Kamis, 24 Desember 2020

Kekaguman Filosofis


KEKAGUMAN, kata Platon dalam Theaetetus adalah dorongan yang memantik seseorang memasuki pintu gerbang filsafat. Tiada filsafat tanpa kekaguman, meskipun tidak semua kekaguman meniscayakan kelahiran filsafat.

Menurut Platon, kekaguman filosofis tidak sama dengan kekaguman seseorang saat melihat mesin jam bekerja. Atau kala seseorang mengagumi kecanggihan cara beroperasi alat komunikasi masa kini saling terhubung satu sama lain, sama seperti smartphone yang Anda pakai.

Kekaguman filosofis, kata Platon, tidak ada kaitannya sama sekali dengan kecanggihan atau kerumitan sesuatu, melainkan justru terhubung kepada hal-hal yang secara harafiah sangat sederhana. Sesuatu yang dekat dari hidup kita: nasib, Tuhan, atau jiwa sendiri, tapi sering kita abaikan karena dianggap telah pasti dan jelas.

Entah itu Tuhan, atau ideologi, atau mungkin juga uang, adalah hal-hal yang tidak pernah ia kita tanyakan. Mereka semua sangat dekat dari kehidupan kita, dan bahkan Tuhan yang lebih dekat dari apa pun juga tidak pernah disanggah melalui pikiran kita. Semuanya sudah seperti terangnya sinar mentari, ia ada dan tidak perlu diragukan eksistensinya setiap hari.

Hidup ini, bagi sebagian orang, adalah sesuatu hal yang telah ada sebelumnya. Tinggal bagaimana ia dijalani sesuai peran dan kedudukan seseorangi. Rezeki, jodoh, status, dan bahkan kematian itu sendiri sudah diset dan distel oleh kekuatan eksternal yang diandaikan lebih tinggi dari diri manusia itu sendiri.

Dalam sejarah umat manusia, kekuatan eksternal itu beragam wujud dan pengaruhnya: roh, Tuhan, arwah nenek moyang, ideologi, sains, dan juga mungkin uang.

Tapi, kata Platon, justru karena itulah, sesuatu yang sangat dekat, yang saban hari kita rasakan, alami, dan lakukan, dipertanyakan ulang, meski betapa pun ia sederhana, bakal membuka cakrawala berpikir seseorang untuk berfilsafat.

Era sekarang, ketika kehidupan manusia makin serba cepat dan dangkal akibat determinasi kecepatan informasi, membuat hidup seseorang kehilangan kepekaan terhadap segala sesuatu. Kekaguman dalam hal ini, malah berganti dengan keinginan menguasai, mengontrol, dan mengatur apa saja yang diketahui dan dimilikinya.

Bagi orang-orang tertentu, menghadapi disrupsi semacam ini tiada lagi cara lain selain kembali kedalam dunia pengalamannya, dunia yang masih mungkin melahirkan otentisitas. Suatu dunia yang menyediakan ruang refleksi agar berjarak sedemikian rupa terhadapa apa saja, bahkan kepada diri sendiri.

Mungkin, dengan cara itulah kita dapat kembali menemukan rasa kagum, atas apa-apa yang kita lihat dan miliki. Sesuatu yang sederhana dan kerap dengan kita, yakni diri kita sendiri.