Sabtu, 16 Oktober 2021

Bagaimana Saya Belajar Sains dan Mengapa Itu Penting Saat Ini


SATU-SATUNYA percobaan sains yang pernah saya lakukan di masa lalu adalah berusaha menumbuhkan sebiji kacang hijau melalui medium kapas. Percobaan ini jika tidak saya alami di sekolah dasar, saya lakukan saat di sekolah menengah pertama, melalui pelajaran biologi yang saat itu menjadi salah satu pelajaran menyenangkan. Biologi adalah pelajaran sains yang mengasyikan karena bukunya berisi banyak gambar-gambar organ tubuh, sistem pergerakan planet, kehidupan binatang, dan keanekaan tanam-tananaman. Saat itu biologi belum dipakai sebagai nama mata pelajaran, dan ia hanya menjadi bagian dari bidang pelajaran bernama Ilmu Pengetahuan Alam.

Eksperimen tanaman kacang hijau terbilang percobaan sederhana, tapi bagi anak usia sekolah rasa-rasanya inilah pelajaran tingkat dasar yang mampu membuat seorang siswa seolah-olah menjadi seperti  ilmuwan, yang berhari-hari bertugas mengobservasi subjek penelitiannya ke dalam catatan-catatan ilmiah. Hanya dengan menggunakan bekas tempat sabun bermerk Wings, kapas, dan sinar alami matahari--ditambah kesabaran--Anda segera menemukan dalam beberapa hari, antara dua biji kacang hijau yang diperlakukan berlainan akan tumbuh dengan cara berbeda. Biji kacang hijau yang dibiarkan di atas kapas dan disimpan di kolong dipan, dari hari ke hari, entah mengapa perlahan tumbuh berkecambah menjadi seperti bentuk anak seekor katak. Berwarna putih dan memanjang bisa sampai lima sentimeter. Sementara sebiji lainnya, karena terpapar sinar matahari, membuatnya akan tetap dalam keadaan semula, bahkan ada yang dikerumuni sekoloni semut tanah.

Tugas Anda sebagai ilmuwan saat itu—yang menjadi tugas sekolah—adalah mengamati dari waktu ke waktu bagaimana sebiji kacang hijau itu bergerak mengubah dirinya. Setelah mencatat dan mengukur ketinggiannya, tiba saatnya dengan rasa gembira, akan Anda tunjukkan percobaan sederhana ini di depan kelas karena telah berhasil merawat sebuah kacang hijau meski itu berakar kapas.

Kegelapan  seringkali dikatakan menjadi musuh siapa pun karena dari itu tidak akan mungkin melahirkan sesuatu. Namun, biji kacang hijau yang Anda tempatkan di bawah tempat tidur, justru dalam kondisi itu bisa berubah dan bertransformasi menjadi tanaman yang sehat.

Itu pelajaran pertama dari percobaan ini, bahwa kegelapan tidak selamanya buruk. Ada tanam-tanaman yang bisa tumbuh meski tanpa membutuhkan sinar matahari langsung. Anda hanya perlu memerhatikan kadar air yang dibutuhkan alih-alih terobsesi ia dapat tumbuh secara cepat dengan memberikan air berlebihan yang justru akan membuatnya membusuk. 

Pelajaran lainnya dari percobaan ini, selain bahwa kegelapan tak selamanya buruk, membuat Anda mengerti dalam setiap eksperimen memerlukan waktu yang panjang demi menemukan hasil akhirnya. Dalam setiap pencarian ilmu pengetahuan, para ilmuwan terlatih dengan sabar dalam menyambut kebenaran yang mereka usahakan berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan sampai bertahun-tahun demi apa yang kelak disebut kebenaran saintifik. 

Tapi, percobaan khusus ini menyingkapkan pengetahuan sederhana, setidaknya bagi saya waktu itu, bahwa ternyata cikal bakal tauge berasal dari biji-bijian kacang hijau.

Sampai di sini, pengetahuan mengenai ilmu-ilmu alam mampu menarik minat saya, meski dengan alamiah kelak, segala hal yang berkaitan dengan kimia, fisika, dan biologi akan memberikan efek pengalaman kurang mengesankan tidak seperti saat saya mengalaminya kala masih di sekolah dasar. Di tahun-tahun setelahnya baru saya menyadari, setelah menyukai gambar-gambar hewan, apalagi dapat menyaksikannya melalui liputan-liputan tayangan televisi mengenai dunia flora dan fauna, ketertarikan saya kepada sains, adalah kepada kehidupan dunia hewan dengan cara mengamati bagaimana cara mereka berkembang biak, makan, tidur dan berenang. Atau melihat dunia keanekaan tumbuhan yang sama sekali tidak pernah saya saksikan sebelumnya. Semua yang saya lihat dari itu memberikan pengetahuan yang belum pernah saya temukan sebelumnya; bahwa ternyata alam memiliki koloni kehidupan flora dan fauna yang hidup tidak seperti cara manusia menarik nafas.

Jadi, itu satu bidang keilmuan yang dapat menggerakkan hati dan menarik minat seorang anak menjadi seorang zoologi untuk mempelajari struktur, fungsi, dan evolusi hewan, atau ahli botani, yang berkerja meneliti tumbuh-tumbuhan di pedalaman hutan-hutan jauh dari pemukiman, bukan jenis sains seperti tipe subjek pengamatan ilmuwan yang bersikeras menghitung kadar unsur kimia dengan menggunakan tabel khusus, atau biologikawan yang meneliti sel-sel makhluk hidup, atau menjadi seperti seorang fisikawan.

Percobaan menumbuhkan kacang hijau, sekali pernah saya temukan dilakukan Fadiah, adik sepupu saya yang masih duduk di bangku sekolah, dan dengan sendirinya mengingatkan saya bahwa pelajaran semacam ini masih bertahan di antara silih bergantinya kurikulum pendidikan. Percobaan ini mungkin eksperimen sains paling sederhana yang dapat dilakukan di sekolah-sekolah yang belum sepenuhnya didukung laboratorium berisi peralatan sains berharga mahal, tapi cukup efektif untuk menumbuhkan minat rasa ingin tahu anak-anak menggali cara kerja dunia di sekitarnya. Mungkin dengan percobaan yang hampir sama dapat ia terapkan pada tanam-tanaman yang berbeda, seperti tanaman jenis umbi-umbian apakah bisa juga tumbuh jika ditempatkan di bawah ranjang selama berhari-hari, ataukah tidak sama sekali. Atau mengembangkan eksperimen sederhana lainnya, dengan meneliti sistem fotosintesis tanam-tanaman yang tidak memiliki klorofil yang cukup.

Semasa SMA saya memilih pindah ke jurusan IPS setelah menolak nilai-nilai saya yang lebih cocok masuk di kelas Bahasa. Dan, rasa-rasanya bukan di masa ini, ketika saya berkesempatan menggunakan mikroskop kali pertama dan diperlihatkan semesta kehidupan lain mengenai makhluk-makhluk super kecil yang hidup tapi tak kasat mata itu. Ternyata di setiap sesuatu yang Anda tempatkan di bawah kaca lensa mikroskop terdapat bermacam-macam kehidupan yang bergerak-gerak, berbentuk tak beraturan, bintik-bintik. Daun adalah subjek penelian saat itu, bermaksud melihat bagaimana serat-seratnya saling terhubung dengan menciptakan pola tertentu, sehingga dari sirkulasi itulah ia dapat membagi klorofil ke setiap inci tubuhnya demi bertahan hidup.

Tapi, yang mengesankan dari pengalaman semacam itu adalah menyaksikan teman-teman di kelas IPA berhasil meledakkan sesuatu di dalam kaleng yang mereka tempatkan di tengah lapangan. Mereka hanya perlu mengikuti instruksi Pak Rahman, guru kimia saat itu, yang mengajarkan mereka mengenai cairan-cairan kimiawi yang jika dicampur dengan ukuran tertentu dapat mengeluarkan reaksi kimiawi berupa ledakan atau kebakaran. Duarr. Sekaleng meledak membuat kami yang sedang mengikuti pelajaran olahraga terkejut sekaligus terpukau dengan pelajaran yang mereka lakukan. Mereka ternyata juga nampak terkejut atas pengalaman itu, tapi lebih elegan dikarenakan kekagetan mereka dibalut menggunakan baju putih khas ilmuwan seperti yang sering kita lihat jika mereka sedang bekerja di laboratorium.

Atas pengalaman tiba-tiba itu, muncul pikiran berkelabat: ledakan bom ternyata bisa diciptakan oleh siapa saja, bahkan oleh anak-anak SMA selama ia tahu meracik unsur ramuan bahan-bahan kimiawi.

Tapi, tidak ada dari teman-teman saya saat itu, yang dua puluh tahun kemudian jadi juru ledak, apalagi menggunakannya seperti cara para jihadis menngunakannya saat bom bunuh diri.

Beberapa waktu lalu, saya terlibat diskusi dalam helatan bedah buku, yang kebetulan membicarakan buku saya, Kawan Rebahan: Eksistensialisme, Tubuh, dan Covid-19. Ini rasanya secara tidak langsung akan menjadi promosi buku saya belaka, jika tidak segera saja saya sampaikan mengenai satu topik pembicaraan saat itu menyangkut sains dan agama, selain pembicaraan menyangkut eksistensi manusia terutama dari sisi apa hakikat manusia itu sebenarnya.

Dengan cara tertentu, pembahasan menyangkut eksistensi manusia jauh lebih menarik perhatian saya ketimbang soal sains dan agama, walaupun wacana ini masih hangat dibicarakan belakangan ini setelah para penyair, sastrawan, dan pemikir semisal Goenawan Mohammad, AS Laksana, F. Budi Hardiman, Haidar Bagir, Hamid Basyaib, dan nama-nama lainnya terlibat polemik di media sosial berbalas tulisan saling kritik satu sama lain. Hubungan sains dan agama memang menarik, tapi nanti kita melihatnya apakah dalam kesempatan ini akan saya uraikan juga ke dalam tulisan ini.

(Mengenai peran agama dan sains dalam menjawab kebutuhan manusia, saya menyatakan keduanya memiliki status dan ranah yang berbeda, sehingga perlu bagi seseorang untuk mengetahui di waktu apa dan kapan sains dibutuhkan, dan di saat apa justru agama yang lebih banyak berperan)

Perspektif esensialis merupakan sumber masalah bagi seseorang yang membuatnya dengan gampang tidak berkeinginan menerima pandangan lain selain dari apa yang ia yakini di dalam kepalanya. Manusia dalam kesejatiannya berhakikat spiritual, seperti pendakuan ahli agama yang menolak perspektif filosofis bahwa manusia sebenarnya digerakkan oleh kemampuan akal budinya sehingga karena itu hakikat manusia ada pada substansi bernama rasio. Di sisi lain, pikiran dan jiwa manusia hanya akan menjadi entitas abstrak tak berbentuk, melayang-layang entah bagaimana dan seperti apa, jika ia tidak memiliki jasad agar ia dapat beraktivitas. Tubuh dengan demikian cukup penting karena secara fisiologis dapat menggerakkan berbagai otot yang dimiliki manusia berdasarkan pengalamannya di ruang dan waktu tertentu.

Belakangan definisi hakikat manusia berkembang bermacam-macam menjadi lebih memusingkan sehingga ada satu definisi yang akhirnya dikemukakan, bahwa manusia berhakikat misterius. Pengertian ini kelihatan aneh karena justru lahir bukan dari ketidakpastian apa itu manusia, tapi awalnya ditimbulkan dari sekian banyak kepastian definisi yang diberikan para ahli dalam memberikan penjelasan menyangkut diri manusia itu sebenarnya. 

Dalam percakapan menyangkut eksistensi manusia terutama menyangkut pondasi apa yang menopang hakikatnya, saya lebih cenderung kepada perspektif yang mengambil semua sisinya, bahwa hakikat eksistensi manusia adalah tubuhnya, pikirannya, jiwanya, harapan-harapannya, kecemasannya, cita-citanya, keluh kesahnya, kebahagiaannya, dan semuanya yang ada dalam dirinya. 

Manusia bagi saya bukan entitas yang dengan mudah dapat dijebak ke dalam satu definisi substansial menyangkut dirinya, yang sebenarnya berkembang dinamis dan transformatif seiring kekayaan pengalaman hidup yang ia alami dalam konteks sejarah dan kebudayaannya. 

Para ahli adalah seorang yang menghabiskan banyak waktu demi pencarian ilmu pengetahuan berdasarkan akar disiplin ilmiahnya, sehingga karena itu membuatnya tidak dapat sembarangan melintasi kajian selain daripada studi yang ia lakukan selama waktu tertentu. Akibatnya, seorang ahli dengan sendirinya hanya akan membatasi ruang lingkup pembahasannya melalui kacamata keahliannya.

Seorang ahli agama, kedudukannya akan menjadi sama seperti orang awam, yang tidak tahu banyak apabila ia berbicara di luar dari otoritas keilmuannya. Saat ia berbicara menyangkut topik semisal kajian fungsi-fungsi spesifik bagian otak dan perkembangan syaraf-syarafnya, ia hanya akan menjadi seseorang yang linglung menjelaskan kerja otaknya sendiri. Jika ia memaksakan diri ingin berbicara lebih banyak tentang topik yang tidak ia kuasai, bukan saja seperti orang awam, ia malah akan memperagakan bagaimana seseorang bisa berubah seketika menjadi bodoh di hadapan orang-orang.

Tapi, yang lebih bodoh dari seseorang yang berbicara di luar dari keahliannya adalah orang-orang yang mengikuti kebodohan orang yang berbicara di luar penguasaan bidang keilmuannya. Thom Nichols dalam bukunyaThe Death Expertise banyak mengulas fenomena ini, ketika era informasi tidak sepadan dengan sebagian kelompok manusia yang hidup di era kemajuan sains tapi tidak dengan cara ia menggunakan pikirannya. Dalam hal ini para ahli dikatakan wajar jika ia berbicara dari sudut pandang tertentu karena memang dari situlah ia bertolak untuk menjawab kebutuhan manusia sesuai dengan disiplin keahliannya. Yang tidak wajar sebenarnya adalah kelompok awam yang membabi buta bersikukuh mempertahankan satu pemahaman dengan tanpa disiplin keilmuan. Dengan kata lain, bagi kita, merupakan tugas yang sebenarnya untuk mengambil beragam perspektif dari pandangan berbagai ahli atas suatu soal.

Seseorang di media sosial dengan nada mengejek mempertanyakan sains itu apa dan bagaimana agama terutama Islam, memandang sains. Sikap semacam ini seolah-olah menganggap Islam merupakan agama anti sains dengan berargumen melalui umatnya, yang kebetulan paling mencolok adalah jenis manusia yang sudah saya sebutkan di atas, dan bukan dari sumber aslinya berupa teks-teks ayat suci yang selama ini memberikan dasar legitimasi dari seluruh keimanan umat muslim.

Islam memang bukan sepenuhnya dapat sepadan dengan sains, tapi bukan karena itu Islam sama sekali tidak dapat menjadi mitra bagi sains. Islam sejauh yang saya ketahui sangat terbuka dengan iklim yang sangat dibutuhkan oleh sains agar ia dapat dengan mudah tumbuh (dalam Al-Qur’an ditemukan kata ‘ilm (ilmu) dan kata jadiannya diulang sampai 800 kali)[1]. Bahkan, dalam teks suci yang digunakan kaum muslim, banyak ditemukan imbauan dengan kata-kata ”berpikir”, ”lihatlah”, ”renungkanlah”, dan ”bacalah”,  untuk mencari tahu objek-objek alam yang sejalan dengan apa yang mesti kita usahakan hari ini: scientific attitude.

Scientific Attitude, dalam sejarah kemajuan ilmu pengetahuan, adalah motivasi sekaligus sikap yang menggerakkan orang-orang seperti Ibnu Haitham (Al Hazen: Barat) yang kelak bergelar bapak optik modern sehingga menginspirasi banyak ilmuwan setelahnya yang berhasil menciptakan alat bernama mikroskop, Ibnu Batutah, seorang traveler abad pertengahan yang memperlihatkan bagaimana sebuah perjalanan ke tempat-tempat jauh dapat disandingkan sebagai sebuah studi etnografi, Al Khwarizmi, yang sekarang nama algoritma diambil dari namanya dan menjadi faktor penting dari kemajuan abad informasi, Jabir  bin Hayyan, Ibnu Sina, Umar Khayyam, hingga di masa modern Barat membuat peradaban dapat bergerak progres hanya jika mengembangkan sikap keterbukaan, rasa ingin tahu (curiosity), rasional, objektif, dan mencintai ilmu pengetahuan, yang karena itu sains tercipta.

Dengan sikap inilah, seseorang akan terdorong melakukan suatu model kerja untuk mencari tahu satu permasalahan yang ingin ia ketahui. Ia akan disibukkan dengan beragam percobaan, melalui upaya-upaya yang akan ia tingkatkan, seiring problem dari percobaan yang ia lakukan hingga menemukan pengetahuan baru dari rasa ingin tahunya.

Thomas Alva Edison, menurut saya adalah salah satu contoh terbaik menyangkut apa yang saya maksudkan di sini, yakni bagaimana dengan cara tertentu dalam salah satu episode kehidupannya melakukan berkali-kali percobaan mengenai lampu-lampu yang bisa ia pasang di rumah dan jalan-jalan kota New York tahun 1882. Usaha berkali-kali ini, yang kemungkinan kegagalannya juga akan terus bertambah, yang di percobaan ke sekian kalinya berhasil menemukan temuan yang belum pernah ada di saat itu.

Menyangkut kegagalan percobaan yang selalu ia alami, Edison hanya berkata, ”Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil”. Silakan Anda lihat sendiri, di bagian mana kata-kata cemerlang Edison ini yang tidak mencerminkan scientific attitude.

Seseorang juru masak yang terampil pasti akan lebih mengetahui bagaimana cara memasak yang efisien, meski diperhadapkan kepada kicthen tools yang terbatas dengan bahan-bahan yang bisa ia temukan langsung di alam terbuka. Jika Anda kebetulan sedang berwisata alam bersama seorang ahli masak, dan disuguhi aliran sungai berisi sekoloni ikan, beberapa jenis buah-buahan di pinggir sungai, dan pepohonan yang ternyata dapat dijadikan bahan memasak, besar kemungkinan itu adalah wisata alam yang menggembirakan karena dengan kemurahan hati ahli masak, ia bisa menciptakan menu makan siang yang bercita rasa. Dibandingkan diri Anda yang tidak memiliki keahlian memasak yang  baik, mungkin sebaliknya, itu dapat menjadi wisata alam yang tidak akan Anda ingin lakukan lagi di kemudian hari.

Lalu apa, yang membedakan seorang ahli masak dengan diri Anda yang sering hanya karena ingin memasak masih sering memerhatikan buku-buku cara memasak? Anda perlu memerhatikan kata ”ahli” dalam hal ini, yang tidak dengan sendirinya disematkan kepada seseorang. Seseorang dikatakan ahli dalam bidang tertentu karena ia mengetahui suatu cara, metode, dan pendekatan dalam memecahkan masalah di bidang disiplinnya. Seorang master chief, bukan profesi yang lahir dari kemarin sore disebabkan ia telah mempelajari dalam waktu yang panjang bagaimana konsep memasak yang paling baik beserta pendekatan yang paling efektif ketika menghadapi bahan-bahan yang ia akan jadikan menu makanan.

Pengetahuan menyangkut cara mengolah bahan makanan inilah yang dalam sains disebut scientific method, yakni suatu cara khusus ilmuwan dalam mengobservasi, menentukan, mengumpulkan, mencatat, dan menyusun data sebelum ia dapat menarik kesimpulan secara akumulatif untuk memecahkan suatu problem ilmu pengetahuan. Proses memakan energi dan waktu inilah yang membuat seseorang ahli tertentu membangun disiplin keilmuannya.

Peradaban manusia sejauh ini sudah mampu mengembangkan kehidupannya lebih canggih dari makhluk hidup lainnya di muka bumi. Dia menciptakan  produk sains (scientific product) berupa mesin tik, sepeda motor, mesin cuci, dan pesawat satelit sampai mampu menghasilkan sistem persenjataan demi mempertahankan eksistensinya.

Sekarang, dengan semangat sikap ilmiah dan melalui pendekatan sains, manusia tidak lagi menginginkan mendomestifikasi dan menyimpan hewan liar dan hasil pertanian ke dalam lumbung perkampungan untuk menjaga panjangnya usia mereka. Jika berabad-abad lamanya umat manusia telah menemukan cara mengawetkan makanannya untuk digunakan di kemudian hari, peradaban manusia hari ini sudah bisa menghasilkan sistem informasi yang dapat disimpan menjadi sekumpulan sistem data agar digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Melalui teknologi komunikasi dan informasi, kehidupan umat manusia sekarang menjadi satu-satunya mahkluk hidup di alam semesta yang mampu menciptakan produk sains seperti sekarang ini, berupa tatanan kehidupan yang terintegrasi ke dalam sistem informasi digital (big data) dengan mesin-mesin di sekitar aktivitas kehidupan manusia.

Tidak seperti binatang yang merespon lingkungannya hanya di saat ini dan di sini saja, manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang bisa berdialektika dengan tiga tatanan dunia sehingga dapat menghasilkan macam pencapaian kehidupan seperti sekarang ini—meminjam kategori three worlds Karl Popper: dunia pertama yakni keberadaan benda-benda fisik selama itu mampu direspons melalui kelima indera manusia (physical, objective world); dunia dua yakni proses pengalaman dan persepsi manusia yang meliputi dimensi emosi, pikiran, dan perasaannya (physilogical, cognitive subjektive world);  serta dunia tiga terdiri dari konsep, teori, gagasan dan isi pikiran manusia berupa hasil dari interaksinya terhadap dunia pertama (human concepts, abstractions).

Selama ia menggunakan kemampuan pengalaman pikiran, memori, kenangan, dan imajinasinya (dunia dua), dalam merespon dan melakukan studi atas dunianya (dunia satu), umat manusia akan memiliki kedalaman pengalaman yang dapat ia kembangkan untuk memiliki kekayaan pengetahuan (dunia tiga). Sementara di sisi lain, melalui sistem penandaan berupa bahasa, sistem keyakinan melalui budaya dan agama, dan terakhir melalui kemajuan ilmu sains, studi atas kekayaan pengetahuan di dunia tiga akan mendorong lahirnya penemuan-penemuan mutakhir di dunia satu untuk menunjang efektivitas dan efisiensi kehidupan manusia. 

Seiring waktu sejak manusia pertama menyadari tidak sedang hidup sendiri, ia juga mengakui perlu ada sistem pemerintahan yang mengatur kekuasaan agar tidak disalahgunakan, mengelola tiga kebutuhannya (primer, sekunder, tersier) ke dalam sistem ekonomi yang paling cocok dengan minat dan kebutuhan masyarakatnya, serta terakhir ia menggunakan ilmu-ilmu yang ia kembangkan di kemudian hari, sekali lagi, demi apa yang ia katakan sebagai kehidupan umat manusia. 

Kiwari, setelah dunia telah melalui banyak babakan penting dalam sejarah, dan karena peristiwa-peristiwa itu wajah dunia bisa seperti ini—semisal ditemukannya mesiu yang menentukan dan mengubah cara orang berperang—umat manusia kini tiba untuk berpikir lebih dalam untuk bagaimana menciptakan kesejahteraan global tanpa ada lagi sekat-sekat kebangsaan. Dan, di antara banyaknya masalah untuk mencapai itu, keabadian adalah tema purba yang saat ini telah mengusik kuriositas banyak ilmuwan untuk dipecahkan. Hidup abadi seperti dewa-dewa, mungkin saja bukan sekadar isi imajinasi kebanyakan manusia sekarang ini, tapi itu sedang diusahakan oleh sebagian kelompok ilmuwan sekarang ini.




[1] Al-Qardhawi dalam penelitiannya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Karim (lihat Fuad Abdul Baqi, tt.:469-481) melaporkan, bahwa kata ‘ilm (ilmu) dalam al-Qur’an baik dalam bentuknya yang definitif (ma’rifat) maupun indefinitif (nakirah) terdapat 80 kali, sedangkan kata yang berkait dengan itu seperti kata ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka mengetahui), ‘alim (sangat tahu) dan seterusnya, disebutkan beratus-ratus kali.