Menurut Platon, kekaguman filosofis tidak sama dengan
kekaguman seseorang saat melihat mesin jam bekerja. Atau kala seseorang
mengagumi kecanggihan cara beroperasi alat komunikasi masa kini saling
terhubung satu sama lain, sama seperti smartphone yang Anda pakai.
Kekaguman filosofis, kata Platon, tidak ada kaitannya sama
sekali dengan kecanggihan atau kerumitan sesuatu, melainkan justru terhubung
kepada hal-hal yang secara harafiah sangat sederhana. Sesuatu yang dekat dari
hidup kita: nasib, Tuhan, atau jiwa sendiri, tapi sering kita abaikan karena dianggap
telah pasti dan jelas.
Entah itu Tuhan, atau ideologi, atau mungkin juga uang,
adalah hal-hal yang tidak pernah ia kita tanyakan. Mereka semua sangat dekat
dari kehidupan kita, dan bahkan Tuhan yang lebih dekat dari apa pun juga tidak
pernah disanggah melalui pikiran kita. Semuanya sudah seperti terangnya sinar
mentari, ia ada dan tidak perlu diragukan eksistensinya setiap hari.
Hidup ini, bagi sebagian orang, adalah sesuatu hal yang
telah ada sebelumnya. Tinggal bagaimana ia dijalani sesuai peran dan kedudukan
seseorangi. Rezeki, jodoh, status, dan bahkan kematian itu sendiri sudah diset
dan distel oleh kekuatan eksternal yang diandaikan lebih tinggi dari diri
manusia itu sendiri.
Dalam sejarah umat manusia, kekuatan eksternal itu beragam
wujud dan pengaruhnya: roh, Tuhan, arwah nenek moyang, ideologi, sains, dan
juga mungkin uang.
Tapi, kata Platon, justru karena itulah, sesuatu yang sangat
dekat, yang saban hari kita rasakan, alami, dan lakukan, dipertanyakan ulang,
meski betapa pun ia sederhana, bakal membuka cakrawala berpikir seseorang untuk
berfilsafat.
Era sekarang, ketika kehidupan manusia makin serba cepat dan
dangkal akibat determinasi kecepatan informasi, membuat hidup seseorang
kehilangan kepekaan terhadap segala sesuatu. Kekaguman dalam hal ini, malah
berganti dengan keinginan menguasai, mengontrol, dan mengatur apa saja yang
diketahui dan dimilikinya.
Bagi orang-orang tertentu, menghadapi disrupsi semacam ini
tiada lagi cara lain selain kembali kedalam dunia pengalamannya, dunia yang
masih mungkin melahirkan otentisitas. Suatu dunia yang menyediakan ruang
refleksi agar berjarak sedemikian rupa terhadapa apa saja, bahkan kepada diri
sendiri.
Mungkin, dengan cara itulah kita dapat kembali menemukan
rasa kagum, atas apa-apa yang kita lihat dan miliki. Sesuatu yang sederhana dan
kerap dengan kita, yakni diri kita sendiri.