Rabu, 28 Juli 2021

Super Covid dan Eksistensialisme Tubuh

SAYA AGAK terkejut dalam video ini Muhajir MA memilih esai tentang 4 Jalan Spiritualitas di masa korona sebagai pertanyaan keduanya. Tidak ada bayangan dari awal, karena tidak ada dugaan sebelumnya tentang itu. Apalagi saya juga sudah lupa tentang isi esai itu. Satu-satunya yang saya ingat tentang esai ini adalah waktu dibuatnya menjelang bulan Ramadan tahun lalu. Dan seperti yang akan Anda saksikan, di dalamnya saya agak berhati-hati menjawab pertanyaannya itu, apalagi ini berkaitan dengan spiritualitas manusia, sesuatu yang saya ketahui memiliki beban moral tersendiri. Menjawab pertanyaan-pertanyaan berkaitan agama, terlebih itu berkaitan dengan dimensi spiritualitas, bukan hal mudah. Apalagi kalau jawabannya adalah berdasarkan apa yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya.

Di dalam buku saya itu terdapat 17 esai dengan beragam tema, dan spiritualitas mengambil tempat kecil di bagian di dalamnya. Itupun bukan spiritualitas dalam pengertian yang sebenarnya seperti dalam pemahaman para mistikus atau metafisikawan. Suatu dunia yang berisi pemahaman abstrak dan menuntut seseorang, yang ingin mengetahuinya, perlu pendekatan pengetahuan dan perilaku khusus.  

Spiritualitas adalah pengetahuan ”by present”  bukan ”representasi” atas pengetahuan seperti ditemukan dalam ilmu-ilmu ilmiah ala Barat, yang mendasarkan kebenarannya ke dalam pengamatan dan konsep-konsep kognitif. Ilmu-ilmu Barat karena itu semakin ke sini akan kelihatan positivistik ketimbang ilmu-ilmu metafisika Timur yang sampai kepada laku kerja seorang rohaniawan. 

Ada perbedaan mendasar antara ilmu-ilmu Barat dan Timur sependek yang saya tahu, adalah pendasarannya kepada realitas metafisika sebagai dasar segalanya. Dari pendekatan epistemik keduanya juga berbeda sampai-sampai yang satu dapat tiba pada kesimpulannya mengenai kalbu sebagai alat epistemik, sementara yang lain mengukuhkan eksperimen indera sebagai satu-satunya alat yang paling memuaskan dari setiap pencarian keilmuan manusia.

Setelah dirilis, beberapa minggu setelahnya, seseorang yang tidak begitu saya kenal dengan baik menghubungi via chat FB dengan meminta rangkuman keseluruhan isi buku saya. Saya tertegun membaca pesannya, dan merasa kasihan atas diri saya jika menyanggupi permintaannya seperti yang ia inginkan. Saya berpikir untuk apa saya menjual buku itu, jika ujung-ujungnya entah dengan maksud apa ia meminta isi kesimpulan dan merasa tidak bersalah sama sekali karena meminta langsung kepada penulisnya. Tugas saya sudah selesai setelah menerbitkan buku ini, dan tugas Andalah untuk membacanya, dan syukur-syukur jika ada yang ingin merangkumnya seperti harapan si pengirim pesan ini. 

Kasus ini kurang lebih sama tidak mengenakan hati, pada suatu ketika seseorang yang saya temukan meminta file dalam bentuk pdf dari sebuah buku cetak yang baru saja dirilis oleh suatu penerbit. Ia barangkali tidak paham  bagaimana sebuah buku harus dihargai, dan bagaimana cara yang paling mungkin untuk melawan pembajakan buku. Buku itu, yang ia harapkan pdf-nya adalah buku yang dijual, dan bukan seperti buku-buku open source yang memang diperuntukkan bagi publik untuk dikonsumsi luas. Saat itu saya merasa seseorang harus menegurnya, mengingat yang meminta itu bukan orang baru yang mengenal  tradisi akademik dan dunia ilmu pengetahuan.

Buku saya ini ada yang mengatakan tidak mudah dimengerti, dikarenakan dari judulnya saja sudah sedemikian asing bagi dirinya. Orang yang mengatakan itu adalah kakak saya sendiri saat saya memperlihatkan buku ini kepadanya. Ia bahkan mengatakan tulislah hal-hal yang mudah dipahami banyak orang agar target pasarnya tercapai, dan kemudian mendatangkan keuntungan banyak. Mendengar perkataannya itu saya hanya tertawa dan mengatakan dalam hati buku ini memang bukan diperuntukkan untuk orang sepertinya, yang lebih cocok dan menyukai karangan fiksi. 

Tapi, kegiatan menyukai bacaan dipantik dari kakak saya ini, yang sejak kecil gemar mengoleksi majalah Bobo, yang membuat saya sering mengikutinya di sebuah toko buku untuk membelinya saat sekolah dasar dulu—ia nanti membuat saya melahap habis serial novel Harry Potter karangan JK Rowling. Ia juga yang mengajarkan saya waktu itu cara menabung di bank dan cara berhadapan dengan teller setelah dibuatkan buku tabungan oleh bapak. Kebetulan SD saya kala itu berdekatan dengan sebuah bank  sehingga ada kalanya jika pulang dan memiliki uang, bank yang lumayan besar saat itu menjadi salah satu tujuan sebelum pulang.

Kakak saya juga yang kali pertama mengajak dan memperkenalkan kepada saya tentang sebuah bangunan yang disebut perpustakaan. Di perpustakaan kota itu, adalah tempat pertama kalinya saya melihat banyak buku-buku dikumpulkan demi agar seseorang membacanya dengan bebas. Bangunannya demikian luas berlangit-langit tinggi dengan pernak-pernik sasando—alat musik petik khas NTT yang terbuat dari bambu dan daun lontar kering—yang berada di ruang tengahnya. Kelak, di depan perpustakaan inilah kakak saya mengalami kecelakaan, terjatuh dari jalan pendakian yang membuat tangan kirinya mengalami patah tulang.

Setelah beberapa kali diajak ke perpustakaan, membuat saya suka membaca buku-buku biologi karena berisi gambar-gambar hewan dan pemandangan alam, sesuatu yang saya duga membuat cita-cita saya saat itu adalah menjadi pelukis.  

Mungkin karena itulah saat masih taman kanak-kanak yang membuat saya menjadi satu yang terpilih untuk mewakili sekolah dalam perlombaan menggambar. Saya diketahui memiliki bakat dalam menggambar dan mewarnai ketimbang bernyanyi atau menghapal satu dua lagu. Tak dinyana, saya bersama dua orang lainnya, dipilih untuk mewakili TK Nurussa’adah, kalau masih ingat, dan memenangkan penghargaan sebagai juara ketiga. Pasca itu, kami diberikan piala dan mengabadikan momen itu dalam suatu foto bersama.  

Berkat peristiwa itulah saya akhirnya mendapatkan bekas luka yang tidak bakal hilang hingga kapanpun. Setiba di rumah, karena gembira merayakan kemenangan membuat kesenangan saat itu buyar. Saya terjatuh menyebabkan luka menganga di lutut kanan. Daging putih seketika tampak seperti sudah dikupas pisau lipat. Darah keluar melalui pori-pori. Rujak yang menjadi hadiah tidak dapat segera dinikmati karena saya mesti dilarikan ke rumah sakit. Saya menangis sesakit-sakitnya, berteriak atas luka itu yang dijahit sampai tujuh jahitan.

Sekarang keloid itu masih membekas dan terlihat seperti lintah kering yang menempel seumur hidup.

Buku Eksistensialisme, Tubuh, dan Covid-19, bisa dikatakan adalah cermin dari keterbatasan, yang selama ini menjadi problem tersendiri saat pandemi melanda.  Tubuh sampai saat ini mesti disiplin atau didisiplinkan, bukan semata-mata karena pandemi belaka, melainkan karakteristiknya yang mudah diajak dan dibajak.

Saat ini, tubuh adalah wilayah paling rentan dan mudah untuk menjadi wahana pertarungan. Selain menjadi sarang penyakit, ia juga mesti disuntik vaksin sebelum dirinya ambyar. Berkat pandemi Covid-19, tubuh di abad ini bakal memasuki suatu fase baru yang ditopang melalui revolusi industri 4.0, yakni signifikansinya yang semakin berkurang atas kedigdayaan digitalisasi.

Ada yang  mengatakan, Covid-19 terlepas dari apakah ini bagian dari skenario global atau konspirasi, mempercepat revolusi 4.0, yang mengedepankan digitalisasi di semua bidang kehidupan. Revolusi 4.0 bukanlah abad tubuh, melainkan informasi dan big data berbasis algoritma matematis. Tubuh dan seluruh fungsi fisiknya tidak akan lagi relevan karena sejauh yang lebih diutamakan hari ini adalah citra digital dan robot teknologis.

Otomatisasi, networking, robotisasi, dan siber space, bukan lagi isapan jempol semata, tapi telah menjadi kenyaataan mutakhir, sementara Covid-19 mengakselerasikannya menjadi kebiasaan baru secara global seperti jalan cerita masyarakat 4.0.

Meski demikian bagaimana cara dunia berakhir adalah salah satu pertanyaan besar dan misterius saat ini. Sama misteriusnya dengan pertanyaan bagaimana kehidupan ini bermula. Hanya saja saat dunia kehidupan ini dimulai milyaran tahun lalu, pengalaman itu tidak pernah kita alami secara langsung.

Tapi, manusia makhluk ajaib meski hanya karena ia belum ada di saat itu, ia mampu mengetahui cara alam semesta kali pertama tersusun dan bisa eksis sampai sekarang. Menerka berapa umurnya, kehidupan apa yang pernah ada sebelum dirinya, serta keberadaan manusia yang baru muncul berjuta-juta tahun setelahnya

Kita tidak dibebankan untuk memperbaiki pengalaman masa lalu, melainkan dituntut untuk mengurangi risiko kehidupan saat ini oleh sebab campur tangan tonggak-tonggak ciptaan peradaban kiwari.

Telah banyak kepunahan di atas bumi ini. Pernah ada zaman saat hewan-hewan raksasa mati seketika karena benda-benda raksasa yang menghempaskan mereka bersamaan dengan meletusnya gunung-gunung api. Yang selamat dari hantaman batu-batu meteorit, dengan kemampuan adaptasi yang dianugerahi alam, juga punah berlahan-lahan karena perubahan iklim dan cuaca yang berubah ekstrem.

Sekarang, seolah-olah meteor-meteor langit itu datang kembali tapi dengan wujud yang supermini. Tidak ada ekor bola api seperti saat kita melihatnya jatuh menembus sistem atmosfer bumi, kecuali keberadaannya menembus sistem kekebalan tubuh yang bakal membuatnya panas. Meteor-meteor bernama Covid-19 ini sekarang memiliki banyak varian dengan kemampuan tinggi merusak tubuh seseorang, yang sekali lagi mendesak siapa pun untuk berpikir lebih dalam agar kehidupan ini dapat bertahan lebih lama dari sebelumnya.

Covid-19 hingga kini masih menjadi ancaman bukan saja tubuh, masyarakat dan peradaban, tapi juga cara kita berada. Sampai hari ini Covid-19 bukan lagi menjadi tantangan medis, tapi juga ekologi, politik, sosial, dan kebudayaan kita. Cara kita berada hari ini sangat ditentukan melalui cara manusia merefleksikan dunia hariannya, menghadapi tantangannya, dan menciptakan temuan-temuan baru peradaban yang lebih kritis dan peka.