Sendirian bersama adalah saat
semua orang tidak saling peduli, meski berada dalam satu momen kebersamaan
lantaran lebih terpikat ”dunia mini” dalam gawainya. Adalah Sherry Turkle,
seorang scholar di bidang psikoanalisis dan sosiologi teknologi, yang
menjelaskan sendirian bersama sebagai kecenderungan masyarakat masa kini yang
hidup dalam kebersamaan tapi tetap sendiri.
Sendirian bersama adalah ekses negatif penggunaan berlebihan alat komunikasi informasi terbaru, yang mendevaluasi cara masyarakat berinteraksi satu sama lain. Keadaan yang mendegradasi keaslian dan keorganikan interaksi akibat paparan tanpa henti ilusi komunikasi dari kecerdasan buatan.
Anda, pasangan Anda, teman Anda,
atau anak Anda kerap berkumpul di pinggir gang, arisan ibu-ibu, warung kopi,
atau sekadar kongkow di ruang keluarga, tapi saat itu kebersamaan tidak bersama
Anda. Begitu juga teman perkumpulan Anda yang meskipun hadir bersama-sama,
sebenarnya sedang menumpang ”pesawat” ulang-alik bernama smartphone di dalam buana maya.
Sendirian bersama adalah paradoks
sekaligus kematian sosial. Anak Anda bermain game saat makan, seorang karyawan
bisa berbelanja online saat rapat, seorang mahasiswa bermain tiktok saat di
ruang kuliah, atau diri Anda yang mendengarkan khotbah Jum’at sambil memantau
dinding facebook.
Kematian sosial membuat diri Anda tidak sedang berelasi dengan orang-orang di sekitar Anda. Begitu juga sebaliknya. Di saat ini eksistensi Anda sama seperti penilaian Anda terhadap orang-orang sekitar Anda, tanpa hubungan dan tidak berarti apa-apa. Ini suasana yang mirip dalam lirik sebuah lagu: antara ada dan tiada.
Semua aktivitas dunia ril berubah
total tidak mengikuti kaidah alamiahnya. Saya bahkan pernah menemukan seorang
dosen mengajar sembari menonton drama korea di waktu hampir bersamaan, saat
mahasiswanya digelandang ke arena diskusi kelompok.
Karena smartphone, persepsi menyangkut kenyataan di sekitar Anda berubah.
Dunia ril tidak lebih penting dibanding eksistensi citra diri Anda di semesta
bit-bit screen gawai.
Melalui buku pertamanya, The Second Self, Turkle menyampaikan
saat ini hampir semua orang memiliki diri kedua, dan melalui itu dapat
melakukan apa saja selama ia eksis di dalam dunia digital.
Dunia digital saat ini adalah kosmologi paling nyata dibandingkan eksistensi dunia harian. Bahkan ia lebih nyata daripada semesta metafisika yang menjadi keyakinan narasi teologi. Jika dunia harian mesti dialami bersama tubuh, dan dunia metafisika dijalani melalui entitas spirit, maka semesta maya menggunakan diri yang tersusun dari sejumlah bit agar ia dapat ril seperti dunia harian, dan fantastis sama seperti dunia metafisika.
Itulah sebab setiap hubungan manusia dengan sistem komputasi teknologi komunikasi dan informasi mutakhir, tidak saja mengubah perilaku kita saat berada di dunia harian, tapi juga sistem berpikir manusia. Terhadap kecanggihan teknologi, tanpa sadar manusia mengidentifikasi dan memandang kelemahan dirinya atas superioritas algoritma mesin berpikir benda bernama smartphone.
Sekarang, hampir semua orang
lebih memilih hidup di atas layar, dan mengubahnya menjadi makhluk yang
pelan-pelan kehilangan kepekaan dan empati untuk membuka percakapan. Sendirian
bersama karena itu bukan saja suatu gejala yang menyebabkan keterasingan satu
sama lain, melainkan mengubah pula fitrah alamiah manusia. Percakapan yang
menjadi inti interaksi kini terancam karena keterikatan terhadap media sosial
(tulisan), merusak kemampuan berkomunikasi manusia.
Dengan kata lain, sendirian
bersama menghilangkan percakapan, yang sama artinya dengan kehilangan kepekaan
emosional, empati, apalagi simpati, sesuatu yang demikian subtil dalam kelompok
manusia.
***
Kesepian adalah momok menakutkan
bagi peselancar dunia dalam jaringan. Melalui tinjauan psikoanalisis, Turkle
seperti juga menyatakan ulang problem eskistensial manusia modern yang khawatir
menghadapi kesendirian. Hampir setiap saat untuk menunda kesendiran mendorong
seseorang mesti menengok arus informasi yang tidak berhenti berputar di dalam smartphone-nya. Tenggelam dalam
kesendirian bersama.
Itu sebab, bukan saja karena
faktor kemajuan teknologi informasi, yang dalam hal ini menkonfigurasi interaksi sosial masyarakat,
tapi juga secara psikis manusia ditodong kekhawatiran menghadapi kesendirian mendorong
dirinya mencari suaka di dalam jaringan maya.
Menunda atau bahkan menghindari kesendirian membuat masyarakat modern kehilangan kemampuan refleksinya. Sendiri dalam pengertian ini adalah suatu keadaan autentik ketika manusia terputus dari seluruh hubungan yang selama ini membuat hidupnya serba bergerak dan mesti tangkas mengatasinya. Sendiri karena itu bersifat ontologis setelah ia diradikalkan dari aktivitas sosiologisnya.