Saya menduga, awalnya, dengan selempang
Palestina melilit lehernya itu, bakal ia jadikan isi khotbah Jumatnya. Tapi, kejadiannya
sama sekali berbeda. Tidak ada khotbah berisi kritik terhadap Israel, yang menyorot kolonisasi dialami Palestina lebih setengah abad. Menyebutnya dalam satu frase kalimat saja
tidak. Akhirnya, menurut saya, khotbah itu antiklimaks, meski ini terjadi jauh
di pelosok desa di wilayah pegunungan tinggi Sulawesi Barat.
Tapi, saat salat Jumat, melihat pengkotbah
dengan selendang bangsa Palestina itu adalah peristiwa unik. Mungkin satu di
antara ribuan atau jutaan da’i di negeri ini. Ia meskipun hanya secarik kain,
masih kurang aneh ketimbang sebagian negeri-negeri Timur Tengah yang dingin, dan diam atas
nasib Palestina. Walau tak bersuara, dan hanya karena itu kain, setidak-tidaknya tetap bisa menjadi
simbol, memberikan semacam isyarat kepada jemaahnya agar jangan melupakan
Palestina. Suatu bangsa abad ini yang paling sering menghadapi agresi militer
sampai detik ini.
Jika saja bukan takdir Tuhan (meskipun ini bukan sepenuhnya soal takdir semata), dengan tiga macam
doa oleh khotbah di atas, sudah cukup bagi bangsa Palestina dapat meraih
kemenangan. Tiga syarat (empat bahkan) agar doa gampang diijabah dipenuhi
semuanya oleh penduduk Palestina, menjadi asbab agar takdir kekalahan Israel
terwujud secepat mungkin.
Penduduk Palestina saat ini tak kunjung putus mengalami kezaliman, banyak di antara warganya menjadi eskodus terusir
paksa dari tanah kelahirannya, dan sekarang sebagiannya sedang menjalani ibadah puasa. Bukan tidak mungkin dengan sekali angkat
menengadahkan tangan ke atas untuk kehancuran Israel, menjadi
doa makbul. Perlu juga ditambahkan, seperti bangsa lain, sekarang ini warga Palestina juga sedang
mati-matian melawan korona. Sesungguhnya orang sakit sangat dekat dengan Tuhannya.
Tapi, do’a bukan bagai remote televisi, seketika dapat mengubah saluran tayangan yang tidak diinginkan. Tuhan tidak
bisa didikte agar sesegera mungkin mengabulkan permintaan do'a-do'a umatnya. Doa tidak sama seperti lampu
Aladdin, kata Jalaluddin Rakhmat.
Tentu saja, di atas semua itu, telah banyak ikhtiar dilakukan penduduk Palestina, sampai seringkali kita menyaksikan keberanian banyak orang, tua dan muda, laki-laki dan perempuan yang melakukan perlawanan meski hanya menggunakan kerikil batu. Apalah arti jika
semua doa dengan gampang diijabah Tuhan? Apalah arti keringat, darah,
perjuangan, dan tentu juga, kesabaran bagi penduduk Palestina jika bukan ada nilai tertentu dari kejadian semua itu?
Di tanah air baru-baru ini, jagad da’i jadi
panggung ajang serang setelah seorang da’i berdiri di atas mimbar gereja
mengisi orasi budaya dalam peresmian GBI Amanat Agung, Penjaringan, Jakarta
Utara, Kamis lalu. Setelah itu bermunculan da’i lain yang kontra pendapat atas
kejadian itu. Seorang da'i bahkan masih menyebut tanda salib sebagai berhala,
seolah-olah ia mendefinisikan gereja itu sebagai sarang paganisme.
Seperti biasa, soal semacam ini akan menyoal
haram-halalnya sesuatu, dan tentu saja publik akan digiring untuk saling
kecam dan debat unfaedah.
Kekisruhan ini, tidak sepenting Palestina, yang
karena isu itu membuat publik disedot limbo informasi tak bermakna. Dibandingkan pendudukan seperti dialami Palestina, apakah masih
relevan debat ciptaan media itu untuk kondisi Palestina?
Tentu bukan saja Palestina, di dalam negeri
masih banyak tindakan kolonisasi dan militerisme yang mengagresi anak bangsa
sendiri. Papua adalah contoh faktualnya, sama seperti negeri Thailand, Yaman
dan Suriah yang selama ini menjadi negeri paling tidak aman untuk dikunjungi.
Israel adalah simbol terorisme global dalam
bentuk yang paling harfiah. Negara yang tidak lebih luas dari setengah luas
Sulawesi Selatan ini, identik dengan koloni kutu rambut menghisap saripati
kepala penduduk Palestina. Anda tahu, cara kerja seekor kutu? Cukup hanya satu
ekor betina dalam jangka waktu lima pekan, dengan koloninya sudah mampu membuat
hidup anda tersiksa.
Tapi, Israel tidak seperti kutu rambut, ia
adalah vampire penghisap darah umat manusia. Dengan dua taringnya (PBB dan
Inggris/AS), ia memburu rakyat Palestina sama seperti sedang berburu rusa.
Tanpa perasaan membabi buta menyerang penduduknya, dan seolah-olah itulah
kemuliaan untuk mendapatkan wilayah yang lebih luas lagi.
Meski Israel adalah vampire, ia drakula yang
tidak pernah tidur. Setiap detik setiap saat kejahatannya dilakukan melalui
popor senjata. Di tingkatan elite, ia bebas membenarkan tindakannya karena
mendapatkan dukungan negara-negara sekutunya.
Untuk saat ini, Palestina adalah cermin
anonimitas kita, yang tidak mengenalnya dengan baik walaupun tiap saat vampire
Israel melakukan kejahatannya secara membabi buta dan terang-terangan.
Untuk saat ini, seluruh perjuangan umat manusia
mesti mengerahkan perhatiannya kepada wilayah seperti Palestina, yang terjajah
dan terusir, yang terampas dan jadi ampas Israel.
Suatu masa, tidak seperti celengan umat yang
bertransformasi menjadi dana teroris, khotbah para da’i mesti lebih radikal
dari hanya sebatas soal praktik ibadah belaka.
Dalam pengalaman saya, sorban Palestina sang
da’i tadi, di masa akan datang tidak sekadar menjadi syal semata lagi.
Selamat Yaumul Quds. Pembebasan untuk
Palestina.