Sabtu, 20 Maret 2021

Pikiran Gabut dan Antisipasinya


PIKIRAN ITU mesti dikarantina, diisolasi. Ada saat, manusia bertindak di luar kemampuan akal sehatnya, dan itu semua diawali dengan prasangka.

Prasangka memiliki riwayat panjang. Sepanjang sejarah umat manusia, prasangka telah mengisi mitos, legenda, dan bahkan cerita rakyat yang berisi cerita-cerita ajaib nan hebat.

Ketika manusia masih hidup di pinggiran sungai, dunia diyakini dilahirkan dari perut ular raksasa, dan nenek moyang seluruh umat manusia berasal dari perut yang sama.

Saat masih hidup di gua-gua, jauh sebelum mereka turun gunung dan menetap di sekitar lereng dan sumber-sumber air, dunia menjadi tempat bersemayam roh-roh gentayangan. Ada masanya, ketika mereka mulai menggunakan benda-benda sekitar sebagai bagian hidupnya, roh-roh ini disangka mendiami segala apa yang mereka gunakan.

Bukan saja menyangkut kehidupan ini, kematian juga menjadi sasaran prasangka orang-orang yang hidup sebelum kita. Siapa tidak mengenal Firaun, raja diraja Mesir Kuno yang yakin kekayaan selama ia hidup akan dapat ia bawa ke alam baka nanti. Ia satu di antara ribuan orang Mesir saat itu yang berkeyakinan bahwa kematian juga mesti mempersiapkan bekal harta karun untuk menemaninya hidup sejahtera di alam sesudah kematian.

Sewaktu kecil ada mitos berkembang menyangkut seekor naga raksasa yang menelan seorang dewi, dan untuk mengeluarkan sang dewi yang disangka bulan itu membuat penduduk mesti memukul apa saja. Dengan suara gaduh orang mengira akan membuat sang naga memuntahkan makanannya. Peristiwa yang sekarang disebut gerhana bulan ini, dulu disangka sebagai kerjaan seekor naga raksasa yang berkehendak memiliki sang dewi.

Prasangka itu, kini dapat anda temukan dalam produk budaya berupa kue nagasari (roko-roko utti), kue yang diambil dari mitos ditelannya Dewi Sari oleh sang naga, untuk merayakan selamatnya sang dewi dari perut ular besar itu.

Kisah ini, bertahun-tahun lalu saat kecil saya baca di sebuah majalah khusus anak-anak, dan menyukainya karena dipenuhi gambar-gambar menarik berwarna-warni.

Anak-anak merupakan fase prasangka suka dilakukan. Di usia paling muda, seseorang menyangka kehidupan orang dewasa lebih menyenangkan dari diri mereka. Anak-anak mengira karena sudah dewasa, orangtua mereka bebas bisa melakukan apa saja, termasuk apa pun yang tidak bisa dilakukan anak-anak.

Anak-anak suka menyangka kelak ketika mereka dewasa nanti mereka bisa melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan orangtua mereka.

Jika orangtua mereka memiliki penghasilan melimpah, maka mereka akan melakukan hal yang sama untuk membeli apa saja sama seperti kegemaran orangtuanya. Di masa kecil seorang anak mengira, hobi yang sama akan juga berguna bagi mereka jika sudah dewasa kelak.

Anak-anak juga suka mengira kamar mandi adalah tempat menyeramkan jika itu berada di sekolah mereka. Sama tidak masuk akalnya saat mereka menduga, tempat terbaik setan selain kamar mandi sekolah adalah kuku panjang yang kotor dan tidak dipotong.

Di saat kecil saat bersekolah, saya sering menyangka di kelas berapa pun teman yang menjadi ketua kelas, akan menjadi seorang bos di sebuah kantor pemerintahan jika ia tidak menjadi pejabat negara. Kenyataannya, sekarang semua itu tidak terjadi. Malah salah seorang ketua kelas saat saya bersekolah dulu menjadi pedagang di pasar sentral tempatnya kini tinggal.

Di kancah yang lebih serius, prasangka dipandang negatif karena sifatnya yang tidak masuk akal. Dibandingkan dengan ilmu pengetahuan, prasangka merupakan keyakinan yang tidak memiliki dasar pembuktian.

Sudah umum diketahui bahwa prasangka adalah proses pikiran yang belum matang oleh sebab ia masih bersifat dugaan atau kira-kira. Sebelum sains datang, prasangka menjadi dasar hampir seluruh keyakinan manusia.

Di abad-abad lalu, keyakinan menyangkut dunia didasarkan kepada prasangka bahwa ia bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena permukaan datarnya. Meski itu tidak pernah dilakukan, keyakinan ini menjadi prasangka yang bertahan hingga berabad-abad lamanya. Bahkan, dalam bentuk mutakhirnya, ketika dunia sudah dianggap menyerupai bola ping pong, ia disangka atau diyakini menjadi pusat dan matahari di setiap saat bergerak mengelilinginya.

Yang berbahaya dari prasangka adalah ketika ia mengisi keyakinan agama seseorang. Di masa lalu, agama yang berisi keyakinan-keyakinan tidak masuk akal menjadi mirip buldozer. Sejarah inkuisisi entah itu pengalaman di dunia Barat atau Timur, sama-sama didasarkan dari prasangka bahwa keyakinan yang dianut para ilmuwan tidak sejalan dengan apa yang sudah ditulis dalam kitab suci.

Prasangka menyangkut asal usul perempuan misalnya, hingga kini masih menjadi tembok penghalang bagi perempuan. Sampai saat ini  karena disangkakan berasal dari tulang rusuk laki-laki, perempuan dipandang sebagai makhluk nomor dua yang disubordinasikan di bawah pengaruh kekuasaan laki-laki.

Saya sendiri tidak pernah menyaksikan kasus seperti itu terjadi, ketika tulang rusuk seorang lelaki menghasilkan pasangannya. Malah melalui ilmu pengetahuan perempuan sama halnya dengan laki-laki, terjadi dari proses yang sama melalui pertemuan sel telur di dalam rahim seorang ibu.

Di dalam proses kejadian itu, tidak ada satu pun keadaan yang memperlihatkan bahwa seorang bayi berjenis kelamin perempuan diasalkan dari tulang rusuk bapaknya. Justru, jika ini belum jelas, entah itu perempuan atau laki-laki terbentuk dari gabungan unsur yang berasal dari kedua orangtuanya.

Tidak berbeda dari masa lalu, akibat menyangka dirinya adalah yang terbaik, banyak orang sulit menerima perbedaan. Di Indonesia, prasangka terhadap segala hal yang lain dari keyakinannya, asal usulnya, dan tempat tinggalnya, membuat seseorang kehilangan kepercayaan dirinya. Bisa dikatakan ketakutan menerima keanekaan bagi seseorang semacam ini dihasilkan dari inferioritas dirinya sendiri.

Dengan kata lain, prasangka kultural semacam ini sebenarnya adalah bentuk kelemahan dirinya.

Era kini, orang menyangka seluruh apa yang berasal dari pikirannya adalah keyakinan yang juga mesti diketahui orang lain. Keadaan macam ini dikehendaki bagi sebagian orang karena kebenaran yang ia bela mati-matian harus menjadi kebenaran yang sama bagi orang-orang di sekitarnya. Yang berbahaya dari semua itu, prasangka yang sama juga menginginkan bahwa setiap orang mesti berpikir dengan cara yang sama.

Orang-orang semacam ini menganggap kehidupan macam mereka adalah satu-satunya jalan kebahagiaan sehingga berhak menentukan jalan hidup seseorang. Padahal dalam kenyataannya, kehidupan ini ditakdirkan beragam, berbeda, dan berlainan.