AGAMA ITU soal keyakinan, dan itu sifatnya subjektif. Ini pernyataan inti dari
tulisan Iqbal Aji Daryono bertitel Soal
Pertanyaan Kenapa Nabi Tak Boleh Digambar, Sumanto Alqurtuby Sama Aja kayakZakir Naik. Tulisan itu terbit di Mojok dan merupakan kritik terhadap status
Sumanto Alqurtuby menyangkut mengapa Nabi Muhammad saw. tidak bisa
divisualisasikan melalui citraan gambar berupa lukisan ataupun patung,
misalnya.
Debat
mengapa Nabi Muhammad saw. tidak bisa divisualisasikan dan tema turunannya
biarkanlah itu menjadi medan gelud para ahli. Tulisan ini saya buat khusus
untuk menyanggah premis utama Mas Iqbal tentang agama, yang saya jadikan
kalimat pembuka di atas.
Pertama, ”keyakinan” Mas Iqbal itu tidak
selamanya benar dan bisa berbahaya. Agama jika soal keyakinan subjektif, bisa
menjerumuskan pemeluknya kepada pemahaman agama semau-mau gue. Ini kurang lebih
mirip dalam kehidupan Sokrates di Yunani purba berabad-abad lalu, yang
dikelilingi kelompok relativis, karena menganggap kebenaran itu urusan
subjektif masing-masing orang.
Saat
itu masyarakat Yunani banyak tertipu oleh kelompok Sophis, deretan profesi yang
mampu memelintir informasi dengan cara retorika semu. Kelompok ini memiliki
satu keyakinan: kebenaran itu tidak ada yang mutlak, dan karena itu semua orang
memiliki penafsiran tersendiri atasnya. Tidak tanggung-tanggung, keyakinan ini
lumayan signifikan membentuk pemahaman publik yang membuat kebenaran jadi kacau
balau, anarki, dan kehilangan otoritas.
Nah,
jika agama dilihat dari kacamata golongan peragu ini, itu akan membuat semua
orang bisa mengatakan apa saja tentang agamanya. Bahkan, banyak yang akan
berubah menjadi ahli agama. Ia bisa menafsirkan kebenaran agama sesuai tafsir
kebenaran masing-masing.
Lagian
apabila menjadi subjektif, kandungan
kebenaran agama akan relatif yang membuatnya kehilangan objektivitas. Itu
artinya agama akan kehilangan dasar kebenaran yang disepakati semua pemeluknya.
Agama macam begini ini akan membuat pemeluknya nampak sebagai orang linglung
yang tidak tahu apa-apa mengapa ia bisa mengyakini agamanya.
Apabila
agama menjadi begitu, lalu untuk apa ada diskusi, ceramah, sampai debat agama,
yang dilakukan untuk menyampaikan sisi kebenaran objektif agama.
Kedua, atas pernyataan agama adalah
keyakinan subjektif, Mas Iqbal kemudian membedakannya dengan sains, yang disebutnya
tidak sesubjektif agama karena punya ukuran kebenaran yang seragam dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Pernyataan
ini mengandung masalah serius, karena seolah-olah agama itu tidak punya ukuran
kebenaran bersama. Dan, yang paling berbahaya, agama akan terlihat sebagai
ajaran yang tidak memiliki dasar pertanggungjawaban.
Barangkali
Mas Iqbal luput dari fakta remeh temeh semisal arah kiblat, jumlah ayat
Al-Qur.’an, dan rukun salat, dalam Islam misalnya, merupakan kebenaran yang
seragam menjadi kesepakatan bersama. Hal-hal ini tidak bisa diganggu gugat dan tidak
akan berubah sampai kapan pun, meski jika di masa mendatang, ada satu komunitas
umat muslim yang mendeklarasikan bahwa jumlah Tuhan itu tiga setengah, dan arah
kiblat diarahkan kembali ke Yerusalem.
Dalam
Islam, sependek yang saya tahu, kebenaran-kebenaran objektif semacam itu, sudah
dirumuskan para ulama ke dalam hukum-hukum fiqh yang mengatur hampir seluruh
praktik peribadatan dan muamalah. Itu dilakukan agar ibadah dapat lebih konkret
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk
mengatakan sains lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang agama, saya malah
menganggap ini pernyataan yang teledor. Bagaimana tidak, jika kelak seseorang
meninggal dari dunia fana ini, apakah di
alam kubur ia tidak akan diminta pertanggungjawaban menyangkut perbuatan-perbuatannya
selama di dunia?
Apakah
malaikat Munkar dan Nakir akan dibuat bingung menghadapi seseorang yang ngeles
menjawab, ”saya tidak salat dan berpuasa karena menurut saya itu membuang waktu
dan membuat tubuh saya kehilangan banyak kalori”.
Agama
jika tidak bisa dipertanggungjawabkan macam begitu, apa kata Chrisye nanti!
Untuk apa fungsi surga dan neraka?
Itu
pertanggungjawaban akhirat, yang sudah pasti tidak ada dalam sains.
Tapi
tunggu dulu, bukan pertanggungjawaban kebenaran agama macam itu yang ingin saya
maksudkan dari tadi. Tentu itu tidak apple
to apple lantaran agama bukan sains, dan sebaliknya, sains bukan agama yang
merupakan suatu ajaran hidup.
Tentu
umat Islam Indonesia selama ini sudah sering dibuat berbeda hanya karena
perbedaan penentuan waktu awal puasa atau hari lebaran, misalnya. Muhammadiyah
dan NU sudah lama berbeda pandangan soal ini, meski tidak saling
gontok-gontokan. Malah saking seringnya hal-hal begini sudah dianggap biasa.
Baik
Muhammadiyah yang ahlul hisab, dan NU
yang ahlul rukyah, meski berbeda cara
bukan berarti tidak memiliki pertanggungjawaban dalam penentuan satu Ramadan. Kedua
ormas ini memiliki dasar penetapan kebenaran baik dari hadis dan ayat
Al-Qur.’an. Bahkan secara metodelogi, kedua ormas ini menggunakan pendekatan
sains dalam urusan seperti ini.
Muhammadiyah
yang mendasarkan sumber pemahamannya kepada surat ar-Rahman ayat 5, yang
berarti ”matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”, menggunakan hitungan
matematis dan ilmu astronomi agar lebih tepat. Sementara, NU memilih
menggunakan pengamatan empiris berdasarkan hadis Nabi saw.: ”Berpuasalah kamu
karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang
maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari.
Coba
bayangkan jika penetapan hukum syar’i semacam ini dikembalikan kepada ukuran
subjektif, tanpa pertanggungjawaban
kebenaran, dan tanpa cara yang teruji. Kurang sains apa coba kedua ormas agama
ini.
Ketiga. Jadi, jika dikatakan agama tidak
memiliki dasar-dasar kebenaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, lantas
bagaimanakah seluruh kepastian kebenaran agama selama ini ditetapkan? Bagaimana
dasar-dasar keputusan syar’i semisal penentuan arah kiblat, 1 Ramadan, dan
pembagian harta warisan, misalnya, jika tidak didasarkan kepada suatu rumusan
paten yang matematis dan objektif.
Di
sini perkataan Mas Iqbal yang mengandaikan kepercayaan agama itu tidak ada
urusannya dengan bukti empiris dan hanya soal yakin dan tidak yakin semata,
percaya dan nggak percaya belaka, tidak berdasar sama sekali.
Padahal
dalam Islam, sebagai contoh, sangat menekankan umatnya agar bersikap seperti
seorang ilmuwan dengan kata-kata ajakan berupa, ”lihatlah”, ”perhatikanlah”,
”renungkanlah”, ”bacalah”, ”berpikirlah”,
dan seabrek imbauan serupa yang tersebar di banyak surah, demi mengajak
siapa saja untuk mengeksplorasi jagad raya beserta isi-isinya.
Dilihat
dari sisi ini, agama itu malah mesti ditunjang dengan dasar ilmu yang
membuatnya menjadi tidak sesederhana yakin dan tidak yakin belaka. Bukankah
agama tanpa ilmu kehidupan ini akan lumpuh tidak progres sama sekali seperti
kata Albert Einstein.
Itulah
sebabnya, saya berpendapat agama yang tidak bisa dipertanggungjawabkan
kebenarannya melalui suatu metode keilmuan tertentu, akan berakhir kepada
sistem keyakinan yang berbahaya.
Untuk
urusan ini, Indonesia ini sudah kenyang pengalaman, Mas Iqbal. Pemahaman
keagamaan yang didasarkan kepada subjektivitas dan relativitas masing-masing
pribadi seringkali berubah menjadi kelompok-kelompok keagamaan berbahaya dan
menyeramkan.
Akibat
ukuran kebenaran agama tidak memiliki dasar keilmuan menyebabkan setiap orang
atau kelompok bebas menentukan sendiri kebenaran agamanya masing-masing. Tentu,
Mas Iqbal pasti paham, munculnya kelompok keagamaan macam ini adalah kelompok
agama yang belakangan suka kafir mengkafirkan antara sesama pemeluk agamanya.
Bahkan, sampai melahirkan kelompok teroris karena memberlakukan agama sesuai
ukuran subjektivitas mereka.
Keempat, ini yang terakhir. Mas Iqbal
dari beberapa contohnya menghendaki agar masing agama tidak usah
dibanding-bandingkan karena masing-masing memiliki pengalaman keagamaan yang
berbeda. Untuk yang satu ini saya sepakat dengan Mas Iqbal, tapi tidak dalam konteks
bahwa di antara perbedaan keyakinan agama itu tidak ada ukuran bersama
menyangkut kebenaran bersifat universal. Yang saya maksud di sini, meski setiap
agama berbeda dalam setiap kebenarannya, antara mereka tidak mungkin tidak
sepakat tentang ukuran bersama menyangkut kasih sayang, kedamaian, nilai
keadilan, dan kebenaran universal yang diperlukan umat manusia saat ini.
Sekian.