Sabtu, 05 Juni 2021

Gutenberg dan Para Obligat Buku

ENAM ABAD lalu, Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak dan karena itu berangsur-angsur ikut mengubah wajah Eropa. Mesin cetak ia temukan itu bukan mesin dalam pengertian sekarang, yang memiliki soket listrik, atau terhubung dengan jaringan panel kuningan yang lebih rumit seperti dalam mesin komputer.

Mesin yang sebagian besarnya terbuat dari logam itu justru sekilas menyerupai tiang-tiang kokoh alat pancung, yang biasa ditemui di alun-alun kerajaan untuk memotong tengkuk sang pelanggar. 

Cara kerja mesin temuan Gutenberg kurang lebih sama seperti cara kerja alat tukang sablon saat mencetak bentuk-bentuk di atas permukaan kain. Ada dua bidang yang dapat mengepit kertas dengan plat logam yang berisi huruf-huruf, di mana sebelumnya bidang-bidang ini ditempatkan sedemikan rupa pada alat press yang ada pada mesin cetak. Katup press diputar searah jarum jam supaya alat press dapat bertemu dengan bidang cetak sehingga tulisan dapat ditampilkan.

Mesin ini jauh lebih awet dari alat cetak di Cina yang sudah dipakai setelah abad ke-11 dengan hanya menggunakan plat huruf berasal dari tanah liat. Keunggulan mesin cetak Gutenberg adalah inovasinya saat menghasilkan cetakan yang lebih banyak, presisi, dan jenis tintanya yang terbuat dari minyak sehingga lebih tahan lama dibandingkan tinta berbahan air.

Konon, mesin Gutenberg ini ia buat karena desakan hutang piutang yang mendorongnya mesti menulis surat pemakluman kepada gereja. Dari pada menulis tangan, apalagi jenis font gothik bersambung yang rawan salah saat itu, membuatnya menciptakan cetakan huruf dari plat logam dan alat cetak yang mengandalkan kekuatan tekanan manusia itu.

Penemuan mesin cetak Gutenberg seketika berpengaruh meliberalisasi informasi dan ilmu pengetahuan yang semula hanya menjadi konsumsi golongan gereja. Alkitab kemudian banyak dicetak tersebar dengan gampang dan membuat lebih banyak orang membacanya. Bahkan ajaran atau kritik Martin Luther yang dikonsumsi terbatas oleh para rohaniawan, yang semula hanya dialamatkan untuk otoritas gereja ”bocor” ke publik luas. Gerakan protes menyeruak menolak kebijakan gereja, yang semua itu besar dipengaruhi alat cetak Gutenberg, sehingga akhirnya mengkonsolidasikan satu keimanan baru dalam sejarah kekristenan dunia yang kelak disebut sebagai Protestanisme.

***

Pak Mannyu’ adalah satpam sekolah ketika saya duduk di bangku sekolah menengah atas di Bulukumba. Ia tinggal jauh dari kota kecamatan sehingga membuatnya mesti tiba lebih pagi dibanding kepala sekolah sekalipun. Tugasnya tidak terbilang susah karena hanya memantau siapa siswa yang datang terlambat, sehingga jika sudah masuk jam sekolah gerbang yang ia jaga berhak ia tutup.

Bukan kisah Pak Mannyu’ yang akan saya ceritakan di sini, melainkan karena ia satu-satunya pihak yang memiliki akses langsung kepada satu alat cetak yang hanya ia sendiri yang tahu cara mengoperasikannya. Mesin itu disimpan dan dijaga secara seksama di dalam kamar pos jaga, tempat ia sering menghabiskan banyak waktu. Sekali-kali jika diperlukan barulah Pak Mannyu’ menjalankannya dengan memutar tuas engkol seperti sedang membuat kue dari alat pres terigu basah.

Mesin itu adalah alat cetak stensil tua yang telah copot plat bodinya, berwarna hitam karena telah tertutup banyak tinta karbo. Dilihat dari penampakannya, mesin itu sudah jauh lebih berumur dibandingkan usia anak sekolahan angkatan saat itu yang rata-rata lahir di pengakhiran puncak 80-an.

Lalu kapan mesin itu digunakan? Ketika mesin foto copy jauh lebih cepat menggandakan salinan, dan sudah dioperasikan di toko penjual alat-alat tulis depan sekolah, mesin itu lebih sering mencetak selembar surat yang sangat dibutuhkan siswa-siswa baperan atau yang berotak mirip ular.

Bagi siswa siswi baperan, yang tubuhnya sedikit-sedikit gampang terserang maag akan membutuhkan surat sakti yang hanya bisa diambil melalui mesin cetak Pak Mannyu’. Begitu pula siswa yang berotak ular juga menggunakan teknik yang sama agar mendapatkan selembar kertas yang bisa sesegera mungkin menjadi tiket keluar dari gerbang sekolah. Jika Pak Mannyu’ bersikeras, sebungkus rokok menjadi alat negosiasi yang jarang gagal dalam aksi tawar menawar.

Semua ini dilakukan tentu jika sudah bisa mengantongi tanda tangan guru BK, dengan sebelumnya meluluhkan hati Pak Mannyu’ agar menyalin surat izin dari kertas koran itu.

Tapi, bagi siswa yang lebih dari berotak ular tidak berpikiran seperti dua tipe siswa di atas. Mereka mengambil jalan nekat membajak surat sakti di waktu Pak Mannyu’ tidak berada di tempatnya. Itu artinya, tanpa izin dan tanpa sepengetahuan yang punya tugas, siswa jenis ini bisa menggandakan surat terkait sebebas-bebasnya dengan menjalanlan sendiri alat stensilnya. Membajak dengan sukaria.

***

Temuan mesin cetak Gutenberg ikut menentukan terjadinya reformasi gereja, dan mendorong kemunculan golongan free thinker yang saling melambungkan gagasannya di atas cetakan buku-buku. Berangsur-angsur dengan teknik percetakan yang semakin mapan, kegiatan tulis menulis tidak lagi dipandang sebagai dunia yang diliputi kesucian karena dianggap sebagai aktivitas spiritual, melainkan berubah menjadi kegiatan kerja manual. Bersamaan dengan itu aktivitas tulis menulis, peredaran buku-buku, dan kegiatan ilmiah di luar gereja, mendelegitimasi supremasi pengetahuan yang sebelumnya dipegang otoritas rohaniawan.

Itu artinya Eropa yang mengalami liberalisasi informasi turut menciptakan demokratisasi pengetahuan yang melahirkan keragaman dan keanekaan pengetahuan. Terutama dari golongan kelas menengah baru, peradaban Eropa kian melesat mencapai capaian-capaian pemikiran dan tatanan masyarakat yang lebih maju.

Milenium ke-3 revolusi Gutenberg tidak sama artinya dengan fenomena yang terjadi dalam dunia perbukuan kiwari, dalam arti sampai hari ini mesin-mesin percetakan tidak sepenuhnya bekerja demi menyanggupi kepentingan otoritas tertentu, sama saat ketika Gutenberg mencetak banyak Alkitab demi permintaan gereja. Mesin cetak hari ini dengan logika sedemikian rupa menjadi bagian dari lingkungan industri perbukuan yang jauh lebih luas.

Tapi sayang. Mesin cetak hanyalah alat produksi yang diperuntukkan berdasarkan kepentingan jaringan kerja yang berada di baliknya. Paling tidak secara terbuka revolusi Gutenberg terbelah menjadi dua kubu, yang masing-masing bekerja dengan motif dan caranya sendiri. Yang pertama, raungan mesin cetak yang bekerja di bawah institusi penulisan-penerbitan demi kelahiran suatu ekosistem perbukuan, sementara yang kedua adalah mereka yang membuat mesin cetak bekerja berdasarkan cara berpikir seorang obligat, yakni parasit yang menyedot keuntungan dari ekosistem yang sebelumnya sudah ada.

Yang pertama bekerja dengan asas legalitas, sementara yang kedua sama seperti kisah murid-murid Pak Mannyu’ di atas: membajak buku-buku seolah-olah merekalah wakil paling absah tempat para penulis  memberikan hak intelektualnya.

Ternyata, sejarah percetakan dan perbukuan tidak sepenuhnya mengindahkan filosofi revolusi alat cetak a la Gutenberg. Para obligat buku semakin merajalela sampai mendirikan imperium kokoh atas nama ”liberalisasi” ilmu pengetahuan.

Dalam suatu laporan kepolisian di Semarang, seorang pembajak  bisa menghasilkan 3 sampai 4 juta perbulan dari menduplikasi kamus karya John M. Echols dan Hassan Shadily, misalnya. Dari laporan yang sama, pekerjaan si tersangka ditunjang dengan alat cetak berupa print, plat master, dan copyan file buku bersangkutan, yang semuanya bisa dioperasikan hanya dengan satu orang saja.

Di tempat lain, di Jogja, sangat gampang mendapatkan buku-buku duplikat Pramoedya Ananta Toer dijual bebas di emperan toko kaki lima. Buku-buku Tere Liye, Muhiddin M Dahlan, Jalaluddin Rakhmat, hingga Emha Ainun Najib. Ini baru empat nama dengan masing-masing judul buku yang lebih dari satu.

Radar Jogja menyebutkan berdasarkan Juru bicara Konsorsium Penerbit Jogjakarta Hinu OS menuturkan, dari 13 penerbit yang tergabung mengalami kerugian sampai Rp 13 miliar. Angka yang tidak sedikit dari bisnis buku.

Dalam esai laporan ditulis Dea Anugrah via Tirto bertitel Berkebun di Tengkuk Penulis, berdasarkan Publishers Weekly, tahun 2006 sekitar 397 miliar rupiah berhasil menjadi pundi-pundi keuntungan pembajak buku dari menduplikasi antara lain semisal Kamus Indonesia-Inggris dan Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily, teks-teks perkuliahan rumpun sains dan teknologi, serta novel-novel populer seperti karya Dewi Lestari dan Habiburrahman El Shirazy.

Coba bayangkan berapa keuntungan jadah sekarang, dibandingkan 15 tahun lalu, yang dicuri para obligat buku? Berkali-kali lipatnya hanya bermodalkan mesin cetak, kertas murahan, copyan file, dan tinta yang mudah luntur. Semua itu dilakukan tanpa melalui prosedur umumnya percetakan buku.

Muhiddin M Dahlan dalam suatu pertemuan di Makassar tiga tahun lalu menyebutkan ada 15 langkah yang menjadi proses sebuah buku dari kali pertama masih menjadi ide penulis hingga sampai di tangan pembaca. 15 langkah ini tidak bisa dikatakan masa kerja yang sebentar karena melibatkan banyak pihak berupa editor, penata letak, desain sampul, pemeriksa aksara, hingga para pekerja kertas di pabrik percetakan. Langkah yang panjang ini hanya untuk melahirkan 1 cetakan yang berkualitas saja bisa sampai memakan waktu berbulan-bulan.

Berbeda dari itu, 15 langkah ini tidak dialami obligat buku. Melalui mesin cetak pembajak dipangkas hanya menjadi satu atau dua langkah saja, yakni mencetak dan mengemasnya. Dengan  cara culas itu, para pencuri hak cipta ini tak pelak telah merusak tatanan ekosistem dan semua alur industri perbukuan dengan menghapus peran penulis, editor, penata letak, sampai perancang sampul dan pemeriksa aksara. Mereka hanya menghadang proses kreatif mengerjakan buku di hilirnya saja, dengan bermodalkan mesin cetak atau bahkan mesin fotocopy.

***

Buku bajakan sekarang, yang dijual bebas sampai di pasar daring, tidak lahir melalui alat kepit kertas stensilan. Mesin stensil hanya kepingan cerita dari sejarah mesin cetak. Sekarang, satu bab mengenai kiprah mesin cetak lebih banyak diisi menyangkut pembajak buku. Mereka bergerak tanpa institusi penerbitan, bersembunyi dari penulis-penulis yang mereka duplikasi pemikirannya, dan bebas bertindak dari jerat aparat penegak hukum, tapi memiliki kemampuan finansial dan alat produksi cetak yang nyaris sama dengan penerbit asli.

Pembajakan buku sekarang telah menjadi pangsa pasar tersendiri. Pelan-pelan berkembang ditopang oleh modal raksasa, dan bisa jadi digerakkan oleh para pemain kelas kakap seperti yang dialami di Nigeria, kecuali di sini mereka bukanlah para bos bandar-bandar narkotika.