Eksperimen tanaman kacang hijau terbilang percobaan sederhana, tapi bagi anak usia sekolah rasa-rasanya inilah pelajaran tingkat dasar yang mampu membuat seorang siswa seolah-olah menjadi seperti ilmuwan, yang berhari-hari bertugas mengobservasi subjek penelitiannya ke dalam catatan-catatan ilmiah. Hanya dengan menggunakan bekas tempat sabun bermerk Wings, kapas, dan sinar alami matahari--ditambah kesabaran--Anda segera menemukan dalam beberapa hari, antara dua biji kacang hijau yang diperlakukan berlainan akan tumbuh dengan cara berbeda. Biji kacang hijau yang dibiarkan di atas kapas dan disimpan di kolong dipan, dari hari ke hari, entah mengapa perlahan tumbuh berkecambah menjadi seperti bentuk anak seekor katak. Berwarna putih dan memanjang bisa sampai lima sentimeter. Sementara sebiji lainnya, karena terpapar sinar matahari, membuatnya akan tetap dalam keadaan semula, bahkan ada yang dikerumuni sekoloni semut tanah.
Tugas Anda sebagai
ilmuwan saat itu—yang menjadi tugas sekolah—adalah mengamati dari waktu ke
waktu bagaimana sebiji kacang hijau itu bergerak mengubah dirinya. Setelah
mencatat dan mengukur ketinggiannya, tiba saatnya dengan rasa gembira, akan Anda tunjukkan percobaan
sederhana ini di depan kelas karena telah berhasil merawat sebuah kacang hijau meski itu berakar kapas.
Kegelapan seringkali dikatakan menjadi musuh siapa pun
karena dari itu tidak akan mungkin melahirkan sesuatu. Namun, biji kacang hijau
yang Anda tempatkan di bawah tempat tidur, justru dalam kondisi itu bisa
berubah dan bertransformasi menjadi tanaman yang sehat.
Itu pelajaran pertama
dari percobaan ini, bahwa kegelapan tidak selamanya buruk. Ada tanam-tanaman
yang bisa tumbuh meski tanpa membutuhkan sinar matahari langsung. Anda hanya
perlu memerhatikan kadar air yang dibutuhkan alih-alih terobsesi ia dapat
tumbuh secara cepat dengan memberikan air berlebihan yang justru akan membuatnya
membusuk.
Pelajaran lainnya dari percobaan ini, selain bahwa kegelapan tak selamanya buruk, membuat Anda mengerti dalam setiap eksperimen memerlukan waktu yang panjang demi menemukan hasil akhirnya. Dalam setiap pencarian ilmu pengetahuan, para ilmuwan terlatih dengan sabar dalam menyambut kebenaran yang mereka usahakan berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan sampai bertahun-tahun demi apa yang kelak disebut kebenaran saintifik.
Tapi, percobaan khusus
ini menyingkapkan pengetahuan sederhana, setidaknya bagi saya waktu itu, bahwa
ternyata cikal bakal tauge berasal dari biji-bijian kacang hijau.
Sampai di sini, pengetahuan mengenai ilmu-ilmu alam mampu menarik minat saya, meski dengan alamiah kelak, segala hal yang berkaitan dengan kimia, fisika, dan biologi akan memberikan efek pengalaman kurang mengesankan tidak seperti saat saya mengalaminya kala masih di sekolah dasar. Di tahun-tahun setelahnya baru saya menyadari, setelah menyukai gambar-gambar hewan, apalagi dapat menyaksikannya melalui liputan-liputan tayangan televisi mengenai dunia flora dan fauna, ketertarikan saya kepada sains, adalah kepada kehidupan dunia hewan dengan cara mengamati bagaimana cara mereka berkembang biak, makan, tidur dan berenang. Atau melihat dunia keanekaan tumbuhan yang sama sekali tidak pernah saya saksikan sebelumnya. Semua yang saya lihat dari itu memberikan pengetahuan yang belum pernah saya temukan sebelumnya; bahwa ternyata alam memiliki koloni kehidupan flora dan fauna yang hidup tidak seperti cara manusia menarik nafas.
Jadi, itu satu bidang
keilmuan yang dapat menggerakkan hati dan menarik minat seorang anak menjadi
seorang zoologi untuk mempelajari struktur, fungsi, dan evolusi hewan, atau
ahli botani, yang berkerja meneliti tumbuh-tumbuhan di pedalaman hutan-hutan
jauh dari pemukiman, bukan jenis sains seperti tipe subjek pengamatan ilmuwan
yang bersikeras menghitung kadar unsur kimia dengan menggunakan tabel khusus,
atau biologikawan yang meneliti sel-sel makhluk hidup, atau menjadi seperti
seorang fisikawan.
Percobaan menumbuhkan kacang hijau,
sekali pernah saya temukan dilakukan Fadiah, adik sepupu saya yang masih duduk
di bangku sekolah, dan dengan sendirinya mengingatkan saya bahwa pelajaran
semacam ini masih bertahan di antara silih bergantinya kurikulum pendidikan. Percobaan
ini mungkin eksperimen sains paling sederhana yang dapat dilakukan di
sekolah-sekolah yang belum sepenuhnya didukung laboratorium berisi
peralatan sains berharga mahal, tapi cukup efektif untuk menumbuhkan
minat rasa ingin tahu anak-anak menggali cara kerja dunia di sekitarnya.
Mungkin dengan percobaan yang hampir sama dapat ia terapkan pada tanam-tanaman
yang berbeda, seperti tanaman jenis umbi-umbian apakah bisa juga tumbuh jika
ditempatkan di bawah ranjang selama berhari-hari, ataukah tidak sama sekali.
Atau mengembangkan eksperimen sederhana lainnya, dengan meneliti sistem
fotosintesis tanam-tanaman yang tidak memiliki klorofil yang cukup.
Semasa SMA saya memilih
pindah ke jurusan IPS setelah menolak nilai-nilai saya yang lebih cocok masuk
di kelas Bahasa. Dan, rasa-rasanya bukan di masa ini, ketika saya berkesempatan
menggunakan mikroskop kali pertama dan diperlihatkan semesta kehidupan lain
mengenai makhluk-makhluk super kecil yang hidup tapi tak kasat mata itu.
Ternyata di setiap sesuatu yang Anda tempatkan di bawah kaca lensa mikroskop
terdapat bermacam-macam kehidupan yang bergerak-gerak, berbentuk tak beraturan,
bintik-bintik. Daun adalah subjek penelian saat itu, bermaksud melihat bagaimana serat-seratnya saling terhubung dengan menciptakan pola
tertentu, sehingga dari sirkulasi itulah ia dapat membagi klorofil ke setiap
inci tubuhnya demi bertahan hidup.
Tapi, yang mengesankan
dari pengalaman semacam itu adalah menyaksikan teman-teman di kelas IPA
berhasil meledakkan sesuatu di dalam kaleng yang mereka tempatkan di tengah
lapangan. Mereka hanya perlu mengikuti instruksi Pak Rahman, guru kimia saat
itu, yang mengajarkan mereka mengenai cairan-cairan kimiawi yang jika dicampur
dengan ukuran tertentu dapat mengeluarkan reaksi kimiawi berupa ledakan atau
kebakaran. Duarr. Sekaleng meledak membuat kami yang sedang mengikuti pelajaran
olahraga terkejut sekaligus terpukau dengan pelajaran yang mereka lakukan.
Mereka ternyata juga nampak terkejut atas pengalaman itu, tapi lebih elegan
dikarenakan kekagetan mereka dibalut menggunakan baju putih khas ilmuwan
seperti yang sering kita lihat jika mereka sedang bekerja di laboratorium.
Atas pengalaman
tiba-tiba itu, muncul pikiran berkelabat: ledakan bom ternyata bisa diciptakan
oleh siapa saja, bahkan oleh anak-anak SMA selama ia tahu meracik unsur ramuan bahan-bahan kimiawi.
Tapi, tidak ada dari
teman-teman saya saat itu, yang dua puluh tahun kemudian jadi juru ledak,
apalagi menggunakannya seperti cara para jihadis menngunakannya saat bom bunuh diri.
Beberapa waktu lalu,
saya terlibat diskusi dalam helatan bedah buku, yang kebetulan membicarakan
buku saya, Kawan Rebahan: Eksistensialisme, Tubuh, dan Covid-19. Ini rasanya
secara tidak langsung akan menjadi promosi buku saya belaka, jika tidak segera
saja saya sampaikan mengenai satu topik pembicaraan saat itu menyangkut sains
dan agama, selain pembicaraan menyangkut eksistensi manusia terutama dari sisi
apa hakikat manusia itu sebenarnya.
Dengan cara tertentu,
pembahasan menyangkut eksistensi manusia jauh lebih menarik perhatian saya
ketimbang soal sains dan agama, walaupun wacana ini masih hangat dibicarakan
belakangan ini setelah para penyair, sastrawan, dan
pemikir semisal Goenawan Mohammad, AS Laksana, F. Budi Hardiman, Haidar Bagir,
Hamid Basyaib, dan nama-nama lainnya terlibat polemik di media sosial berbalas
tulisan saling kritik satu sama lain. Hubungan sains dan agama memang menarik,
tapi nanti kita melihatnya apakah dalam kesempatan ini akan saya uraikan juga
ke dalam tulisan ini.
(Mengenai peran agama
dan sains dalam menjawab kebutuhan manusia, saya menyatakan keduanya memiliki status
dan ranah yang berbeda, sehingga perlu bagi seseorang untuk mengetahui di waktu
apa dan kapan sains dibutuhkan, dan di saat apa justru agama yang lebih banyak
berperan)
Perspektif esensialis merupakan sumber masalah bagi seseorang yang membuatnya dengan gampang tidak berkeinginan menerima pandangan lain selain dari apa yang ia yakini di dalam kepalanya. Manusia dalam kesejatiannya berhakikat spiritual, seperti pendakuan ahli agama yang menolak perspektif filosofis bahwa manusia sebenarnya digerakkan oleh kemampuan akal budinya sehingga karena itu hakikat manusia ada pada substansi bernama rasio. Di sisi lain, pikiran dan jiwa manusia hanya akan menjadi entitas abstrak tak berbentuk, melayang-layang entah bagaimana dan seperti apa, jika ia tidak memiliki jasad agar ia dapat beraktivitas. Tubuh dengan demikian cukup penting karena secara fisiologis dapat menggerakkan berbagai otot yang dimiliki manusia berdasarkan pengalamannya di ruang dan waktu tertentu.
Belakangan definisi
hakikat manusia berkembang bermacam-macam menjadi lebih memusingkan sehingga
ada satu definisi yang akhirnya dikemukakan, bahwa manusia berhakikat
misterius. Pengertian ini kelihatan aneh karena justru lahir bukan dari
ketidakpastian apa itu manusia, tapi awalnya ditimbulkan dari sekian banyak
kepastian definisi yang diberikan para ahli dalam memberikan penjelasan
menyangkut diri manusia itu sebenarnya.
Dalam percakapan
menyangkut eksistensi manusia terutama menyangkut pondasi apa yang menopang
hakikatnya, saya lebih cenderung kepada perspektif yang mengambil semua
sisinya, bahwa hakikat eksistensi manusia adalah tubuhnya, pikirannya, jiwanya,
harapan-harapannya, kecemasannya, cita-citanya, keluh kesahnya, kebahagiaannya,
dan semuanya yang ada dalam dirinya.
Manusia bagi saya bukan
entitas yang dengan mudah dapat dijebak ke dalam satu definisi substansial menyangkut
dirinya, yang sebenarnya berkembang dinamis dan transformatif seiring kekayaan pengalaman hidup yang ia alami dalam konteks sejarah dan kebudayaannya.
Para ahli adalah
seorang yang menghabiskan banyak waktu demi pencarian ilmu pengetahuan
berdasarkan akar disiplin ilmiahnya, sehingga karena itu membuatnya tidak dapat
sembarangan melintasi kajian selain daripada studi yang ia lakukan selama waktu
tertentu. Akibatnya, seorang ahli dengan sendirinya hanya akan membatasi ruang
lingkup pembahasannya melalui kacamata keahliannya.
Seorang ahli agama,
kedudukannya akan menjadi sama seperti orang awam, yang tidak tahu banyak
apabila ia berbicara di luar dari otoritas keilmuannya. Saat ia berbicara
menyangkut topik semisal kajian fungsi-fungsi spesifik bagian otak dan
perkembangan syaraf-syarafnya, ia hanya akan menjadi seseorang yang linglung
menjelaskan kerja otaknya sendiri. Jika ia memaksakan diri ingin berbicara
lebih banyak tentang topik yang tidak ia kuasai, bukan saja seperti orang awam,
ia malah akan memperagakan bagaimana seseorang bisa berubah seketika menjadi
bodoh di hadapan orang-orang.
Tapi, yang lebih bodoh
dari seseorang yang berbicara di luar dari keahliannya adalah orang-orang yang
mengikuti kebodohan orang yang berbicara di luar penguasaan bidang keilmuannya.
Thom Nichols dalam bukunyaThe Death
Expertise banyak mengulas fenomena ini, ketika era informasi tidak sepadan
dengan sebagian kelompok manusia yang hidup di era kemajuan sains tapi tidak
dengan cara ia menggunakan pikirannya. Dalam hal ini para ahli dikatakan wajar
jika ia berbicara dari sudut pandang tertentu karena memang dari situlah ia
bertolak untuk menjawab kebutuhan manusia sesuai dengan disiplin keahliannya. Yang tidak wajar sebenarnya adalah kelompok
awam yang membabi buta bersikukuh mempertahankan satu pemahaman dengan tanpa
disiplin keilmuan. Dengan kata lain, bagi kita, merupakan tugas yang sebenarnya
untuk mengambil beragam perspektif dari pandangan berbagai ahli atas suatu
soal.
Seseorang di media
sosial dengan nada mengejek mempertanyakan sains itu apa dan bagaimana agama
terutama Islam, memandang sains. Sikap semacam ini seolah-olah menganggap Islam
merupakan agama anti sains dengan berargumen melalui umatnya, yang kebetulan
paling mencolok adalah jenis manusia yang sudah saya sebutkan di atas, dan
bukan dari sumber aslinya berupa teks-teks ayat suci yang selama ini memberikan
dasar legitimasi dari seluruh keimanan umat muslim.
Islam memang bukan
sepenuhnya dapat sepadan dengan sains, tapi bukan karena itu Islam sama sekali
tidak dapat menjadi mitra bagi sains. Islam sejauh yang saya ketahui sangat
terbuka dengan iklim yang sangat dibutuhkan oleh sains agar ia dapat dengan
mudah tumbuh (dalam Al-Qur’an ditemukan kata ‘ilm (ilmu) dan kata jadiannya
diulang sampai 800 kali)[1].
Bahkan, dalam teks suci yang digunakan kaum muslim, banyak ditemukan imbauan
dengan kata-kata ”berpikir”, ”lihatlah”, ”renungkanlah”, dan ”bacalah”, untuk mencari tahu objek-objek alam yang
sejalan dengan apa yang mesti kita usahakan hari ini: scientific attitude.
Scientific
Attitude, dalam sejarah kemajuan ilmu pengetahuan, adalah
motivasi sekaligus sikap yang menggerakkan orang-orang seperti Ibnu Haitham
(Al Hazen: Barat) yang kelak bergelar bapak optik modern sehingga menginspirasi
banyak ilmuwan setelahnya yang berhasil menciptakan alat bernama mikroskop,
Ibnu Batutah, seorang traveler abad pertengahan yang memperlihatkan bagaimana
sebuah perjalanan ke tempat-tempat jauh dapat disandingkan sebagai sebuah studi
etnografi, Al Khwarizmi, yang sekarang nama algoritma diambil dari namanya dan
menjadi faktor penting dari kemajuan abad informasi, Jabir bin Hayyan, Ibnu Sina, Umar Khayyam, hingga
di masa modern Barat membuat peradaban dapat bergerak progres hanya jika
mengembangkan sikap keterbukaan, rasa ingin tahu (curiosity), rasional, objektif, dan mencintai ilmu pengetahuan, yang
karena itu sains tercipta.
Dengan sikap inilah,
seseorang akan terdorong melakukan suatu model kerja untuk mencari tahu satu
permasalahan yang ingin ia ketahui. Ia akan disibukkan dengan beragam
percobaan, melalui upaya-upaya yang akan ia tingkatkan, seiring problem dari
percobaan yang ia lakukan hingga menemukan pengetahuan baru dari rasa ingin
tahunya.
Thomas Alva Edison,
menurut saya adalah salah satu contoh terbaik menyangkut apa yang saya
maksudkan di sini, yakni bagaimana dengan cara tertentu dalam salah satu
episode kehidupannya melakukan berkali-kali percobaan mengenai lampu-lampu yang
bisa ia pasang di rumah dan jalan-jalan kota New York tahun 1882. Usaha berkali-kali
ini, yang kemungkinan kegagalannya juga akan terus bertambah, yang di percobaan
ke sekian kalinya berhasil menemukan temuan yang belum pernah ada di saat itu.
Menyangkut kegagalan
percobaan yang selalu ia alami, Edison hanya berkata, ”Saya tidak gagal. Saya
hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil”. Silakan Anda lihat sendiri,
di bagian mana kata-kata cemerlang Edison ini yang tidak mencerminkan scientific attitude.
Seseorang juru masak
yang terampil pasti akan lebih mengetahui bagaimana cara memasak yang efisien,
meski diperhadapkan kepada kicthen tools
yang terbatas dengan bahan-bahan yang bisa ia temukan langsung di alam terbuka.
Jika Anda kebetulan sedang berwisata alam bersama seorang ahli masak, dan
disuguhi aliran sungai berisi sekoloni ikan, beberapa jenis buah-buahan di pinggir
sungai, dan pepohonan yang ternyata dapat dijadikan bahan memasak, besar
kemungkinan itu adalah wisata alam yang menggembirakan karena dengan kemurahan
hati ahli masak, ia bisa menciptakan menu makan siang yang bercita rasa.
Dibandingkan diri Anda yang tidak memiliki keahlian memasak yang baik, mungkin sebaliknya, itu dapat menjadi wisata alam yang tidak akan Anda ingin lakukan lagi di kemudian hari.
Lalu apa, yang
membedakan seorang ahli masak dengan diri Anda yang sering hanya karena ingin
memasak masih sering memerhatikan buku-buku cara memasak? Anda perlu
memerhatikan kata ”ahli” dalam hal ini, yang tidak dengan sendirinya disematkan
kepada seseorang. Seseorang dikatakan ahli dalam bidang tertentu karena ia
mengetahui suatu cara, metode, dan pendekatan dalam memecahkan masalah di bidang
disiplinnya. Seorang master chief,
bukan profesi yang lahir dari kemarin sore disebabkan ia telah mempelajari dalam
waktu yang panjang bagaimana konsep memasak yang paling baik beserta pendekatan
yang paling efektif ketika menghadapi bahan-bahan yang ia akan jadikan menu
makanan.
Pengetahuan menyangkut
cara mengolah bahan makanan inilah yang dalam sains disebut scientific method, yakni suatu cara
khusus ilmuwan dalam mengobservasi, menentukan, mengumpulkan, mencatat, dan
menyusun data sebelum ia dapat menarik kesimpulan secara akumulatif untuk
memecahkan suatu problem ilmu pengetahuan. Proses memakan energi dan waktu inilah
yang membuat seseorang ahli tertentu membangun disiplin keilmuannya.
Peradaban manusia
sejauh ini sudah mampu mengembangkan kehidupannya lebih canggih dari makhluk
hidup lainnya di muka bumi. Dia menciptakan produk sains (scientific product) berupa mesin tik, sepeda motor, mesin cuci, dan
pesawat satelit sampai mampu menghasilkan sistem persenjataan demi
mempertahankan eksistensinya.
Sekarang, dengan
semangat sikap ilmiah dan melalui pendekatan sains, manusia tidak lagi menginginkan mendomestifikasi dan menyimpan hewan liar dan hasil pertanian ke dalam
lumbung perkampungan untuk menjaga panjangnya usia mereka. Jika berabad-abad
lamanya umat manusia telah menemukan cara mengawetkan makanannya untuk digunakan
di kemudian hari, peradaban manusia hari ini sudah bisa menghasilkan sistem
informasi yang dapat disimpan menjadi sekumpulan sistem data agar digunakan
dalam jangka waktu yang panjang. Melalui teknologi komunikasi dan informasi,
kehidupan umat manusia sekarang menjadi satu-satunya mahkluk hidup di alam
semesta yang mampu menciptakan produk sains seperti sekarang ini, berupa
tatanan kehidupan yang terintegrasi ke dalam sistem informasi digital (big data) dengan mesin-mesin di sekitar aktivitas kehidupan manusia.
Tidak seperti binatang yang merespon lingkungannya hanya di saat ini dan di sini saja, manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang bisa berdialektika dengan tiga tatanan dunia sehingga dapat menghasilkan macam pencapaian kehidupan seperti sekarang ini—meminjam kategori three worlds Karl Popper: dunia pertama yakni keberadaan benda-benda fisik selama itu mampu direspons melalui kelima indera manusia (physical, objective world); dunia dua yakni proses pengalaman dan persepsi manusia yang meliputi dimensi emosi, pikiran, dan perasaannya (physilogical, cognitive subjektive world); serta dunia tiga terdiri dari konsep, teori, gagasan dan isi pikiran manusia berupa hasil dari interaksinya terhadap dunia pertama (human concepts, abstractions).
Selama ia menggunakan kemampuan pengalaman pikiran, memori, kenangan, dan imajinasinya (dunia dua), dalam merespon dan melakukan studi atas dunianya (dunia satu), umat manusia akan memiliki kedalaman pengalaman yang dapat ia kembangkan untuk memiliki kekayaan pengetahuan (dunia tiga). Sementara di sisi lain, melalui sistem penandaan berupa bahasa, sistem keyakinan melalui budaya dan agama, dan terakhir melalui kemajuan ilmu sains, studi atas kekayaan pengetahuan di dunia tiga akan mendorong lahirnya penemuan-penemuan mutakhir di dunia satu untuk menunjang efektivitas dan efisiensi kehidupan manusia.
Seiring waktu sejak manusia pertama menyadari tidak sedang hidup sendiri, ia juga mengakui perlu ada sistem pemerintahan yang mengatur kekuasaan agar tidak disalahgunakan, mengelola tiga kebutuhannya (primer, sekunder, tersier) ke dalam sistem ekonomi yang paling cocok dengan minat dan kebutuhan masyarakatnya, serta terakhir ia menggunakan ilmu-ilmu yang ia kembangkan di kemudian hari, sekali lagi, demi apa yang ia katakan sebagai kehidupan umat manusia.
Kiwari, setelah dunia
telah melalui banyak babakan penting dalam sejarah, dan karena peristiwa-peristiwa
itu wajah dunia bisa seperti ini—semisal ditemukannya mesiu yang menentukan dan
mengubah cara orang berperang—umat manusia kini tiba untuk berpikir lebih dalam
untuk bagaimana menciptakan kesejahteraan global tanpa ada lagi sekat-sekat
kebangsaan. Dan, di antara banyaknya masalah untuk mencapai itu, keabadian
adalah tema purba yang saat ini telah mengusik kuriositas banyak ilmuwan untuk dipecahkan.
Hidup abadi seperti dewa-dewa, mungkin saja bukan sekadar isi imajinasi
kebanyakan manusia sekarang ini, tapi itu sedang diusahakan oleh sebagian kelompok ilmuwan sekarang
ini.