Di kota, kawasan yang semakin hari kian menggeliat
perkembangan ekonominya, budayanya, politiknya, pendidikannya, membuat orang-orang
hidup dalam kesakitan prahara; berdekatan, tapi sekaligus jauh, welas asih
meski beringas, banyak yang hidup sejahtera, tapi tidak sedikit pemukiman kumuh
bermunculan. Orang-orang dari hari ke hari semakin asing satu sama lain.
Mereka kian maju, namun tanpa disadari ada yang susut dari
itu semua: solidaritas.
Mungkin karena itu, di alam kehidupan modern tidak ada terma
khusus yang khas menunjuk kepada titik pusat yang menjadi sumber fenomena di
atas selain dari pada individu. Suatu kemampuan otonom yang meneguhkan
kemandirian dalam diri masyarakat. Individu dalam hal ini ibarat inti atom yang
bebas bergerak, dinamis dan tanpa tekanan. Sesuatu yang ”tidak bisa lagi
dibagi”, yang bebas dalam dirinya sendiri.
Itulah sebabnya di kota, orang jarang terikat secara
sentimentil. Setiap orang memiliki kehidupan yang kian dinamis dan berubah. Ia
adalah suatu modus kehidupan garis lurus dan serentak. Rasa cemas dan optimisme
menjadi satu kesatuan paket. Tiap individu berhak mencari petualangan, tapi
dengan risiko kehilangan titik pulang.
Dengan kata lain, di alaf modernisme, tidak ada ruang-waktu
yang stagnan. Segalanya drastis bergerak...
Di titik kehidupan yang luruh dalam waktu itulah individu
jadi susut, tangkas, dan juga cepat. Ia menjadi makhluk kerdil namun sekaligus
menjadi mekanik dan juga teknis.
Ada pepatah Yunani berbunyi: Matia pu de vleponde, grigora
lismoniunde. Barang siapa jarang bertemu, niscaya saling melupakan satu sama
lain.
Di kota, yang semakin susut, yang tangkas, dan yang cepat
membuat ikatan makin minim dan mungil. Interaksi, ikatan yang membuat seseorang
menjadi ”bermasyarakat”, hanyalah pertemuan yang dililit waktu yang semakin
teknis. Membuat orang-orang jadi jarang bertemu. Dan pada akhirnya satu sama
lainnya saling melupakan.
Toh jika ada silang pertemuan; saling berbicara; saling
memperhatikan; tapi tetap saja tidak ada simpul yang terjalin. Tidak ada
apa-apa di sana. Seolah-olah di balik itu setiap orang berinteraksi
dikejar-kejar sesuatu agar segera mesti dituntaskan.
Bagi masyarakat perkotaan, setiap pertemuan hanyalah peluang
untuk saling salib. Dengan rumus yang hampir sama setiap tindakan mesti efisien
dan efektif.
Tapi, di situlah masalahnya. Di bawah bayang-bayang
kehidupan modern selalu ada sisi gelap yang gagal diperhitungkan. Bagi
masyarakat modern, kehidupan dengan perhitungan yang efektif dan efisien
membuatnya miskin makna. Yang serba tangkas, cepat dan dinamis pada akhirnya
menjadi krisis.
Manusia modern dengan kata lain adalah orang-orang yang
tercerabut dari akar-akar kebersamaannya ---indikator yang mendasari suatu
masyarakat dapat eksis. Dalam pepatah Yunani tadi manusia modern saling
melupakan akibat hilangnya keintiman melalui pertemuan. Barang siapa jarang
berinteraksi, ia lenyap tak teringat.
Belakangan, di tengah kekosongan atas yang intim, masyarakat
kota dipertemukan kembali ke dalam hubungan-hubungan yang kian formal.
Masyarakat kota, seperti pendakuan Durkheim, tidak sepenuhnya menghilangkan
semangat soliditasnya, hanya saja semua itu diganti ulang dengan apa yang
disebut asas profesionalitas. Orang-orang terhubung dalam ikatan pekerjaan,
profesi, kepentingan ekonomi, dan yang paling kekinian: politik.
Tapi, bukan berarti itu menutupi soal-soal di atas. Jaringan
dengan dasar formalitas anehnya malah ikut memformat ulang hubungan-hubungan
sosial di dalamnya. Ketika sebelumnya sudah kosong dari keintiman interaksi,
hubungan dengan asas profesi itu memiliki konsekuensi yang lumayan mahal; kebersamaan
kian tinggi harganya, solidaritas kian sulit dijangkau. Semua itu terjadi oleh
sebab setiap relasi hanya mungkin jika membuat gemuk lingkaran kekerabatan
individu.
Potret masyarakat perkotaan seperti gambar yang dicetak
digital. Paduan warnanya, letak gambarnya, tajam halus gradasinya dibikin dari
unsur sistem yang berbau mesin dan teknis. Dari cara semacam itu, gambar
digital memang berhasil menjadi gambar yang presisi dan tepat, namun sekaligus
sebenarnya hanyalah gambar yang hampa tanpa unsur estetik.
Hilangnya unsur estetis dalam gambar digital dengan kata
lain hanya menjadi gambar kaku tanpa jiwa, apalagi bakal tidak mampu menerbitan
perasaan haru biru. Sesuatu yang sangat sentimentil, emotif, dan menggerakkan.
Singkatnya, gambar digital hanyalah gambar tanpa dimensi kemanusiaan.
Masyarakat kota yang sekaligus juga terbitnya masyarakat
modern membutuhkan dimensi yang lebih manusiawi alih-alih hanya mendudukkan
rasionalitas sebagai satu-satunya ukuran progresifitas.
Masyarakat kota harus dilihat sebagai suatu lukisan.
Pencitraan yang lahir dari dimensi intrinstik manusia yang disebut jiwa. Setiap
goresan dan warnanya lahir atas dasar kedalaman intuitif yang jujur sehingga
menghasilkan pemandangan yang hidup dan dinamis. Suatu yang menyedot pengalaman
dalam aktivitas intim satu sama lain, yang bakal menghasilkan pengalaman
kolektif dan empatik.
Gambar digital karena itu tidak mampu berkisah apa-apa. Ia
gambar yang mati. Berbeda dari lukisan yang hidup dan mampu berkisah tentang
sesuatu yang diwakilkan melalui gambarnya, warnannya, dimensinya, gradasinya...
Joseph Campbell, seorang scholar mitologi, dalam Ruang Sadar
tak Berpagar tulisan Alwy Rachman, mengkritik masyarakat modern yang semakin ke
sini semakin kehilangan kisah. Menurut Campbell, kisah adalah elemen
fundamental bagi manusia. Dia menggerakkan sekaligus memberikan dasar maknawi
bagi perilaku manusia.
Sebagaimana terangkum dalam mitos, legenda, atau tradisi
kerakyatan, kisah adalah urat nadi yang memelihara jiwa manusia tetap memiliki
dasar manusiawinya. Kisah dalam arti demikian adalah jangkar solidaritas
masyarakat untuk mengartikulasikan kebersamaannya, kepekaannya, dan
keintimannya ke dalam satu komunitas yang saling menopang dan mendukung.
Manusia ada karena terhubung dengan keberadaan yang lain, begitu singkatnya.
Lalu, saat masyarakat kota kehilangan kisah---yang masih
banyak ditemukan di pelosok desa-desa-- yang dengan itu tiap-tiap individu
menemukan kedalaman eksistensinya dalam kebersamaan, dengan apa lagi mengisi
lubang jiwa yang kian hari kian berlubang?
-------
Esai ini sudah tayang sebelumnya di Bahrulamsal Journal dengan judul Kota dan
Kemanusiaan. Diterbitkan ulang demi kepentingan blog ini.