Di dalam buku saya itu terdapat 17 esai dengan beragam tema, dan spiritualitas mengambil tempat kecil di bagian di dalamnya. Itupun bukan spiritualitas dalam pengertian yang sebenarnya seperti dalam pemahaman para mistikus atau metafisikawan. Suatu dunia yang berisi pemahaman abstrak dan menuntut seseorang, yang ingin mengetahuinya, perlu pendekatan pengetahuan dan perilaku khusus.
Spiritualitas adalah pengetahuan
”by present” bukan ”representasi” atas pengetahuan seperti
ditemukan dalam ilmu-ilmu ilmiah ala Barat, yang mendasarkan kebenarannya ke
dalam pengamatan dan konsep-konsep kognitif. Ilmu-ilmu Barat karena itu semakin
ke sini akan kelihatan positivistik ketimbang ilmu-ilmu metafisika Timur yang
sampai kepada laku kerja seorang rohaniawan.
Ada perbedaan mendasar antara
ilmu-ilmu Barat dan Timur sependek yang saya tahu, adalah pendasarannya kepada
realitas metafisika sebagai dasar segalanya. Dari pendekatan epistemik keduanya juga berbeda sampai-sampai yang satu dapat tiba pada kesimpulannya mengenai
kalbu sebagai alat epistemik, sementara yang lain mengukuhkan eksperimen indera
sebagai satu-satunya alat yang paling memuaskan dari setiap pencarian
keilmuan manusia.
Setelah dirilis, beberapa minggu
setelahnya, seseorang yang tidak begitu saya kenal dengan baik menghubungi via chat FB dengan meminta rangkuman
keseluruhan isi buku saya. Saya tertegun membaca pesannya, dan merasa kasihan
atas diri saya jika menyanggupi permintaannya seperti yang ia inginkan. Saya
berpikir untuk apa saya menjual buku itu, jika ujung-ujungnya entah dengan
maksud apa ia meminta isi kesimpulan dan merasa tidak bersalah sama sekali
karena meminta langsung kepada penulisnya. Tugas saya sudah selesai setelah
menerbitkan buku ini, dan tugas Andalah untuk membacanya, dan syukur-syukur
jika ada yang ingin merangkumnya seperti harapan si pengirim pesan ini.
Kasus ini kurang lebih sama tidak
mengenakan hati, pada suatu ketika seseorang yang saya temukan meminta file dalam bentuk pdf
dari sebuah buku cetak yang baru saja dirilis oleh suatu penerbit. Ia
barangkali tidak paham bagaimana sebuah
buku harus dihargai, dan bagaimana cara yang paling mungkin untuk melawan
pembajakan buku. Buku itu, yang ia harapkan pdf-nya
adalah buku yang dijual, dan bukan seperti buku-buku open source yang memang diperuntukkan bagi publik untuk dikonsumsi
luas. Saat itu saya merasa seseorang harus menegurnya, mengingat yang
meminta itu bukan orang baru yang mengenal tradisi akademik dan dunia ilmu
pengetahuan.
Buku saya ini ada yang mengatakan
tidak mudah dimengerti, dikarenakan dari judulnya saja sudah sedemikian asing
bagi dirinya. Orang yang mengatakan itu adalah kakak saya sendiri saat saya
memperlihatkan buku ini kepadanya. Ia bahkan mengatakan tulislah hal-hal yang
mudah dipahami banyak orang agar target pasarnya tercapai, dan kemudian
mendatangkan keuntungan banyak. Mendengar perkataannya itu saya hanya tertawa
dan mengatakan dalam hati buku ini memang bukan diperuntukkan untuk orang
sepertinya, yang lebih cocok dan menyukai karangan fiksi.
Tapi, kegiatan menyukai bacaan
dipantik dari kakak saya ini, yang sejak kecil gemar mengoleksi majalah Bobo, yang
membuat saya sering mengikutinya di sebuah toko buku untuk membelinya saat
sekolah dasar dulu—ia nanti membuat saya melahap habis serial novel Harry
Potter karangan JK Rowling. Ia juga yang mengajarkan saya waktu itu cara
menabung di bank dan cara berhadapan dengan teller setelah dibuatkan buku
tabungan oleh bapak. Kebetulan SD saya kala itu berdekatan dengan sebuah
bank sehingga ada kalanya jika pulang
dan memiliki uang, bank yang lumayan besar saat itu menjadi salah satu tujuan
sebelum pulang.
Kakak saya juga yang kali pertama
mengajak dan memperkenalkan kepada saya tentang sebuah bangunan yang disebut
perpustakaan. Di perpustakaan kota itu, adalah tempat pertama kalinya saya
melihat banyak buku-buku dikumpulkan demi agar seseorang membacanya dengan
bebas. Bangunannya demikian luas berlangit-langit tinggi dengan pernak-pernik
sasando—alat musik petik khas NTT yang terbuat dari bambu dan daun lontar kering—yang
berada di ruang tengahnya. Kelak, di depan perpustakaan inilah kakak saya
mengalami kecelakaan, terjatuh dari jalan pendakian yang membuat tangan kirinya
mengalami patah tulang.
Setelah beberapa kali diajak ke
perpustakaan, membuat saya suka membaca buku-buku biologi karena berisi
gambar-gambar hewan dan pemandangan alam, sesuatu yang saya duga membuat
cita-cita saya saat itu adalah menjadi pelukis.
Mungkin karena itulah saat masih
taman kanak-kanak yang membuat saya menjadi satu yang terpilih untuk mewakili
sekolah dalam perlombaan menggambar. Saya diketahui memiliki bakat dalam
menggambar dan mewarnai ketimbang bernyanyi atau menghapal satu dua lagu. Tak
dinyana, saya bersama dua orang lainnya, dipilih untuk mewakili TK Nurussa’adah,
kalau masih ingat, dan memenangkan penghargaan sebagai juara ketiga. Pasca itu,
kami diberikan piala dan mengabadikan momen itu dalam suatu foto bersama.
Berkat peristiwa itulah saya
akhirnya mendapatkan bekas luka yang tidak bakal hilang hingga kapanpun. Setiba
di rumah, karena gembira merayakan kemenangan membuat kesenangan saat itu
buyar. Saya terjatuh menyebabkan luka menganga di lutut kanan. Daging putih
seketika tampak seperti sudah dikupas pisau lipat. Darah keluar melalui
pori-pori. Rujak yang menjadi hadiah tidak dapat segera dinikmati
karena saya mesti dilarikan ke rumah sakit. Saya menangis sesakit-sakitnya,
berteriak atas luka itu yang dijahit sampai tujuh jahitan.
Sekarang keloid itu masih membekas
dan terlihat seperti lintah kering yang menempel seumur hidup.
Buku Eksistensialisme, Tubuh, dan
Covid-19, bisa dikatakan adalah cermin dari keterbatasan, yang selama ini
menjadi problem tersendiri saat pandemi melanda. Tubuh sampai saat ini mesti disiplin atau
didisiplinkan, bukan semata-mata karena pandemi belaka, melainkan karakteristiknya
yang mudah diajak dan dibajak.
Saat ini, tubuh adalah wilayah
paling rentan dan mudah untuk menjadi wahana pertarungan. Selain menjadi sarang penyakit, ia juga mesti disuntik vaksin sebelum dirinya ambyar. Berkat pandemi
Covid-19, tubuh di abad ini bakal memasuki suatu fase baru yang ditopang
melalui revolusi industri 4.0, yakni signifikansinya yang semakin berkurang atas kedigdayaan digitalisasi.
Ada yang mengatakan, Covid-19 terlepas dari apakah ini
bagian dari skenario global atau konspirasi, mempercepat revolusi 4.0, yang
mengedepankan digitalisasi di semua bidang kehidupan. Revolusi 4.0 bukanlah
abad tubuh, melainkan informasi dan big data berbasis algoritma matematis.
Tubuh dan seluruh fungsi fisiknya tidak akan lagi relevan karena sejauh yang lebih
diutamakan hari ini adalah citra digital dan robot teknologis.
Otomatisasi, networking,
robotisasi, dan siber space, bukan
lagi isapan jempol semata, tapi telah menjadi kenyaataan mutakhir, sementara
Covid-19 mengakselerasikannya menjadi kebiasaan baru secara global seperti
jalan cerita masyarakat 4.0.
Meski demikian bagaimana cara
dunia berakhir adalah salah satu pertanyaan besar dan misterius saat ini. Sama
misteriusnya dengan pertanyaan bagaimana kehidupan ini bermula. Hanya saja saat
dunia kehidupan ini dimulai milyaran tahun lalu, pengalaman itu tidak pernah
kita alami secara langsung.
Tapi, manusia makhluk ajaib meski
hanya karena ia belum ada di saat itu, ia mampu mengetahui cara alam semesta
kali pertama tersusun dan bisa eksis sampai sekarang. Menerka berapa umurnya,
kehidupan apa yang pernah ada sebelum dirinya, serta keberadaan manusia yang
baru muncul berjuta-juta tahun setelahnya
Kita tidak dibebankan untuk
memperbaiki pengalaman masa lalu, melainkan dituntut untuk mengurangi risiko
kehidupan saat ini oleh sebab campur tangan tonggak-tonggak ciptaan peradaban
kiwari.
Telah banyak kepunahan di atas
bumi ini. Pernah ada zaman saat hewan-hewan raksasa mati seketika karena
benda-benda raksasa yang menghempaskan mereka bersamaan dengan meletusnya
gunung-gunung api. Yang selamat dari hantaman batu-batu meteorit, dengan kemampuan adaptasi yang dianugerahi
alam, juga punah berlahan-lahan karena perubahan iklim dan cuaca yang berubah ekstrem.
Sekarang, seolah-olah meteor-meteor
langit itu datang kembali tapi dengan wujud yang supermini. Tidak ada ekor bola
api seperti saat kita melihatnya jatuh menembus sistem atmosfer bumi, kecuali
keberadaannya menembus sistem kekebalan tubuh yang bakal membuatnya panas. Meteor-meteor
bernama Covid-19 ini sekarang memiliki banyak varian dengan kemampuan tinggi
merusak tubuh seseorang, yang sekali lagi mendesak siapa pun untuk berpikir
lebih dalam agar kehidupan ini dapat bertahan lebih lama dari sebelumnya.
Covid-19 hingga kini masih menjadi ancaman bukan saja tubuh, masyarakat dan peradaban, tapi juga cara kita berada. Sampai hari ini Covid-19 bukan lagi menjadi tantangan medis, tapi juga ekologi, politik, sosial, dan kebudayaan kita. Cara kita berada hari ini sangat ditentukan melalui cara manusia merefleksikan dunia hariannya, menghadapi tantangannya, dan menciptakan temuan-temuan baru peradaban yang lebih kritis dan peka.