Prasangka
memiliki riwayat panjang. Sepanjang sejarah umat manusia, prasangka telah
mengisi mitos, legenda, dan bahkan cerita rakyat yang berisi cerita-cerita
ajaib nan hebat.
Ketika
manusia masih hidup di pinggiran sungai, dunia diyakini dilahirkan dari perut
ular raksasa, dan nenek moyang seluruh umat manusia berasal dari perut yang
sama.
Saat
masih hidup di gua-gua, jauh sebelum mereka turun gunung dan menetap di sekitar
lereng dan sumber-sumber air, dunia menjadi tempat bersemayam roh-roh
gentayangan. Ada masanya, ketika mereka mulai menggunakan benda-benda sekitar
sebagai bagian hidupnya, roh-roh ini disangka mendiami segala apa yang mereka
gunakan.
Bukan
saja menyangkut kehidupan ini, kematian juga menjadi sasaran prasangka
orang-orang yang hidup sebelum kita. Siapa tidak mengenal Firaun, raja diraja
Mesir Kuno yang yakin kekayaan selama ia hidup akan dapat ia bawa ke alam baka
nanti. Ia satu di antara ribuan orang Mesir saat itu yang berkeyakinan bahwa
kematian juga mesti mempersiapkan bekal harta karun untuk menemaninya hidup
sejahtera di alam sesudah kematian.
Sewaktu
kecil ada mitos berkembang menyangkut seekor naga raksasa yang menelan seorang dewi, dan untuk
mengeluarkan sang dewi yang disangka bulan itu membuat penduduk mesti memukul
apa saja. Dengan suara gaduh orang mengira akan membuat sang naga memuntahkan
makanannya. Peristiwa yang sekarang disebut gerhana bulan ini, dulu disangka
sebagai kerjaan seekor naga raksasa yang berkehendak memiliki sang dewi.
Prasangka
itu, kini dapat anda temukan dalam produk budaya berupa kue nagasari (roko-roko utti), kue yang diambil dari mitos
ditelannya Dewi Sari oleh sang naga, untuk merayakan selamatnya sang dewi dari perut
ular besar itu.
Kisah
ini, bertahun-tahun lalu saat kecil saya baca di sebuah majalah khusus
anak-anak, dan menyukainya karena dipenuhi gambar-gambar menarik
berwarna-warni.
Anak-anak
merupakan fase prasangka suka dilakukan. Di usia paling muda, seseorang
menyangka kehidupan orang dewasa lebih menyenangkan dari diri mereka. Anak-anak
mengira karena sudah dewasa, orangtua mereka bebas bisa melakukan apa saja,
termasuk apa pun yang tidak bisa dilakukan anak-anak.
Anak-anak
suka menyangka kelak ketika mereka dewasa nanti mereka bisa melakukan hal yang
sama seperti yang telah dilakukan orangtua mereka.
Jika
orangtua mereka memiliki penghasilan melimpah, maka mereka akan melakukan hal
yang sama untuk membeli apa saja sama seperti kegemaran orangtuanya. Di masa
kecil seorang anak mengira, hobi yang sama akan juga berguna bagi mereka jika
sudah dewasa kelak.
Anak-anak
juga suka mengira kamar mandi adalah tempat menyeramkan jika itu berada di
sekolah mereka. Sama tidak masuk akalnya saat mereka menduga, tempat terbaik
setan selain kamar mandi sekolah adalah kuku panjang yang kotor dan tidak
dipotong.
Di
saat kecil saat bersekolah, saya sering menyangka di kelas berapa pun teman
yang menjadi ketua kelas, akan menjadi seorang bos di sebuah kantor
pemerintahan jika ia tidak menjadi pejabat negara. Kenyataannya, sekarang semua
itu tidak terjadi. Malah salah seorang ketua kelas saat saya bersekolah dulu
menjadi pedagang di pasar sentral tempatnya kini tinggal.
Di
kancah yang lebih serius, prasangka dipandang negatif karena sifatnya yang
tidak masuk akal. Dibandingkan dengan ilmu pengetahuan, prasangka merupakan
keyakinan yang tidak memiliki dasar pembuktian.
Sudah
umum diketahui bahwa prasangka adalah proses pikiran yang belum matang oleh
sebab ia masih bersifat dugaan atau kira-kira. Sebelum sains datang, prasangka
menjadi dasar hampir seluruh keyakinan manusia.
Di
abad-abad lalu, keyakinan menyangkut dunia didasarkan kepada prasangka bahwa ia
bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena permukaan datarnya. Meski itu tidak
pernah dilakukan, keyakinan ini menjadi prasangka yang bertahan hingga
berabad-abad lamanya. Bahkan, dalam bentuk mutakhirnya, ketika dunia sudah
dianggap menyerupai bola ping pong, ia disangka atau diyakini menjadi pusat dan
matahari di setiap saat bergerak mengelilinginya.
Yang
berbahaya dari prasangka adalah ketika ia mengisi keyakinan agama seseorang. Di
masa lalu, agama yang berisi keyakinan-keyakinan tidak masuk akal menjadi mirip
buldozer. Sejarah inkuisisi entah itu pengalaman di dunia Barat atau Timur,
sama-sama didasarkan dari prasangka bahwa keyakinan yang dianut para ilmuwan
tidak sejalan dengan apa yang sudah ditulis dalam kitab suci.
Prasangka
menyangkut asal usul perempuan misalnya, hingga kini masih menjadi tembok
penghalang bagi perempuan. Sampai saat ini
karena disangkakan berasal dari tulang rusuk laki-laki, perempuan
dipandang sebagai makhluk nomor dua yang disubordinasikan di bawah pengaruh
kekuasaan laki-laki.
Saya
sendiri tidak pernah menyaksikan kasus seperti itu terjadi, ketika tulang rusuk
seorang lelaki menghasilkan pasangannya. Malah melalui ilmu pengetahuan
perempuan sama halnya dengan laki-laki, terjadi dari proses yang sama melalui
pertemuan sel telur di dalam rahim seorang ibu.
Di
dalam proses kejadian itu, tidak ada satu pun keadaan yang memperlihatkan bahwa
seorang bayi berjenis kelamin perempuan diasalkan dari tulang rusuk bapaknya.
Justru, jika ini belum jelas, entah itu perempuan atau laki-laki terbentuk dari
gabungan unsur yang berasal dari kedua orangtuanya.
Tidak
berbeda dari masa lalu, akibat menyangka dirinya adalah yang terbaik, banyak
orang sulit menerima perbedaan. Di Indonesia, prasangka terhadap segala hal
yang lain dari keyakinannya, asal usulnya, dan tempat tinggalnya, membuat
seseorang kehilangan kepercayaan dirinya. Bisa dikatakan ketakutan menerima
keanekaan bagi seseorang semacam ini dihasilkan dari inferioritas dirinya
sendiri.
Dengan
kata lain, prasangka kultural semacam ini sebenarnya adalah bentuk kelemahan
dirinya.
Era
kini, orang menyangka seluruh apa yang berasal dari pikirannya adalah keyakinan
yang juga mesti diketahui orang lain. Keadaan macam ini dikehendaki bagi
sebagian orang karena kebenaran yang ia bela mati-matian harus menjadi
kebenaran yang sama bagi orang-orang di sekitarnya. Yang berbahaya dari semua
itu, prasangka yang sama juga menginginkan bahwa setiap orang mesti berpikir
dengan cara yang sama.
Orang-orang
semacam ini menganggap kehidupan macam mereka adalah satu-satunya jalan
kebahagiaan sehingga berhak menentukan jalan hidup seseorang. Padahal dalam
kenyataannya, kehidupan ini ditakdirkan beragam, berbeda, dan berlainan.