Tanda
peradaban, di Palestina, tidak selamanya ditransformasikan dari pagina buku-buku semata, melainkan melalui tiga benda
di atas tadi itu. Dengan batu, dan kedua perkakasnya: ketapel, dan bom molotov,
kehidupan Palestina berusaha bertahan dari agresi dan aneksasi, siapa lagi
kalau bukan dari Israel—bangsa zionis yang bernegara tanpa pernah memiliki
sejarah perjuangan tanah air.
Seolah-olah,
bagi warga Palestina, batu dan bom-lah pondasi sejati kehidupan mereka. Dalam arti
literal, batu dan bom jauh lebih praktis dan berpengaruh langsung untuk menghentikan gerigi
roda tank dan gempuran tentara Israel.
Adalah
perang yang mengakibatkan demikian. Yang membuat sekolah-sekolah di Palestina
juga menjadi ajang perang urat syaraf, untuk mengkondisikan basis pengetahuan
dan sejarah Israel. Di kawasan Palestina yang dikuasai Israel, sekolah dapat
saja dibongkar seketika hanya karena perbedaan kurikulum yang digunakan bukan
berdasarkan kurikulum Israel.
Berdasarkan
laporan Commission of the Churches on International Affairs (CCIA) (2013),
kondisi pendidikan anak-anak Palestina mengalami krisis edukasi. Pelecehan
seksual di pos penjagaan, trauma, stress, penutupan akses belajar, penahanan
anak, pembatasan sosial, dan kerusakan properti sekolah merupakan masalah
krusial yang merendahkan kualitas pendidikan anak-anak Palestina.
Masih
berdasarkan laporan CCIA, dampak berkepanjangan dari itu semua adalah tidak
sedikit anak putus sekolah, penurunan waktu belajar masuk sekolah dan kualitas
pembelajaran, serta ketakutan keluarga atas nasib pengetahuan anak-anak mereka.
Bagi anak-anak perempuan, pengaruhnya jauh lebih parah lagi. Akibat banyak
menjadi korban pelecehan seksual membuat banyak di antaranya berhenti bersekolah
lantaran trauma dan depresi.
Lalu,
bagaimana nasib buku-buku dalam tindak kolonialisasi macam dilakukan Israel
itu?
Sensor!
Sama
seperti cara Google menghapus redaksi ”Palestina” dari peta maya beberapa tahun
lalu, melalui kementerian pendidikan Israel, semua peredaran buku di bawah rezim kolonialisme menghilangkan
seluruh petunjuk, simbol, data, kata, dan informasi berkaitan pengetahuan yang
menguntungkan Palestina di halaman-halaman buku pelajaran.
Dengan
cara yang hampir sama, sensor ini dimaksudkan juga demi menciptakan perangkat
moral menyangkut penentuan apa yang boleh dan tidak boleh dipelajari, dibicarakan,
dan dilakukan selama menggunakan kurikulum versi penguasa.
Di Palestina, konfirmasi menyangkut relasi kekuasaan dengan pengetahuan bekerja secara radikal dan ekstrim. Tujuannya, selain untuk melegitimasi keberadaan Israel di Palestina, tiada lain tiada bukan, demi membentuk ulang historiografi asal usul bangsa Israel sebagai bangsa pertama yang paling berhak menentukan takdir hidup matinya Palestina.
Penghancuran suatu komunitas masyarakat, atau bahkan peradabannya, bukan saja melenyapkan secara sistematis kehidupannya itu sendiri, melainkan jauh lebih keji dari itu adalah menghilangkan apa-apa saja yang berkaitan langsung dengan sumber daya pengetahuan suatu masyarakat.
Banyak kasus, dalam hal genosida juga berlaku bibliosida, yakni penghilangan paksa buku-buku, perpustakaan, dan sekolah yang mengakibatkan bisa lenyapnya suatu peradaban.
Dalam konteks Palestina, kolonialisme tidak akan mungkin langgeng dalam waktu lama jika tidak didasarkan kepada pelenyapan basis-basis pengetahuan masyarakat setempat.
Dengan kata lain, dalam setiap penguasaan tanah koloni terjadi pula penguasaan pikiran masyarakat terjajah.
Itu
artinya, genosida yang membumihanguskan penduduk asli Palestina, tidak serta
merta dilakukan melalui serangan militer belaka, tapi dikerjakan juga melalui legitimasi
dimensi kebudayaan, untuk menciptakan ulang identitas baru warga Arab-Israel.
Buku
dapat mengubah takdir hidup orang-orang, kata Carlos María Domínguez, penulis novelet Rumah
Kertas, yang sepenuhnya bekerja dengan intimidatif dan sistematis di
tempat-tempat terjajah tidak terkecuali Palestina.
Habitus
warga Palestina secara bertahun-tahun adalah situasi perang, yang tidak memungkinkan
terciptanya kondisi stabil dalam waktu yang lama. Untuk konteks Palestina, perang
berpola ”obat nyamuk” menyebabkan situasi tak berbatas untuk saling membalas
susul menyusul kekerasan, dan begitu seterusnya.
Itu
artinya spiral kekerasan perang, mau tidak mau membentuk tatanan psiko-kolektif
yang membuat orang-orang Palestina, dibandingkan penduduk di belahan bumi lain,
lebih akrab dengan kekerasan, dan juga korban perang.
Anda
mungkin pernah melihat betapa emosional dan sekaligus fasihnya bocah-bocah
Palestina dalam satu dua video berbicara menyangkut perasaan mereka terhadap
Israel. Dalam video-video semacam itu, anak-anak yang tumbuh dalam kondisi
perang memiliki urat syaraf lebih tegang dibandingkan dengan anak
seusianya yang hidup di tempat lain.
Saya
bisa membandingkan kosa kata anak saya, Banu, meskipun baru menjelang tiga
tahun, dengan anak Palestina seusianya yang lebih banyak mendengar kata-kata
dalam termin kekerasan ketimbang lainnya, akan berbeda saat menangkap dan melihat dunia.
Seorang
aktivis pendidikan Jane (saya membacanya di buku Roem Topatimasang yang
terkenal itu: Sekolah itu Candu),
mengatakan anak-anak Palestina yang
hidup dalam kawasan perang, tumbuh secara
tidak normal dibandingkan anak-anak lainnya di dunia. Mereka berkembang kehilangan
masa keriangan dan kegembiraann selayaknya anak-anak yang lebih
normal.
Kekerasan
perang, dengan kata lain, telah mengubah cara merasa, cara berpikir, serta cara
bertindak anak-anak Palestina. Bahkan, karena semua itu, kelak jika mereka
dewasa sikap ramah jadi jarang ditemukan karena perang ikut membentuk empati
mereka.
Mereka,
kata Jane, dalam hubungannya dengan pendidikan, juga enggan bersekolah dan
lebih senang diberikan senjata atau jika mesti bersekolah di tenda-tenda
pengungsian, mesti diajari cara merakit bom, strategi taktik perang, teknik
sabotase, atau latihan para-militer. Mereka lebih mudah diajak berjuang,
daripada duduk manis di kelas mendengarkan pelajaran tentang puisi, matematika,
atau astronomi.
Jane
bersaksi, suatu waktu bangsa Palestina akan merdeka, entah dengan kegigihannya
berjuang, dan atau tekanan internasional—yang sebagian negara masih
hitung-hitungan memperjuangkannya—tapi, di waktu itu, bangsa Palestina akan
menghadapi kenyataan pahit berupa anak-anak mereka yang dinilai lebih mencintai
perang daripada hal lainnya.
***
Hari
Buku Nasional yang jatuh ditangal 17 Mei 2021, mengingat kondisi semisal
Palestina, akan menjadi demikian ganjil jika bukan tragis. Buku-buku, tidak
tercipta dari bahan yang tahan gempuran atau panas api, yang dalam situasi
kecamuk penuh ledakan bom rudal merupakan benda yang juga paling terancam.
Di
negeri sendiri yang beriklim tropis tidak memungkinkan menyimpan buku dalam
jangka waktu lama. Belum juga jika serangan rayap dan juga air banjir yang
kerap membuat repot perpustakaan dan rumah-rumah penikmat buku.
Tapi,
itu semua masih kurang terancam dari luahan sengat api roket yang bisa saja melenyapkan
seketika punggung isi buku-buku dari tempat seharusnya.
Di
kawasan semacam Tepi Barat, dan jalur Gaza, buku belum maksimal menjadi alat
perang mutakhir semisal di negara maju dan modern yang menjadikannya sebagai
palang pintu untuk memerangi kekurangan informasi, hoaks, dan percepatan
naiknya grafik indeks sumber daya manusia.
Perang, atau, konflik, tapi lebih tepat disebut aneksasi dan kolonialisme, yang terjadi di Palestina merupakan jenis serangan yang sama ketika pertama kali umat manusia menentukan di mana kawasan pastinya untuk hidup secara permanen, dengan cara merebut wilayah penduduk asli.
Bisa dikata, jika di tempat-tempat lain kolonialisme telah bertransformasi menjadi gaya baru, relasi penjajahan di Palestina masih menunjukkan gaya penjajahan model lama dengan dominan bergaya fisik dan langsung.
Dapat dipahami, mengapa itu terjadi oleh sebab Israel sama dengan pembentuknya, yakni penjajah tua seperti Inggris apalagi Amerika Serikat, yang menyerobot dan menyapu bersih penduduk asli ketika mereka pertama kali datang sebagai orang buangan di Amerika.
Dalam
situasi semacam itu, perjuangan demi mencapai ideal-ideal abstrak berupa ilmu-pengetahuan,
informasi, dan kebahagiaan, masih kalah prioritas dibanding perjuangan
mendapatkan tanah, air bersih, dan
tempat tinggal.
Itu
sebabnya, dengan latar belakang demikian,
buku-buku masih kalah praktis dibanding senjata, sekolah kalah memikat
dengan belajar teknik sabotase, dan doa dan berjuang lebih utama daripada
kongkow and the gang, yang dilakukan hanya
untuk menyesap kopi demi aktualisasi diri.
Semua
itu masih jauh dari kehidupan normal seperti kita rasakan sekarang ini.
Syahdan,
di luar dari itu semua, bulan Mei bagi Indonesia juga menjadi lebih bersejarah
pasca terjadinya turun paksa Orde Baru yang diumumkan Soeharto 21 Mei 1998.
Dalam sejarah Indonesia juga terdapat amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD
1945 untuk ikut berperan aktif dalam menciptakan perdamaian abadi dengan
kemerdekaan bangsa terjajah.
Jadi
klop sudah di bulan Mei ini: Hari Buku Nasional, peringatan Hari Reformasi, dan
gejolak perlawanan Palestina terhadap bangsa agresor Israel. Dari buku,
reformasi, dan..ah Revolusi!
Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei 2021, dan Kemerdekaan untuk Palestina!