Dalam hidup ini, di antara yang lain, saya masih memendam
satu impian sederhana, yakni mempunyai satu ruang kerja khusus tempat saya
membaca buku dan menulis sesuatu.
Dalam bayangan saya, tempat khusus itu menjadi satu wilayah
yang paling mungkin membuat saya lebih nyaman menjadi diri sendiri. Tempat itu,
meskipun sederhana akan diisi dengan satu meja yang di atasnya dapat menyimpan
beberapa buku, satu kursi, dan tentu satu dua buah lemari kecil yang bakal saya
taruh bersisian dengan meja di sampingnya.
Di ruangan itu, tentu lemarinya akan saya isi dengan
buku-buku yang dapat saya jangkau tanpa harus beranjak dari kursi, atau berisi
buku-buku yang paling terbaru saya baca.
Singkatnya, tempat impian saya itu adalah satu ruang yang
akan saya gunakan paling intim. Suatu tempat yang bakal saya pakai demi
menghalau peristiwa yang tidak dapat saya tundukkan. Suatu wilayah ketika
aktivitas berpikir lebih dari sekadar kerja kognitif yang mampu saya
maksimalkan, dan membuatnya menjadi lebih reflektif.
Kehidupan manusia akan menjadi dangkal jika tidak memiliki
impian-impian semacam itu, yang ia bayangkan sebagai imajinasi ideal atas
sesuatu. Tanpa ini, kehidupan manusia seolah-olah bergerak seperti hewan-hewan
di kebun binatang: eksotis tapi terpenjara.
Impian ini karena itu begitu berpengaruhya sampai-sampai
sebagiannya rela mengorbankan satu-satunya nyawa yang mereka punyai.
Sekarang, meskipun bisa diperdebatkan, sebagian orang
merealisasikan impiannya ke dalam sistem-sistem tertentu. Ada yang menemukan
impiannya di dalam kehidupan yang dilimpahi cahaya hukum-hukum pemikiran,
agama, ideologi, dan bahkan uang.
Sebagian di antara mereka ini, tidak sedikit menemukannya di
dalam figur-figur yang berada di dalam realitas virtual; suatu dunia yang
belakangan banyak menyuguhkan panorama mengasyikkan dan glamour. Suatu
realitas mutakhir yang memoles orang-orang dari ”nobody” menjadi ”something.”
Sementara bagi sebagian lain, dalam pengertian tertentu,
membawa impian-impiannya sampai ke tingkat apokaliptik, melalui figur-figurnya
yang nyaris dipertuhankan. Dunia mungkin diriwayatkan tengah menuju akhir
sejarah, tapi bersikap apokaliptik seolah-olah dunia bisa diselamatkan
hanya melalui figur-figur tertentu adalah suatu sikap yang naif.
Lemari baru memang tidak begitu penting, meski untuk yang
lain ia cukup berguna. Tentu yang saya maksud ia bermanfaat untuk buku-buku yang
saya tumpuk, yang kadang membuat saya seperti seolah-olah seorang ilmuwan atau
cendikiawan. Kenyataannya, sebagian buku-buku itu hanya sekali dua kali saya
buka untuk mencari sesuatu, meski itu
belum bisa disebut sebagai kegiatan membaca yang sesungguhnya.
Satu hari lalu, dua hari yang lalu, tiga hari lalu, bahkan
lebih lama dari itu, saya lebih banyak mengurung diri di dalam ruangan sempit
penuh buku, tapi yang saya lakukan hanyalah seperti seekor babi yang lebih
banyak menghabiskan waktu dengan rebahan. Buku-buku di saat ini tidak seperti
padang rumput hijau yang membuat seekor sapi rela menghabiskan banyak waktu malam hari di
atasnya. Saya nyaris bergerak seperti ulat bulu di dalam ruangan yang disebut
surga oleh Jose Luis Borges.
Meski demikian, saya masih bisa merasakan aura surga yang Borges
katakan terdiri dari perkampungan berisi buku-buku dari berbagai zaman dan bangsa.
Tentu ini adalah impian yang saya katakan tadi sebagai imajinasi yang diperjuangkan
berbeda-beda oleh setiap orang, meski nyawa sering menjadi taruhannya.
Di saat mengatakan ini, perlu Anda sadari, ada dari
teman-teman Anda, yang memimpikan surga seperti sebuah lanskap pegunungan yang
ditumbuhi berbagai macam pepohonan berbuah, dan diramaikan beragam jenis
binatang sama seperti kali pertama dunia diciptakan. Di panorama semacam itu, banyak
orang membayangkan dari ketinggian gunung-gunungnya, mengalir sungai raksasa
membentang sampai entah kemana menyerupai ular raksasa yang sedang tidur. Di sungai itu, barang siapa meminum airnya,
tidak bakal lagi merasakan kehausan.
Tapi, di saat mengetahui itu, Anda juga boleh jujur, dan mengyakini
surga sebenarnya lebih dari semua itu, meskipun bagi sebagian lainnya lagi,
menganggap surga juga adalah tempat beberapa perempuan-perempuan perawan hidup
untuk menjadi pasangan abadi. Untuk yang terakhir ini, Anda tidak bisa menutup
mata atas fakta-fakta bahwa banyak orang lebih terdorong meraih impiannya hidup
bersama bidadari yang bisa memuaskan palung hasratnya daripada lainnya.
Borges memang tidak menyebut lemari dari surga bayangannya.
Yang pasti tersirat dengan sendirinya, jika ia membayangkan buku-buku sebagai ”kenikmatan”
tertinggi dari surganya, tentu ia membutuhkan almari untuk mewujudkan itu
semua. Tidak secara langsung memang, tapi membayangkan sebuah perpustakaan
raksasa yang berisi buku-buku dari lintas zaman dan bangsa tanpa lemari,
nampaknya agak ganjil.
Sampai di sini, saya tertegun sejenak, lemari yang saya impikan ini memang sederhana. Saya bahkan tengah merancang bagaimana saya merealisasikan dengan cara membuatnya dari tangan saya sendiri, dengan menggunakan alat bantu pertukangan seadanya. Tentu ini lemari yang mungil saja, yang akan saya simpan tepat di sebelah sisi saat saya tengah duduk berkecamuk dengan entah apa di kepala saya. Bukan lemari buku keabadian memang, seperti di dalam surga dibayangkan seseorang sekaliber Jose Luis Borges yang masyur itu.