Dalam novel Umberto Eco berjudul The Name of The Rose,
misalnya, saking dilarangnya humor, sekelompok biarawan gereja Benekditin di
Italia mesti menyembunyikan rapat-rapat kitab berisi humor karangan Aristoteles
jauh di gudang rahasia perpustakaan. Biarawan-biarawan yang mempelajarinya
diracun dan dibunuh. Dalil pembunuhannya tidak lucu sama sekali: Yesus tidak
pernah mengajarkan humor kepada umatnya.
Meskipun tidak banyak, dalam konteks pemikiran Islam ditemukan beberapa ulama menulis kitab
berisi humor. Seperti dilansir Tirto.id dalam Cerita-Cerita Humor bagi Iman
yang Tak Mesti Tegang, tercatat nama Al Jahiz yang mengarang kitab berjudul Al
Bukhala, Uqala Majanin karya Abul Qasim Naisaburi, yang diterjemahkan saat ini
berjudul Kitab Kebijaksanaan Orang Gila,
Ibnu Al Jauzi yang menulis kitab Akhbar Al Hamqa Wal Mughaffalin, dan di
Nusantara ada Kayskul karangan KH. Bisri Mustofa.
Terlepas dari apakah humor terlarang dalam agama, atau malah
mendapatkan dukungan dari pemikiran agama, kenyataannya, humor
menjadi ajang mendekatkan kekerabatan, mencairkan suasana, dan menyegarkan
pikiran. Dalam tinjauan kesehatan dan ilmu mental, banyak penelitian
mengemukakan temuan humor dapat mengurangi stres, melancarkan aliran darah,
sampai mampu menyembuhkan jenis penyakit tertentu.
Manusia adalah homo rationale, kata kesepakatan filsuf. Bagi
ahli hakikat, manusia merupakan makhluk ruhani. Bagi budayawan, manusia
justru makhluk bermain, sehingga bisa
menganggap hidupnya seperti permainan. Senada dengan itu, kata penyuka humor,
manusia jangan lupa dianggap sebagai makhluk humor. Itulah sebab, sehari tanpa
tertawa bagai sayur tanpa garam. Kurang nikmat dan seperti ada yang hilang.
Dalam cerita pewayangan Mahabrata atau Ramayana ada sosok Semar sebagai penasihat para ksatria. Semar adalah titik penyeimbang dalam kisah mengenai peperangan abadi itu. Ia adalah titisan dewa berkeperawakan rakyat jelata, yang menubuatkan pesan-pesan luhur dengan cara melempar gelak tawa. Lelucon adalah senjatanya. Di balik humornya ada hikmah tersembunyi bagi orang yang menjaga kewarasan berpikir.
Mendudukkan humor sebagai kritik, Semar dikisahkan kerap
membuat kemapanan keyakinan jadi guyah. Efek kejut humor sudah tentu berbeda
dari keyakinan mapan yang menyerupai dinding tembok: kaku dan diam. Di situasi
ketika keyakinan kehilangan refleksifitas, menjadi kaku, dan dingin, efek
sentak humor terkadang dibutuhkan untuk mencairkan kebakuan dan kekakuan.
Alkisah, presiden Amerika memerintahkan pasukan elitenya
meloncat dari kapal, dan berenang mengelilingi kapal sebanyak sepuluh kali
meskipun dikejar-kejar gerombolan ikan hiu di belakangnya. Setelah selesai, di
hadapan presiden Cina dan Indonesia, presiden Amerika menyombongkan diri. ”Coba
lihat keberanian pasukan saya. Demi negara rela melakukan apa saja”.
Tidak ingin kalah, giliran presiden Cina memerintahkan hal
serupa, tapi kali ini lima puluh putaran mengelilingi kapal. Selesai
melaksanakan tugas, presiden Cina balas berkomentar: ”Lebih nasionalis pasukan
saya. Tentu sepuluh putaran tidak ada apa-apanya dengan keberanian pasukan
saya.”
Tanpa ingin dilihat sebagai bangsa kerdil, menghadapi peristiwa
tanding keberanian di antara kedua pimpinan negara, giliran pasukan elite Indonesia yang
tiba-tiba mendorong presidennya jatuh ke bawah laut. ”Saksikanlah bung!
Lebih berani pasukan saya, malah presidennya sendiri ia dorong jatuh diterkam
hiu” terang presiden Indonesia dari bawah laut.
Kisah di atas saya comot dari dunia maya dan tidak persis
sama seperti cara Gusdur menceritakannya. Tentu akan lebih lucu jika Gusdur
sendiri yang mengisahkannya. Di akhir cerita itu, seperti juga kekuatan humor
lainnya yang mengandalkan puncline, kisah keberanian tentara (rakyat) dari
cerita Gusdur di atas dibuat paradoks dari premis umumnya. Bukannya menunjukkan
keberanian seperti tercermin dari perintah dua presiden sebelumnya, presiden
Indonesia justru menjadi korban keberanian pasukannya, yang justru adalah
ketakutannya sendiri. Unik memang, dan aneh cara Gusdur menyentil bangsa ini.
Gusdur merupakan sosok ganjil sekaligus sering
disalahmengerti. Tapi, humor-humornya, justru sebaliknya. Selain kerap menjadi
metode berpikir kritis, cara guyon Gusdur mampu meringankan pikiran-pikiran
berat yang sulit ditangkap masyarakat umum. Seperti Semar atau para sufi
tauhid, Gusdur melancarkan lelucon bukan untuk apa-apa selain untuk meninggikan keluhuran pikir manusia, meski terkadang kritis dan
pedas.
Lalu, apa kaitannya lelucon dengan perlawanan sehari-hari,
terutama ketika berbicara sosok Gusdur seperti judul di atas? Sudah pasti
Gusdur adalah figur penting masa kini yang berjihad melawan ketidakadilan,
diskriminasi, dan dehumanisasi, melalui salah satunya dengan humor. Di
lingkungan masyarakat Islam, humor Gusdur adalah perlawanan sehari-hari
terhadap segerombolan orang yang menilai agama ajaran yang keras, kaku, dan
baku. Tidak jarang mereka saking seriusnya membela agama, tidak sempat berbagi
senyum dan candaan kepada yang lain dan berbeda. Mereka jika berdakwah malah lebih suka marah-marah
dari pada ramah-ramah.
Syahdan, seandainya riwayat hayat Gusdur bisa
disingkat, maka hanya ada empat etape
penting kehidupannya, ia hidup, ia
berjihad, ia berguyon, dan kemudian ia wafat.
(Ditulis sebagai catatan tambahan pasca diskusi bersama Jaringan Gusdurian Makassar, 18 November 2020)