Minggu, 12 Maret 2023

Merebut Ruang Publik

Dalam kancah kekinian, ruang publik merupakan arena kontestasi beragam pihak. Para scholar ilmu sosial menyebutnya menjadi ring tanding kelompok religius, pengusaha, elite politik, dan kelompok intelektual berdasarkan kapital, habitus, dan ranahnya masing-masing. Singkatnya, diibaratkan arena tarung, di ruang publik semua pihak memiliki kesempatan merepresentasikan eksistensinya berdasarkan kepentingan kelas sosialnya. Ditambah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ruang publik tersedot juga sampai ke ruang maya. Sama halnya ruang publik real, ruang publik maya jauh lebih ingar bingar dikarenakan sifatnya yang cair, fleksibel, dan cepat.

Ke depan, ruang publik sebagai ruang sosial akan diramaikan dengan berbagai representasi kehadiran. Lantaran telah masuk tahun politik, potongan tayangan, foto, flyer, atau bahkan cuplikan para elite politik akan makin marak berkelindan dengan sejumlah informasi sehari-hari. Nuansa politik makin ke sini makin terasa. Baik ruang publik real maupun maya, diisi dengan beragam informasi grafis, simbolik, ataupun statistik memanfaatkan bahasa dan tanda dalam rangka merebut simpati publik. Perkawinan antara demokrasi digital, pasar, dan politik semakin intens dan eksesif.  Pertautan ketiganya tidak main-main, sampai membuat batas-batas kebenaran dan keontentikan di ranah publik, tempat semua partisipan berkecimpung, kian kabur.

Rasionalitas publik terancam

Di mana-mana setiap kontestasi politik ditandai dengan kemunculan social group. Demi mencapai tujuannya, yakni meraih simpati dan jaringan suara, kelompok-kelompok sosial dibentuk berdasarkan beragam variabel. Tiba-tiba di tempat-tempat umum terjadi pertemuan-pertemuan khusus. Di warung kopi, sekretariat, atau alun-alun kota, bermunculan kelompok kepentingan. Semuanya tumpah ruah mengkonsolidasikan diri demi mengusung kemenangan politik.

Sementara di aras maya, Anda tanpa diduga-duga sudah terjaring masuk di grup rumpun keluarga, ikatan alumni, kelompok profesi, atau bahkan tim pemenangan. Tanpa disepakati seseorang telah mengikutkan Anda ke dalam beragam arena perkumpulan. Dengan keadaan semacam ini, sebagai seorang individu, mau tidak mau membuat diri kita tidak bisa lepas dari unsur-unsur ruang publik semacam itu.

Tapi, keberadaan kelompok sosial tidak menjamin akan membuat ruang publik menjadi ideal. Dalam hal ini, ruang publik sebagai wahana pertukaran informasi, keterlibatan warga, dan ruang demokratis, akan terancam apabila kegiatan yang berbau politik masih mengedepankan semangat kesukuan, kepentingan sempit sektoral, dan politik hitam. Tiga hal ini telah lama menjadi lumrah dikarenakan rasionalitas yang menjadi elemen penting dalam komunikasi politik tidak dikedepankan. Ditambah hoaks masih menjadi momok sehari-hari yang bercampur dalam kegiatan komunikasi warga.

Perlu diingat, kegiatan politik sebenarnya dilakukan untuk menjunjung kebaikan bersama, yakni menciptakan tatanan masyarakat demokratis, sejahtera, dan adil. Para ilmuwan politik dalam hal ini memberikan prasyarat agar politik dapat berjalan dengan baik, yaitu kehadiran nalar publik. Nalar publik, singkatnya merupakan kemampuan bergagasan yang mengedepankan konsensus publik berdasarkan asas inklusifitas, demokratis, dan adil. Dalam hal ini rasionalitas publik akan terancam jika dalam memanfaatkan ruang publik pihak yang terlibat di dalamnya lebih mengedepankan ego pribadi, kelompok, atau kelas sosialnya. Dengan kata lain, jika keadaan ini terjadi maka tidak lama lagi ruang publik akan mengalami privatisasi, komersialisasi, dan depolitisasi.

Melemahnya warga negara

Kekuatan ruang publik ada pada keterlibatan warga dalam menentukan opini publik, yang kemudian akan melahirkan aksi kolektif. Dalam rangka ini, warga menjadi penilik yang cermat memanfaatkan ruang publik sebagai ruang antara. Sebagai ruang antara, ruang publik mesti menjadi sarana pertemuan antara kepentingan warga dengan kebijakan pemerintah. Apabila partisipasi warga dalam ruang publik melemah, maka akan menjerumuskan kehidupan masyarakat kepada titik parstipatif sebagai konsumen belaka. Warga akan dikangkangi kepentingan komersial pasar, dibenturkan kepentingan elite pejabat, atau akan mudah digiring kepada kebenaran-kebenaran semu.

Dari kacamata yang lebih kritis, dalam ekosistem seperti itu, hanya ada dua pihak yang lebih dominan mendapatkan perhatian, yaitu kelompok pemodal, dan elite politik. Hanya aspirasi kedua pihak ini sajalah, bahkan ruang publik diberadakan. Sementara kelompok sosial yang lemah secara ekonomi dan politik, tidak akan mendapatkan tempat dalam arus wacana, pengambilan,  dan penentuan kebijakan publik.

Berkebalikan dengan keadaan di atas, partisipasi publik akan mendorong terciptanya kontrol sosial dan kritik sosial. Terlebih jika itu diisi oleh kelompok masyarakat yang mewakili lapisan akar rumput. Dengan kemunculan kelompok penyeimbang seperti ini akan membuat ruang publik lebih steril dibandingkan jika wacana dominan lebih ditentukan oleh dua pihak sebelumnya.

Selama ini, baik real atau maya, ruang publik lebih banyak diisi oleh riuh rendah komiditi pasar dan suara tinggi semboyan politik tanpa kehadiran suara kritis warga. Akibat melemahnya suara kritis warga, ruang publik seperti selama ini terjadi akan mengalami pembajakan alih-alih menjadi arena edukasi masyarakat. Oleh karena itu, akan sangat penting jika ruang publik disadari oleh kelompok-kelompok akar rumput untuk menjadikannya sebagai arena kepentingan warga publik.

Suara kolektif

Telah dinyatakan sebelumnya, ruang publik adalah ruang antara, yaitu medium tengah yang mempertemukan beragam pihak dengan pemerintah. Karena sifatnya yang demikian, sebenarnya ruang publik merupakan ruang negosiasi untuk meredam komodifikasi dan depolitisasi yang membuat pihak-pihak di dalamnya mengalami kekalahan oleh kelompok pemodal dan elite politik. Selama ini kenyataannya ruang publik kita tumbuh dan berkembang tanpa berpihak kepada kepentingan publik yang asalnya dari suara kolektif masyarakat. Salah satu sebab yang membuat itu terjadi karena tidak ada wacana bersama yang ditopang intelektual, tokoh, dan organisasi masyarakat yang betul-betul mewakili keresahan dan harapan publik. Karena kekosongan inilah,  selama ini ruang publik kita lebih mengarah kepada kepentingan ekonomi pasar dan elite kekuasaan.

Telah terbit di Tribun Timur, 18 Januari 2023


Jumat, 10 Februari 2023

Mahasiswa, Literasi, Riset

Saya kira tidak ada masalah jika saya menuliskan beberapa hal di bawah ini, tentang pengalaman saat bersentuhan dengan beberapa mahasiswa tingkat akhir di kampus tempat saya mengajar sekarang. Galibnya, sebelum menyandang gelar alumni, mahasiswa akhir wajib melahirkan satu karya tulis yang dihasilkan dari suatu studi mendalam, yang memerlukan penelitian untuk membuatnya. Suatu aktifitas menulis yang dilakukan dengan serius dan didasarkan kepada metode ilmiah, yang kelak akan mereka pertanggungjawabkan  di hadapan sidang akademik berisi intelektual berkaliber. Di sidang itu, yang notabene merupakan pertemuan ilmiah, sudah pasti akan berlangsung debat panjang melibatkan konsep, teori, sampai metode penelitian, yang menjadi tulang punggung karya tulis mereka, yang sekaligus akan menjadi ajang tanding perspektif antara peniliti dan penguji.

Tapi, gambaran itu tidak benar-benar terjadi. Jarang, dan bahkan seringkali berubah menjadi forum khotbah untuk si terdakwa mahasiswa.

Itu satu masalah yang saya tahu, yang biasanya dihadapi para penguji, tapi akan terus terjadi berulang-ulang setiap tahun.

Belakangan ini, untuk tidak mengatakan cemas, saya terkesima lantaran keberadaan seorang mahasiswa yang  menghadapi masalah yang saya katakan di atas. Ia mahasiswa terancam drop out, yang kerap saya temukan melongos di antara jejeran buku-buku perpustakaan prodi. Setiap datang ia membawa masalah berupa ide-ide penelitian yang masih bersemayam di benaknya. Di waktu lain saya pernah menemukannya duduk terpekur di bawah sudut almari dengan gawai yang terhubung di konektor listrik,  yang saya ketahui saat itu ia tengah mengikuti kuliah online.

Setiap ia datang, masalahnya seperti tidak pernah beranjak dari pembicaraan terakhir kami. Sampai sekarang, belum ada selembar pun draft atau naskah usulan penelitian yang ia siapkan. Ia seolah-olah telah kehilangan kemampuan menulis dari kedua tanggannya, dan sepertinya telah menyerah hanya untuk menghasilkan kalimat-kalimat akademik dari cetusan-cetusan pikirannya.

Saya kira itu masalah pertama yang mesti dipecahkan sebelum ia menghadapi masalah kedua, yaitu menyusun naskah tugas akhir, yang sampai sekarang belum sekalipun ia tunjukkan ke dosen pembimbingnya.

Sekali tempo, seorang kolega pengajar mengeluhkan buruknya cara mahasiswa menulis tugas akhir. Ia kerap kelimpungan dengan cara mahasiswa menyusun gagasannya—jika memang ada. Setiap ia membaca satu kalimat setiap  itu juga ia merasa tidak mengerti apa-apa. Di rapat itu, ia perlu mempertanyakan kemampuan berbahasa mahasiswa yang sepertinya tidak banyak mengalami perubahan meski telah mengambil mata kuliah bahasa Indonesia.

Kemampuan berbahasa berkorelasi dengan kemampuan berpikir seseorang, meski kemampuan berpikir yang baik tidak selamanya akan membuat seseorang mahir berkomunikasi. Untuk yang terakhir ini seseorang mesti mempelajarinya melalui ilmu komunikasi atau retorika, sama seperti yang pernah dilakukan para filosof di masa lalu. Di masa lalu, para filosof tidak saja memiliki kemampuan berpikir kritis, tapi juga ahli dalam menyampaikan gagasan-gagasannya dengan elegan. Para filosof dalam hal ini sangat memperhatikan cara mereka menuturkan gagasannya agar tidak membuat pendengarnya gagal paham dari apa yang sedang ia pikirkan.

Tapi, bagi mahasiswa tidak terlalu membutuhkan kemampuan retorika jika ia tidak berminat untuk menjadi seorang politikus di masa depan kelak, melainkan hanya perlu menyisihkan banyak waktunya untuk memperbaiki cara ia mengorganisir gagasan. Bagi seorang mahasiswa ilmu sosial ia perlu mempelajari cara berpikir analitis dan kritis agar dapat mengungkap makna di balik fakta-fakta yang muncul dipermukaan. Ia juga perlu berpikir secara historis untuk menangkap relasi kausal dari berbagai peristiwa dalam alur sejarah manusia.

Lebih dari itu, seorang mahasiswa perlu banyak melahap buku-buku, jurnal, dan apa pun sehingga membuat dirinya dapat memiliki kekayaan kosakata pengetahuan.

Sekarang ini tidak sedikit mahasiswa mengalami ketidaksanggupan menyampaikan isi pikirannya, di samping telah lama kehilangan kepercayaan diri saat ingin menyampaikan sesuatu. Saya berhipotesis penyebab utama dari fenomena ini karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki habit yang baik; mereka malas membaca buku, jarang bertukar pikiran, dan enggan terlibat di dalam forum-forum ilmiah. Berkaitan dengan dunia digital, interaksi tanpa batas mahasiswa dengan media dan game daring, melenyapkan kesanggupan berpikir mendalam terutama berkaitan dengan pikiran-pikiran bernas.

Singkat kata, cuplikan aktivisme sebagian mahasiswa di masa kini, jika tidak disedot ke dalam praktik politik praktis, kapasitas intelektual mereka kehilangan kegairahan lantaran diisap citra visual dunia daring.