Rabu, 18 November 2020

Gusdur, Lelucon, dan Perlawanan Sehari-hari


Lelucon pernah menjadi masalah, setidaknya ketika para teolog Kristiani di Abad Pertengahan menemukan teks-teks Aristoteles yang mengulas humor. Tentu bukan humor dalam artinya seperti yang sekarang, melainkan humor sebagai wacana dalam kedudukannya di luar teologi. Berbeda dengan diskursus teologi, humor bisa memancing sifat abnormal, gelak tawa, dan kehilangan kontrol diri. Alih-alih bisa seperti keseriusan teologi yang diskursif dan reflektif, humor malah dilarang karena sifatnya yang tidak serius dan bermain-bermain. 

Dalam novel Umberto Eco berjudul The Name of The Rose, misalnya, saking dilarangnya humor, sekelompok biarawan gereja Benekditin di Italia mesti menyembunyikan rapat-rapat kitab berisi humor karangan Aristoteles jauh di gudang rahasia perpustakaan. Biarawan-biarawan yang mempelajarinya diracun dan dibunuh. Dalil pembunuhannya tidak lucu sama sekali: Yesus tidak pernah mengajarkan humor kepada umatnya.

Meskipun tidak banyak, dalam konteks pemikiran Islam ditemukan beberapa ulama menulis kitab berisi humor. Seperti dilansir Tirto.id dalam Cerita-Cerita Humor bagi Iman yang Tak Mesti Tegang, tercatat nama Al Jahiz yang mengarang kitab berjudul Al Bukhala, Uqala Majanin karya Abul Qasim Naisaburi, yang diterjemahkan saat ini berjudul Kitab Kebijaksanaan Orang Gila,  Ibnu Al Jauzi yang menulis kitab Akhbar Al Hamqa Wal Mughaffalin, dan di Nusantara ada Kayskul karangan KH. Bisri Mustofa.

Terlepas dari apakah humor terlarang dalam agama, atau malah mendapatkan dukungan dari pemikiran agama, kenyataannya, humor menjadi ajang mendekatkan kekerabatan, mencairkan suasana, dan menyegarkan pikiran. Dalam tinjauan kesehatan dan ilmu mental, banyak penelitian mengemukakan temuan humor dapat mengurangi stres, melancarkan aliran darah, sampai mampu menyembuhkan jenis penyakit tertentu.

Manusia adalah homo rationale, kata kesepakatan filsuf. Bagi ahli hakikat, manusia merupakan makhluk ruhani. Bagi budayawan, manusia justru  makhluk bermain, sehingga bisa menganggap hidupnya seperti permainan. Senada dengan itu, kata penyuka humor, manusia jangan lupa dianggap sebagai makhluk humor. Itulah sebab, sehari tanpa tertawa bagai sayur tanpa garam. Kurang nikmat dan seperti ada yang hilang.

Dalam cerita pewayangan Mahabrata atau Ramayana ada sosok Semar sebagai penasihat para ksatria. Semar adalah titik penyeimbang dalam kisah mengenai peperangan abadi itu. Ia adalah titisan dewa berkeperawakan rakyat jelata, yang menubuatkan pesan-pesan luhur dengan cara melempar gelak tawa. Lelucon adalah senjatanya. Di balik humornya ada hikmah tersembunyi bagi orang yang menjaga kewarasan berpikir.

Mendudukkan humor sebagai kritik, Semar dikisahkan kerap membuat kemapanan keyakinan jadi guyah. Efek kejut humor sudah tentu berbeda dari keyakinan mapan yang menyerupai dinding tembok: kaku dan diam. Di situasi ketika keyakinan kehilangan refleksifitas, menjadi kaku, dan dingin, efek sentak humor terkadang dibutuhkan untuk mencairkan kebakuan dan kekakuan.

Alkisah, presiden Amerika memerintahkan pasukan elitenya meloncat dari kapal, dan berenang mengelilingi kapal sebanyak sepuluh kali meskipun dikejar-kejar gerombolan ikan hiu di belakangnya. Setelah selesai, di hadapan presiden Cina dan Indonesia, presiden Amerika menyombongkan diri. ”Coba lihat keberanian pasukan saya. Demi negara rela melakukan apa saja”.

Tidak ingin kalah, giliran presiden Cina memerintahkan hal serupa, tapi kali ini lima puluh putaran mengelilingi kapal. Selesai melaksanakan tugas, presiden Cina balas berkomentar: ”Lebih nasionalis pasukan saya. Tentu sepuluh putaran tidak ada apa-apanya dengan keberanian pasukan saya.”

Tanpa ingin dilihat sebagai bangsa kerdil, menghadapi peristiwa tanding keberanian di antara kedua pimpinan negara, giliran pasukan elite Indonesia yang tiba-tiba mendorong presidennya jatuh ke bawah laut. ”Saksikanlah bung! Lebih berani pasukan saya, malah presidennya sendiri ia dorong jatuh diterkam hiu” terang presiden Indonesia dari bawah laut.

Kisah di atas saya comot dari dunia maya dan tidak persis sama seperti cara Gusdur menceritakannya. Tentu akan lebih lucu jika Gusdur sendiri yang mengisahkannya. Di akhir cerita itu, seperti juga kekuatan humor lainnya yang mengandalkan puncline, kisah keberanian tentara (rakyat) dari cerita Gusdur di atas dibuat paradoks dari premis umumnya. Bukannya menunjukkan keberanian seperti tercermin dari perintah dua presiden sebelumnya, presiden Indonesia justru menjadi korban keberanian pasukannya, yang justru adalah ketakutannya sendiri. Unik memang, dan aneh cara Gusdur menyentil bangsa ini.

Gusdur merupakan sosok ganjil sekaligus sering disalahmengerti. Tapi, humor-humornya, justru sebaliknya. Selain kerap menjadi metode berpikir kritis, cara guyon Gusdur mampu meringankan pikiran-pikiran berat yang sulit ditangkap masyarakat umum. Seperti Semar atau para sufi tauhid, Gusdur melancarkan lelucon bukan untuk apa-apa selain untuk meninggikan keluhuran pikir manusia, meski terkadang kritis dan pedas. 

Lalu, apa kaitannya lelucon dengan perlawanan sehari-hari, terutama ketika berbicara sosok Gusdur seperti judul di atas? Sudah pasti Gusdur adalah figur penting masa kini yang berjihad melawan ketidakadilan, diskriminasi, dan dehumanisasi, melalui salah satunya dengan humor. Di lingkungan masyarakat Islam, humor Gusdur adalah perlawanan sehari-hari terhadap segerombolan orang yang menilai agama ajaran yang keras, kaku, dan baku. Tidak jarang mereka saking seriusnya membela agama, tidak sempat berbagi senyum dan candaan kepada yang lain dan berbeda.  Mereka jika berdakwah malah lebih suka marah-marah dari pada ramah-ramah.

Syahdan, seandainya riwayat hayat Gusdur bisa disingkat,  maka hanya ada empat etape penting kehidupannya,  ia hidup, ia berjihad, ia berguyon, dan kemudian ia wafat.

 

(Ditulis sebagai catatan tambahan pasca diskusi bersama Jaringan Gusdurian Makassar, 18 November 2020)