Senin, 17 Mei 2021

Tiada Hari Buku di Bumi Palestina (Catatan Hari Buku Nasional, 17 Mei 2021)


DI BUMI Palestina, buku-buku masih kalah memikat dibandingkan batu, ketapel, atau bahkan bom molotov. Di dunia berbeda, yang itu berarti suatu tempat ketika perang hanya jadi berita ketimbang kenyataan, buku adalah tanda peradaban.

Tanda peradaban, di Palestina, tidak selamanya ditransformasikan dari pagina buku-buku semata, melainkan melalui tiga benda di atas tadi itu. Dengan batu, dan kedua perkakasnya: ketapel, dan bom molotov, kehidupan Palestina berusaha bertahan dari agresi dan aneksasi, siapa lagi kalau bukan dari Israel—bangsa zionis yang bernegara tanpa pernah memiliki sejarah perjuangan tanah air.

Seolah-olah, bagi warga Palestina, batu dan bom-lah pondasi sejati kehidupan mereka. Dalam arti literal, batu dan bom jauh lebih praktis dan berpengaruh langsung untuk menghentikan gerigi roda tank dan gempuran tentara Israel.

Adalah perang yang mengakibatkan demikian. Yang membuat sekolah-sekolah di Palestina juga menjadi ajang perang urat syaraf, untuk mengkondisikan basis pengetahuan dan sejarah Israel. Di kawasan Palestina yang dikuasai Israel, sekolah dapat saja dibongkar seketika hanya karena perbedaan kurikulum yang digunakan bukan berdasarkan kurikulum Israel.

Berdasarkan laporan Commission of the Churches on International Affairs (CCIA) (2013), kondisi pendidikan anak-anak Palestina mengalami krisis edukasi. Pelecehan seksual di pos penjagaan, trauma, stress, penutupan akses belajar, penahanan anak, pembatasan sosial, dan kerusakan properti sekolah merupakan masalah krusial yang merendahkan kualitas pendidikan anak-anak Palestina.

Masih berdasarkan laporan CCIA, dampak berkepanjangan dari itu semua adalah tidak sedikit anak putus sekolah, penurunan waktu belajar masuk sekolah dan kualitas pembelajaran, serta ketakutan keluarga atas nasib pengetahuan anak-anak mereka. Bagi anak-anak perempuan, pengaruhnya jauh lebih parah lagi. Akibat banyak menjadi korban pelecehan seksual membuat banyak di antaranya berhenti bersekolah lantaran trauma dan depresi.

Lalu, bagaimana nasib buku-buku dalam tindak kolonialisasi macam dilakukan Israel itu?

Sensor!

Sama seperti cara Google menghapus redaksi ”Palestina” dari peta maya beberapa tahun lalu, melalui kementerian pendidikan Israel, semua peredaran buku di bawah rezim kolonialisme menghilangkan seluruh petunjuk, simbol, data, kata, dan informasi berkaitan pengetahuan yang menguntungkan Palestina di halaman-halaman buku pelajaran.

Dengan cara yang hampir sama, sensor ini dimaksudkan juga demi menciptakan perangkat moral menyangkut penentuan apa yang boleh dan tidak boleh dipelajari, dibicarakan, dan dilakukan selama menggunakan kurikulum versi penguasa.

Di Palestina, konfirmasi menyangkut relasi kekuasaan dengan pengetahuan bekerja secara radikal dan ekstrim. Tujuannya, selain untuk melegitimasi keberadaan Israel di Palestina, tiada lain tiada bukan, demi membentuk ulang historiografi asal usul bangsa Israel sebagai bangsa pertama yang  paling berhak menentukan takdir hidup matinya Palestina.

Penghancuran suatu komunitas masyarakat, atau bahkan peradabannya,  bukan saja melenyapkan secara sistematis kehidupannya itu sendiri, melainkan jauh lebih keji dari itu adalah menghilangkan apa-apa saja yang berkaitan langsung dengan sumber daya pengetahuan suatu masyarakat. 

Banyak kasus, dalam hal genosida juga berlaku bibliosida, yakni penghilangan paksa buku-buku, perpustakaan, dan sekolah yang mengakibatkan bisa lenyapnya suatu peradaban. 

Dalam konteks Palestina, kolonialisme tidak akan mungkin langgeng dalam waktu lama jika tidak didasarkan kepada pelenyapan basis-basis pengetahuan masyarakat setempat. 

Dengan kata lain, dalam setiap penguasaan tanah koloni terjadi pula penguasaan pikiran masyarakat terjajah. 

Itu artinya, genosida yang membumihanguskan penduduk asli Palestina, tidak serta merta dilakukan melalui serangan militer belaka, tapi dikerjakan juga melalui legitimasi dimensi kebudayaan, untuk menciptakan ulang identitas baru warga Arab-Israel.

Buku dapat mengubah takdir hidup orang-orang, kata Carlos María Domínguez, penulis novelet Rumah Kertas, yang sepenuhnya bekerja dengan intimidatif dan sistematis di tempat-tempat terjajah tidak terkecuali Palestina.

Habitus warga Palestina secara bertahun-tahun adalah situasi perang, yang tidak memungkinkan terciptanya kondisi stabil dalam waktu yang lama. Untuk konteks Palestina, perang berpola ”obat nyamuk” menyebabkan situasi tak berbatas untuk saling membalas susul menyusul kekerasan, dan begitu seterusnya.

Itu artinya spiral kekerasan perang, mau tidak mau membentuk tatanan psiko-kolektif yang membuat orang-orang Palestina, dibandingkan penduduk di belahan bumi lain, lebih akrab dengan kekerasan, dan juga korban perang.

Anda mungkin pernah melihat betapa emosional dan sekaligus fasihnya bocah-bocah Palestina dalam satu dua video berbicara menyangkut perasaan mereka terhadap Israel. Dalam video-video semacam itu, anak-anak yang tumbuh dalam kondisi perang memiliki urat syaraf lebih tegang dibandingkan dengan anak seusianya yang hidup di tempat lain.

Saya bisa membandingkan kosa kata anak saya, Banu, meskipun baru menjelang tiga tahun, dengan anak Palestina seusianya yang lebih banyak mendengar kata-kata dalam termin kekerasan ketimbang lainnya, akan berbeda saat menangkap dan melihat dunia.

Seorang aktivis pendidikan Jane (saya membacanya di buku Roem Topatimasang yang terkenal itu: Sekolah itu Candu), mengatakan  anak-anak Palestina yang hidup dalam kawasan perang,  tumbuh secara tidak normal dibandingkan anak-anak lainnya di dunia. Mereka berkembang kehilangan masa keriangan dan kegembiraann selayaknya anak-anak yang lebih normal.

Kekerasan perang, dengan kata lain, telah mengubah cara merasa, cara berpikir, serta cara bertindak anak-anak Palestina. Bahkan, karena semua itu, kelak jika mereka dewasa sikap ramah jadi jarang ditemukan karena perang ikut membentuk empati mereka.  

Mereka, kata Jane, dalam hubungannya dengan pendidikan, juga enggan bersekolah dan lebih senang diberikan senjata atau jika mesti bersekolah di tenda-tenda pengungsian, mesti diajari cara merakit bom, strategi taktik perang, teknik sabotase, atau latihan para-militer. Mereka lebih mudah diajak berjuang, daripada duduk manis di kelas mendengarkan pelajaran tentang puisi, matematika, atau astronomi.

Jane bersaksi, suatu waktu bangsa Palestina akan merdeka, entah dengan kegigihannya berjuang, dan atau tekanan internasional—yang sebagian negara masih hitung-hitungan memperjuangkannya—tapi, di waktu itu, bangsa Palestina akan menghadapi kenyataan pahit berupa anak-anak mereka yang dinilai lebih mencintai perang daripada hal lainnya.

***

Hari Buku Nasional yang jatuh ditangal 17 Mei 2021, mengingat kondisi semisal Palestina, akan menjadi demikian ganjil jika bukan tragis. Buku-buku, tidak tercipta dari bahan yang tahan gempuran atau panas api, yang dalam situasi kecamuk penuh ledakan bom rudal merupakan benda yang juga paling terancam.

Di negeri sendiri yang beriklim tropis tidak memungkinkan menyimpan buku dalam jangka waktu lama. Belum juga jika serangan rayap dan juga air banjir yang kerap membuat repot perpustakaan dan rumah-rumah penikmat buku.

Tapi, itu semua masih kurang terancam dari luahan sengat api roket yang bisa saja melenyapkan seketika punggung isi buku-buku dari tempat seharusnya.

Di kawasan semacam Tepi Barat, dan jalur Gaza, buku belum maksimal menjadi alat perang mutakhir semisal di negara maju dan modern yang menjadikannya sebagai palang pintu untuk memerangi kekurangan informasi, hoaks, dan percepatan naiknya grafik indeks sumber daya  manusia.

Perang, atau, konflik, tapi lebih tepat disebut aneksasi dan kolonialisme, yang terjadi di Palestina merupakan jenis serangan yang sama ketika pertama kali umat manusia menentukan di mana kawasan pastinya untuk hidup secara permanen, dengan cara merebut wilayah penduduk asli. 

Bisa dikata, jika di tempat-tempat lain kolonialisme telah bertransformasi menjadi gaya baru, relasi penjajahan di Palestina masih menunjukkan gaya penjajahan model lama dengan dominan bergaya fisik dan langsung. 

Dapat dipahami, mengapa itu terjadi oleh sebab Israel sama dengan pembentuknya, yakni penjajah tua seperti Inggris apalagi Amerika Serikat, yang menyerobot dan menyapu bersih penduduk asli ketika mereka pertama kali datang sebagai orang buangan di Amerika. 

Dalam situasi semacam itu, perjuangan demi mencapai ideal-ideal abstrak berupa ilmu-pengetahuan, informasi, dan kebahagiaan, masih kalah prioritas dibanding perjuangan mendapatkan tanah, air bersih, dan  tempat tinggal.

Itu sebabnya, dengan latar belakang demikian,  buku-buku masih kalah praktis dibanding senjata, sekolah kalah memikat dengan belajar teknik sabotase, dan doa dan berjuang lebih utama daripada kongkow and the gang, yang dilakukan hanya untuk menyesap kopi demi aktualisasi diri.

Semua itu masih jauh dari kehidupan normal seperti kita rasakan sekarang ini.

Syahdan, di luar dari itu semua, bulan Mei bagi Indonesia juga menjadi lebih bersejarah pasca terjadinya turun paksa Orde Baru yang diumumkan Soeharto 21 Mei 1998. Dalam sejarah Indonesia juga terdapat amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945 untuk ikut berperan aktif dalam menciptakan perdamaian abadi dengan kemerdekaan bangsa terjajah.

Jadi klop sudah di bulan Mei ini: Hari Buku Nasional, peringatan Hari Reformasi, dan gejolak perlawanan Palestina terhadap bangsa agresor Israel. Dari buku, reformasi, dan..ah Revolusi! 

Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei 2021, dan Kemerdekaan untuk Palestina!