Kenormalan
baru juga merupakan paradoks tersendiri saat ini. Agak ganjil melihat kebebasan
dan pembatasan sosial mampu berjalan beriringan meski setiap hari rasa was-was
dan ketakutan terpapar korona makin menipis. Tetap saja, dalam hal ini,
masyarakat ingin kembali memenuhi kebutuhan dan mengekspresikan keinginannya
seperti sedia kala, walaupun sebenarnya semua orang tahu tidak ada jalan
kembali.
Masyarakat mesti berpikir jauh lebih keras, dan pada akhirnya justru memilih mengambil risiko saat pemerintah kian kehilangan kontrol. Korona adalah kenyataan extraordinary, tapi kebutuhan makan minum juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Itulah sebabnya, di satu sisi, ini menjadi dalih masyarakat menyalurkan kebebasan tubuhnya setelah bosan telungkup di rumah menjalani masa PSBB. Tubuh lama dikekang akhirnya akan mencapai titik kulminasi, kebebasannya akhirnya kembali menyeruak di pasar, mal, warkop, dan bahkan bioskop.
Di satu
sisi, keadaan demikian mesti dibarengi dengan kedisiplinan yang seharusnya jadi
kunci. Tubuh mesti dikontrol sebagai ihwal yang paling harus didisiplinkan di
waktu kini. Meskipun sekarang ia seolah-olah bebas beraktivitas, mau tidak mau
ia diatur juga melalui wacana kenormalan baru itu sendiri berupa kemestian
bagian-bagian tubuh menjalankan etiket baru: menutup mulut dengan masker, rajin
mencuci tangan, dan sering berolahraga.
Walaupun
demikian, justru kenyataan yang ada,
semakin banyak korban berjatuhan, masyarakat terpapar, dan gejala-gejala baru
ditemukan. Korona ternyata bermutasi di saat umat manusia saat ini sedang
mencari jalan keluar dari lorong gelap ciptaan Covid-19.[1]
Di layar
kaca, acara talk show makin garing, pentas
dangdut berhenti berdendang, sementara siaran tv tidak berhenti menampilkan siaran
khusus orang-orang pemerintahan yang berdiri di atas podium mengumumkan situasi
terbaru jumlah korban dan warga selamat. Mesti saya katakan, kegiatan
pemerintah ini lama-lama makin mirip Orde Baru ketika Menteri Penerangan Orba,
Harmoko, muncul tiba-tiba di jam-jam utama melalui stasiun TVRI, atau Presiden
Soeharto yang mengumumkan langsung mengenai kemajuan pertanian dari desa-desa
sementara di saat bersamaan banyak warga miskin kelaparan. Kegiatan ini makin
banal, dan lama-lama tak berarti apa-apa walaupun informasi kematian jadi menu
utamanya.
Ya,
korona membuat keadaan manusia jadi serba ganjil dan menyedihkan. Lalu apa
artinya kenormalan baru selama ini? Toh jika ia mesti diartikan, itu tanda
pemerintah sedang mengangkat bendera putih di hadapan kejumawaan korona.
Kenormalan baru hanya idiom kekuasaan pemerintah, yang anehnya kalah terhadap
masalah yang tak mampu ia kuasai. Kenormalan baru adalah cara tidak langsung pemerintah
menyerahkan warganya bertarung sendirian di medan laga. Kenormalan baru artinya
warga mesti menerima kenyataan, saat ini strategi pemerintah hanya mampu
berdiri di depan layar kaca mengumumkan jumlah korban korona yang mati sia-sia.
Ia pada
akhirnya mirip jadwal ibadah. Muncul tidak lama ketika azan berkumandang.
Seolah-olah itu lagu iringan para arwah yang wafat hanya karena serangan makhluk supernano.
Walaupun
semua fenomena di atas menyakitkan bagi sebagian orang, di tempat lain,
sebagiannya lagi malah sedang mati-matian memecahkan rumus-rumus kimia dan
aturan masyarakat demi menemukan vaksin dan jalan keluar dari situasi ini. Para
saintis berupa epidemologi, virologi, dokter, ahli biologi molekuler, psikolog,
sosiolog, ahli filsafat ekonomi dan politik, dan tidak ketinggalan para tenaga
kesehatan, sedang mengucurkan seluruh ide dan energinya demi satu titik yang
entah, meskipun di saat bersamaan, mereka tidak pernah tahu kapan akan menemukan vaksin yang
dibutuhkan.
Ironinya,
mereka ini dengan kapasitas scientific
tempernya, makin hari makin kehilangan tempat berbicara dibandingkan suara
sumbang, kecurigaan dan kepalsuan netizen,
golongan teori konspirasi, dan kelompok pemuja pseudosains, yang menutupi
kemungkinan-kemungkinan kebenaran ilmiah yang seharusnya menjadi dasar
permenungan dan pengambilan kebijakan.
Para
saintis ini, mesti lebih banyak diberikan ruang dibandingkan dengan profesi
baru yang marak bermunculan di abad mutakhir kini: youtuber[2]
dan para influencer pesanan,
dikarenakan masa mutakhir, masyarakat ilmiah paling banyak mendapat tantangan
dari efek kerja profesi milenial ini. Dua profesi baru ini sama cara kerjanya
dengan para pseudoagamawan yang membajak keawaman masyarakat dengan cara
eksploitasi hasrat dan kepercayaan.
Youtuber (atau semacamnya), memang tidak
getol seperti kubu reaksioner berdalih agamawan yang terang-terangan menolak
sains sebagai salah satu pendekatan dalam memecahkan masalah manusia. Mereka
bahkan cenderung jauh dari pertikaian politis dan ilmiah yang kerap menarik
kubu agamawan, ilmuwan, pemikir, sastrawan masuk ke dalam sebuah gelanggang
perdebatan ilmiah.
Secara
politik, para pekerja media baru ini nyaris apolitis, dan hanya mengedepankan
hedonisme sebagai paradigma kesadarannya. Meski demikian, secara tidak langung justru
hasil kerja mereka itulah yang ikut menghambat proses radikalisasi kesadaran
masyarakat. Di konteks ketika kenyataan ikut disedot ke dalam dunia virtual,
para profesi inilah yang paling signifikan mampu menderek opini masyarakat,
bahkan sampai bisa menyatakan keyakinan meski itu diambil dari
kesimpulan-kesimpulan tanpa prosedur keilmuan.
Salah
satu kesalahan dalam pandemi ini adalah munculnya metafora menyesatkan kubu
saintis, terutama tenaga kesehatan, dianggap sebagai garda terdepan dalam
perang melawan virus kali ini. Suatu bias sebenarnya dikarenakan tidak ada
satupun laga perang yang mendorong tim medisnya berdiri di barisan paling depan
saat peperangan sedang terjadi.
Perang
adalah pertempuran duel maut antara dua kubu yang menempatkan tim medisnya berada
jauh di belakang barisan penyerang. Mereka adalah barak pertahanan terakhir
jika dibandingkan serdadu penyerang yang mesti berada di parit-parit musuh.
Hanya jika serdadu perang ini mengalami luka-luka barulah tim medis turun
tangan dari jauh di belakang medan laga.
Itu
artinya, jika memang kita sedang berperang melawan Covid-19, bukan tim medis
garda terdepannya. Mereka seharusnya, yang jika mesti ada korban, adalah pihak terakhir
yang berjatuhan di arena pertempuaran.
Lalu
siapa sebenarnya saat ini serdadu perang yang harus berdiri mengacung bedil di front terdepan? Mereka adalah
masyarakat, adalah para warga saat ini yang enteng saja keluar rumah tanpa
masker. Para warga yang masih suka berkeliaran mengunjungi pusat perbelanjaan,
nongkrong di kafe-kafe, atau pergi berpacaran di taman-taman kota, yang
melakukan semua itu tanpa keadaban baru.[3]
Warga
non medis lah para serdadu perang yang saat ini wajib berperang mati-matian,
meski di kenyataannya kita bukan serdadu yang baik. Warga yang kerap bersikap denial terhadap imbauan protokol
kesehatan di samping tidak memerhatikan posisinya sebagai bagian dari
masyarakat umum. Justru kita ternyata adalah serdadu yang lari dari medan
pertempuran, dan membiarkan tim medis bekerja sendirian di belakang dengan
membebankan tugas-tugas melawan korona kepada mereka.
Jadi
jangan heran jika sehari-hari semakin banyak korban berjatuhan. Dari awal kita
tidak pernah berniat bersungguh-sungguh berperang melawan korona selain tim
medis dan pihak-pihak terkait. Karena tidak disiplin, mawas dan awas diri, kita
malah rela membiarkan pertahanan kebudayaan, ekonomi, dan kesehatan kita
diabrek-abrek, diringsek, dan dibabat habis-habisan, dengan cara mengabaikan
seluruh cara bertarung dan bertahan di medan laga ini.
Para
saintis bekerja di dalam kenyataan sehari-hari: mereka berpakaian khusus jas
putih, masuk di laboratorium, mencatat temuan-temuan terbaru, mencari
rumus-rumus objek amatan, mengujinya, mengujinya, dan mengujinya. Di samping
itu, mereka mengelaborasi bacaan lewat jurnal-jurnal terbaru, saling
berkonfirmasi data, membaca buku, dan membangun hipotesis yang bakal diuji
dengan prinsip ilmiah. Singkatnya, seluruh aktivitas ini dikerjakan dengan cara
mendatangi dan mendalami objeknya di lapangan atau mendatangkan objeknya di
dalam laboratorium.
Influencer, atau terkhusus youtuber yang jadi lakon generasi
milenial kini, adalah profesi canggih, yang sayangnya tidak memiliki sumbangsih
apa-apa terhadap sebaran informasi tentang korona. Mereka berpengaruh tapi
lemah secara akademik. Dengan kata lain, semua orang bisa menjadi youtuber asalkan ia mau dan memiliki
perangkat teknologi canggih.
Youtube
bukanlah universitas apalagi sekolah yang memiliki kelas-kelas keilmuan yang
menentukan pangkat akademik seseorang. Ia semesta dalam jaringan cyberspace, yang domainnya terkadang
tidak membutuhkan korelasi dengan kenyataan. Orang bahkan bisa menciptakan
kenyataan lain di dalam jaringan cyberspace
dengan hukum kenyataan baru berupa fantasi dan simulasi.
Youtuber bekerja dengan dua prinsip di
atas, yakni menciptakan fantasi dan simulasi kenyataan. Jika saintis sangat
berhati-hati dengan kenyaaan sebagai medan pengujian temuan-temuannya—ingat
prinsip kebenaran korelasi—para youtuber
atau sejenisnya tidak akan menyoal kenyataan. Toh jika itu dirasa mesti disoal,
ia malah bergerak di seputar percakapan yang garing dan permukaan. Bahkan di
banyak kasus, youtuber hanya
membincang hal-hal yang kerap sensual, bombastis, dan horor.
Saya
cukupkan saja dulu perbandingan ini, yang sebenarnya tidak apple to apple. Akan lebih masuk akal jika membandingkan cara kerja
dua ilmuwan di atantara ilmu alam dengan ilmuwan ilmu sosial saat bekerja
mencari kebenaran, atau membandingkan youtuber
dengan facebooker, karena sama-sama
pegiat media sosial.
Tapi,
karena itulah tulisan sederhana ini ditulis, yakni ketika menimbang di era
kenormalan baru ini—atau situasi normal sekalipun—masyarakat terbelah ke dalam
tarik ulur dua kepentingan yang
sama-sama berpeluang membentuk rupa masyarakat. Para saintis—atau para pekerja
keilmuan lainnya—yang menghendaki terciptanya tatanan masyarakat rasional,
terbuka, dan dialogis, dan para pegiat media sosial di satu sisi yang
seolah-olah bergerak dalam satu komando di dalam kecenderungan masa kini, yaitu
masyarakat cyberspace, suatu jenis
yang digadang-gadang sebagai masyarakat masa depan yang irasional, global, dan
virtual.
Dua kepentingan
profesi ini di satu sisi agak berlebihan jika dinyatakan sebagai dua faktor
determinan yang berpengaruh di masyarakat. Masyarakat adalah entitas dinamis
dan sulit dikonseptualisasikan mengingat banyak faktor yang ikut mempengaruhi
sampai dapat membentuknya. Meski demikian, tidak bisa ditolak peran ilmu
pengetahuan, dalam hal ini, apa yang sudah menjadi capaian-capaian sains, dapat
serta merta berpengaruh langsung di masyarakat sampai menjadi visi masyarakat
tertentu bahkan dapat bertahan lama dalam suatu peradaban.[4]
Walaupun
demikian, sekalipun di abad lalu seorang Auguste Comte sudah meramalkan suatu
keadaan mayarakat positivis yang hidup dari imperatif-imperatif ilmiah[5],
namun tetap saja zaman ini, ketika anak kandung sains yakni teknologi—terutama
teknologi informasi dan komunikasi—menjadi dominan dan berpengaruh, masih ada
bagian kelompok masyarakat yang terjebak di dalam bentuk-bentuk pengetahuan
antisains. Hoaks, berita palsu, fantasi, kampanye hitam, mitos, ghibah, gosip
rendahan, bahkan bisik-bisik tetangga, merupakan bentuk-bentuk relasi
pengetahuan dengan kesadaran yang direduksi dan dieliminasi dari kebenaran
sehingga menciptakan suatu keadaan masyarakat terbelakang dan dekaden.
Uniknya,
bentuk-bentuk pengetahuan ini, tidak tercipta secara alamiah, melainkan
dibentuk melalui cyberspace atas
sumbangsih negatif profesi semisal youtuber—dan
semacamnya, yang mengandalkan kecepatan dan persebaran informasi yang meluas
dan dangkal.
Dalam
konteks inilah, pertarungan sesungguhnya berlangsung: sifat temuan sains yang
membutuhkan waktu penyelidikan lebih lama mendapatkan serangan seporadis dari
sebaran kecepatan informasi palsu yang
mengaburkan kebenaran. Dalam konteks ini pulalah, pertaruhan kebenaran
dilakukan, yakni pilihan antara kebenaran dan kepalsuan, kenyataan dan fantasi,
rasional dan irasional, realitas ril atau realitas maya.
[2] Youtuber yang saya maksud di sini tidak secara generalisir menunjuk kepada semua pengguna aplikasi youtube. Sejauh pengamatan saya, youtuber terbagi dua: 1) Youtuber yang mengisi akunnya dengan konten-konten dangkal, bombastis, sensual, dan horor demi mencari pengikut dan adesense pendapatan, dan 2) Youtuber yang memanfaatkan kanal youtube untuk edukasi masyarakat. Sepanjang tulisan ini, profesi youtuber yang saya maksud adalah youtuber yang pertama.
[3] Keadaban baru merupakan judul esai dari Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat di Universitas Parahyangan, Bandung, yang terbit di Kompas, 7 Agustus 2020. Keadaban baru, dinyatakan secara tersirat oleh Bambang Sugiharto sebagai lawan dari kualitas keadaban saat ini yang ia sebut masih didasarkan pada sikap ketakutan, penyintas brutal (survival of fittest), saling menyalahkan dan curiga (teori konspirasi), kepicikan wawasan, dan ”kelompokisme” serakah (berdasar agama, sains, ras, kepentingan politis, dan sebagainya).
[4] Uraian lebih jelasnya dapat ditemukan dalam buku ditulis Betrand Russel: Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat, Jakarta: Gramedia Pustaka, 1992.
[5] Auguste Comte menyatakan perkembangan suatu komunitas masyarakat digerakkan oleh unsur-unsur kesadarannya yang bergerak secara bertahap dari tahap teologis, metafisik, dan positivistik. Ketiga tahap ini berkembang semakin maju seiring kesadaran manusia yang semakin ilmiah dan rasional. Tahap positivistik adalah masa ilmu pengetahuan, terkhusus sosiologi, sebagai ratunya ilmu-ilmu.