Kamis, 01 April 2021

Terorisme dan Kacamata Kuda


TIDAK ADA jalan singkat menuju kehidupan surgawi kecuali jihad fisabilillah, dan itu bukan ditempuh dengan satu-satunya cara melalui bom bunuh diri. Semua mafhum, meledakkan diri menggunakan bahan peledak adalah tindakan nekat yang mengerikan. Alih-alih menjadi tindakan heroik, kegiatan itu hanya berakhir membuat tubuh pelaku porak poranda bagai ayam tergilas truk molen.

Dalam kenyataannya, bom bunuh diri adalah tindakan konyol karena merasa kalah  menghadapi tantangan kehidupan ini.

Kehidupan global macam sekarang memang suram dan menyeramkan ketika itu dilihat melalui kacamata kuda. Ekonomi neoliberal tidak akan mungkin tumbang hanya karena seseorang menyerukan anti riba bank, sementara sektor ekonomi yang lain masih memberikan ruang besar bagi tuan-tuan kapitalis. Seseorang juga akan seperti hidup di negeri dongeng setelah menganggap semua sistem pemerintahan adalah sistem tagut, hanya karena sistem itu tidak dibuat langsung oleh Tuhan sendiri. Dan, menganggap pandangan Anda adalah satu-satunya yang absah yang karena itu membuat Anda meledakkan diri untuk menyatakan kebenaran, merupakan cara hidup yang jauh dari kesalehan.

Anda tahu sudut pandang seekor kuda tidak dapat melihat ke arah lain, selain ke jalan yang berada di depannnya karena ia memang dibuat seperti itu oleh kusirnya. Bagi seekor kuda, satu-satunya arah jalan yang ia ketahui dengan pasti adalah apa yang ia lihat melalui kacamatanya.

Para pelaku bom bunuh diri bukan seekor kuda, meski mereka bisa saja terjebak ke dalam cara pandang ala kaca mata kuda. Kita tidak yakin pasti berapa jumlah kusir-kusir sebenarnya yang menggembleng pelaku ”pengantin” ini, kecuali bahwa mereka adalah orang-orang yang menafsir agama secara literalis dan sepenggal-sepenggal.

Agama memiliki banyak spektrum, banyak sisi, sudut pandang, dan penjelasan, yang semuanya tidak bisa dilihat dari satu sisi. Seandainya itu terjadi, bukan tidak mungkin cara berpikir Anda telah menggunakan gaya berpikir seekor kuda.

Sekitar tahun 2000-an di kampung halaman di Bulukumba pernah tersiar kabar pendaftaran calon pejuang jihad untuk diberangkatkan menuju Palestina. Saat itu saya baru duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan mulai menyadari ternyata ada orang yang rela meninggalkan kampung halamannya demi pergi ke negeri nun jauh yang dibelah lautan bermil-mil panjangnya. Semua itu dilakukan dengan hati ikhlas agar mendapatkan stempel mati syahid. 

Entah dengan cara apa mereka akan berangkat ke Palestina, yang saat itu belum saya ketahui titik pastinya di peta bola dunia. Apakah mereka akan menggunakan perahu kayu sama seperti jamaah haji bertahun-tahun lalu, yang membuatnya terombang ambing berminggu-minggu di atas lautan. Ataukah menggunakan pesawat terbang yang sama sekali masih asing saat itu-yang diciptakan dari sistem yang sering mereka kafir-kafirkan. 

Nyatanya, kabar itu tidak saya ketahui dengan pasti selain daripada bahwa mereka yang akan berangkat ini akan mengamalkan jihad di jalan Allah. Info hanya tersiar di kalangan terbatas, dan entah bagaimana bisa sampai di telinga saya saat itu.

Jihad di jalan Allah pernah membuat tubuh saya bergetar tanpa bisa saya kendalikan. Ini reaksi aneh tubuh saya menyerupai orang menggigil meski bukan karena dingin yang membuatnya demikian.

Malam itu malam penghabisan perkaderan organisasi underbow ormas berlogo matahari terbit. Kami dikumpulkan di dalam masjid dengan penerangan remang-remang di tengah malam buta, di suatu kampung jauh dari kota. Oleh ustaz pengader, kami sebentar lagi bakal diangkut dan akan berhadapan dengan umat nasrani dengan menjadi pagar badan melindungi sebuah masjid yang katanya bakal diserang malam itu.

Satu persatu nama dipanggil keluar, yang berarti ia akan segera menuju lokasi dimaksud. Bersamaan dengan itu, kami diyakinkan bahwa kami adalah pejuang Islam yang sebentar lagi akan mati syahid jika ajal menjemput. Gigil tubuh saya makin sulit dikendalikan, semakin dibuat diam semakin menjadi-jadi.

Malam itu rupanya adalah malam ketika pos demi pos harus kami lalui untuk uji mental. Di akhir pos saya terkesima akibat sebagian teman dibuat menangis oleh karena narasi ala ”bendera putih” itu. Mereka terisak-isak dikatakan jika setelah kita pulang dari kegiatan ini tiba-tiba sebuah bendera putih kematian telah terpampang di depan rumah. Seseorang yang kami sayangi telah berpulang tanpa kami ketahui sebelumnya. Siapa tidak terpukul mendengar narasi semacam ini? 

Tentu kegiatan organisasi ini tidak sedang mencari calon teroris dengan membuatnya menangis terlebih dahulu, meski di tahun-tahun itu Bulukumba seperti sedang mempersiapkan kemenangan Islam hanya karena berhasil memformulasi syariat Islam sebagai Perdanya. Malam buta itu, narasi yang dikembangkan di masjid itu hanyalah cerita yang dibuat-buat agar kami menjadi semakin bersetia dengan Islam. Meski demikian, untuk ukuran agama yang mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan, narasi yang dikembangkan sang ustaz sangat tidak relevan.

Bertahun-tahun setelah itu tidak ada isi materi yang tersisa dari kegiatan perkaderan berhari-hari, kecuali secuil adegan di malam terakhir itu. Nama ustaz di malam hari itu juga tak pernah saya tahu kecuali narasinya menyangkut jihad, yang ia artikan mesti berhadap-hadapan langsung dengan umat kristiani dalam suatu ajang peperangan lokal demi sebuah masjid.

Sekarang narasi jihad hitam putih itu tidak sekadar menjadi pemanis untuk membangkitkan semangat di sesi perkaderan macam itu. Ia sudah menjadi bahan cuci otak yang tersiar massif melalui jaringan maya. Dinyatakan dengan gamblang bersamaan dengan semakin menguatnya wacana tanding mengenai wajah agama yang lebih plural dan ramah.

Islam adalah agama ilmu pengetahuan dan getol merekomendasikan penganutnya menjadi seorang pembelajar. Alih-alih mendesak untuk merakit bom, Islam mengimbau umatnya agar menjadi ilmuwan meneliti dari benda-benda yang berada di langit sampai atom-atom yang tersembunyi bersama akar-akarnya di balik materi.

Terorisme tidak akan mampu dipukul mundur, dan hanya akan menjadi cara orang mengekspresikan kesalehannya jika masih banyak pengajian-pengajian terselubung yang menjual agama dengan harga murah.

Agama, dengan bentuknya yang bermacam-macam, juga bukan hanya sekumpulan imbauan untuk segerombolan orang-orang yang hanya mementingkan kehidupan pribadinya, dan menganggap orang lain sesat karena senantiasa melakukan bidah hanya karena bertindak bukan dengan hukum Tuhan.

Tuhan telah mengingatkan berprasangka baiklah kepadanya, yang itu tidak sama untuk digunakan ketika memahami agamanya. Tuhan dan agamanya dua hal yang berbeda. Tuhan tidak bisa dijangkau dengan gaya dan pendekatan pikiran apa pun, sehingga karena itu Tuhan mewanti-wanti tidak sama zat dengan sifatnya yang lebih berpeluang diketahui. Untuk mengantisipasi pikiran jahat menyangkut dirinya (zat-Nya), Tuhan katakan janganlah sekali-kali Anda berani untuk mencari tahu apa hakikat zat-Nya karena itu tidak akan mungkin diketahui. Tuhan selalu mengingatkan sejak awal dengan peringatan kata-kata "maha suci Allah" di setiap kejadian yang tidak bisa dijangkau nalar hanya untuk menyatakan di bagian ini, Allah tidak bisa dibahasakan dalam ekspresi pengetahuan apa pun. 

Begitu pula untuk sifat-sifatnya (asmaul husna), Tuhan tidak layak dipersangkakan jahat karena tidak ada satupun sifatnya yang mewakili kejahatan seperti yang ada di dunia ini. Tidak ada sifat Tuhan yang disebut "maha jahat", "maha benci", " maha pelit", dlsb, yang karena itu menyangkanya sebagai Tuhan yang jahat adalah suatu kesalahan teologi. Itu juga sebabnya kita dilarang berpikir tidak-tidak atasnya dengan menyangkanya sedang mempersiapkan takdir buruk bagi nasib umat manusia.

Manusia adalah sarang prasangka sampai-sampai ia seringkali menggunakannya untuk membangun keimanannya dari itu. Padahal iman tidak bisa diberlakukan lewat prasangka melainkan ilmu pengetahuan. Agama yang menggunakan prasangka bukan agama, melainkan sesuatu yang membuat Anda tidak akan selamat.  

Terorisme adalah buah dari prasangka dan sikap inferior terhadap perkembangan zaman. Berkembang biak karena tidak cukup diri merefleksikan keimanannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Tidak mengupdate kemampuan berpikirnya dalam menyelami kedalaman dan keluasan dimensi agamanya. Dan, malangnya menemukan dengan cara memuja ustaz-ustaz takfiri dan menyesatkan, yang selalu berpikir buruk kepada golongan lain di luar dari kelompoknya.

Jadi cukup aneh memang, jika saat ini informasi berupa gambar, musik, berita, dan gagasan beredar cepat dan dapat saling melintas batas, yang karena itu membuat zaman ini menjadi lebih antusias diterima dengan ilmu pengetahuan, pikiran terbuka, dan dinamis, tapi malah di saat bersamaan masih sering ditemukan orang-orang yang hidup dengan kacamata kuda seperti masih hidup dari berabad-abad silam.