Agustus 2021

Bukan Tenaga Medis,Tapi Rakyat Garda Terdepan Era Super Covid

MESKI KINI masyarakat sudah ”kembali” beraktivitas seperti biasa, kenormalan baru (new normal) bukanlah tatanan ideal yang diharapkan masyarakat. Apalagi membayangkannya sebagai solusi. Kenormalan baru adalah delusi, jika tidak ingin mengatakan pemerintah kelihatan lemah menangani masalah pandemi ini.

Kenormalan baru juga merupakan paradoks tersendiri saat ini. Agak ganjil melihat kebebasan dan pembatasan sosial mampu berjalan beriringan meski setiap hari rasa was-was dan ketakutan terpapar korona makin menipis. Tetap saja, dalam hal ini, masyarakat ingin kembali memenuhi kebutuhan dan mengekspresikan keinginannya seperti sedia kala, walaupun sebenarnya semua orang tahu tidak ada jalan kembali.

Masyarakat mesti berpikir jauh lebih keras, dan pada akhirnya justru memilih mengambil risiko saat pemerintah kian kehilangan kontrol. Korona adalah kenyataan extraordinary, tapi kebutuhan makan minum juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Itulah sebabnya, di satu sisi, ini menjadi dalih masyarakat menyalurkan kebebasan tubuhnya setelah bosan telungkup di rumah menjalani masa PSBB. Tubuh lama dikekang akhirnya akan mencapai titik kulminasi, kebebasannya akhirnya kembali menyeruak di pasar, mal, warkop, dan bahkan bioskop.

Di satu sisi, keadaan demikian mesti dibarengi dengan kedisiplinan yang seharusnya jadi kunci. Tubuh mesti dikontrol sebagai ihwal yang paling harus didisiplinkan di waktu kini. Meskipun sekarang ia seolah-olah bebas beraktivitas, mau tidak mau ia diatur juga melalui wacana kenormalan baru itu sendiri berupa kemestian bagian-bagian tubuh menjalankan etiket baru: menutup mulut dengan masker, rajin mencuci tangan, dan sering berolahraga.

Walaupun  demikian, justru kenyataan yang ada, semakin banyak korban berjatuhan, masyarakat terpapar, dan gejala-gejala baru ditemukan. Korona ternyata bermutasi di saat umat manusia saat ini sedang mencari jalan keluar dari lorong gelap ciptaan Covid-19.[1]

Di layar kaca, acara talk show makin garing, pentas dangdut berhenti berdendang, sementara siaran tv tidak berhenti menampilkan siaran khusus orang-orang pemerintahan yang berdiri di atas podium mengumumkan situasi terbaru jumlah korban dan warga selamat. Mesti saya katakan, kegiatan pemerintah ini lama-lama makin mirip Orde Baru ketika Menteri Penerangan Orba, Harmoko, muncul tiba-tiba di jam-jam utama melalui stasiun TVRI, atau Presiden Soeharto yang mengumumkan langsung mengenai kemajuan pertanian dari desa-desa sementara di saat bersamaan banyak warga miskin kelaparan. Kegiatan ini makin banal, dan lama-lama tak berarti apa-apa walaupun informasi kematian jadi menu utamanya.

Ya, korona membuat keadaan manusia jadi serba ganjil dan menyedihkan. Lalu apa artinya kenormalan baru selama ini? Toh jika ia mesti diartikan, itu tanda pemerintah sedang mengangkat bendera putih di hadapan kejumawaan korona. Kenormalan baru hanya idiom kekuasaan pemerintah, yang anehnya kalah terhadap masalah yang tak mampu ia kuasai. Kenormalan baru adalah cara tidak langsung pemerintah menyerahkan warganya bertarung sendirian di medan laga. Kenormalan baru artinya warga mesti menerima kenyataan, saat ini strategi pemerintah hanya mampu berdiri di depan layar kaca mengumumkan jumlah korban korona yang mati sia-sia.

Ia pada akhirnya mirip jadwal ibadah. Muncul tidak lama ketika azan berkumandang. Seolah-olah itu lagu iringan para arwah yang wafat hanya karena serangan makhluk supernano.

Walaupun semua fenomena di atas menyakitkan bagi sebagian orang, di tempat lain, sebagiannya lagi malah sedang mati-matian memecahkan rumus-rumus kimia dan aturan masyarakat demi menemukan vaksin dan jalan keluar dari situasi ini. Para saintis berupa epidemologi, virologi, dokter, ahli biologi molekuler, psikolog, sosiolog, ahli filsafat ekonomi dan politik, dan tidak ketinggalan para tenaga kesehatan, sedang mengucurkan seluruh ide dan energinya demi satu titik yang entah, meskipun di saat bersamaan, mereka tidak  pernah tahu kapan akan menemukan vaksin yang dibutuhkan.

Ironinya, mereka ini dengan kapasitas scientific tempernya, makin hari makin kehilangan tempat berbicara dibandingkan suara sumbang, kecurigaan dan kepalsuan netizen, golongan teori konspirasi, dan kelompok pemuja pseudosains, yang menutupi kemungkinan-kemungkinan kebenaran ilmiah yang seharusnya menjadi dasar permenungan dan pengambilan kebijakan.

Para saintis ini, mesti lebih banyak diberikan ruang dibandingkan dengan profesi baru yang marak bermunculan di abad mutakhir kini: youtuber[2] dan para influencer pesanan, dikarenakan masa mutakhir, masyarakat ilmiah paling banyak mendapat tantangan dari efek kerja profesi milenial ini. Dua profesi baru ini sama cara kerjanya dengan para pseudoagamawan yang membajak keawaman masyarakat dengan cara eksploitasi hasrat dan kepercayaan.

Youtuber (atau semacamnya), memang tidak getol seperti kubu reaksioner berdalih agamawan yang terang-terangan menolak sains sebagai salah satu pendekatan dalam memecahkan masalah manusia. Mereka bahkan cenderung jauh dari pertikaian politis dan ilmiah yang kerap menarik kubu agamawan, ilmuwan, pemikir, sastrawan masuk ke dalam sebuah gelanggang perdebatan ilmiah.

Secara politik, para pekerja media baru ini nyaris apolitis, dan hanya mengedepankan hedonisme sebagai paradigma kesadarannya. Meski demikian, secara tidak langung justru hasil kerja mereka itulah yang ikut menghambat proses radikalisasi kesadaran masyarakat. Di konteks ketika kenyataan ikut disedot ke dalam dunia virtual, para profesi inilah yang paling signifikan mampu menderek opini masyarakat, bahkan sampai bisa menyatakan keyakinan meski itu diambil dari kesimpulan-kesimpulan tanpa prosedur keilmuan.

Salah satu kesalahan dalam pandemi ini adalah munculnya metafora menyesatkan kubu saintis, terutama tenaga kesehatan, dianggap sebagai garda terdepan dalam perang melawan virus kali ini. Suatu bias sebenarnya dikarenakan tidak ada satupun laga perang yang mendorong tim medisnya berdiri di barisan paling depan saat peperangan sedang terjadi.

Perang adalah pertempuran duel maut antara dua kubu yang menempatkan tim medisnya berada jauh di belakang barisan penyerang. Mereka adalah barak pertahanan terakhir jika dibandingkan serdadu penyerang yang mesti berada di parit-parit musuh. Hanya jika serdadu perang ini mengalami luka-luka barulah tim medis turun tangan dari jauh di belakang medan laga.

Itu artinya, jika memang kita sedang berperang melawan Covid-19, bukan tim medis garda terdepannya. Mereka seharusnya, yang jika mesti ada korban, adalah pihak terakhir yang berjatuhan di arena pertempuaran.

Lalu siapa sebenarnya saat ini serdadu perang yang harus berdiri mengacung bedil di front terdepan? Mereka adalah masyarakat, adalah para warga saat ini yang enteng saja keluar rumah tanpa masker. Para warga yang masih suka berkeliaran mengunjungi pusat perbelanjaan, nongkrong di kafe-kafe, atau pergi berpacaran di taman-taman kota, yang melakukan semua itu tanpa keadaban baru.[3]

Warga non medis lah para serdadu perang yang saat ini wajib berperang mati-matian, meski di kenyataannya kita bukan serdadu yang baik. Warga yang kerap bersikap denial terhadap imbauan protokol kesehatan di samping tidak memerhatikan posisinya sebagai bagian dari masyarakat umum. Justru kita ternyata adalah serdadu yang lari dari medan pertempuran, dan membiarkan tim medis bekerja sendirian di belakang dengan membebankan tugas-tugas melawan korona kepada mereka.

Jadi jangan heran jika sehari-hari semakin banyak korban berjatuhan. Dari awal kita tidak pernah berniat bersungguh-sungguh berperang melawan korona selain tim medis dan pihak-pihak terkait. Karena tidak disiplin, mawas dan awas diri, kita malah rela membiarkan pertahanan kebudayaan, ekonomi, dan kesehatan kita diabrek-abrek, diringsek, dan dibabat habis-habisan, dengan cara mengabaikan seluruh cara bertarung dan bertahan di medan laga ini.

Para saintis bekerja di dalam kenyataan sehari-hari: mereka berpakaian khusus jas putih, masuk di laboratorium, mencatat temuan-temuan terbaru, mencari rumus-rumus objek amatan, mengujinya, mengujinya, dan mengujinya. Di samping itu, mereka mengelaborasi bacaan lewat jurnal-jurnal terbaru, saling berkonfirmasi data, membaca buku, dan membangun hipotesis yang bakal diuji dengan prinsip ilmiah. Singkatnya, seluruh aktivitas ini dikerjakan dengan cara mendatangi dan mendalami objeknya di lapangan atau mendatangkan objeknya di dalam laboratorium.

Influencer, atau terkhusus youtuber yang jadi lakon generasi milenial kini, adalah profesi canggih, yang sayangnya tidak memiliki sumbangsih apa-apa terhadap sebaran informasi tentang korona. Mereka berpengaruh tapi lemah secara akademik. Dengan kata lain, semua orang bisa menjadi youtuber asalkan ia mau dan memiliki perangkat teknologi canggih.

Youtube bukanlah universitas apalagi sekolah yang memiliki kelas-kelas keilmuan yang menentukan pangkat akademik seseorang. Ia semesta dalam jaringan cyberspace, yang domainnya terkadang tidak membutuhkan korelasi dengan kenyataan. Orang bahkan bisa menciptakan kenyataan lain di dalam jaringan cyberspace dengan hukum kenyataan baru berupa fantasi dan simulasi.  

Youtuber bekerja dengan dua prinsip di atas, yakni menciptakan fantasi dan simulasi kenyataan. Jika saintis sangat berhati-hati dengan kenyaaan sebagai medan pengujian temuan-temuannya—ingat prinsip kebenaran korelasi—para youtuber atau sejenisnya tidak akan menyoal kenyataan. Toh jika itu dirasa mesti disoal, ia malah bergerak di seputar percakapan yang garing dan permukaan. Bahkan di banyak kasus, youtuber hanya membincang hal-hal yang kerap sensual, bombastis, dan horor.

Saya cukupkan saja dulu perbandingan ini, yang sebenarnya tidak apple to apple. Akan lebih masuk akal jika membandingkan cara kerja dua ilmuwan di atantara ilmu alam dengan ilmuwan ilmu sosial saat bekerja mencari kebenaran, atau membandingkan youtuber dengan facebooker, karena sama-sama pegiat media sosial.

Tapi, karena itulah tulisan sederhana ini ditulis, yakni ketika menimbang di era kenormalan baru ini—atau situasi normal sekalipun—masyarakat terbelah ke dalam tarik ulur dua kepentingan yang sama-sama berpeluang membentuk rupa masyarakat. Para saintis—atau para pekerja keilmuan lainnya—yang menghendaki terciptanya tatanan masyarakat rasional, terbuka, dan dialogis, dan para pegiat media sosial di satu sisi yang seolah-olah bergerak dalam satu komando di dalam kecenderungan masa kini, yaitu masyarakat cyberspace, suatu jenis yang digadang-gadang sebagai masyarakat masa depan yang irasional, global, dan virtual.

Dua kepentingan profesi ini di satu sisi agak berlebihan jika dinyatakan sebagai dua faktor determinan yang berpengaruh di masyarakat. Masyarakat adalah entitas dinamis dan sulit dikonseptualisasikan mengingat banyak faktor yang ikut mempengaruhi sampai dapat membentuknya. Meski demikian, tidak bisa ditolak peran ilmu pengetahuan, dalam hal ini, apa yang sudah menjadi capaian-capaian sains, dapat serta merta berpengaruh langsung di masyarakat sampai menjadi visi masyarakat tertentu bahkan dapat bertahan lama dalam suatu peradaban.[4]

Walaupun demikian, sekalipun di abad lalu seorang Auguste Comte sudah meramalkan suatu keadaan mayarakat positivis yang hidup dari imperatif-imperatif ilmiah[5], namun tetap saja zaman ini, ketika anak kandung sains yakni teknologi—terutama teknologi informasi dan komunikasi—menjadi dominan dan berpengaruh, masih ada bagian kelompok masyarakat yang terjebak di dalam bentuk-bentuk pengetahuan antisains. Hoaks, berita palsu, fantasi, kampanye hitam, mitos, ghibah, gosip rendahan, bahkan bisik-bisik tetangga, merupakan bentuk-bentuk relasi pengetahuan dengan kesadaran yang direduksi dan dieliminasi dari kebenaran sehingga menciptakan suatu keadaan masyarakat terbelakang dan dekaden.

Uniknya, bentuk-bentuk pengetahuan ini, tidak tercipta secara alamiah, melainkan dibentuk melalui cyberspace atas sumbangsih negatif profesi semisal youtuber—dan semacamnya, yang mengandalkan kecepatan dan persebaran informasi yang meluas dan dangkal.

Dalam konteks inilah, pertarungan sesungguhnya berlangsung: sifat temuan sains yang membutuhkan waktu penyelidikan lebih lama mendapatkan serangan seporadis dari sebaran  kecepatan informasi palsu yang mengaburkan kebenaran. Dalam konteks ini pulalah, pertaruhan kebenaran dilakukan, yakni pilihan antara kebenaran dan kepalsuan, kenyataan dan fantasi, rasional dan irasional, realitas ril atau realitas maya.

 


[1] Dalam esai Yuval Noah Harari berjudul Dalam Perang Melawan Virus Korona, Umat Manusia Kekurangan Kepemimpinan, ia memaparkan hasil temuan Richar Preston dalam Crisis in the Red Zone  tentang virus ebola yang bermutasi secara genetis setelah berpindah dan menemukan tubuh yang cocok untuk bermutasi.Wabah bermula ketika beberapa virus Ebola berpindah dari kelelawar ke manusia. Virus inilah yang membuat manusia sakit, akan tetapi virus tersebut masih beradaptasi di dalam kelelawar ketimbang tubuh manusia. Yang membuat perubahan Ebola dari yang mulanya penyakit langka menjadi epidemi hebat ialah disebabkan oleh mutasi tunggal di dalam gen tunggal salah satu virus Ebola yang menginfeksi manusia, di suatu tempat di Makona, Afrika Barat. Mutasi tersebut memungkinkan strain mutan Ebola—yang disebut strain Makona—untuk terhubung ke transporter kolesterol dari sel manusia. Saat ini, aliha-alih kolesterol, transporter menarik Ebola kedalam sel. Strain Makona yang baru ini empat kali lebih menular terhadap manusia. lihat Wabah, Sains, Dan Politik (PDF), Yogyakarta: Antinomi, 2020. Editor: Khoiril Maqin, dkk, hal. 71.

[2] Youtuber yang saya maksud di sini tidak secara generalisir menunjuk kepada semua pengguna aplikasi youtube. Sejauh pengamatan saya, youtuber terbagi dua: 1) Youtuber yang mengisi akunnya dengan konten-konten dangkal, bombastis, sensual, dan horor demi mencari pengikut dan adesense pendapatan, dan 2)  Youtuber yang memanfaatkan kanal youtube untuk edukasi masyarakat. Sepanjang tulisan ini, profesi youtuber yang saya maksud adalah youtuber yang pertama.

[3] Keadaban baru merupakan judul esai dari Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat di Universitas Parahyangan, Bandung, yang terbit di Kompas, 7 Agustus 2020. Keadaban baru, dinyatakan secara tersirat oleh Bambang Sugiharto sebagai lawan dari kualitas keadaban saat ini yang ia sebut masih didasarkan pada sikap ketakutan, penyintas brutal (survival of fittest), saling menyalahkan dan curiga (teori konspirasi), kepicikan wawasan, dan ”kelompokisme” serakah (berdasar agama, sains, ras, kepentingan politis, dan sebagainya).

[4] Uraian lebih jelasnya dapat ditemukan dalam buku ditulis Betrand Russel: Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat, Jakarta: Gramedia Pustaka, 1992.

[5] Auguste Comte menyatakan perkembangan suatu komunitas masyarakat digerakkan oleh unsur-unsur kesadarannya yang bergerak secara bertahap dari tahap teologis, metafisik, dan positivistik. Ketiga tahap ini berkembang semakin maju seiring kesadaran manusia yang semakin ilmiah dan rasional. Tahap positivistik adalah masa ilmu pengetahuan, terkhusus sosiologi, sebagai ratunya ilmu-ilmu.