Minggu, 09 Mei 2021

Khotbah Jumat, Palestina, dan Vampire Israel


SEORANG KHATIB Jumat naik di atas mimbar membicarakan tiga macam doa yang gampang diijabah Tuhan: orang teraniaya, musafir, dan orang yang sedang berpuasa. Saya pernah pula mendengar orang sedang sakit juga makbul doanya. Si khatib nyaris membuat saya kantuk jika bukan karena sorban khas ulama yang ia jadikan selempang itu bermotif bendera Palestina.

Saya menduga, awalnya, dengan selempang Palestina melilit lehernya itu, bakal ia jadikan isi khotbah Jumatnya. Tapi, kejadiannya sama sekali berbeda. Tidak ada khotbah berisi kritik terhadap Israel, yang menyorot kolonisasi dialami Palestina lebih setengah abad. Menyebutnya dalam satu frase kalimat saja tidak. Akhirnya, menurut saya, khotbah itu antiklimaks, meski ini terjadi jauh di pelosok desa di wilayah pegunungan tinggi Sulawesi Barat.

Tapi, saat salat Jumat, melihat pengkotbah dengan selendang bangsa Palestina itu adalah peristiwa unik. Mungkin satu di antara ribuan atau jutaan da’i di negeri ini. Ia meskipun hanya secarik kain, masih kurang aneh ketimbang sebagian negeri-negeri Timur Tengah yang dingin, dan diam atas nasib Palestina. Walau tak bersuara, dan hanya karena itu kain, setidak-tidaknya tetap bisa menjadi simbol, memberikan semacam isyarat kepada jemaahnya agar jangan melupakan Palestina. Suatu bangsa abad ini yang paling sering menghadapi agresi militer sampai detik ini.

Jika saja bukan takdir Tuhan (meskipun ini bukan sepenuhnya soal takdir semata), dengan tiga macam doa oleh khotbah di atas, sudah cukup bagi bangsa Palestina dapat meraih kemenangan. Tiga syarat (empat bahkan) agar doa gampang diijabah dipenuhi semuanya oleh penduduk Palestina, menjadi asbab agar takdir kekalahan Israel terwujud secepat mungkin.

Penduduk Palestina saat ini tak kunjung putus mengalami kezaliman, banyak di antara warganya menjadi eskodus terusir paksa dari tanah kelahirannya, dan sekarang sebagiannya sedang menjalani ibadah puasa. Bukan tidak mungkin dengan sekali angkat menengadahkan tangan ke atas untuk kehancuran Israel, menjadi doa makbul. Perlu juga ditambahkan, seperti bangsa lain, sekarang ini warga Palestina juga sedang mati-matian melawan korona. Sesungguhnya orang sakit sangat dekat dengan Tuhannya.

Tapi, do’a bukan bagai remote televisi, seketika dapat mengubah saluran tayangan yang tidak diinginkan. Tuhan tidak bisa didikte agar sesegera mungkin mengabulkan permintaan do'a-do'a umatnya. Doa tidak sama seperti lampu Aladdin, kata Jalaluddin Rakhmat.

Tentu saja, di atas semua itu, telah banyak ikhtiar dilakukan penduduk Palestina, sampai seringkali kita menyaksikan keberanian banyak orang, tua dan muda, laki-laki dan perempuan yang melakukan perlawanan meski hanya menggunakan kerikil batu. Apalah arti jika semua doa dengan gampang diijabah Tuhan? Apalah arti keringat, darah, perjuangan, dan tentu juga, kesabaran bagi penduduk Palestina jika bukan ada nilai tertentu dari kejadian semua itu?

Di tanah air baru-baru ini, jagad da’i jadi panggung ajang serang setelah seorang da’i berdiri di atas mimbar gereja mengisi orasi budaya dalam peresmian GBI Amanat Agung, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis lalu. Setelah itu bermunculan da’i lain yang kontra pendapat atas kejadian itu. Seorang da'i bahkan masih menyebut tanda salib sebagai berhala, seolah-olah ia mendefinisikan gereja itu sebagai sarang paganisme.

Seperti biasa, soal semacam ini akan menyoal haram-halalnya sesuatu, dan tentu saja publik akan digiring untuk saling kecam dan debat unfaedah.

Kekisruhan ini, tidak sepenting Palestina, yang karena isu itu membuat publik disedot limbo informasi tak bermakna. Dibandingkan pendudukan seperti dialami Palestina, apakah masih relevan debat ciptaan media itu untuk kondisi Palestina?

Tentu bukan saja Palestina, di dalam negeri masih banyak tindakan kolonisasi dan militerisme yang mengagresi anak bangsa sendiri. Papua adalah contoh faktualnya, sama seperti negeri Thailand, Yaman dan Suriah yang selama ini menjadi negeri paling tidak aman untuk dikunjungi.

Israel adalah simbol terorisme global dalam bentuk yang paling harfiah. Negara yang tidak lebih luas dari setengah luas Sulawesi Selatan ini, identik dengan koloni kutu rambut menghisap saripati kepala penduduk Palestina. Anda tahu, cara kerja seekor kutu? Cukup hanya satu ekor betina dalam jangka waktu lima pekan, dengan koloninya sudah mampu membuat hidup anda tersiksa.

Tapi, Israel tidak seperti kutu rambut, ia adalah vampire penghisap darah umat manusia. Dengan dua taringnya (PBB dan Inggris/AS), ia memburu rakyat Palestina sama seperti sedang berburu rusa. Tanpa perasaan membabi buta menyerang penduduknya, dan seolah-olah itulah kemuliaan untuk mendapatkan wilayah yang lebih luas lagi.

Meski Israel adalah vampire, ia drakula yang tidak pernah tidur. Setiap detik setiap saat kejahatannya dilakukan melalui popor senjata. Di tingkatan elite, ia bebas membenarkan tindakannya karena mendapatkan dukungan negara-negara sekutunya.

Untuk saat ini, Palestina adalah cermin anonimitas kita, yang tidak mengenalnya dengan baik walaupun tiap saat vampire Israel melakukan kejahatannya secara membabi buta dan terang-terangan.

Untuk saat ini, seluruh perjuangan umat manusia mesti mengerahkan perhatiannya kepada wilayah seperti Palestina, yang terjajah dan terusir, yang terampas dan jadi ampas Israel.

Suatu masa, tidak seperti celengan umat yang bertransformasi menjadi dana teroris, khotbah para da’i mesti lebih radikal dari hanya sebatas soal praktik ibadah belaka.

Dalam pengalaman saya, sorban Palestina sang da’i tadi, di masa akan datang tidak sekadar menjadi syal semata lagi.

Selamat Yaumul Quds. Pembebasan untuk Palestina.