Jumat, 07 Mei 2021

Kalau Tuhan itu berjumlah Tiga Setengah: Empat Sanggahan tentang Agama itu Keyakinan Subjektif


AGAMA ITU soal keyakinan, dan itu sifatnya subjektif. Ini pernyataan inti dari tulisan Iqbal Aji Daryono bertitel Soal Pertanyaan Kenapa Nabi Tak Boleh Digambar, Sumanto Alqurtuby Sama Aja kayakZakir Naik. Tulisan itu terbit di Mojok dan merupakan kritik terhadap status Sumanto Alqurtuby menyangkut mengapa Nabi Muhammad saw. tidak bisa divisualisasikan melalui citraan gambar berupa lukisan ataupun patung, misalnya.

Debat mengapa Nabi Muhammad saw. tidak bisa divisualisasikan dan tema turunannya biarkanlah itu menjadi medan gelud para ahli. Tulisan ini saya buat khusus untuk menyanggah premis utama Mas Iqbal tentang agama, yang saya jadikan kalimat pembuka di atas.

Pertama, ”keyakinan” Mas Iqbal itu tidak selamanya benar dan bisa berbahaya. Agama jika soal keyakinan subjektif, bisa menjerumuskan pemeluknya kepada pemahaman agama semau-mau gue. Ini kurang lebih mirip dalam kehidupan Sokrates di Yunani purba berabad-abad lalu, yang dikelilingi kelompok relativis, karena menganggap kebenaran itu urusan subjektif masing-masing orang.

Saat itu masyarakat Yunani banyak tertipu oleh kelompok Sophis, deretan profesi yang mampu memelintir informasi dengan cara retorika semu. Kelompok ini memiliki satu keyakinan: kebenaran itu tidak ada yang mutlak, dan karena itu semua orang memiliki penafsiran tersendiri atasnya. Tidak tanggung-tanggung, keyakinan ini lumayan signifikan membentuk pemahaman publik yang membuat kebenaran jadi kacau balau, anarki, dan kehilangan otoritas.

Nah, jika agama dilihat dari kacamata golongan peragu ini, itu akan membuat semua orang bisa mengatakan apa saja tentang agamanya. Bahkan, banyak yang akan berubah menjadi ahli agama. Ia bisa menafsirkan kebenaran agama sesuai tafsir kebenaran masing-masing.

Lagian apabila menjadi subjektif,  kandungan kebenaran agama akan relatif yang membuatnya kehilangan objektivitas. Itu artinya agama akan kehilangan dasar kebenaran yang disepakati semua pemeluknya. Agama macam begini ini akan membuat pemeluknya nampak sebagai orang linglung yang tidak tahu apa-apa mengapa ia bisa mengyakini agamanya.

Apabila agama menjadi begitu, lalu untuk apa ada diskusi, ceramah, sampai debat agama, yang dilakukan untuk menyampaikan sisi kebenaran objektif agama.

Kedua, atas pernyataan agama adalah keyakinan subjektif, Mas Iqbal kemudian membedakannya dengan sains, yang disebutnya tidak sesubjektif agama karena punya ukuran kebenaran yang seragam dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pernyataan ini mengandung masalah serius, karena seolah-olah agama itu tidak punya ukuran kebenaran bersama. Dan, yang paling berbahaya, agama akan terlihat sebagai ajaran yang tidak memiliki dasar pertanggungjawaban.

Barangkali Mas Iqbal luput dari fakta remeh temeh semisal arah kiblat, jumlah ayat Al-Qur.’an, dan rukun salat, dalam Islam misalnya, merupakan kebenaran yang seragam menjadi kesepakatan bersama. Hal-hal ini tidak bisa diganggu gugat dan tidak akan berubah sampai kapan pun, meski jika di masa mendatang, ada satu komunitas umat muslim yang mendeklarasikan bahwa jumlah Tuhan itu tiga setengah, dan arah kiblat diarahkan kembali ke Yerusalem.

Dalam Islam, sependek yang saya tahu, kebenaran-kebenaran objektif semacam itu, sudah dirumuskan para ulama ke dalam hukum-hukum fiqh yang mengatur hampir seluruh praktik peribadatan dan muamalah. Itu dilakukan agar ibadah dapat lebih konkret dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengatakan sains lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang agama, saya malah menganggap ini pernyataan yang teledor. Bagaimana tidak, jika kelak seseorang meninggal dari dunia fana ini,  apakah di alam kubur ia tidak akan diminta pertanggungjawaban menyangkut perbuatan-perbuatannya selama di dunia?

Apakah malaikat Munkar dan Nakir akan dibuat bingung menghadapi seseorang yang ngeles menjawab, ”saya tidak salat dan berpuasa karena menurut saya itu membuang waktu dan membuat tubuh saya kehilangan banyak kalori”.

Agama jika tidak bisa dipertanggungjawabkan macam begitu, apa kata Chrisye nanti! Untuk apa fungsi surga dan neraka?

Itu pertanggungjawaban akhirat, yang sudah pasti tidak ada dalam sains.

Tapi tunggu dulu, bukan pertanggungjawaban kebenaran agama macam itu yang ingin saya maksudkan dari tadi. Tentu itu tidak apple to apple lantaran agama bukan sains, dan sebaliknya, sains bukan agama yang merupakan suatu ajaran hidup.

Tentu umat Islam Indonesia selama ini sudah sering dibuat berbeda hanya karena perbedaan penentuan waktu awal puasa atau hari lebaran, misalnya. Muhammadiyah dan NU sudah lama berbeda pandangan soal ini, meski tidak saling gontok-gontokan. Malah saking seringnya hal-hal begini sudah dianggap biasa.

Baik Muhammadiyah yang ahlul hisab, dan NU yang ahlul rukyah, meski berbeda cara bukan berarti tidak memiliki pertanggungjawaban dalam penentuan satu Ramadan. Kedua ormas ini memiliki dasar penetapan kebenaran baik dari hadis dan ayat Al-Qur.’an. Bahkan secara metodelogi, kedua ormas ini menggunakan pendekatan sains dalam urusan seperti ini.  

Muhammadiyah yang mendasarkan sumber pemahamannya kepada surat ar-Rahman ayat 5, yang berarti ”matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”, menggunakan hitungan matematis dan ilmu astronomi agar lebih tepat. Sementara, NU memilih menggunakan pengamatan empiris berdasarkan hadis Nabi saw.: ”Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari.

Coba bayangkan jika penetapan hukum syar’i semacam ini dikembalikan kepada ukuran subjektif,  tanpa pertanggungjawaban kebenaran, dan tanpa cara yang teruji. Kurang sains apa coba kedua ormas agama ini.

Ketiga. Jadi, jika dikatakan agama tidak memiliki dasar-dasar kebenaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, lantas bagaimanakah seluruh kepastian kebenaran agama selama ini ditetapkan? Bagaimana dasar-dasar keputusan syar’i semisal penentuan arah kiblat, 1 Ramadan, dan pembagian harta warisan, misalnya, jika tidak didasarkan kepada suatu rumusan paten yang matematis dan objektif.

Di sini perkataan Mas Iqbal yang mengandaikan kepercayaan agama itu tidak ada urusannya dengan bukti empiris dan hanya soal yakin dan tidak yakin semata, percaya dan nggak percaya belaka, tidak berdasar sama sekali.

Padahal dalam Islam, sebagai contoh, sangat menekankan umatnya agar bersikap seperti seorang ilmuwan dengan kata-kata ajakan berupa, ”lihatlah”, ”perhatikanlah”, ”renungkanlah”, ”bacalah”, ”berpikirlah”,  dan seabrek imbauan serupa yang tersebar di banyak surah, demi mengajak siapa saja untuk mengeksplorasi jagad raya beserta isi-isinya.

Dilihat dari sisi ini, agama itu malah mesti ditunjang dengan dasar ilmu yang membuatnya menjadi tidak sesederhana yakin dan tidak yakin belaka. Bukankah agama tanpa ilmu kehidupan ini akan lumpuh tidak progres sama sekali seperti kata Albert Einstein.

Itulah sebabnya, saya berpendapat agama yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya melalui suatu metode keilmuan tertentu, akan berakhir kepada sistem keyakinan yang berbahaya.

Untuk urusan ini, Indonesia ini sudah kenyang pengalaman, Mas Iqbal. Pemahaman keagamaan yang didasarkan kepada subjektivitas dan relativitas masing-masing pribadi seringkali berubah menjadi kelompok-kelompok keagamaan berbahaya dan menyeramkan.

Akibat ukuran kebenaran agama tidak memiliki dasar keilmuan menyebabkan setiap orang atau kelompok bebas menentukan sendiri kebenaran agamanya masing-masing. Tentu, Mas Iqbal pasti paham, munculnya kelompok keagamaan macam ini adalah kelompok agama yang belakangan suka kafir mengkafirkan antara sesama pemeluk agamanya. Bahkan, sampai melahirkan kelompok teroris karena memberlakukan agama sesuai ukuran subjektivitas mereka.

Keempat, ini yang terakhir. Mas Iqbal dari beberapa contohnya menghendaki agar masing agama tidak usah dibanding-bandingkan karena masing-masing memiliki pengalaman keagamaan yang berbeda. Untuk yang satu ini saya sepakat dengan Mas Iqbal, tapi tidak dalam konteks bahwa di antara perbedaan keyakinan agama itu tidak ada ukuran bersama menyangkut kebenaran bersifat universal. Yang saya maksud di sini, meski setiap agama berbeda dalam setiap kebenarannya, antara mereka tidak mungkin tidak sepakat tentang ukuran bersama menyangkut kasih sayang, kedamaian, nilai keadilan, dan kebenaran universal yang diperlukan umat manusia saat ini.

Sekian.