Selasa, 29 Juni 2021

Sendirian Bersama, Ada Tapi Tidak Bersama Anda

SAYA KERAP tanpa sadar menciptakan suasana yang seringkali membuat Anda bertindak seperti orang bodoh. Atau sebaliknya, seketika saja saya telah berubah menjadi sebongkah patung yang membuat diri ini tidak bisa berbuat banyak, hanya karena Anda tengah hanyut dalam momen sosial yang ganjil: sendirian bersama (alone together).

Sendirian bersama adalah saat semua orang tidak saling peduli, meski berada dalam satu momen kebersamaan lantaran lebih terpikat ”dunia mini” dalam gawainya. Adalah Sherry Turkle, seorang scholar di bidang psikoanalisis dan sosiologi teknologi, yang menjelaskan sendirian bersama sebagai kecenderungan masyarakat masa kini yang hidup dalam kebersamaan tapi tetap sendiri.

Sendirian bersama adalah ekses negatif penggunaan berlebihan alat komunikasi informasi terbaru, yang mendevaluasi cara masyarakat berinteraksi satu sama lain. Keadaan yang mendegradasi keaslian dan keorganikan interaksi akibat paparan tanpa henti ilusi komunikasi dari kecerdasan buatan.

Anda, pasangan Anda, teman Anda, atau anak Anda kerap berkumpul di pinggir gang, arisan ibu-ibu, warung kopi, atau sekadar kongkow di ruang keluarga, tapi saat itu kebersamaan tidak bersama Anda. Begitu juga teman perkumpulan Anda yang meskipun hadir bersama-sama, sebenarnya sedang menumpang ”pesawat” ulang-alik bernama smartphone di dalam buana maya.

Sendirian bersama adalah paradoks sekaligus kematian sosial. Anak Anda bermain game saat makan, seorang karyawan bisa berbelanja online saat rapat, seorang mahasiswa bermain tiktok saat di ruang kuliah, atau diri Anda yang mendengarkan khotbah Jum’at sambil memantau dinding facebook.

Kematian sosial membuat diri Anda tidak sedang berelasi dengan orang-orang di sekitar Anda. Begitu juga sebaliknya. Di saat ini eksistensi Anda sama seperti penilaian Anda terhadap orang-orang sekitar Anda, tanpa hubungan dan tidak berarti apa-apa. Ini suasana yang mirip dalam lirik sebuah lagu: antara ada dan tiada.

Semua aktivitas dunia ril berubah total tidak mengikuti kaidah alamiahnya. Saya bahkan pernah menemukan seorang dosen mengajar sembari menonton drama korea di waktu hampir bersamaan, saat mahasiswanya digelandang ke arena diskusi kelompok.

Karena smartphone, persepsi menyangkut kenyataan di sekitar Anda berubah. Dunia ril tidak lebih penting dibanding eksistensi citra diri Anda di semesta bit-bit screen gawai.

Melalui buku pertamanya, The Second Self, Turkle menyampaikan saat ini hampir semua orang memiliki diri kedua, dan melalui itu dapat melakukan apa saja selama ia eksis di dalam dunia digital.

Dunia digital saat ini adalah kosmologi paling nyata dibandingkan eksistensi dunia harian. Bahkan ia lebih nyata daripada semesta metafisika yang menjadi keyakinan narasi teologi. Jika dunia harian mesti dialami bersama tubuh, dan dunia metafisika dijalani melalui entitas spirit, maka semesta maya menggunakan diri yang tersusun dari sejumlah bit agar ia dapat ril seperti dunia harian, dan fantastis sama seperti dunia metafisika.  

Itulah sebab setiap hubungan manusia dengan sistem komputasi teknologi komunikasi dan informasi mutakhir, tidak saja mengubah perilaku kita saat berada di dunia harian, tapi juga sistem berpikir manusia. Terhadap kecanggihan teknologi, tanpa sadar manusia mengidentifikasi dan memandang kelemahan dirinya atas superioritas algoritma mesin berpikir benda bernama smartphone.

Sekarang, hampir semua orang lebih memilih hidup di atas layar, dan mengubahnya menjadi makhluk yang pelan-pelan kehilangan kepekaan dan empati untuk membuka percakapan. Sendirian bersama karena itu bukan saja suatu gejala yang menyebabkan keterasingan satu sama lain, melainkan mengubah pula fitrah alamiah manusia. Percakapan yang menjadi inti interaksi kini terancam karena keterikatan terhadap media sosial (tulisan), merusak kemampuan berkomunikasi manusia.

Dengan kata lain, sendirian bersama menghilangkan percakapan, yang sama artinya dengan kehilangan kepekaan emosional, empati, apalagi simpati, sesuatu yang demikian subtil dalam kelompok manusia.

***

Kesepian adalah momok menakutkan bagi peselancar dunia dalam jaringan. Melalui tinjauan psikoanalisis, Turkle seperti juga menyatakan ulang problem eskistensial manusia modern yang khawatir menghadapi kesendirian. Hampir setiap saat untuk menunda kesendiran mendorong seseorang mesti menengok arus informasi yang tidak berhenti berputar di dalam smartphone-nya. Tenggelam dalam kesendirian bersama.

Itu sebab, bukan saja karena faktor kemajuan teknologi informasi, yang dalam hal ini  menkonfigurasi interaksi sosial masyarakat, tapi juga secara psikis manusia ditodong kekhawatiran menghadapi kesendirian mendorong dirinya mencari suaka di dalam jaringan maya.

Menunda atau bahkan menghindari kesendirian membuat masyarakat modern kehilangan kemampuan refleksinya. Sendiri dalam pengertian ini adalah suatu keadaan autentik ketika manusia terputus dari seluruh hubungan yang selama ini membuat hidupnya serba bergerak dan mesti tangkas mengatasinya. Sendiri karena itu bersifat ontologis setelah ia diradikalkan dari aktivitas sosiologisnya.