Mesin yang sebagian besarnya
terbuat dari logam itu justru sekilas menyerupai tiang-tiang kokoh alat pancung, yang biasa ditemui di alun-alun kerajaan untuk memotong tengkuk sang
pelanggar.
Cara kerja mesin temuan Gutenberg
kurang lebih sama seperti cara kerja alat tukang sablon saat mencetak
bentuk-bentuk di atas permukaan kain. Ada dua bidang yang dapat mengepit kertas
dengan plat logam yang berisi huruf-huruf, di mana sebelumnya bidang-bidang ini
ditempatkan sedemikan rupa pada alat press yang ada pada mesin cetak. Katup
press diputar searah jarum jam supaya alat press dapat bertemu dengan bidang
cetak sehingga tulisan dapat ditampilkan.
Mesin ini jauh lebih awet dari alat cetak di Cina yang sudah dipakai setelah abad ke-11 dengan hanya menggunakan plat huruf berasal dari tanah liat. Keunggulan mesin cetak Gutenberg adalah inovasinya saat menghasilkan cetakan yang lebih banyak, presisi, dan jenis tintanya yang terbuat dari minyak sehingga lebih tahan lama dibandingkan tinta berbahan air.
Konon, mesin Gutenberg ini ia
buat karena desakan hutang piutang yang mendorongnya mesti menulis surat
pemakluman kepada gereja. Dari pada menulis tangan, apalagi jenis font gothik
bersambung yang rawan salah saat itu, membuatnya menciptakan cetakan huruf dari
plat logam dan alat cetak yang mengandalkan kekuatan tekanan manusia itu.
Penemuan mesin cetak Gutenberg
seketika berpengaruh meliberalisasi informasi dan ilmu pengetahuan yang semula
hanya menjadi konsumsi golongan gereja. Alkitab kemudian banyak dicetak
tersebar dengan gampang dan membuat lebih banyak orang membacanya. Bahkan
ajaran atau kritik Martin Luther yang dikonsumsi terbatas oleh para rohaniawan,
yang semula hanya dialamatkan untuk otoritas gereja ”bocor” ke publik luas.
Gerakan protes menyeruak menolak kebijakan gereja, yang semua itu besar dipengaruhi
alat cetak Gutenberg, sehingga akhirnya mengkonsolidasikan satu keimanan baru
dalam sejarah kekristenan dunia yang kelak disebut sebagai Protestanisme.
***
Pak Mannyu’ adalah satpam sekolah
ketika saya duduk di bangku sekolah menengah atas di Bulukumba. Ia tinggal jauh
dari kota kecamatan sehingga membuatnya mesti tiba lebih pagi dibanding kepala
sekolah sekalipun. Tugasnya tidak terbilang susah karena hanya memantau siapa
siswa yang datang terlambat, sehingga jika sudah masuk jam sekolah gerbang yang
ia jaga berhak ia tutup.
Bukan kisah Pak Mannyu’ yang akan
saya ceritakan di sini, melainkan karena ia satu-satunya pihak yang memiliki
akses langsung kepada satu alat cetak yang hanya ia sendiri yang tahu cara
mengoperasikannya. Mesin itu disimpan dan dijaga secara seksama di dalam kamar
pos jaga, tempat ia sering menghabiskan banyak waktu. Sekali-kali jika
diperlukan barulah Pak Mannyu’ menjalankannya dengan memutar tuas engkol
seperti sedang membuat kue dari alat pres terigu basah.
Mesin itu adalah alat cetak
stensil tua yang telah copot plat bodinya, berwarna hitam karena telah tertutup
banyak tinta karbo. Dilihat dari penampakannya, mesin itu sudah jauh lebih
berumur dibandingkan usia anak sekolahan angkatan saat itu yang rata-rata lahir
di pengakhiran puncak 80-an.
Lalu kapan mesin itu digunakan?
Ketika mesin foto copy jauh lebih cepat menggandakan salinan, dan sudah
dioperasikan di toko penjual alat-alat tulis depan sekolah, mesin itu lebih
sering mencetak selembar surat yang sangat dibutuhkan siswa-siswa baperan atau
yang berotak mirip ular.
Bagi siswa siswi baperan, yang
tubuhnya sedikit-sedikit gampang terserang maag akan membutuhkan surat sakti
yang hanya bisa diambil melalui mesin cetak Pak Mannyu’. Begitu pula siswa yang
berotak ular juga menggunakan teknik yang sama agar mendapatkan selembar kertas
yang bisa sesegera mungkin menjadi tiket keluar dari gerbang sekolah. Jika Pak
Mannyu’ bersikeras, sebungkus rokok menjadi alat negosiasi yang jarang gagal
dalam aksi tawar menawar.
Semua ini dilakukan tentu jika
sudah bisa mengantongi tanda tangan guru BK, dengan sebelumnya meluluhkan hati
Pak Mannyu’ agar menyalin surat izin dari kertas koran itu.
Tapi, bagi siswa yang lebih dari
berotak ular tidak berpikiran seperti dua tipe siswa di atas. Mereka mengambil
jalan nekat membajak surat sakti di waktu Pak Mannyu’ tidak berada di tempatnya.
Itu artinya, tanpa izin dan tanpa sepengetahuan yang punya tugas, siswa jenis
ini bisa menggandakan surat terkait sebebas-bebasnya dengan menjalanlan sendiri
alat stensilnya. Membajak dengan sukaria.
***
Temuan mesin cetak Gutenberg ikut
menentukan terjadinya reformasi gereja, dan mendorong kemunculan golongan free thinker yang saling melambungkan
gagasannya di atas cetakan buku-buku. Berangsur-angsur dengan teknik percetakan
yang semakin mapan, kegiatan tulis menulis tidak lagi dipandang sebagai dunia
yang diliputi kesucian karena dianggap sebagai aktivitas spiritual, melainkan
berubah menjadi kegiatan kerja manual. Bersamaan dengan itu aktivitas tulis menulis,
peredaran buku-buku, dan kegiatan ilmiah di luar gereja, mendelegitimasi
supremasi pengetahuan yang sebelumnya dipegang otoritas rohaniawan.
Itu artinya Eropa yang mengalami
liberalisasi informasi turut menciptakan demokratisasi pengetahuan yang
melahirkan keragaman dan keanekaan pengetahuan. Terutama dari golongan kelas menengah
baru, peradaban Eropa kian melesat mencapai capaian-capaian pemikiran dan
tatanan masyarakat yang lebih maju.
Milenium ke-3 revolusi Gutenberg
tidak sama artinya dengan fenomena yang terjadi dalam dunia perbukuan kiwari,
dalam arti sampai hari ini mesin-mesin percetakan tidak sepenuhnya bekerja demi
menyanggupi kepentingan otoritas tertentu, sama saat ketika Gutenberg mencetak banyak
Alkitab demi permintaan gereja. Mesin cetak hari ini dengan logika sedemikian
rupa menjadi bagian dari lingkungan industri perbukuan yang jauh lebih luas.
Tapi sayang. Mesin cetak hanyalah
alat produksi yang diperuntukkan berdasarkan kepentingan jaringan kerja yang
berada di baliknya. Paling tidak secara terbuka revolusi Gutenberg terbelah
menjadi dua kubu, yang masing-masing bekerja dengan motif dan caranya sendiri.
Yang pertama, raungan mesin cetak yang bekerja di bawah institusi penulisan-penerbitan
demi kelahiran suatu ekosistem perbukuan, sementara yang kedua adalah mereka yang membuat
mesin cetak bekerja berdasarkan cara berpikir seorang obligat, yakni parasit
yang menyedot keuntungan dari ekosistem yang sebelumnya sudah ada.
Yang pertama bekerja dengan asas
legalitas, sementara yang kedua sama seperti kisah murid-murid Pak Mannyu’ di
atas: membajak buku-buku seolah-olah merekalah wakil paling absah tempat para penulis memberikan hak intelektualnya.
Ternyata, sejarah percetakan dan
perbukuan tidak sepenuhnya mengindahkan filosofi revolusi alat cetak a la Gutenberg. Para obligat buku
semakin merajalela sampai mendirikan imperium kokoh atas nama ”liberalisasi”
ilmu pengetahuan.
Dalam suatu laporan kepolisian di
Semarang, seorang pembajak bisa menghasilkan
3 sampai 4 juta perbulan dari menduplikasi kamus karya John M. Echols dan
Hassan Shadily, misalnya. Dari laporan yang sama, pekerjaan si tersangka
ditunjang dengan alat cetak berupa print, plat master, dan copyan file buku
bersangkutan, yang semuanya bisa dioperasikan hanya dengan satu orang saja.
Di tempat lain, di Jogja, sangat
gampang mendapatkan buku-buku duplikat Pramoedya Ananta Toer dijual bebas di
emperan toko kaki lima. Buku-buku Tere Liye, Muhiddin M Dahlan, Jalaluddin
Rakhmat, hingga Emha Ainun Najib. Ini baru empat nama dengan masing-masing
judul buku yang lebih dari satu.
Radar Jogja menyebutkan
berdasarkan Juru bicara Konsorsium Penerbit Jogjakarta Hinu OS menuturkan, dari
13 penerbit yang tergabung mengalami kerugian sampai Rp 13 miliar. Angka yang
tidak sedikit dari bisnis buku.
Dalam esai laporan ditulis Dea
Anugrah via Tirto bertitel Berkebun di Tengkuk Penulis, berdasarkan Publishers
Weekly, tahun 2006 sekitar 397 miliar rupiah berhasil menjadi pundi-pundi
keuntungan pembajak buku dari menduplikasi antara lain semisal Kamus
Indonesia-Inggris dan Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan
Shadily, teks-teks perkuliahan rumpun sains dan teknologi, serta novel-novel
populer seperti karya Dewi Lestari dan Habiburrahman El Shirazy.
Coba bayangkan berapa keuntungan
jadah sekarang, dibandingkan 15 tahun lalu, yang dicuri para obligat buku?
Berkali-kali lipatnya hanya bermodalkan mesin cetak, kertas murahan, copyan file, dan
tinta yang mudah luntur. Semua itu dilakukan tanpa melalui prosedur umumnya
percetakan buku.
Muhiddin M Dahlan dalam suatu
pertemuan di Makassar tiga tahun lalu menyebutkan ada 15 langkah yang menjadi
proses sebuah buku dari kali pertama masih menjadi ide penulis hingga sampai di
tangan pembaca. 15 langkah ini tidak bisa dikatakan masa kerja yang sebentar
karena melibatkan banyak pihak berupa editor, penata letak, desain sampul,
pemeriksa aksara, hingga para pekerja kertas di pabrik percetakan. Langkah yang
panjang ini hanya untuk melahirkan 1 cetakan yang berkualitas saja bisa sampai memakan waktu berbulan-bulan.
Berbeda dari itu, 15 langkah ini
tidak dialami obligat buku. Melalui mesin cetak pembajak dipangkas hanya
menjadi satu atau dua langkah saja, yakni mencetak dan mengemasnya. Dengan cara culas itu, para pencuri hak cipta ini
tak pelak telah merusak tatanan ekosistem dan semua alur industri perbukuan dengan
menghapus peran penulis, editor, penata letak, sampai perancang sampul dan
pemeriksa aksara. Mereka hanya menghadang proses kreatif mengerjakan buku di
hilirnya saja, dengan bermodalkan mesin cetak atau bahkan mesin fotocopy.
***
Buku bajakan sekarang, yang
dijual bebas sampai di pasar daring, tidak lahir melalui alat kepit kertas
stensilan. Mesin stensil hanya kepingan cerita dari sejarah mesin cetak.
Sekarang, satu bab mengenai kiprah mesin cetak lebih banyak diisi menyangkut
pembajak buku. Mereka bergerak tanpa institusi penerbitan, bersembunyi dari
penulis-penulis yang mereka duplikasi pemikirannya, dan bebas bertindak dari
jerat aparat penegak hukum, tapi memiliki kemampuan finansial dan alat produksi
cetak yang nyaris sama dengan penerbit asli.
Pembajakan buku sekarang telah menjadi pangsa pasar tersendiri. Pelan-pelan berkembang ditopang oleh modal raksasa, dan bisa jadi digerakkan oleh para pemain kelas kakap seperti yang dialami di Nigeria, kecuali di sini mereka bukanlah para bos bandar-bandar narkotika.